2014

Pertama-tama, saya harus minta maaf dulu sama blog ini karena sudah saya tinggal sekian lama. Karena sudah ternodai dengan posting-posting galau. Karena sudah tidak lagi update dengan hal-hal kekinian. Yah nggak papalah, anggap saja sebagai bukti kalo Mona pernah alay.

Kalo boleh surhat saya sebenernya udah punya buanyaaaaaaaaaaaak draft untuk blog ini. Cerita KP aja sampe part 10 tapi yang kepost baru berapa haha… Itu semua karena saya biasanya nulis kalo lagi mood, tapi begitu sadar nggak ada foto representatif biasanya saya tinggalin terus males lagi. Begitu seterusnya. Juga, saya sering bingung mau nulis yang mana dulu. Ini dulu apa yang itu, biasanya bingung karena idenya untuk ini tapi waktunya duluan yang itu. Hingga akhirnya malah nggak update sama sekali hahahahahaaa… *tuolong*.

Oleh karena itusaya memutuskan untuk mengisi blog baru saja di http://catatan.ibmon.com. Selain agar hostingnya tidak mubadzir, juga supaya saya semangat lagi menulis karena temanya baru dan temanya juga baru *theme and topic*.

Kembali ke 2014, ini tahun yang super emejing karena buanyak milestones dalam hidup saya tercapai dalam waktu satu tahun saja, contohnya:

KKN – Februari 2014

1[7]

Saya lupa pastinya saya KKN bulan apa sampe apa, yang jelas saya menghabiskan 2 bulan disini, dimana sebulan setelahnya saya harus nikah. Jadi, saya harus curi-curi waktu buat siapin nikah.

Bodohnya, saya disuruh DPL jadi kormanit dan saya nggak bisa nolak.

Saya nggak terima begitu aja sebenernya, saya udah usaha bujukin kakak-kakak Pendidikan Dokter 2008 yang adalah 50% dari tim ini tapi nggak ada yang mau. Dan, saya bukan tipe yang born as leader sedemikian hingga buat saya 2 bulan ini adalah “bulan siksaan” hahaha… Maaf teman-teman SLM 01 atas segala ketidakprofesionalan saya huhu.

Tapi, di sini saya dapet banyak pelajaran. Saya memimpin tim yang 100% anggotanya lebih tua dari saya, tim yang 50% lebih adalah calon dokter, tim yang 4 orang diantaranya mahasiswa asing. Tim yang baru kebentuk seminggu sebelum terjun. Saya belajar 2 hal utama dari sini: sabar dan saling menghargai.

Saya terbiasa hidup dengan “golongan kanan”, tiba-tiba pas KKN ini saya serumah dengan 1 anggota beranak 3 yang hobi mabuk, 2 anggota perokok berat (yang di tengah KKN akhirnya salah satu ketahuan TBC), dan 1 orang supertajir yang huobi banget ngomong dan nyombong. The bestnya, saya juga serumah dengan 1 orang cewek super sabar dan super supel. Dari mereka semualah saya akhirnya belajar “berdamai dengan keadaan” dan menerima realita. Nggak semua orang di dunia ini menjalani hidup dengan path yang sama kayak kita. Kalo dipaksain sama polanya kayak kita, nggak mungkin jadi harmonis. Jadi yang bisa dilakukan adalah menghargai keberadaan mereka dan membuat mereka juga menghargai keberadaan yang lain. Unity in diversity.

Indonesia menganut itu kan ya? Tapi sayang kayaknya akhir-akhir ini yang namanya perbedaan tidak lagi dipandang sebagai suatu hal yang indah.

Nikah – Mei 2014

2

Sampai September 2013, saya nggak pernah kebayang akan nikah Mei 2014 – di usia 21. Jadi bukan cuma kamu yang syok, saya sendiri aja syok kok saya nikah secepet ini hahahahaaa. Bahkan, nikah nggak ada di resolusi 2014 atau 2015 saya. Saya mikirnya nikah habis S2 aja biar nggak repot.

Tapi Allah emang selalu punya rencana-Nya. Saya ketemu pria ini kemudian ngajak nikah, kemudian dia ketemu bapak saya kemudian ngelamar saya. Kemudian kami dan keluarga siapin nikah dan kemudian kita udah nikah aja tau-tau lol. Lengkapnya ada di http://nikah.ibmon.com

Saya harus akui bahwa masa sebelum ini saya sering dibuat tidak produktif oleh pria-pria masa lalu yang sering bikin galau. Di sini saya baru sadar satu benefit besar nikah ketika usia early 20, utamanya buat saya: biar fokus. Usia awal 20 adalah usia super produktif dan transisi antara idealis-realistis. Tapi sayangnya kadang produktivitas tersebut terhambat karena adanya kegalauan-kegalauan yang menerpa, salah satunya asmara. Nggak semua orang terhambat dengan galau asmara sih, tapi sayangnya saya salah satu orang yang iya. Oleh karena itu buat saya, nikah menghapus satu penghambat produktivitas di diri saya.

Ini IMHO loh ya, tiap orang beda-beda. Jangan buru-buru nikah cuman gara-gara nggak mau kalah sama Mona :P. Nikah bukan balapan. Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri :>

MSP Summit – Juli/Agustus 2014

5

Saya sedang kepikiran untuk bikin posting tentang ini, tapi lagi-lagi karena rada perfeksionis jadinya lama eksekusinya lol.

Thanks to Microsoft. Ini kali pertama saya menjejakkan kaki ke benua Amerika. Sekalinya ke amrik, ke kantor Microsoft di Redmond, WA lagi. Singkat cerita, ini adalah MSP Summit pertama. Pesertanya direkomendasikan oleh penanggung jawab program MSP di negara masing-masing, jadi buat saya ini seperti “Surpriseeeee halo Mona kamu dapet hadiah jalan-jalan ke Seattle dan kantor Microsoft”. Setelah mohon-mohon ijin sama suamik akhirnya dibolehin juga hehe.

Di Redmond dan Seattle, kami sekitar 70an MSP dari seluruh dunia ketemu dan dapet banyak pengetahuan baru. Kami juga dikasih kesempatan nonton final Imagine Cup di Seattle. Walau cuma 4 hari, saya harus mengakui ini adalah salah satu perjalanan yang nggak mungkin saya lupakan.

Lulus S1 – Agustus 2014

AKHIRNYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA escape dari Jurusan tercinta wkwkwk.

Empat tahun di JTETI UGM sungguh berharga, dan hampir semua saya dokumentasikan di blog ini jadi silakan kepo :p. Dari jadi maba, ikut Gemastik, INAICTA, APICTA, jadi mapres Fakultas sampe KP di NTU dan ketemu suami. Semua berharga banget-nget.

Thanks UGM :)

Pindah Madison – Oktober 2014

4

Soooo ini adalah alasan kenapa nikah cepet haha soalnya Iib kerja di Epic, Madison (US) per Oktober 2014. Ini kali pertama saya akan hidup lama selain di Jogja. Singapur pernah 3 bulan sih tapi apalah 3 bulan itu.

Tapi karena pernah tinggal agak lama di Singap dan pada dasarnya sudah mandiri finansial sejak SMP, saya tidak begitu merasa kesulitan ketika akhirnya harus benar-benar punya kehidupan sendiri: bebas dari orang tua, decide you own way. Susahnya paling karena dingin aja sih. Saya nulis ini aja di luar –17 derajat celcius HAHAHAHAHA.

Gimana hidup kami di Madison kami dokumentasikan dalam http://catatan.ibmon.com

___________________________________________________

Ya kurang lebih begitulah hidup Mona 2014. Banyak roller-coaster yang terjadi. Saya semakin tua dan semakin bersyukur. Point penting banget tahun 2014 buat saya adalah menghargai perbedaan dan rendah hati. Saya semakin sadar bahwa saya bukan siapa-siapa. Ilmu saya masih kurang dan harus terus belajar makanya nggak boleh show off dan sombong. Tahun depan resolusi saya cuman semoga kami sekeluarga sehat daaaaaaaaaan semoga saya semakin rajin blogging :>

Kalo nggak bisa ngepo saya dari sini coba aja cek-cek http://catatan.ibmon.com siapa tau saya lagi aktif disana.

Love you all :*

Madison, 31 Desember 2014

Pindahan

Alhamdulilllah saya sudah "pindah" ke Madison, Wisconsin by 9 Oktober 2014 ini. Sekaligus memberitahu, blog saya juga pindah hehe... Nggak fully pindah kok. Saya juga masih akan menulis beberapa post "hutang" saya disini. 

Pindahnya kemana Mon?


Kenapa pindah Mon?

Soalnya udah terlanjur ngehosting besar dan lama di ibmon.com jadi sayang kalo cuma dipake http://nikah.ibmon.com aja hehe... Sekalian aja diisi tulisan-tulisan biar produktif sayanya sebagai ibu rumah tangga :>

Udah ya, gitu aja. Sampai jumpa lagi teman-temanku sayang :*

Untuk Kamu Mahasiswa Baru


Sebenarnya saya menyiapkan ini untuk materi kuliah perdana JTETI UGM angkatan 2014, namun sayang seribu sayang saya tidak bisa datang karena ikut suami ke Malang. Selalu ada kesempatan kedua memang, saya diundang lagi untuk mengisi sesi di Forum Dinamika Kampus, semacam orientasi di JTETI, tapi lagi-lagi saya tidak bisa datang karena masih di Malang. Intinya saya mungkin tidak berjodoh untuk menyampaikan materi ini secara langsung dan tatap muka. Tapi karena sudah terlanjur dibuat ya rasanya dibuang sayang kan ya :') oleh karena itu akan coba saya sampaikan saja lewat sini.
 _________ 

Masa kuliah adalah salah satu masa paling menyenangkan. Empat tahun tapi sungguh berarti, bahkan menentukan masa depan saya. Saya dapet banyak duit jaman kuliah, dapet pengalaman kerja ya jaman kuliah, jadi atlet pingpong ya jaman kuliah, bahkan dapet suami juga jaman kuliah. 

Di masa ini kita dituntut mencari jati diri tapi sendirinya masih labil, dituntut belajar tapi sendirinya main mulu, dituntut lulus cepet tapi sendirinya males ngerjain skripsi, dan lain sebagainya. Kalo boleh flashback, saya sebenernya nggak pengen kuliah di tempat saya mendapat gelar S.T ini (mungkin bisa kepo posting saya 4 tahun lalu). Di akhir saya sadar, ketidakpengenan itu justru membuat saya berusaha sekuat tenaga agar saya tidak menyesal kuliah di tempat tersebut. Saya berusaha agar masa kuliah saya berharga dan bermakna. 

And I did. 

Kemudian banyak orang bertanya gimana caranya berprestasi seperti saya - utamanya mereka yang baru memasuki bangku kuliah. Pertama kalau boleh saya kasih catatan, kamu nggak perlu jadi seperti saya karena setiap orang beda dan punya gayanya masing-masing. Kedua, prestasi itu relatif dan sebenarnya simpel, sesimpel kita membuat goal untuk kita sendiri, misalnya makul X dapet A. Sekalinya kita bisa meraih goal tersebut, itulah prestasi. Karena goal tiap orang beda, prestasi tiap orang juga beda bukan? So set it first. 

Kembali ke cara, sebenarnya ada banyak sekali hal yang bisa kita lakukan selain belajar dan belajar. Ingat, tiap orang bisa beda caranya tergantung apa tujuannya. Berdasar pengalaman pribadi, buat kamu mahasiswa, menurut saya, kalian harus melakukan minimal satu dari hal-hal berikut agar masa kuliahmu bermakna: 

1. Ikut lomba/kompetisi

  Kiri: menang lomba pingpong padahal cupu. Atas: Tim Robot UGM jadi juara di kompetisi robot internasional di Trinity College US. Bawah: Tim UGM menjuarai Imagine Cup Nasional kategori Worldwide Citizenship

Lomba apapun, tingkat apapun, sesimpel ikut lomba pingpong antar angkatan *curhat*. Kenapa? Karena kompetisi mengajarkanmu banyak hal. Ketika kamu kalah, kamu akan belajar menerima bahwa emang ada yang lebih jago dari kamu dan kamu nggak sejago itu. Ketika kamu kalah padahal tinggal sedikit lagi menuju kemenangan, kamu akan memacu diri kamu untuk lebih baik karena kamu tahu selalu ada peluang menjadi lebih baik. 

Ketika kamu akhirnya menang, kamu sadar kamu punya "kemampuan lebih" dan percaya diri karenanya. Ketika kamu menang, kamu belajar bahwa nggak ada yang ngga mungkin kalau mau mencoba. Pun ketika kamu akhirnya menang, kamu belajar bahwa kemenangan itu harus didapatkan dengan kerja keras dan penuh pengorbanan. Terlepas dari menang atau kalah, dengan berkompetisi, banyak skill mu yang akan terlatih dan hal tersebut sangat berguna di kehidupan mendatang - yang memang adalah kompetisi yang sebenarnya. 

2. Ke luar negeri.

Coba cari saya yang mana

Bisa dalam rangka konferensi, pertukaran pelajar, summer school, internship, maupun jalan-jalan. Kurang lebih tujuan utamanya buat saya sama: supaya pikiran lebih terbuka dan wawasan lebih luas. 

Dengan ke luar negeri walaupun Cuma buat jalan-jalan, kita bisa tau 

"Ooo negara X kayak gini ya" 
"Oooo, sistem transportasi di negara Y kayak begini ya" 
"Oooo tata kota di negara Z begitu toh". 

Hal sesimpel itu akan membuat kita tidak menjadi katak dalam tempurung yang hanya tahu Indonesia aja (itu aja jangan-jangan Cuma tau jeleknya :p). 

Lebih pentingnya karena sebentar lagi pasar bebas ASEAN kan ya, jadi wawasan kita tentang negara di sekitar kita memang harus ditambah biar kita "tahu medan", contohnya kalo mau berkarir di luar. Kalo ada statement "Ngapain jauh-jauh? Mahal. Lewat internet aja juga bisa." hahaha itu sebenernya analog dengan orang LDR yang berstatement, "Ngapain ketemu? Mahal. Telpon doang terus-terusan aja juga pasti bisa tahan." :p 

3. Bikin proyek/produk. 

http://icdn.antaranews.com/new/2009/11/ori/teknologi111109-1resize.jpg

Lexipal, aplikasi terapi dyslexia dari NextIn Indonesia, startup mahasiswa UGM dan robot pemadam api beroda.

Sebelas-duabelas sama ikut kompetisi sih pengalamannya, bedanya ini bisa dilakukan semua orang, termasuk bagi kamu yang emang masih nggak pede juga ikut kompetisi. Dengan bikin proyek atau produk, kita belajar banyak hal seperti manajemen waktu dan tanggung jawab. Skill kamu juga terasah banget, utamanya kalo bikin produk yang sesuai sama disiplin ilmu kamu. Hal tersebut bisa mengimbangi kuliah yang notabene teori banget padahal di dunia nyata kita harus praktik terjun lapangan Juga, proyek-proyek kamu nantinya bisa dimasukkan ke dalam CV, lumayan kan kalo ada banyak proyek nanti CV nya tebelan dikit :>

4. Cari teman yang banyak. 

https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc3/v/t1.0-9/553406_235240206579276_1582615973_n.jpg?oh=7d5d94787e7257abb8ec3ceba6f93b45&oe=54AFEF12&__gda__=1421241830_7c32f463ae516c39c5331dc4fe96d6d1
@SakaUGM, klub kampus yang saya ikuti jaman kuliah dengan alasan biar punya banyak temen cewek (secara saya kuliah di teknik)

Salah satu kunci sukses setelah kuliah adalah punya koneksi di mana-mana. Ngga usah ribet-ribet, join aja keluarga mahasiswa kampus, klub, ekstra, atau organisasi lainnya. Jangan lupa akrablah dengan orang yang punya banyak koneksi juga, paling gampang: dosen. Tips dari saya, carilah banyak teman dari disiplin ilmu berbeda dan sekolah berbeda. Semakin diverse semakin bagus karena kalian bisa saling bertukar pikiran dari sudut pandang yang berbeda-beda, dan itu asyik. 

Juga, bertemanlah dengan orang dari segala lapisan. Disitu kamu bisa belajar bersyukur karena "di bawah tanah masih ada tanah", contohnya ketika mengetahui fakta bahwa di ilmu komputer UGM mahasiswanya diusir dari kampus kalo udah sore padahal di teknik bisa nongkrong sampe jam 11 malem. Selain itu juga kita bisa belajar menjadi rendah hati karena "di atas langit masih ada langit". Contohnya ketika di salah satu lingkaran teman main saya ternyata di dalamnya ada peraih medali emas IBO, perak IOI dan perunggu IMO; prestasi saya tidak pernah setinggi itu (*,*). Percaya deh nggak ada ruginya menjalin silaturahmi karena segalanya jadi dimudahkan, contohnya saya jadi gampang cari surat rekomendasi, juga bisa nginep di Singapur gratis. 

5. Biayai kuliah sendiri. 


Indonesia Presindential Scholarship. PS: Saya nyoba tapi gagal lolol. Tuh kan saya juga sering gagal kok :))

Meskipun kamu dari keluarga mampu, cobalah. Dengan mencoba hal ini kamu akan belajar survive dan itu seru. Caranya bisa dengan cari beasiswa, kerja part time, ikut proyek dosen, ikut lomba biar menang dan dapet duit, dan masih banyak lagi. In the end tanpa sadar kamu sudah mandiri secara finansial, bahkan ngga cuma bisa biayai kuliah sendiri, tapi juga bisa punya uang sendiri. Rasanya bangga aja kita bisa punya uang sendiri, benefitnya kita bisa beli barang apa aja yang kita inginkan sendiri juga tanpa diprotes lalalala ~. Kalau mau lebih "puas" lagi, coba sampe tahap bisa kasih duit bulanan ke ortu, bukan lagi kita yang minta duit. Perhatiin gimana bahagianya mereka saat itu ;)

_______________

Sebenarnya nggak ada yang rahasia dan nggak ada yang spesial, tinggal coba mana yang kira-kira cocok. Satu dan lainnya berbeda nasib karena kita sendiri yang membuatnya beda dengan usaha yang berbeda-beda. Di sini saya cuma sharing aja, karena saya yakin di luar sana ada banyak orang yang lebih hebat dari saya, bisa jadi kamu termasuk di dalamnya. Semangat buat kalian para mahasiswa harapan bangsa! Hidup hanya sekali so make it worth, gunakan dengan biijaksana dan bahagia :>

After Everything–Post

Akhirya skripsi saya dan segala urusan yudisiumnya selesai.

Akhirnya saya resign dari pekerjaan saya.

Akhirnya saya sudah tidak menjabat jadi lead MSP – dan sudah tidak jadi MSP.

Akhirnya segala rangkaian pernikahan saya selesai.

Akhirnya saya keluar dari semua zona nyaman saya.

____

Selesai sudah empat tahun saya kuliah. Honestly, saya sedih dan tidak puas. Saya merasa tidak bisa apa-apa. Saya hanya punya IP bagus tapi saya tidak mendapat skill yang saya harapkan. Saya hanya pandai menghapal jawaban soal ujian tahun lalu kemudian menuliskannya kembali ke lembar jawaban – which is itu membuat saya hampir selalu mendapat A. Tapi saya sadar, saya tidak belajar dari hati. Saya hanya melampiaskan dendam. Melampiaskan dendam karena saya merasa tidak ada di zona nyaman saya (bidang dan tempat favorit saya) dengan cara mencari prestasi bagaimanapun bentuknya. Setidaknya kalau ada prestasi, saya senang dan lupa bagaimana sedihnya saya ketika saya harus kuliah di tempat yang ternyata sebenarnya majornya tidak begitu saya suka. In fact, I don’t like any programming things. I just can do but I did that all in pain.

I just pretend that I love those dev things.

____

Ternyata juga, saya tidak cocok bekerja. Bekerja dengan dideadline orang lain ternyata bukan gaya saya. Tanggung jawab saya masih sangat rendah. Saya ternyata hanya menantang diri saya dan menekan diri saya sendiri untuk bekerja. “Mona, kamu harus bekerja, kamu harus bisa kerja dan belajar tanggung jawab” – kurang lebih begitu.

____

Menjadi pemimpin itu adalah pekerjaan ultra berat hingga saya kadang antara kagum dan heran dengan para capres yang berani mengemban amanah sebesar itu. Memimpin ternyata bukan kapasitas saya. Memimpin adalah hal yang melebihi kapasitas saya. Saya tidak bisa membentuk visi dan merangkul. Saya tidak bisa melakukan kontrol. Saya lebih nyaman dipimpin dan diarahkan.

____

And finally I’m crying, crying like a baby. Seperti seorang bayi mencari ibunya. Di kasus saya, saya menangis mencari jati diri saya. Saya sadar selama ini saya dibunuh ekspektasi dan tidak menikmati hidup saya sendiri. Saya dibunuh ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi dimana masih lekat bayang-bayang prestasi sekolah pra-universitas saya. Saya dibunuh ekspektasi orang di sekitar saya yang menyangka bahwa jika saya “pintar”, maka saya harusnya bisa melakukan hal-hal amazing, yang apabila saya tidak bisa pasti dibilang “kok Mona yang pinter nggak bisa sih”. Saya dibunuh ekspektasi diri saya sendiri yang naif, bawasannya Mona pasti bisa memenuhi ekspektasi-ekspektasi di sekelilingnya.

But truthfully I’m not. I’m tired.

Saya ingin jadi diri saya sendiri. Saya ingin mencoba hal baru. Saya harus keluar dari semua “siksaan” yang sebenarnya juga merupakan zona nyaman saya selama ini. Ironis ya, dalam zona nyaman saya, saya kadang merasa tersiksa :))

Sooooo hal-hal tersebut di atas sebenarnya menjawab secara super jujur pertanyaan besar “Kenapa kamu nikah Mon?” – selain juga karena sudah merasa cocok dengan pasangan tentunya. Saya butuh hidup yang baru, zona nyaman yang baru. “Selamat menempuh hidup baru” dipilih menjadi ucapan default di nikahan tentu bukan tanpa alasan kan? Untuk itulah saya memilih menikah. Saya butuh alasan rasional untuk quit dari segala beban-beban masa lalu saya dan memulai kebahagiaan-kebahagiaan baru.

Dan terima kasih untuk Allah, yang selalu punya segala rencana indah untuk saya, termasuk membuat skenario tak terduga tentang bagaimana cara saya agar keluar dari segala ketidaknyamanan ini :))

And finally, I am happy now.

(saya tidak ingin posting ini berakhir dengan tragis wkwkw)

Terakhir, mumpung sedang puasa juga, saya mohon maaf atas segala ketidakpantasan yang dilakukan diri saya di masa-masa kemarin. Maaf atas janji yang tidak tertunaikan. Maaf atas komitmen yang dilanggar. Maaf atas tanggung jawab yang terabaikan. Maaf atas laku dan kata yang kurang berkenan. Lucu rasanya kalau flashback dan mengingat-ingat kesalahan masa lalu, malu! Hahahaha…

Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang bersabar dan selalu memperbaiki diri.

 

Kalibening, 3 Juli 2014

Yes, I am Getting Married.

Postingan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan banyak pihak akhir-akhir ini. Sebenernya saya dan Iib sudah expect akan banyak FAQ yang ditanyakan pada kami sehingga kami membuat http://nikah.ibmon.com. Tapi sepertinya untuk teman-teman terdekat saya, yakni sahabat-sahabat pengepo blog saya (cieeee kalian aku anggap sahabat looooh :’)), saya perlu menjawab beberapa pertanyaan sesuai versi saya sendiri hehehe…

Kamu beneran mau nikah Mon?

Iya. Akad tujuh belas Mei dua ribu empat belas. Resepsi delapan belas Mei dua ribu empat belas. Problem?

Kenapa? Kan kamu kayaknya bukan tipe orang yang mau nikah cepet gitu Mon.

Daripada ga nikah-nikah hayoooooooo :p

Ngga sih, ngga se-despo itu lah hehe, saya memang termasuk wanita mandiri yang entah kenapa sikap-karakter saya tersebut sering membuat saya tidak cocok dengan pria-pria terdahulu. Temen-temen emang pengepo setia blog saya, pasti tau saya tipenya begitu banget, too strong.

Nah sebenernya pria seperti apa sih yang diharapkan dari wanita yang so(k) strong macem saya ini? Jawabannya gampang, yang lebih strong dari dia. Itulah mengapa saya kemudian memberi syarat bagi siapapun yang ingin membersamai saya, dia harus bilang bapak dulu, kalo bapak oke baru saya bilang oke. Syarat ini saya tentukan setelah melakukan survey ke beberapa teman laki-laki dan kebanyakan dari mereka menganggap ketemu dengan orang tua cewek yang disukai untuk mengutarakan maksud dan perasaan adalah hal yang menyeramkan. Cuma pria berani, kuat dan gentlemen yang bisa passed tantangan ini.

And he did.

wp_ss_20140227_0001

And then I realized that the “one day” has came.

Kenapa baru dikasihtaunya sekarang?

Well, sebenernya ini kecepeten menurut saya, saya pengennya baru publikasi pertengahan April, tapi yang di Singapore kesian juga kalo baru tau April, tiketnya udah keburu mahal, jadilah pas ulang tahun saya, 18 Maret dipublish di sebuah grup FB bernama KUNTUM INDONESIA, berisi 141 member yang merupakan pelajar NTU Indonesia muslim. Eh…. padahal cuma dishare disitu nggak nyangka jadi viral banget :v

Sebenernya kenapa saya pengennya April aja itu lebih karena saya tidak suka keramaian hihihi. I don’t like fame, jadi kayak sayanya ga siap untuk “terkenal” dalam jangka waktu lama gitu (kegeeran banget yah). Selain juga karena saya masih banyak tanggungan dan amanah. Saya ngga mau “cuma” karena tau saya mau nikah, nikah jadi dikambinghitamkan macam, “Kamu kan mau nikah, urusin nikahmu dulu aja, nggak papa nanti bla-bla-blanya aku yang kerjain” atau bahkan macam “Mentang-mentang mau nikah terus bla-bla-blanya nggak dikerjain”. Saya sama sekali nggak pengen. Kalau ada amanah yang memang saya sanggupi ya saya harus selesaikan, ngga ada hubungannya sama saya mau nikah, titik. Kalaupun memang di jangka waktu kemaren ada hal yang saya kerjakan kurang maksimal, itu semata karena saya tidak bijak membagi waktu, bukan semata karena saya siapin nikah. Titik.

Mona tetaplah Mona.

Gimana rasanya mau nikah Mon?

Well, itu pertanyaan yang akan saya jawab dengan paling emosional kalo ada orang yang tanya (btw emosional disini bukan marah lho ya, tapi penuh emosi haru dkk dll). Kenapa? Karena ternyata ketika dilalui persiapan nikah benar-benar bukan suatu hal yang gampang.

Saya anak, dan, cucu pertama yang akan menikah

Jadi kebayang kan gimana rasanya. Ketika saya konsul ke bulik saya, beliau seperti nggak yakin dan nggak rela gitu. Masalahnya saya anak pertama dan cucu pertama yang digadang-gadang akan menjadi kebanggaan keluarga, bisa kerja dulu, sukses dulu, eeeeeh udah mau nikah aja.

Saya anak pertama yang digadang-gadang bisa jadi tulang punggung keluarga eh udah mau nikah aja.

Di satu sisi lain, karena anak dan cucu pertama, tau sendiri lah kalo apa-apanya pengen dikerjain sendiri sama emak-bapak saya. Mulai dari cari gedung, cari souvenir, rias, bahkan membuat undangan men, lipet dan lem sendiri gitu. Kami ga sewa wedding organizer dan tau sendiri kalo selera kita dan orang tua sering banget beda. Di sini saya bener-bener diuji kesabarannya dan cara komunikasi dengan orang tua.

Di fase ini saya nggak jarang stress banget gitu ketika ada miskomunikasi hingga akhirnya ada hal-hal yang ga srek. Selain itu juga stress karena apa-apa dilakukan sendiri kan, capeknya berlipat. :))

Saya kerja di MIC, KKN, skripsi, me-lead MSP, membuat Gadjah Mada Inspiration Forum, mengurusi beberapa (lebih dari satu) startup, dan mempersiapkan pernikahan dalam jangka waktu yang sama.

Hahahahaa. Kebayang stressnya nggak?

Saya kerja yang mana ada project besar yang harus saya selesaikan. Skripsi baru jalan proposal padahal 2 bulan lagi harus selesai-sai-sai. MSP Indonesia membuat MSP Sparks (workshop) di 4 regional di mana saya leadnya. Saya co-founder Gadjah Mada Inspiration Forum. Saya bagian dari beberapa startup yang sedang tumbuh, dan saya jadi kormanit KKN. Kormanit adalah koordinator mahasiswa unit. Selain tinggal di desa 2 bulan, saya harus memimpin anggota-anggota yang usianya rata-rata 2 tahun di atas saya (I’m the youngest), yang ternyata jalan pikirnya beda sama saya, yang banyak konflik dan ah..sudahlah :))

Saya belum merasa punya banyak waktu bersama keluarga

Part tersedih.

Saya KP 3 bulan, terus kerja terus KKN 2 bulan terus nikah, padahal merasa belum banyak quality time dengan orang tua, belum mewujudkan mimpi-mimpi adek, dan sebagainya. Kadang ini sering men-distract saya untuk jangan nikah dulu. Tapi ya life must go on, takdir saya aja emang hidupnya random

Tapi, saya seneng kok :)

Kalo diitung pait-paitnya, emang mau nikah itu stress banget, tapi yaudalahya resiko lu Mon salahnya mau nikah. Tapi kalo membayangkan akhirnya saya punya hidup baru dan escape dari kehidupan lama terus re-boot, siapa yang ngga seneng? Membayangkan kamu akan punya hidup sendiri, tentuin nasib keluargamu sendiri dan banyak hal menantang yet membahagiakan lainnya. Hidup emang gitu kok. Cepat atau lambat orang nikah, kebetulan aja saya dapetnya cepet. Semua harus disyukuri, bukan begitu?

_________

Jadi udah jelas kan ya? Ohya maaf banget buat teman-teman yang saya cuekin ketika pada tanya ini itu. Bukannya saya sombong, saya sedang hectic-hecticnya dan memang posisinya belum siap press release kan ya. Semoga posting ini bisa mewakili rasa penasaran. Silakan berkunjung dan tanya lebih jauh ketika saya udah selo, hahahahaaaaa… (kapan selomu mon)

Terakhir mohon doanya semoga dilancarkan sampai hari H :)

abcs