After Everything–Post

Akhirya skripsi saya dan segala urusan yudisiumnya selesai.

Akhirnya saya resign dari pekerjaan saya.

Akhirnya saya sudah tidak menjabat jadi lead MSP – dan sudah tidak jadi MSP.

Akhirnya segala rangkaian pernikahan saya selesai.

Akhirnya saya keluar dari semua zona nyaman saya.

____

Selesai sudah empat tahun saya kuliah. Honestly, saya sedih dan tidak puas. Saya merasa tidak bisa apa-apa. Saya hanya punya IP bagus tapi saya tidak mendapat skill yang saya harapkan. Saya hanya pandai menghapal jawaban soal ujian tahun lalu kemudian menuliskannya kembali ke lembar jawaban – which is itu membuat saya hampir selalu mendapat A. Tapi saya sadar, saya tidak belajar dari hati. Saya hanya melampiaskan dendam. Melampiaskan dendam karena saya merasa tidak ada di zona nyaman saya (bidang dan tempat favorit saya) dengan cara mencari prestasi bagaimanapun bentuknya. Setidaknya kalau ada prestasi, saya senang dan lupa bagaimana sedihnya saya ketika saya harus kuliah di tempat yang ternyata sebenarnya majornya tidak begitu saya suka. In fact, I don’t like any programming things. I just can do but I did that all in pain.

I just pretend that I love those dev things.

____

Ternyata juga, saya tidak cocok bekerja. Bekerja dengan dideadline orang lain ternyata bukan gaya saya. Tanggung jawab saya masih sangat rendah. Saya ternyata hanya menantang diri saya dan menekan diri saya sendiri untuk bekerja. “Mona, kamu harus bekerja, kamu harus bisa kerja dan belajar tanggung jawab” – kurang lebih begitu.

____

Menjadi pemimpin itu adalah pekerjaan ultra berat hingga saya kadang antara kagum dan heran dengan para capres yang berani mengemban amanah sebesar itu. Memimpin ternyata bukan kapasitas saya. Memimpin adalah hal yang melebihi kapasitas saya. Saya tidak bisa membentuk visi dan merangkul. Saya tidak bisa melakukan kontrol. Saya lebih nyaman dipimpin dan diarahkan.

____

And finally I’m crying, crying like a baby. Seperti seorang bayi mencari ibunya. Di kasus saya, saya menangis mencari jati diri saya. Saya sadar selama ini saya dibunuh ekspektasi dan tidak menikmati hidup saya sendiri. Saya dibunuh ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi dimana masih lekat bayang-bayang prestasi sekolah pra-universitas saya. Saya dibunuh ekspektasi orang di sekitar saya yang menyangka bahwa jika saya “pintar”, maka saya harusnya bisa melakukan hal-hal amazing, yang apabila saya tidak bisa pasti dibilang “kok Mona yang pinter nggak bisa sih”. Saya dibunuh ekspektasi diri saya sendiri yang naif, bawasannya Mona pasti bisa memenuhi ekspektasi-ekspektasi di sekelilingnya.

But truthfully I’m not. I’m tired.

Saya ingin jadi diri saya sendiri. Saya ingin mencoba hal baru. Saya harus keluar dari semua “siksaan” yang sebenarnya juga merupakan zona nyaman saya selama ini. Ironis ya, dalam zona nyaman saya, saya kadang merasa tersiksa :))

Sooooo hal-hal tersebut di atas sebenarnya menjawab secara super jujur pertanyaan besar “Kenapa kamu nikah Mon?” – selain juga karena sudah merasa cocok dengan pasangan tentunya. Saya butuh hidup yang baru, zona nyaman yang baru. “Selamat menempuh hidup baru” dipilih menjadi ucapan default di nikahan tentu bukan tanpa alasan kan? Untuk itulah saya memilih menikah. Saya butuh alasan rasional untuk quit dari segala beban-beban masa lalu saya dan memulai kebahagiaan-kebahagiaan baru.

Dan terima kasih untuk Allah, yang selalu punya segala rencana indah untuk saya, termasuk membuat skenario tak terduga tentang bagaimana cara saya agar keluar dari segala ketidaknyamanan ini :))

And finally, I am happy now.

(saya tidak ingin posting ini berakhir dengan tragis wkwkw)

Terakhir, mumpung sedang puasa juga, saya mohon maaf atas segala ketidakpantasan yang dilakukan diri saya di masa-masa kemarin. Maaf atas janji yang tidak tertunaikan. Maaf atas komitmen yang dilanggar. Maaf atas tanggung jawab yang terabaikan. Maaf atas laku dan kata yang kurang berkenan. Lucu rasanya kalau flashback dan mengingat-ingat kesalahan masa lalu, malu! Hahahaha…

Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang bersabar dan selalu memperbaiki diri.

 

Kalibening, 3 Juli 2014

Another Random Thing

Beberapa hari ini saya mendapat tekanan yang begitu besar dari manapun. Bulan-bulan ini adalah bulan-bulan terberat dalam 21 tahun saya hidup, tepatnya beberapa hari belakangan ini – yang mana saya tidak pernah menyangka akan seberat ini. Gambarannya saya kira hanya sebesar X^Y, ternyata besarnya lim (x—>0) (1/x) hahahahaa…

Dan saya sudah bosan mendengar kata-kata semacam “kamu kira ini gampang?” atau “kubilang juga apa” dari orang lain, mostly dari orang tua sih hahaha…

Dan dari semua itu saya paling bosan mendengar keluhan diri saya sendiri.

Malam ini (yang ternyata setelah saya cek, saya sedang PMS-PMS nya), saya cukup menye dengan scrolling up down chat saya ke orang-orang, mostly ke calon suami saya. Hasilnya, saya sangat malu karena isinya sebagian besar adalah keluhan. Saya sungguh malu hingga usia 21 tahun ini, di usia yang seharusnya dewasa, saya masih kurang bisa memposisikan diri saya di segala macam peran sosial saya dengan baik.

Akibat dari keluhan-keluhan tersebut lama-lama sangat fatal ternyata, sampai ke level menyakiti diri saya dan orang lain. Oke ini sudah tidak beres, mungkin implikasi dari saking stressnya, sehingga saya merasa ada sesuatu yang salah di diri saya dan ini harus segera diperbaiki, diobati.

Untuk itu saya bertekad mulai hari ini saya akan STOP MENGELUH dan memulai #100happydays sebagai terapi saya, juga lebih banyak mendekatkan diri sama Allah, minta petunjuk supaya dimudahkan. Mohon doanya ya semoga semuanya dilancarkan. Mohon maaf juga untuk semua yang telah saya buat bete atau jengkel atau ilfil atau tersakiti karena perilaku saya akhir-akhir ini :’)

Spesial buat Mamas, aku sudah nggak paham lagi kamu terbuat dari apa. Kamu masih bisa ber-wkwkkw padahal kita sedang bete-betenya, aku sedang kacau, kamu merasa irritated. Terima kasih untuk segala pengertiannya beberapa hari ini. Terima kasih, terima kasih, aku udah nggak ngerti lagi gimana ngebalesnya :’_) *pengen peluk erat tapi belum muhrim*

Nurvirta, 1 Mei 2014

Yes, I am Getting Married.

Postingan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan banyak pihak akhir-akhir ini. Sebenernya saya dan Iib sudah expect akan banyak FAQ yang ditanyakan pada kami sehingga kami membuat http://nikah.ibmon.com. Tapi sepertinya untuk teman-teman terdekat saya, yakni sahabat-sahabat pengepo blog saya (cieeee kalian aku anggap sahabat looooh :’)), saya perlu menjawab beberapa pertanyaan sesuai versi saya sendiri hehehe…

Kamu beneran mau nikah Mon?

Iya. Akad tujuh belas Mei dua ribu empat belas. Resepsi delapan belas Mei dua ribu empat belas. Problem?

Kenapa? Kan kamu kayaknya bukan tipe orang yang mau nikah cepet gitu Mon.

Daripada ga nikah-nikah hayoooooooo :p

Ngga sih, ngga se-despo itu lah hehe, saya memang termasuk wanita mandiri yang entah kenapa sikap-karakter saya tersebut sering membuat saya tidak cocok dengan pria-pria terdahulu. Temen-temen emang pengepo setia blog saya, pasti tau saya tipenya begitu banget, too strong.

Nah sebenernya pria seperti apa sih yang diharapkan dari wanita yang so(k) strong macem saya ini? Jawabannya gampang, yang lebih strong dari dia. Itulah mengapa saya kemudian memberi syarat bagi siapapun yang ingin membersamai saya, dia harus bilang bapak dulu, kalo bapak oke baru saya bilang oke. Syarat ini saya tentukan setelah melakukan survey ke beberapa teman laki-laki dan kebanyakan dari mereka menganggap ketemu dengan orang tua cewek yang disukai untuk mengutarakan maksud dan perasaan adalah hal yang menyeramkan. Cuma pria berani, kuat dan gentlemen yang bisa passed tantangan ini.

And he did.

wp_ss_20140227_0001

And then I realized that the “one day” has came.

Kenapa baru dikasihtaunya sekarang?

Well, sebenernya ini kecepeten menurut saya, saya pengennya baru publikasi pertengahan April, tapi yang di Singapore kesian juga kalo baru tau April, tiketnya udah keburu mahal, jadilah pas ulang tahun saya, 18 Maret dipublish di sebuah grup FB bernama KUNTUM INDONESIA, berisi 141 member yang merupakan pelajar NTU Indonesia muslim. Eh…. padahal cuma dishare disitu nggak nyangka jadi viral banget :v

Sebenernya kenapa saya pengennya April aja itu lebih karena saya tidak suka keramaian hihihi. I don’t like fame, jadi kayak sayanya ga siap untuk “terkenal” dalam jangka waktu lama gitu (kegeeran banget yah). Selain juga karena saya masih banyak tanggungan dan amanah. Saya ngga mau “cuma” karena tau saya mau nikah, nikah jadi dikambinghitamkan macam, “Kamu kan mau nikah, urusin nikahmu dulu aja, nggak papa nanti bla-bla-blanya aku yang kerjain” atau bahkan macam “Mentang-mentang mau nikah terus bla-bla-blanya nggak dikerjain”. Saya sama sekali nggak pengen. Kalau ada amanah yang memang saya sanggupi ya saya harus selesaikan, ngga ada hubungannya sama saya mau nikah, titik. Kalaupun memang di jangka waktu kemaren ada hal yang saya kerjakan kurang maksimal, itu semata karena saya tidak bijak membagi waktu, bukan semata karena saya siapin nikah. Titik.

Mona tetaplah Mona.

Gimana rasanya mau nikah Mon?

Well, itu pertanyaan yang akan saya jawab dengan paling emosional kalo ada orang yang tanya (btw emosional disini bukan marah lho ya, tapi penuh emosi haru dkk dll). Kenapa? Karena ternyata ketika dilalui persiapan nikah benar-benar bukan suatu hal yang gampang.

Saya anak, dan, cucu pertama yang akan menikah

Jadi kebayang kan gimana rasanya. Ketika saya konsul ke bulik saya, beliau seperti nggak yakin dan nggak rela gitu. Masalahnya saya anak pertama dan cucu pertama yang digadang-gadang akan menjadi kebanggaan keluarga, bisa kerja dulu, sukses dulu, eeeeeh udah mau nikah aja.

Saya anak pertama yang digadang-gadang bisa jadi tulang punggung keluarga eh udah mau nikah aja.

Di satu sisi lain, karena anak dan cucu pertama, tau sendiri lah kalo apa-apanya pengen dikerjain sendiri sama emak-bapak saya. Mulai dari cari gedung, cari souvenir, rias, bahkan membuat undangan men, lipet dan lem sendiri gitu. Kami ga sewa wedding organizer dan tau sendiri kalo selera kita dan orang tua sering banget beda. Di sini saya bener-bener diuji kesabarannya dan cara komunikasi dengan orang tua.

Di fase ini saya nggak jarang stress banget gitu ketika ada miskomunikasi hingga akhirnya ada hal-hal yang ga srek. Selain itu juga stress karena apa-apa dilakukan sendiri kan, capeknya berlipat. :))

Saya kerja di MIC, KKN, skripsi, me-lead MSP, membuat Gadjah Mada Inspiration Forum, mengurusi beberapa (lebih dari satu) startup, dan mempersiapkan pernikahan dalam jangka waktu yang sama.

Hahahahaa. Kebayang stressnya nggak?

Saya kerja yang mana ada project besar yang harus saya selesaikan. Skripsi baru jalan proposal padahal 2 bulan lagi harus selesai-sai-sai. MSP Indonesia membuat MSP Sparks (workshop) di 4 regional di mana saya leadnya. Saya co-founder Gadjah Mada Inspiration Forum. Saya bagian dari beberapa startup yang sedang tumbuh, dan saya jadi kormanit KKN. Kormanit adalah koordinator mahasiswa unit. Selain tinggal di desa 2 bulan, saya harus memimpin anggota-anggota yang usianya rata-rata 2 tahun di atas saya (I’m the youngest), yang ternyata jalan pikirnya beda sama saya, yang banyak konflik dan ah..sudahlah :))

Saya belum merasa punya banyak waktu bersama keluarga

Part tersedih.

Saya KP 3 bulan, terus kerja terus KKN 2 bulan terus nikah, padahal merasa belum banyak quality time dengan orang tua, belum mewujudkan mimpi-mimpi adek, dan sebagainya. Kadang ini sering men-distract saya untuk jangan nikah dulu. Tapi ya life must go on, takdir saya aja emang hidupnya random

Tapi, saya seneng kok :)

Kalo diitung pait-paitnya, emang mau nikah itu stress banget, tapi yaudalahya resiko lu Mon salahnya mau nikah. Tapi kalo membayangkan akhirnya saya punya hidup baru dan escape dari kehidupan lama terus re-boot, siapa yang ngga seneng? Membayangkan kamu akan punya hidup sendiri, tentuin nasib keluargamu sendiri dan banyak hal menantang yet membahagiakan lainnya. Hidup emang gitu kok. Cepat atau lambat orang nikah, kebetulan aja saya dapetnya cepet. Semua harus disyukuri, bukan begitu?

_________

Jadi udah jelas kan ya? Ohya maaf banget buat teman-teman yang saya cuekin ketika pada tanya ini itu. Bukannya saya sombong, saya sedang hectic-hecticnya dan memang posisinya belum siap press release kan ya. Semoga posting ini bisa mewakili rasa penasaran. Silakan berkunjung dan tanya lebih jauh ketika saya udah selo, hahahahaaaaa… (kapan selomu mon)

Terakhir mohon doanya semoga dilancarkan sampai hari H :)

Aku Kudu Piye?

Jadi ceritanya saya diemail orang begini:

Dear Mbak Nurvita,
to the point, jika ada MSP apakah ada peluang menjadi OpenSource Student Partner. seperti kita tahu UGM punya project UGOS yang mati suri , tapi justru sekarang PSDI dan temen2 trendnya adalah kembali ke propiertery soft. 
jika ada peluang menjadi OSSP tentunya harapanya begini, menghidupkan kembali UGOS dengan mengandeng developer ugm serta developer OpenSource lain yang berminat dan mengandeng Microsoft (?) walau saya tidak yakin Microsoft akan mendukung

Sincerely,
((SENSOR))
http://about.me/((sensor))

Saya nggak kenal nih orang, siapa sih, sama sekali ngga tau siapa dia, latar belakang dia, anak mana. Menurut saya, akan lebih baik dia kenalan dulu agar saya bisa kasih saran yang lebih tepat, misal dia anak TI UGM maka akan saya arahkan ke klub Linux nya Night Login. Terus saya bales gini

Maaf walau to the point, saya akan sangat mengapresiasi kalo Anda mengenalkan diri Anda terlebih dahulu :)


Nurvirta Monarizqa
Microsoft Student Partner
@nmonarizqa
bit.ly/mspmona

NAAAAAAAAAAAAAH terus saya dapet balesan yang cukup bikin saya emosi sesaat

Oh maaf, sebenarnya ttg saya sudah tercantum di about.me/((sensor)) :)

saya ((sensor)), mahasiswa ugm yg biasa biasa saja di ((sensor)), kebetulan saja hanya tertarik setelah membaca seluk beluk perkembangan Unit TIK kita dikampus kita.

Salam kenal

Sincerely
http://about.me/((sensor))

Dalam hati saya ya, sekepo-keponya saya, saya nggak pernah berharap banyak orang akan MENGEPO SAYA LEWAT SIGNATURE. Menurut saya, orang lain ngga bisa baca pikiran kita. Kalaupun saya berharap orang lain itu baca tentang saya dari sebuah link di signature saya, saya ngga akan naif dia akan membuka link tersebut, sehingga, jika saya ingin orang tersebut buka link, saya akan eksplisit menulis seperti ini misalnya “Untuk tahu siapa saya dan apa kegiatan saya, silakan buka link berikut bla bla bla”. Di poin ini saya bete.

Karena bete, saya bales begini.

Ya tetap saja etikanya harus berkenalan terlebih dahulu karena Anda yang menghubungi duluan dan tidak semua orang berkenan menge-klik link yang orang tersebut tidak tahu tujuannya untuk apa (mana saya tahu Anda mencantumkan about me untuk dikepo, tidak semua orang suka ngepo loh hehe), untung cuma sama saya, kalo sama rektor atau kepala PSDI UGM mungkin Anda udah ngga digubris hehehe…

Untuk Open Source sendiri sekarang sudah ada Google Student Ambassador kok :)

Well, udah mulai ngarang kalo GSA (Google Student Ambassador) ngerjain open source lol. Terus dibales gini:

Baiklah saya mohon maaf sebelumnya ya jika kurang berkenan. Apakah ini akun email pribadi? Jika iya berarti memang saya yang salah terlalu to the point.

Baik terimakasih infonya, untuk kegiatan opensource tersebut bagaimana saya bisa menghubunginya PIC atau situsnya? Thanks in advance :)

Dan saya bales gini

Bukan masalah akun pribadi, pake apapun, lain kali, kalo menghubungi siapapun harus berkenalan dulu ya, karena itu bagian dari attitude kamu, kayak kalo bertamu ketuk pintu dulu :)

Lihat disini :) <kemudian ngasih link tentang klub di Night Login>

DAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN BALESAN TERAKHIRNYA ADALAH

Thanks but its better not to reply at all if you dont know and dont wanna know who send you any text or emails. Rather than giving advise to people that you dont know.
Not everyone wanna hear any advise without asking it.

Anyway I appreciate the info.

SIGH.

Well, sebenernya saya “memperlakukan dia seperti itu” berdasar pengalaman pribadi saya sih. Suatu hari saya melakukan suatu hal yang membuat Prof saya kecewa berat sama saya. Menurut saya, hal yang saya lakukan itu sepele: motret ruangan. Cara saya mengganggap hal tersebut, seperti sebut saja si X di atas menganggap “memperkenalkan diri eksplisit adalah hal sepele dan tidak perlu”. Saya nganggep motret-motret itu hal biasa.

Ternyata ngga bagi Prof saya.

Itu hal fatal banget. Tapi kerennya, beliau mengajak saya menepi berduaan saja dan kemudian ngasih saran saya bahwa apa yg saya lakukan tidak baik (menurut dia), karena bla bla bla (alasan yang selanjutnya bisa saya terima). Beliau bilang itu adalah bagian dari attitude. Mengambil foto tanpa minta izin bukanlah hal yang sopan menurut Beliau, dan Beliau bilang, Beliau “menasehati” saya bukan karena marah, tapi lebih karena attitude ini sangat berguna untuk kemudian hari, ketika saya di dunia kerja misalnya. Dan saya mengaminkan.

Sejak saat itu sadar bahwa ada hal-hal yang kita anggap sepele tapi sangat dipikirkan orang lain. Saya pun mulai berhati-hati dalam bersikap. Saya ngga hidup sendiri. Saya hidup dengan society yang plural. Saya harus menghormati dan ngga bisa seenaknya sendiri.

Apalagi hidup di Asia, terlebih di Jogja. Ha. Ha. Ha.

Walau saya sendiri sebenarnya masih berproses. Contoh nyata status Twitter atau Fesbuk, mungkin cuma selentingan tapi eh ternyata bikin tersinggung orang. Ngomong atau nyeletuk niat bercanda, eh ternyata ada yang ngga suka dengan tipe bercandaan kita kan ya.

Contoh lebih nyatanya ya kasus saya ini, matriksnya seperti berikut ini:

  hal yg dianggap sepele hal yg dianggap serius
Si X tidak memperkenalkan diri eksplisit di awal pembicaraan diberi nasehat oleh Mona yang ngga dia kenal
Saya memberi nasehat pada si X yang ngga saya kenal Si X tidak memperkenalkan diri eksplisit di awal pembicaraan

Kemudian saya pun terinspirasi dengan Prof tadi. Rather than memarahi orang, saya ngasih saran dengan sangaaaaaaaaaaaaaaat halus (even pake emot senyum atau ada hehe nya) tentang apa yg sebaiknya orang lain perbuat apabila orang lain tersebut melakukan sesuatu yang kurang sreg ke saya. It works many times by the way, kecuali ke si X ini :(

Saya yang biasa “blame myself” langsung lemes. Apakah saya terlalu ngeselin? Apakah saya terlalu “gila hormat”? Apakah saya berlebihan? :(

Menurut kamu gimana?

____________________________________

DISCLAIMER: post ini tidak bermasuk meng-offense siapapun. Saya pribadi sudah meminta maaf kepada si X karena saya tahu dalam hal ini saya juga salah (remember that I’m a “blame myself first”-type person right?). Pada dasarnya tidak ada orang yang mau digurui. Tujuan saya hanya untuk renungan kita semua semata, pissssssssssss  :)

KP Part 6: Kepala Kakek Putus

Sepanjang pulang dari Pulau Ubin, tetep ada aja yang kami bertujuh kerjakan untuk mengusir kebosenan, dari yang tebak-tebakan alur cerita, sampe sambung-sambung cerita ga jelas yang akhirnya melahirkan cerita horor berjudul Kepala Kakek Putus. Akhirnya, hubungan kami tidak hanya berhenti sampai situ, tapi akhirnya berlanjut ke dunia maya, hingga sekarang. Ada gunanya juga saya telat bangun waktu mau ke Pulau Ubin, jadi bisa mengenalkan the interns sama geng.

Screenshot (65)

Tidak menyangka grup main kali ini asik.  Kami para interns (saya, kemal, ashar, raja) biasanya kemudian kalo hari Senin atau Selasa menjadi tidak sabar untuk segera bertemu weekend dan merencanakan “besok kemana ya” via grup ini. Grup ini kadang juga menjadi distraksi luar biasa kalo lagi kerja atau lembur tugas di malam hari, karena sering share-share dan diskusi hal aneh, salah satu jenisnya adalah video, sampe saya dokumentasikan disini, lol

Tapi ajaibnya, hingga pulang, kami malah justru ngga pernah main lengkap bertujuh lagi, ada aja yang ngga bisa. Yaudah sih yang penting main (kalo pikiran saya dan the interns). Beberapa main kami sebelum saya balik antara lain:

1. Nonton The Internship

S$8 per tiket, Golden Village, Jurong Point.

image

Sebagai interns, kami merasa perlu nonton The Internship, apalagi ceritanya juga berbau-bau geek.

2. Bukit Batok Nature Park dan Ikea Tampines

Trip ini sepi, cuma ada saya, Kemal dan Agi yang ngeyolo ke Bukit Batok Nature Park. Singapore ini saya salutnya, walau dipenuhi bangungan tinggi, mereka tetap me-reserve tempat yang diperuntukkan khusus untuk hutan atau taman kota. Nature Park ini persisi seperti hutan, dengan di tengahnya tau-tau ada danau.

1 (2)

foto credit to Kemal

Cukup indah, tapi ternyata nggak begitu besar, kirain harus seharian untuk menjelajahi Nature Park yang satu ini, ternyata kayak jam 10 atau 11 gitu udah selesai heu. Karena masih pagi, jadilah Agi ngajak kami untuk ke Ikea Tampines demi BELI BAKSO.

image

Kami naik bus, lupa jalur apa yang jelas itu selama 1,5 jam dari Bukit Batok Nature Park ke Bedok. Dari Bedok naik MRT ke Tampines disambung dari Tampines kami naik bus gratisan ke komplek Ikea. Total perjalanan 3 jam hahahaa udah kayak Jogja – Semarang aja.

Ini bukan pertama kali sih sebenernya ke Ikea, dulu waktu pindahan kos sempet juga ke Ikea buat beli beberapa barang. Ikea ini mirip Informa dan Ace Hardware gitu, tapi furniture dan barang-barangnya lebih lucu, artistik, wow, unik, minimalis, serbaguna, cocok banget buat memaksimalkan ruang. Nah di Ikea ini ada Restorannya yang menjual makanan-makanan Skandinavia, dan, Ikea Tampines adalah satu-satunya Ikea Singapore yang jual Swedish Meatball versi Halal (ada di line 3).

2

Reviewnya di posting selanjutnya ya :p

3. Karaoke

Ceritanya, si Ashar ternyata nggak pernah karaoke, akhirnya kami memutuskan pada sebuah Weekend ajakin dia karaoke. Kami karaoke di gedung NTU Alumni Club Buona Vista, di KTV Teo Heng. Sewa medium room dengan rate S$10 sejam kalau ngga salah, cukup murah untuk ukuran Singapur, tapi…… Interface mesin pemilih lagunya ngga user friendly banget >,<

1

boleh bawa makanan dan minum dari luar. Lagunya juga entah kenapa ada lagu Indonesia bahkan dangdutnya, ngga ngerti lagi.

4. Universal Studio Singapore

Tiket masuk: S$74. Beli minum S$12.

Bukan kali pertama saya ke USS sih, tahun lalu juga pernah. Tapi karena orang-orangnya beda, tetap tercetus keinginan untuk main ke USS. Foto credit to Kak Natali (anak UI yang lagi exchange di NUS).

1

Tips: pergi pagi (jam 10 udah sampe), pulang malem. Bawa minuman yang banyak dan makan siang ahahaha…

5. NTU

Kemal, Ashar, Andros (mahasiswa lain dari UI yang juga intern di NUS) dan Kak Natali ceritanya mau studi banding ke NTU, jadi saya ajak mereka putar-putar NTU. NTU ini cukup besar tapi sebagian besar adalah hutan dan hall, jadi saya ajak mereka ke South Spine dan North Spine saja. Rutenya Lee Wee Nam, Student Activities Center, Canteen A, Canteen B, The Quad. Gitu aja sih.

image

Sepertinya rute saya kali ini kurang menarik karena mereka mengeluh hanya melihat pemandangan yang sama aja. FYI, seluruh gedung di NTU ini “nyambung”, bisa dari satu gedung ke gedung lain tanpa kebasahan, dan, North Spine dan South Spine ini mirip banget bentuknya sedemikian hingga mereka bingung.

Berbeda dengan NUS, NTU ini per school dibedakan oleh “sayap” dan lecture hall bisa digunakan school manapun, sementara NUS dibedakan per gedung terpisah. Suasananya juga beda kata mereka, NTU lebih santai. Kalau pernah ke UI dan ITB kemudian NUS dan NTU macem Ashar dan Kemal ini, orang tersebut pasti komentar “NTU ini ITB banget ya, kalo NUS itu UI banget”. Saya belom pernah ke NUS dan UI waktu itu jadi belom bisa bandingin. Tapi emang sih ITB tuh NTU banget.

Selesai tour, kami makan bareng di The Quad

6. Skating

Tarif S$14 untuk 2 jam, sewa sepatu S$3.5 @ The Rink JCube Jurong East.

2

Saya dan Raja ngga bisa skating sama sekali, tapi alhamdulillah at least bisa berdiri dan jalan-jalan sedikit. In the end malah pengen skating lagi :”

7. Anter pulang

Daaaaaaaaaan akhirnya Andros, Kemal, Ashar pulang ke Indo di awal September. Masa intern mereka udah abis. Sementara Raja tetep di NUS karena dia juga apply exchange, weleh.

3

Terus terjadi kejadian mengharukan karena Kemal berjanji pada dirinya sendiri kalo ada Iib/Agi yang anter mereka pulang, dia bakal meluk. Baiklah.

Kemal sendiri sekarang lagi di Tokyo, exchange di Tokodai selama 1 tahun, berangkat hanya beberapa hari setelah pulang dari Singapur.

8. Mac Ritchie

Raja ngajakin kami ke Mac Ritchie, karena pengen naik jembatan maha keren ini

http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/00873/singapore_walkway_873256c.jpg

walhasil kami ke Mac Ritchie, aslinya ini reservoir sih, cuman ada Nature Parknya juga. Masuk gratis.

image_thumb[12]

Rutenya beragam, dari yang pinggir reservoir sampe masuk hutan, jalan becek, jalan berbatu, jalan yang banyak monyet, sampe jalan di samping lapangan golf.

1

Tips: bawa payung dan minum.

2

Sampaila di menara pandang. Tapi karena Ifah mau ada acara, kami pulang padahal belum sampe ke jembatan tadi. Nah Mac Ritchie ini ada beberapa rute dan kami ambil rute yang 7km. Kirain habis itu langsung exit, ternyataaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa masih harus jalan 4 km apa ya buat exit, jadi kami jalan kaki 11 km. Lebih kayaknya. Pegel mampus habis itu wkwkw

Pentup

Buat saya sendiri, ini lingkungan dengan jenis yang baru, karena saya meskipun kuliah di IT, saya ngga pernah terdampar di lingkungan yang literally geek tapi bisa menerima ke-geek an masing-masing. Agi yang Microsoft Fan Boy, Ashar dan Kemal yang open source geek, Raja yang (sok-sok) atheis, Iib yang kerja di Google tapi pakenya Windows Phone :v dan sebagainya. Obrolannya jelas beda. Saya hampir ngga bisa ngobrol geek ama circle-circle saya sebelumnya, tapi sama mereka bisa. Karena dari berbagai latar belakang “agama” teknologi dan universitas, kami jadi justru saling tambah ilmu, berasa wawasan lebih terbuka, apalagi Agi yang geek banget padahal bukan anak computer science sering bikin saya Ashar Kemal merasa kurang geek. Mereka juga open banget dan kocak jayus ga jelas, beda ama lingkungan dan circle Jogja yang kalem-kalem jaim. Sumpah kangen.

image

ketemu Andros dan Ashar di Gemastik

This post is dedicated to Kepala Kakek Putus members, thanks for filling a quarter of my 2013 life with full of awesomeness. Regards, Nurvirta, 31 December 2013.

Bersambung…

Peta Rute Trans Jogja Terbaru (Desember 2013 - 2014)

Iseng, saya main ke Dinas Perhubungan dan Kominfo DIY, dan mendapatkan peta rute Trans Jogja terbaru dan mungkin akan terpakai hingga tahun 2014. Perbedaan paling menonjol ada di jalur 1B nya sih karena jalur 1B sekarang lewat Babarsari dan mampir ke Terminal Condong Catur juga, bikin dari kampus mau ke Amplaz doang jadi lama ahaha... Gosipnya, tahun 2015 jalurnya mau dirombak total menjadi point to point agar lebih efisien. Maju terus Trans Jogja *kiss bye*

Peta ini mencakup halte biasa dan halte portable (halte "turun"). Halte portable ini menarik karena berupa tangga yang ngga ada penjaganya. Tapi kalo punya kartu langganan ternyata kita bisa juga naik via halte portable ini terus tap di dalam bus, widih canggih. Di peta ini ada perubahan warna penanda jalur jadi jangan bingung ya, cekidot! Klik kanan pada gambar, pilih open image in new tab untuk memperbesar. Selamat liburan semuanya :)


KP Part 5: HUT RI dan Pulau Ubin

Jadi ceritanya, di Hari Kemerdekaan RI, kebetulan hari Sabtu jadi pada libur, Agi ngajakin Ifah, Iib, dan saya untuk ke Pulau Ubin, yang adalah salah satu tempat dengan rating tinggi di Trip Advisor dan menurut webnya, adalah Last Kampung di Singapore (secara Singapore isinya kan HDB semua). Kami janjian untuk cus dari Pioneer MRT jam 6 pagi, tapi apa daya karena malemnya saya begadang....

Saya kesiangan.

Tetot sekali, saya liat hape ternyata udah pada miskolin dan sms dan wasap buaahahaa, setelah mohon-mohon minta maaf akhirnya diundur jadi sorean perginya. Sedih pol waktu itu, maaf banget teman-teman :'(

Akhirnya karena pagi nganggur, saya memutuskan untuk ke KBRI saja sendirian. Ngajakin Ifah tapi dianya ga mau, yaudah sih YOLO, kapan lagi saya 17-an di Singapur.

Upacara di KBRI

Sebenernya saya ngga kedapetan upacaranya sih, sampe sana tetep aja kesiangan, upacaranya udah selesai :'(

Tapi tetep, boleh masuk ke dalam buat makan-makan, yakali jauh-jauh dari Jurong West ke KBRI selama 51 menit perjalanan ngga dapet apa-apa :))

Capture

Pioneer MRT, naik EW (hijau) arah Pasir Ris, turun Queenstown di exit B, cari bus stop, naik bus 111, turun di 6 bus stop setelahnya, terus jalan ke KBRI.

Disini untung ketemu teman-teman PINUS (Pelajar Indonesia NUS) termasuk Ashar dan Kemal. Waktu ini, saya belum kenal anak-anak PINTU malahan (Pelajar Indonesia NTU).

1

Daaaan makanannya ini enak-enak banget brosis, untuk foto makanan credit to Ashar Fuadi (inget, foto-foto saya masih pada di hardisk yang rusak, huee)

2

Roti coklatnya enak parah asli.

Iseng, saya ngajakin anak berdua ini untuk ikut trip ke Pulau Ubin bersama geng Agi-Iib-Ifah dan mereka mau. Mereka kemudian ngajakin Raja dan sepakat ketemuan di MRT Jurong East aja.

Pulau Ubin

Siang sempet hujan dan khawatir, sorenya cerah nggak ya, tapi untungnya emang lumayan cerah sehingga kami bisa pergi ke Pulau Ubin. Dari Pioneer, kami naik MRT EW (hijau) arah Pasir Ris turun di Bedok, terus kami nunggu Raja yang kesiangan di Bus Stop 84031 seberang stasiun MRT. Nah dari sini naik bus Jalur 2 dan tunggu sebanyak 31 bus stop hingga bus stop 99009 atau 99139 terserah sih pokoknya tujuan akhirnya Changi Point Ferry Terminal.

1

Oke, perjalanan jauh ini memakan waktu dua jam lebih, satu jam sendiri ada di bus. Daripada ngga jelas di bus, kami mainan permainan yang waktu itu kami tau namanya "connect". Jadi peraturannya, ada satu pemain menjadi game master, satu pemain breaker dan yang lain pemain biasa/penebak. Game master memikirkan satu kata dan pemain harus menebak. Iterasi ke-0 nya, game master memberi satu huruf awal, misal P, nah penebak harus saling kode-kodean. Misal kemudian penebak 1 ingin menebak, dia tidak boleh menyebutkan kata berawalan P, tapi bolehnya menyebutkan kode

Penebak 1: "Butiran, di pantai, halus"

Nah kalau ada yang tahu jawabannya, penebak lain harus bilang "connect" terlebih dahulu

Penebak 2: "Connect"

Setelah itu keduanya bersamaan menyebutkan kata yang sama-sama dipikirkan sambil bilang "1-2-3" dulu

Penebak 1 dan 2: "1-2-3, pasir!!!!"

Kalau sama, game master memberi huruf selanjutnya, misal I, jadinya sekarang "PI". Penebak harus memikirkan kata berawalan PI. Siapapun boleh memberi clue asal penebak.

Penebak 2: "Di rumah"

Nah penebak harus memberikan clue secara implisit, soalnya bisa di break sama breaker

Breaker: "Pintu!"

Nah kalo breaker bener nebak yang di pikiran penebak, clue batal dan harus cari clue lain. Ini sumpah permainan kode-kodean yang seru dan bikin ngakak karena kita kadang ngga kepikiran sebuah clue dan ngga kepikiran konektivitasnya, kayak Agi dan Iib waktu nebak, ketika huruf yang ter-reveal sudah "PERT"

Agi: "Lebih dari empat" | Iib: "connect!" | Agi dan Iib: "1-2-3, PERTUJUAAAAAAN!"

Maksudnya adalah plesetan dari pertigaan, simpangan yang lebih dari empat dengan depannya "pert" berarti pertujuhan. Dafuq banget lah.

Akhirnya setelah sekian jam perjalanan, sampai juga ke Changi poin ferry Terminal. Kami naik kapal, per orangnya S$2.5 sekali jalan, bolak balik berarti S$5

Dan sampailah di Pulau Ubiiiin... (foto dan video credit to Kemal Maulana)

1098316_10200426572723359_1336861460_n

The Interns di Pulau Ubin: Raja, Ashar, Kemal, saya

Di sini kita juga bisa pinjam sepeda, satu harinya S$8 untuk keliling pulau sepuasnya. Kesan pertama saya adalah: Ini nggak Singapur banget. Saya sehari-hari melihat bentukan Singapur adalah kota padat dengan apartemen HDB dimana-mana dan gedung perkantoran tinggi. Di Pulau ini yang saya lihat adalah hutan, LANDED HOUSE YANG TIDAK MEWAH (karena kalo di Singapore, landed house itu mahal banget jadi pasti rumahnya bagus ala-ala The Sims), kampung, jalan yang ngga bagus-bagus amat dan kesederhanaan. Jauh dari hingar bingar kota lah.

page

landed house Pulau Ubin vs dalam kota, sumber: wikipedia dan denoxa.com

Kami cycling hingga Check Jawa site, nemu rumah nomer 1 di Pulau Ubin dan numpang Sholat :)) dilanjut narsis

1146737_10200426573963390_1789437222_n

The Interns narsis di atas batu

Kata Agi, dinamai pulau Ubin karena memang dulu ada banyak pengrajin Ubin, ngga tau sih dia ngibul apa engga, ini videonya:

Jalan-Jalan Mon Part 1 https://www.facebook.com/photo.php?v=10200575310641714&set=vb.1127442816&type=3

Kami kemudian melanjutkan jalan ke Jembatan kayu yang kira-kira begini bentuknya

http://aworldtravel.files.wordpress.com/2012/10/pulau-ubin-wetland.jpg

Lengkapnya seperti apa kalo selo bisa dilihat di Jalan-Jalan Mon Part 2 https://www.facebook.com/photo.php?v=10200575320841969&set=vb.1127442816&type=3

Terus kami melanjutkan perjalan ke tower kayu empat lantai untuk melihat pemandangan yang Subhanallah

1005813_10200426578843512_1313533728_n

Video: Jalan-jalan Mon Part 3 https://www.facebook.com/photo.php?v=10200575325362082&set=vb.1127442816&type=3&permPage=1

Terakhir, gowes di sebelah danau

64513_10200426586243697_2006367886_n

Kemudian balikin sepeda, beli es kelapa muda saking hausnya, dan pulang.

Video: Jalan-jalan Mon Part 4 https://www.facebook.com/photo.php?v=10200575331562237&set=vb.1127442816&type=3&permPage=1

Kesimpulan

Capeeeeeeeeeeeek, tapi Pulau Ubin indah aselik, worth to try kalo ke Singapore. Ke Singapore jangan cuma ke Orchard deh, sekali-kali cari wisata ngga mainstream (di mata orang Indo) macan Pulau Ubin ini. Tips sih bawa makanan dan minum yang banyak karena gowesnya cape. Kesini juga minimal luangkan waktu 3 jam untuk jelajahi seisi pulaunya biar puas, jadi mending dateng pagi banget terus pulang sore/maghrib. Ohya jangan tanya rute ke saya soalnya saya juga ga paham, cuman ngikutin Agi :)) kalo pertama kali kemari dan ngga ada guide, saran saya pertama masuk Pulau langsung aja cari Information Center. Bagusnya Singapore, sekampung apapun, informasi yang jelas bisa kita dapatkan sedemikian hingga kita ngga tersesat dan tetap merasa nyaman berwisata, salut!

bersambung...

KP Part 4: Singapore National Day

Ini dimulai ketika tanggal 2 Agustus 2013, saya janjian ketemuan sama Mercia Wijaya, temen sekamar saya jaman pelatnas IMO SMA dulu yang mana dia sekarang sudah lulus dari math NUS dan menjadi guru SMP disana (sumpah Mer, ngga pernah ngebayangin lo jadi guru SMP lol).

Kebetulan, mamanya Mercia ama adeknya, Tante Yulie ama Michael juga lagi liburan ke Singapur, jadilah Mercia ngajak kami ketemuan dan makan-makan. Saya ajak sekalian Raja Oktovin, temen pelatnas kami juga yang memang lagi intern juga tapi di NUS. Dari beberapa hari sebelumnya mau ketemuan sama dia tapi ngga kesampaian melulu. Raja kemudian membawa dua teman kampusnya (UI) yang juga lagi intern di NUS, si Ashar Fuadi dan Kemal Maulana, disitulah awal mula saya kenal mereka berdua. Kami kumpul di Singapore Botanic Garden jam 4 sore, tapi ternyata sampe sana, saya yang sampe duluan, disusul Raja dan rombongan, terus Mercia dan rombongan.

Botanic Garden, masuknya gratis. Turun di MRT station Botanic Garden aja, keluar udah langsung gerbang Botanic Garden. Botanic Garden ini luas banget, dan kata Mercia bisa “memperpendek” jalan dari daerah situ ke Orchard, yang mana kalo naik MRT jatuhnya jauh banget. Iyain aja sih. Tempat ini kata Ashar mirip sama Kebun Raya Bogor (iyalah secara yang bikin sama-sama pak Raffles) tapi karena sayanya belum pernah ke KRB ya udah sih ga bisa bandingin hehe. Karena cuma lewat dan hardisk saya rusak kan ya, maaf ngga ada foto-foto Botanic Garden.

Dari situ langsung cus ke Makansutra di daerah Esplanade, tempat kami makan dan well, tempatnya penuh bangeeeeeeeeeeeeeeeet, bahkan sampai waktu berbuka (waktu itu masih puasa), kami belum dapet tempat. Akhirnya dapet tempat juga setelah menunggu hampir 45 menit. Kami pesen sting ray yang terkenal itu, seafood lain dan beberapa sate ayam. Uniknya, di sini ada device semacam ufo yang diberi ke customer saat memesan makanan. Ajaibnya, si Ufo kemudian akan bersinar ketika pesanan kita sudah siap, seperti gambar di bawah ini.

1175305_10201154887507731_798936090_n

Setelah menyala, kita harus mengambil pesanan kita di stall yang tersedia, dituker ama ufonya.

1

Sting ray nya enak, cuminya enak, satenya enak, buncisnya paling enaaaaaaaaaaaaaak… Akhirnya makan buncis ala singapore-nya L’Cost Jogja di Singapore beneran. Minumnya es kalamansi, dan ini enak banget asli. Minuman paling menyegarkan di Singapur yang pernah saya coba. Beberapa saat kemudian saya mendengar suara ledakan kemudian pengunjung yang lain mengarahkan kameranya

1174870_10201154890187798_1514777110_n

Ternyata, lagi ada pesta kembang api bung…

2

… ternyata sedang ada REHEARSAL untuk National Day Parade bung… Bayangin dong, cuma gladi bersih acara ulang tahun sebuah negara, menggunakan kembang api sungguhan, salut abis deh

1186276_10201154887467730_2131917093_n

Hari- H, 9 Agustus 2013

Semenjak nonton kembang api rehearsal, saya jadi pengen nonton hari-H nya karena pasti spektakuler. Saya punya self achievement yang pengen saya wujudkan: foto dengan latar belakang kembang api. Saya diajakin nonton sama anak-anak NUS di Marina Parade sebenernya, tapi karena siangnya diajakin Ifah makan opor di kosannya bareng sama Agi dan Iib (thanks to Ifah, opornya enak banget), saya jadi ngga bisa kumpul sama mereka jam setengah 2 di tempat yang dijanjikan.

Jadilah kami berempat membuat trip NDP kami sendiri, dari Jurong East tempat Ifah, naik bus sampai MRT Haw Par Villa dilanjut naik jalur kuning ke Harbour Front dan naik bus ke arah Marina dimana acara utamanya digelar, tapi ternyataaaaaaaa… Jalan sudah banyak yang ditutup, Fullerton bahkan sudah full waktu saya lihat dari bis dan bis cuma berhenti sampai daerah Suntec City dan itu cukup jauh dari tempat acara. Ternyata lagi, banyak orang yang senasib ama kami, tersesat. Cari-carilah kami jalan keluar guna bisa sampai ke tempat acara tapi sama aja, banyak jalan ditutup. Nah disini agak lupa, entah gimana caranya akhirnya kami naik bisa nemu jalan ke arah MRT (thanks to Iib yang pernah KP di PayPal dalem gedung Suntec) dan naik MRT lagi turun Bayfront, keluar ke arah lobi Marina Bay Sands yang menghadap sungai dan alhamdulillaaaaah masih rada sepi jadi bisa cari-cari tempat padahal udah malem. Salut abis ama Agi yang bisa cari tempat tidak terduga. Total kayaknya dua jam buat cari tempat doang gara-gara banyak jalan ditutup.

3

pada nungguin kembang api

Daaaaaaaaaaan si kembang api yang ditunggu-tunggu pun tiba, semua mengeluarkan senjatanya, termasuk senjata saya, Lumia 820 *untung sempat backup foto-foto NDP ke Facebook*

4

Gitu-gitu doang sih sebenernya, namanya kembang api juga dimana-mana sama, tapi saya kesini dengan satu tujuan, untuk berfoto dengan latar belakang kembang api!

5

Daaaaaaaaaaan mission complete akhirnya wkwkwk…

Capek, akhirnya pulangnya kami makan di Spize, reviewnya di beberapa postingan selanjutnya deh :p Tips aja, kalau mau nonton National Day Parade atau acara-acara lain yang berbau Kembang Api di Singapur, datenglah dari siang. Nunggu lama ngga papa sih yang penting kedapetan tempat. Bawa minuman karena pasti haus. Bawa kartu buat mainan karena pasti bosen nunggu wkwkw…

Bersambung…

KP Part 3: Gardens by The Bay!

Web: http://www.gardensbythebay.com.sg/

Ini adalah salah satu tempat paling indah yang pernah saya kunjungi di Singapur. Gimana caranya ke sana? Dari Pioneer naik Jalur hijau (EW) sampe Raffles Place, terus naik jalur merah (NS) arah Marina Bay dan turun Marina Bay, terkahir naik kuning (CC) arah Harbour Front turun di Bayfront. Apesnya, waktu pertama kali kesana, kami malah turun di Promenade dan jalan jauh pake ngalang jalan tol segala hahahaaa…

Tempat ini saya alokasikan satu postingan khusus karena selama Kerja Praktek di Singapur 3 bulan, saya kesini EMPAT KALI. Iya, selo banget ya sampe empat kali heu heu.

5

Pertama,

Ketika baru beberapa hari di Singapur, temen saya dari Elektro UGM, Fanni Irsanti ternyata mau ada konferensi di India dan transit di Singapura cukup lama, 12 jam apa ya, dan karena saya cukup selo, saya temenin jalan-jalan, salah satunya ke sini.

1

Kami naik ke atas jembatan, OCBC Skylink namanya, biayanya S$5 per orang. Tapi kalo cuma main di taman yang berisi Giant Skytree ini, gratis. Ohya skytree atau pohon buatan ini dibuat seperti pohon aslinya, bisa fotosintesis juga dia. Ckckck dasar Singapur.

Kedua,

Bersama teman-teman ERAP saya dan kenalan-kenalannya. Ada Diah, Delphine, Arnan, Subham, Aifei dan Thuy. Kami naik OCBC skyway

32

Dan dilanjut dengan masuk ke satu konservatorium. Di sini ada dua konservatorium atau taman, yaitu Cloud Forest dan Flower Dome, kami memilih Cloud Forest. Satu konservatoriumnya S$12, beruntung kami punya work permit sehingga boleh masuk satu konservatorium saja. Kalo turis biasa, harus masuk dua duanya dan membayar S$28, kalo pemegang long term pass dan Singaporean bisa masuk dua konservatorium dengan hanya S$20 saja. Ini skema ticketingnya:

image

Cloud Forest ini menarik banget, mengadopsi hutan hujan kayak di Kalimantan gitu. Waktu masuk disambut dengan air terjun buatan setinggi 7 lantai:

6

Enaknya, di sini kami bisa “mendaki” air terjun tadi. Cukup ikuti rutenya saja, tanpa sadar sudah sampai dalam dan tau-tau sudah di puncak air terjun.

79

Pemandangan dari atasnya indah banget, paling enak kalo kesini bareng keluarga atau orang terdekat :”>

8

Di akhir trip ada semacam video gitu menjelaskan tentang pentingnya menjaga lingkungan karena suhu bumi lama-lama tambah panas.

4

Ketiga,

Menemani Febri, temen satu pelatihan jaman SMP dulu (sekarang kuliah di UI) dan temennya, Yekti yang me-YOLO ke Malaysia dan Singapur buat liburan

image

Keempat,

Nemenin temen yang kuliah di Pendidikan Dokter UGM, si Agung Hartoko yang juga YOLO ke Singapur SENDIRIAN. Awalnya mau rombongan berempat tapi dua temennya ngga bisa, terus pacarnya juga ngga dibolehin orang tuanya. Akhirnya karena udah terlanjur pesan segala hal, dia tetep berangkat walau sendirian. Salut bro, ahahaha…

Saya karena masih ada urusan di NTU, nemenin dia cuma siang, cuma ke Flower Domenya aja. Bunganya indah-indah, bikin terharu.

132

Kesimpulan

Gardens by The Bay adalah tempat yang sangat recommended untuk dikunjungi ketika di Singapura, apalagi kalo hobi tentang berbau tumbuhan atau foto-foto (karena banyak tempat yang foto-able). Saran saya cek dulu web nya (ada di paling atas post) kalo mau dateng, siapa tau ada promosi. Terus juga, ngga usah naik shuttle car yang disediakan (S$2 PP) soalnya jalan kaki pun deket. Bawa payung jangan lupa, soalnya panas banget di luarnya. Bawa minum yang banyak takut kehausan soalnya visit time cukup lama, 4 jam kalo ditambah sekaligus visit ke dua konservatorium. Juga, karena tempat makan di dalem (kafe dan restoran) nya mahal-mahal, mending bawa bekal atau makanan dari luar, atau malah makan di tempat lain.

Bersambung…

abcs