Pindahan

Alhamdulilllah saya sudah "pindah" ke Madison, Wisconsin by 9 Oktober 2014 ini. Sekaligus memberitahu, blog saya juga pindah hehe... Nggak fully pindah kok. Saya juga masih akan menulis beberapa post "hutang" saya disini. 

Pindahnya kemana Mon?


Kenapa pindah Mon?

Soalnya udah terlanjur ngehosting besar dan lama di ibmon.com jadi sayang kalo cuma dipake http://nikah.ibmon.com aja hehe... Sekalian aja diisi tulisan-tulisan biar produktif sayanya sebagai ibu rumah tangga :>

Udah ya, gitu aja. Sampai jumpa lagi teman-temanku sayang :*

Untuk Kamu Mahasiswa Baru


Sebenarnya saya menyiapkan ini untuk materi kuliah perdana JTETI UGM angkatan 2014, namun sayang seribu sayang saya tidak bisa datang karena ikut suami ke Malang. Selalu ada kesempatan kedua memang, saya diundang lagi untuk mengisi sesi di Forum Dinamika Kampus, semacam orientasi di JTETI, tapi lagi-lagi saya tidak bisa datang karena masih di Malang. Intinya saya mungkin tidak berjodoh untuk menyampaikan materi ini secara langsung dan tatap muka. Tapi karena sudah terlanjur dibuat ya rasanya dibuang sayang kan ya :') oleh karena itu akan coba saya sampaikan saja lewat sini.
 _________ 

Masa kuliah adalah salah satu masa paling menyenangkan. Empat tahun tapi sungguh berarti, bahkan menentukan masa depan saya. Saya dapet banyak duit jaman kuliah, dapet pengalaman kerja ya jaman kuliah, jadi atlet pingpong ya jaman kuliah, bahkan dapet suami juga jaman kuliah. 

Di masa ini kita dituntut mencari jati diri tapi sendirinya masih labil, dituntut belajar tapi sendirinya main mulu, dituntut lulus cepet tapi sendirinya males ngerjain skripsi, dan lain sebagainya. Kalo boleh flashback, saya sebenernya nggak pengen kuliah di tempat saya mendapat gelar S.T ini (mungkin bisa kepo posting saya 4 tahun lalu). Di akhir saya sadar, ketidakpengenan itu justru membuat saya berusaha sekuat tenaga agar saya tidak menyesal kuliah di tempat tersebut. Saya berusaha agar masa kuliah saya berharga dan bermakna. 

And I did. 

Kemudian banyak orang bertanya gimana caranya berprestasi seperti saya - utamanya mereka yang baru memasuki bangku kuliah. Pertama kalau boleh saya kasih catatan, kamu nggak perlu jadi seperti saya karena setiap orang beda dan punya gayanya masing-masing. Kedua, prestasi itu relatif dan sebenarnya simpel, sesimpel kita membuat goal untuk kita sendiri, misalnya makul X dapet A. Sekalinya kita bisa meraih goal tersebut, itulah prestasi. Karena goal tiap orang beda, prestasi tiap orang juga beda bukan? So set it first. 

Kembali ke cara, sebenarnya ada banyak sekali hal yang bisa kita lakukan selain belajar dan belajar. Ingat, tiap orang bisa beda caranya tergantung apa tujuannya. Berdasar pengalaman pribadi, buat kamu mahasiswa, menurut saya, kalian harus melakukan minimal satu dari hal-hal berikut agar masa kuliahmu bermakna: 

1. Ikut lomba/kompetisi

  Kiri: menang lomba pingpong padahal cupu. Atas: Tim Robot UGM jadi juara di kompetisi robot internasional di Trinity College US. Bawah: Tim UGM menjuarai Imagine Cup Nasional kategori Worldwide Citizenship

Lomba apapun, tingkat apapun, sesimpel ikut lomba pingpong antar angkatan *curhat*. Kenapa? Karena kompetisi mengajarkanmu banyak hal. Ketika kamu kalah, kamu akan belajar menerima bahwa emang ada yang lebih jago dari kamu dan kamu nggak sejago itu. Ketika kamu kalah padahal tinggal sedikit lagi menuju kemenangan, kamu akan memacu diri kamu untuk lebih baik karena kamu tahu selalu ada peluang menjadi lebih baik. 

Ketika kamu akhirnya menang, kamu sadar kamu punya "kemampuan lebih" dan percaya diri karenanya. Ketika kamu menang, kamu belajar bahwa nggak ada yang ngga mungkin kalau mau mencoba. Pun ketika kamu akhirnya menang, kamu belajar bahwa kemenangan itu harus didapatkan dengan kerja keras dan penuh pengorbanan. Terlepas dari menang atau kalah, dengan berkompetisi, banyak skill mu yang akan terlatih dan hal tersebut sangat berguna di kehidupan mendatang - yang memang adalah kompetisi yang sebenarnya. 

2. Ke luar negeri.

Coba cari saya yang mana

Bisa dalam rangka konferensi, pertukaran pelajar, summer school, internship, maupun jalan-jalan. Kurang lebih tujuan utamanya buat saya sama: supaya pikiran lebih terbuka dan wawasan lebih luas. 

Dengan ke luar negeri walaupun Cuma buat jalan-jalan, kita bisa tau 

"Ooo negara X kayak gini ya" 
"Oooo, sistem transportasi di negara Y kayak begini ya" 
"Oooo tata kota di negara Z begitu toh". 

Hal sesimpel itu akan membuat kita tidak menjadi katak dalam tempurung yang hanya tahu Indonesia aja (itu aja jangan-jangan Cuma tau jeleknya :p). 

Lebih pentingnya karena sebentar lagi pasar bebas ASEAN kan ya, jadi wawasan kita tentang negara di sekitar kita memang harus ditambah biar kita "tahu medan", contohnya kalo mau berkarir di luar. Kalo ada statement "Ngapain jauh-jauh? Mahal. Lewat internet aja juga bisa." hahaha itu sebenernya analog dengan orang LDR yang berstatement, "Ngapain ketemu? Mahal. Telpon doang terus-terusan aja juga pasti bisa tahan." :p 

3. Bikin proyek/produk. 

http://icdn.antaranews.com/new/2009/11/ori/teknologi111109-1resize.jpg

Lexipal, aplikasi terapi dyslexia dari NextIn Indonesia, startup mahasiswa UGM dan robot pemadam api beroda.

Sebelas-duabelas sama ikut kompetisi sih pengalamannya, bedanya ini bisa dilakukan semua orang, termasuk bagi kamu yang emang masih nggak pede juga ikut kompetisi. Dengan bikin proyek atau produk, kita belajar banyak hal seperti manajemen waktu dan tanggung jawab. Skill kamu juga terasah banget, utamanya kalo bikin produk yang sesuai sama disiplin ilmu kamu. Hal tersebut bisa mengimbangi kuliah yang notabene teori banget padahal di dunia nyata kita harus praktik terjun lapangan Juga, proyek-proyek kamu nantinya bisa dimasukkan ke dalam CV, lumayan kan kalo ada banyak proyek nanti CV nya tebelan dikit :>

4. Cari teman yang banyak. 

https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-frc3/v/t1.0-9/553406_235240206579276_1582615973_n.jpg?oh=7d5d94787e7257abb8ec3ceba6f93b45&oe=54AFEF12&__gda__=1421241830_7c32f463ae516c39c5331dc4fe96d6d1
@SakaUGM, klub kampus yang saya ikuti jaman kuliah dengan alasan biar punya banyak temen cewek (secara saya kuliah di teknik)

Salah satu kunci sukses setelah kuliah adalah punya koneksi di mana-mana. Ngga usah ribet-ribet, join aja keluarga mahasiswa kampus, klub, ekstra, atau organisasi lainnya. Jangan lupa akrablah dengan orang yang punya banyak koneksi juga, paling gampang: dosen. Tips dari saya, carilah banyak teman dari disiplin ilmu berbeda dan sekolah berbeda. Semakin diverse semakin bagus karena kalian bisa saling bertukar pikiran dari sudut pandang yang berbeda-beda, dan itu asyik. 

Juga, bertemanlah dengan orang dari segala lapisan. Disitu kamu bisa belajar bersyukur karena "di bawah tanah masih ada tanah", contohnya ketika mengetahui fakta bahwa di ilmu komputer UGM mahasiswanya diusir dari kampus kalo udah sore padahal di teknik bisa nongkrong sampe jam 11 malem. Selain itu juga kita bisa belajar menjadi rendah hati karena "di atas langit masih ada langit". Contohnya ketika di salah satu lingkaran teman main saya ternyata di dalamnya ada peraih medali emas IBO, perak IOI dan perunggu IMO; prestasi saya tidak pernah setinggi itu (*,*). Percaya deh nggak ada ruginya menjalin silaturahmi karena segalanya jadi dimudahkan, contohnya saya jadi gampang cari surat rekomendasi, juga bisa nginep di Singapur gratis. 

5. Biayai kuliah sendiri. 


Indonesia Presindential Scholarship. PS: Saya nyoba tapi gagal lolol. Tuh kan saya juga sering gagal kok :))

Meskipun kamu dari keluarga mampu, cobalah. Dengan mencoba hal ini kamu akan belajar survive dan itu seru. Caranya bisa dengan cari beasiswa, kerja part time, ikut proyek dosen, ikut lomba biar menang dan dapet duit, dan masih banyak lagi. In the end tanpa sadar kamu sudah mandiri secara finansial, bahkan ngga cuma bisa biayai kuliah sendiri, tapi juga bisa punya uang sendiri. Rasanya bangga aja kita bisa punya uang sendiri, benefitnya kita bisa beli barang apa aja yang kita inginkan sendiri juga tanpa diprotes lalalala ~. Kalau mau lebih "puas" lagi, coba sampe tahap bisa kasih duit bulanan ke ortu, bukan lagi kita yang minta duit. Perhatiin gimana bahagianya mereka saat itu ;)

_______________

Sebenarnya nggak ada yang rahasia dan nggak ada yang spesial, tinggal coba mana yang kira-kira cocok. Satu dan lainnya berbeda nasib karena kita sendiri yang membuatnya beda dengan usaha yang berbeda-beda. Di sini saya cuma sharing aja, karena saya yakin di luar sana ada banyak orang yang lebih hebat dari saya, bisa jadi kamu termasuk di dalamnya. Semangat buat kalian para mahasiswa harapan bangsa! Hidup hanya sekali so make it worth, gunakan dengan biijaksana dan bahagia :>

After Everything–Post

Akhirya skripsi saya dan segala urusan yudisiumnya selesai.

Akhirnya saya resign dari pekerjaan saya.

Akhirnya saya sudah tidak menjabat jadi lead MSP – dan sudah tidak jadi MSP.

Akhirnya segala rangkaian pernikahan saya selesai.

Akhirnya saya keluar dari semua zona nyaman saya.

____

Selesai sudah empat tahun saya kuliah. Honestly, saya sedih dan tidak puas. Saya merasa tidak bisa apa-apa. Saya hanya punya IP bagus tapi saya tidak mendapat skill yang saya harapkan. Saya hanya pandai menghapal jawaban soal ujian tahun lalu kemudian menuliskannya kembali ke lembar jawaban – which is itu membuat saya hampir selalu mendapat A. Tapi saya sadar, saya tidak belajar dari hati. Saya hanya melampiaskan dendam. Melampiaskan dendam karena saya merasa tidak ada di zona nyaman saya (bidang dan tempat favorit saya) dengan cara mencari prestasi bagaimanapun bentuknya. Setidaknya kalau ada prestasi, saya senang dan lupa bagaimana sedihnya saya ketika saya harus kuliah di tempat yang ternyata sebenarnya majornya tidak begitu saya suka. In fact, I don’t like any programming things. I just can do but I did that all in pain.

I just pretend that I love those dev things.

____

Ternyata juga, saya tidak cocok bekerja. Bekerja dengan dideadline orang lain ternyata bukan gaya saya. Tanggung jawab saya masih sangat rendah. Saya ternyata hanya menantang diri saya dan menekan diri saya sendiri untuk bekerja. “Mona, kamu harus bekerja, kamu harus bisa kerja dan belajar tanggung jawab” – kurang lebih begitu.

____

Menjadi pemimpin itu adalah pekerjaan ultra berat hingga saya kadang antara kagum dan heran dengan para capres yang berani mengemban amanah sebesar itu. Memimpin ternyata bukan kapasitas saya. Memimpin adalah hal yang melebihi kapasitas saya. Saya tidak bisa membentuk visi dan merangkul. Saya tidak bisa melakukan kontrol. Saya lebih nyaman dipimpin dan diarahkan.

____

And finally I’m crying, crying like a baby. Seperti seorang bayi mencari ibunya. Di kasus saya, saya menangis mencari jati diri saya. Saya sadar selama ini saya dibunuh ekspektasi dan tidak menikmati hidup saya sendiri. Saya dibunuh ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi dimana masih lekat bayang-bayang prestasi sekolah pra-universitas saya. Saya dibunuh ekspektasi orang di sekitar saya yang menyangka bahwa jika saya “pintar”, maka saya harusnya bisa melakukan hal-hal amazing, yang apabila saya tidak bisa pasti dibilang “kok Mona yang pinter nggak bisa sih”. Saya dibunuh ekspektasi diri saya sendiri yang naif, bawasannya Mona pasti bisa memenuhi ekspektasi-ekspektasi di sekelilingnya.

But truthfully I’m not. I’m tired.

Saya ingin jadi diri saya sendiri. Saya ingin mencoba hal baru. Saya harus keluar dari semua “siksaan” yang sebenarnya juga merupakan zona nyaman saya selama ini. Ironis ya, dalam zona nyaman saya, saya kadang merasa tersiksa :))

Sooooo hal-hal tersebut di atas sebenarnya menjawab secara super jujur pertanyaan besar “Kenapa kamu nikah Mon?” – selain juga karena sudah merasa cocok dengan pasangan tentunya. Saya butuh hidup yang baru, zona nyaman yang baru. “Selamat menempuh hidup baru” dipilih menjadi ucapan default di nikahan tentu bukan tanpa alasan kan? Untuk itulah saya memilih menikah. Saya butuh alasan rasional untuk quit dari segala beban-beban masa lalu saya dan memulai kebahagiaan-kebahagiaan baru.

Dan terima kasih untuk Allah, yang selalu punya segala rencana indah untuk saya, termasuk membuat skenario tak terduga tentang bagaimana cara saya agar keluar dari segala ketidaknyamanan ini :))

And finally, I am happy now.

(saya tidak ingin posting ini berakhir dengan tragis wkwkw)

Terakhir, mumpung sedang puasa juga, saya mohon maaf atas segala ketidakpantasan yang dilakukan diri saya di masa-masa kemarin. Maaf atas janji yang tidak tertunaikan. Maaf atas komitmen yang dilanggar. Maaf atas tanggung jawab yang terabaikan. Maaf atas laku dan kata yang kurang berkenan. Lucu rasanya kalau flashback dan mengingat-ingat kesalahan masa lalu, malu! Hahahaha…

Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang bersabar dan selalu memperbaiki diri.

 

Kalibening, 3 Juli 2014

Yes, I am Getting Married.

Postingan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan banyak pihak akhir-akhir ini. Sebenernya saya dan Iib sudah expect akan banyak FAQ yang ditanyakan pada kami sehingga kami membuat http://nikah.ibmon.com. Tapi sepertinya untuk teman-teman terdekat saya, yakni sahabat-sahabat pengepo blog saya (cieeee kalian aku anggap sahabat looooh :’)), saya perlu menjawab beberapa pertanyaan sesuai versi saya sendiri hehehe…

Kamu beneran mau nikah Mon?

Iya. Akad tujuh belas Mei dua ribu empat belas. Resepsi delapan belas Mei dua ribu empat belas. Problem?

Kenapa? Kan kamu kayaknya bukan tipe orang yang mau nikah cepet gitu Mon.

Daripada ga nikah-nikah hayoooooooo :p

Ngga sih, ngga se-despo itu lah hehe, saya memang termasuk wanita mandiri yang entah kenapa sikap-karakter saya tersebut sering membuat saya tidak cocok dengan pria-pria terdahulu. Temen-temen emang pengepo setia blog saya, pasti tau saya tipenya begitu banget, too strong.

Nah sebenernya pria seperti apa sih yang diharapkan dari wanita yang so(k) strong macem saya ini? Jawabannya gampang, yang lebih strong dari dia. Itulah mengapa saya kemudian memberi syarat bagi siapapun yang ingin membersamai saya, dia harus bilang bapak dulu, kalo bapak oke baru saya bilang oke. Syarat ini saya tentukan setelah melakukan survey ke beberapa teman laki-laki dan kebanyakan dari mereka menganggap ketemu dengan orang tua cewek yang disukai untuk mengutarakan maksud dan perasaan adalah hal yang menyeramkan. Cuma pria berani, kuat dan gentlemen yang bisa passed tantangan ini.

And he did.

wp_ss_20140227_0001

And then I realized that the “one day” has came.

Kenapa baru dikasihtaunya sekarang?

Well, sebenernya ini kecepeten menurut saya, saya pengennya baru publikasi pertengahan April, tapi yang di Singapore kesian juga kalo baru tau April, tiketnya udah keburu mahal, jadilah pas ulang tahun saya, 18 Maret dipublish di sebuah grup FB bernama KUNTUM INDONESIA, berisi 141 member yang merupakan pelajar NTU Indonesia muslim. Eh…. padahal cuma dishare disitu nggak nyangka jadi viral banget :v

Sebenernya kenapa saya pengennya April aja itu lebih karena saya tidak suka keramaian hihihi. I don’t like fame, jadi kayak sayanya ga siap untuk “terkenal” dalam jangka waktu lama gitu (kegeeran banget yah). Selain juga karena saya masih banyak tanggungan dan amanah. Saya ngga mau “cuma” karena tau saya mau nikah, nikah jadi dikambinghitamkan macam, “Kamu kan mau nikah, urusin nikahmu dulu aja, nggak papa nanti bla-bla-blanya aku yang kerjain” atau bahkan macam “Mentang-mentang mau nikah terus bla-bla-blanya nggak dikerjain”. Saya sama sekali nggak pengen. Kalau ada amanah yang memang saya sanggupi ya saya harus selesaikan, ngga ada hubungannya sama saya mau nikah, titik. Kalaupun memang di jangka waktu kemaren ada hal yang saya kerjakan kurang maksimal, itu semata karena saya tidak bijak membagi waktu, bukan semata karena saya siapin nikah. Titik.

Mona tetaplah Mona.

Gimana rasanya mau nikah Mon?

Well, itu pertanyaan yang akan saya jawab dengan paling emosional kalo ada orang yang tanya (btw emosional disini bukan marah lho ya, tapi penuh emosi haru dkk dll). Kenapa? Karena ternyata ketika dilalui persiapan nikah benar-benar bukan suatu hal yang gampang.

Saya anak, dan, cucu pertama yang akan menikah

Jadi kebayang kan gimana rasanya. Ketika saya konsul ke bulik saya, beliau seperti nggak yakin dan nggak rela gitu. Masalahnya saya anak pertama dan cucu pertama yang digadang-gadang akan menjadi kebanggaan keluarga, bisa kerja dulu, sukses dulu, eeeeeh udah mau nikah aja.

Saya anak pertama yang digadang-gadang bisa jadi tulang punggung keluarga eh udah mau nikah aja.

Di satu sisi lain, karena anak dan cucu pertama, tau sendiri lah kalo apa-apanya pengen dikerjain sendiri sama emak-bapak saya. Mulai dari cari gedung, cari souvenir, rias, bahkan membuat undangan men, lipet dan lem sendiri gitu. Kami ga sewa wedding organizer dan tau sendiri kalo selera kita dan orang tua sering banget beda. Di sini saya bener-bener diuji kesabarannya dan cara komunikasi dengan orang tua.

Di fase ini saya nggak jarang stress banget gitu ketika ada miskomunikasi hingga akhirnya ada hal-hal yang ga srek. Selain itu juga stress karena apa-apa dilakukan sendiri kan, capeknya berlipat. :))

Saya kerja di MIC, KKN, skripsi, me-lead MSP, membuat Gadjah Mada Inspiration Forum, mengurusi beberapa (lebih dari satu) startup, dan mempersiapkan pernikahan dalam jangka waktu yang sama.

Hahahahaa. Kebayang stressnya nggak?

Saya kerja yang mana ada project besar yang harus saya selesaikan. Skripsi baru jalan proposal padahal 2 bulan lagi harus selesai-sai-sai. MSP Indonesia membuat MSP Sparks (workshop) di 4 regional di mana saya leadnya. Saya co-founder Gadjah Mada Inspiration Forum. Saya bagian dari beberapa startup yang sedang tumbuh, dan saya jadi kormanit KKN. Kormanit adalah koordinator mahasiswa unit. Selain tinggal di desa 2 bulan, saya harus memimpin anggota-anggota yang usianya rata-rata 2 tahun di atas saya (I’m the youngest), yang ternyata jalan pikirnya beda sama saya, yang banyak konflik dan ah..sudahlah :))

Saya belum merasa punya banyak waktu bersama keluarga

Part tersedih.

Saya KP 3 bulan, terus kerja terus KKN 2 bulan terus nikah, padahal merasa belum banyak quality time dengan orang tua, belum mewujudkan mimpi-mimpi adek, dan sebagainya. Kadang ini sering men-distract saya untuk jangan nikah dulu. Tapi ya life must go on, takdir saya aja emang hidupnya random

Tapi, saya seneng kok :)

Kalo diitung pait-paitnya, emang mau nikah itu stress banget, tapi yaudalahya resiko lu Mon salahnya mau nikah. Tapi kalo membayangkan akhirnya saya punya hidup baru dan escape dari kehidupan lama terus re-boot, siapa yang ngga seneng? Membayangkan kamu akan punya hidup sendiri, tentuin nasib keluargamu sendiri dan banyak hal menantang yet membahagiakan lainnya. Hidup emang gitu kok. Cepat atau lambat orang nikah, kebetulan aja saya dapetnya cepet. Semua harus disyukuri, bukan begitu?

_________

Jadi udah jelas kan ya? Ohya maaf banget buat teman-teman yang saya cuekin ketika pada tanya ini itu. Bukannya saya sombong, saya sedang hectic-hecticnya dan memang posisinya belum siap press release kan ya. Semoga posting ini bisa mewakili rasa penasaran. Silakan berkunjung dan tanya lebih jauh ketika saya udah selo, hahahahaaaaa… (kapan selomu mon)

Terakhir mohon doanya semoga dilancarkan sampai hari H :)

KP Part 6: Kepala Kakek Putus

Sepanjang pulang dari Pulau Ubin, tetep ada aja yang kami bertujuh kerjakan untuk mengusir kebosenan, dari yang tebak-tebakan alur cerita, sampe sambung-sambung cerita ga jelas yang akhirnya melahirkan cerita horor berjudul Kepala Kakek Putus. Akhirnya, hubungan kami tidak hanya berhenti sampai situ, tapi akhirnya berlanjut ke dunia maya, hingga sekarang. Ada gunanya juga saya telat bangun waktu mau ke Pulau Ubin, jadi bisa mengenalkan the interns sama geng.

Screenshot (65)

Tidak menyangka grup main kali ini asik.  Kami para interns (saya, kemal, ashar, raja) biasanya kemudian kalo hari Senin atau Selasa menjadi tidak sabar untuk segera bertemu weekend dan merencanakan “besok kemana ya” via grup ini. Grup ini kadang juga menjadi distraksi luar biasa kalo lagi kerja atau lembur tugas di malam hari, karena sering share-share dan diskusi hal aneh, salah satu jenisnya adalah video, sampe saya dokumentasikan disini, lol

Tapi ajaibnya, hingga pulang, kami malah justru ngga pernah main lengkap bertujuh lagi, ada aja yang ngga bisa. Yaudah sih yang penting main (kalo pikiran saya dan the interns). Beberapa main kami sebelum saya balik antara lain:

1. Nonton The Internship

S$8 per tiket, Golden Village, Jurong Point.

image

Sebagai interns, kami merasa perlu nonton The Internship, apalagi ceritanya juga berbau-bau geek.

2. Bukit Batok Nature Park dan Ikea Tampines

Trip ini sepi, cuma ada saya, Kemal dan Agi yang ngeyolo ke Bukit Batok Nature Park. Singapore ini saya salutnya, walau dipenuhi bangungan tinggi, mereka tetap me-reserve tempat yang diperuntukkan khusus untuk hutan atau taman kota. Nature Park ini persisi seperti hutan, dengan di tengahnya tau-tau ada danau.

1 (2)

foto credit to Kemal

Cukup indah, tapi ternyata nggak begitu besar, kirain harus seharian untuk menjelajahi Nature Park yang satu ini, ternyata kayak jam 10 atau 11 gitu udah selesai heu. Karena masih pagi, jadilah Agi ngajak kami untuk ke Ikea Tampines demi BELI BAKSO.

image

Kami naik bus, lupa jalur apa yang jelas itu selama 1,5 jam dari Bukit Batok Nature Park ke Bedok. Dari Bedok naik MRT ke Tampines disambung dari Tampines kami naik bus gratisan ke komplek Ikea. Total perjalanan 3 jam hahahaa udah kayak Jogja – Semarang aja.

Ini bukan pertama kali sih sebenernya ke Ikea, dulu waktu pindahan kos sempet juga ke Ikea buat beli beberapa barang. Ikea ini mirip Informa dan Ace Hardware gitu, tapi furniture dan barang-barangnya lebih lucu, artistik, wow, unik, minimalis, serbaguna, cocok banget buat memaksimalkan ruang. Nah di Ikea ini ada Restorannya yang menjual makanan-makanan Skandinavia, dan, Ikea Tampines adalah satu-satunya Ikea Singapore yang jual Swedish Meatball versi Halal (ada di line 3).

2

Reviewnya di posting selanjutnya ya :p

3. Karaoke

Ceritanya, si Ashar ternyata nggak pernah karaoke, akhirnya kami memutuskan pada sebuah Weekend ajakin dia karaoke. Kami karaoke di gedung NTU Alumni Club Buona Vista, di KTV Teo Heng. Sewa medium room dengan rate S$10 sejam kalau ngga salah, cukup murah untuk ukuran Singapur, tapi…… Interface mesin pemilih lagunya ngga user friendly banget >,<

1

boleh bawa makanan dan minum dari luar. Lagunya juga entah kenapa ada lagu Indonesia bahkan dangdutnya, ngga ngerti lagi.

4. Universal Studio Singapore

Tiket masuk: S$74. Beli minum S$12.

Bukan kali pertama saya ke USS sih, tahun lalu juga pernah. Tapi karena orang-orangnya beda, tetap tercetus keinginan untuk main ke USS. Foto credit to Kak Natali (anak UI yang lagi exchange di NUS).

1

Tips: pergi pagi (jam 10 udah sampe), pulang malem. Bawa minuman yang banyak dan makan siang ahahaha…

5. NTU

Kemal, Ashar, Andros (mahasiswa lain dari UI yang juga intern di NUS) dan Kak Natali ceritanya mau studi banding ke NTU, jadi saya ajak mereka putar-putar NTU. NTU ini cukup besar tapi sebagian besar adalah hutan dan hall, jadi saya ajak mereka ke South Spine dan North Spine saja. Rutenya Lee Wee Nam, Student Activities Center, Canteen A, Canteen B, The Quad. Gitu aja sih.

image

Sepertinya rute saya kali ini kurang menarik karena mereka mengeluh hanya melihat pemandangan yang sama aja. FYI, seluruh gedung di NTU ini “nyambung”, bisa dari satu gedung ke gedung lain tanpa kebasahan, dan, North Spine dan South Spine ini mirip banget bentuknya sedemikian hingga mereka bingung.

Berbeda dengan NUS, NTU ini per school dibedakan oleh “sayap” dan lecture hall bisa digunakan school manapun, sementara NUS dibedakan per gedung terpisah. Suasananya juga beda kata mereka, NTU lebih santai. Kalau pernah ke UI dan ITB kemudian NUS dan NTU macem Ashar dan Kemal ini, orang tersebut pasti komentar “NTU ini ITB banget ya, kalo NUS itu UI banget”. Saya belom pernah ke NUS dan UI waktu itu jadi belom bisa bandingin. Tapi emang sih ITB tuh NTU banget.

Selesai tour, kami makan bareng di The Quad

6. Skating

Tarif S$14 untuk 2 jam, sewa sepatu S$3.5 @ The Rink JCube Jurong East.

2

Saya dan Raja ngga bisa skating sama sekali, tapi alhamdulillah at least bisa berdiri dan jalan-jalan sedikit. In the end malah pengen skating lagi :”

7. Anter pulang

Daaaaaaaaaan akhirnya Andros, Kemal, Ashar pulang ke Indo di awal September. Masa intern mereka udah abis. Sementara Raja tetep di NUS karena dia juga apply exchange, weleh.

3

Terus terjadi kejadian mengharukan karena Kemal berjanji pada dirinya sendiri kalo ada Iib/Agi yang anter mereka pulang, dia bakal meluk. Baiklah.

Kemal sendiri sekarang lagi di Tokyo, exchange di Tokodai selama 1 tahun, berangkat hanya beberapa hari setelah pulang dari Singapur.

8. Mac Ritchie

Raja ngajakin kami ke Mac Ritchie, karena pengen naik jembatan maha keren ini

http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/00873/singapore_walkway_873256c.jpg

walhasil kami ke Mac Ritchie, aslinya ini reservoir sih, cuman ada Nature Parknya juga. Masuk gratis.

image_thumb[12]

Rutenya beragam, dari yang pinggir reservoir sampe masuk hutan, jalan becek, jalan berbatu, jalan yang banyak monyet, sampe jalan di samping lapangan golf.

1

Tips: bawa payung dan minum.

2

Sampaila di menara pandang. Tapi karena Ifah mau ada acara, kami pulang padahal belum sampe ke jembatan tadi. Nah Mac Ritchie ini ada beberapa rute dan kami ambil rute yang 7km. Kirain habis itu langsung exit, ternyataaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa masih harus jalan 4 km apa ya buat exit, jadi kami jalan kaki 11 km. Lebih kayaknya. Pegel mampus habis itu wkwkw

Pentup

Buat saya sendiri, ini lingkungan dengan jenis yang baru, karena saya meskipun kuliah di IT, saya ngga pernah terdampar di lingkungan yang literally geek tapi bisa menerima ke-geek an masing-masing. Agi yang Microsoft Fan Boy, Ashar dan Kemal yang open source geek, Raja yang (sok-sok) atheis, Iib yang kerja di Google tapi pakenya Windows Phone :v dan sebagainya. Obrolannya jelas beda. Saya hampir ngga bisa ngobrol geek ama circle-circle saya sebelumnya, tapi sama mereka bisa. Karena dari berbagai latar belakang “agama” teknologi dan universitas, kami jadi justru saling tambah ilmu, berasa wawasan lebih terbuka, apalagi Agi yang geek banget padahal bukan anak computer science sering bikin saya Ashar Kemal merasa kurang geek. Mereka juga open banget dan kocak jayus ga jelas, beda ama lingkungan dan circle Jogja yang kalem-kalem jaim. Sumpah kangen.

image

ketemu Andros dan Ashar di Gemastik

This post is dedicated to Kepala Kakek Putus members, thanks for filling a quarter of my 2013 life with full of awesomeness. Regards, Nurvirta, 31 December 2013.

Bersambung…

abcs