LES PRIVAT

Teladan dua ribu sepuluh kini sedang dalam masa pengangguran, untuk itu kami berinisiatif membuat sebuah bimbingan belajar bertipe les privat yang jujur sampai sekarang memang belum ada namanya. Les privat ini ditujukan untuk siswa SD, SMP hingga SMA. Tiap pertemuan berdurasi satu setengah jam.

Tampaknya memang cukup konvensional, tapi jangan salah, kami memiliki banyak kelebihan dibanding bimbingan lain seperti

a. Tempat dan waktu les terserah siswa
yang penting tiap pertemuannya berdurasi satu setengah jam serta di waktu dan tempat yang masuk akal, nggak mungkin kan mau les jam dua belas malam bertempat di tengah kuburan gitu misalnya? :p

b. Pengajar berkualitas
pengajarnya benar-benar fresh graduate SMA dengan prestasi segudang di bidang olimpiade sains nasional hingga internasional. Untuk sementara mata pelajaran yang pengajarnya sudah ready antara lain matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi dan bahasa Inggris

c. Sumbangan sukarela
Ya, ini serius. Sebagai bimbingan belajar baru, kami belum berani mematok harga. Para konsumen lah yang berhak menilai kepuasan layanan kami dengan sumbangan yang diberikan, karena kami takut jika kami memasang harga akan menjadi tidak sesuai dengan pelayanan yang diberikan. Namun tidak menutup kemungkinan kalau sudah mulai profe kami mematok harga. Biaya dihitung per pertemuan dan dibayarkan di pertemuan pertama awal bulan.

so, tunggu apa lagi, jika berminat, langsung hubungi saya via komen blog ini atau ke e-mail saya di nurvirtamonarizqa@yahoo.com

the crew: faput, mona, wulan, zakiya, dayat, gilang, harsa, rhama, syuban, rahmatdi

I Love My Bussiness

Salah satu cita-cita saya -yang mungkin malah cita-cita utama saya- adalah menjadi seorang pengusaha sukses. Kenapa pengusaha sukses? Karena pengusaha sukses pasti kaya dan saya ingin banget kaya biar bisa berbagi sama sekitar saya yang membutuhkan.

Oleh karena itu, jadilah saya merintis bisnis, dari SD sih sebenarnya, tapi SMA ini lebih serius lagi. Saya jual pin dan gantungan kunci flanel, stiker semau pelanggan dan tas. Kesemuanya nggak saya jalankan sendiri, tapi bareng-bareng sama teman-teman. Khusus untuk stiker, uangnya akan kami (saya, Wulan Nur Jatmika, Melisa Pramesti, Titik Dwi Kurniawati) kumpulkan buat bikin sekolah. Yeah, seems like impossible, tapi yang penting niatnya, karena if there is a will, there is a way.

Di label "I love my bussiness" ini khusus berisi katalog dari "produk-produk" saya dan teman-teman, jadi kalau dari pembaca blog saya ada yang berniat beli atau ikutan bisnis, langsung hubungi saya di e-mail saya, nurvirtamonarizqa@yahoo.com. Thank you :D

Jual Stiker Teladan Part I

Bagi yang belum tahu, teladan itu nama SMA saya aka SMA N 1 Yogyakarta. Bagi anak teladan yang temangsang di blog ini, baik itu siswa maupun alumni, beli stiker kami ya :D di bawah ini beberapa contohnya dan akan terus diupdate. Kalau mau beli, tiap Jumat saya ada di teladan atau janjian di tempat tertentu juga boleh, just send ym ke nurvirtamonarizqa atau via komen blog ini.

ambigram teladan duaribu sepuluh, I made it myself without any generator :D

kalau mau pesan ambigram di atas, bisa pilih warna sesukanya :D

contoh stiker teladan yang lain

Mitsui-Bussan Tinggal Kenangan

Sudah saya ceritakan di beberapa post bawasannya saya tidak lolos PBUB UGM matematika namun alhamdulilahnya masuk UM UGM Teknologi Informasi. Sudah saya ceritakan di sebuah post juga bawasannya saya nggak boleh kuliah di luar kota apalagi di luar negeri.

Tapi belum saya ceritakan di post manapun bukan kalau saya akhirnya mencoba beasiswa kuliah di Jepang?

Jadi ceritanya saya suatu hari menceritakan pada kedua orang tua saya tentang pengalaman kakak-kakak kelas saya yang studi di Jepang dengan penuh meyakinkan dan bahasa semenarik mungkin.

"Nanti hidupnya gimana?"
"Dapat uang saku kok, bisa sisa tujuh juta perbulan."
"Yang perempuan ada nggak?"
"Oh banyak."
"Wuoh coba aja."

Jeng jeng, kalimat terakhir bapak langsung jadi suntikan semangat karena bagi saya it means "kamu boleh kuliah di Jepang"

Asyik pelet saya manjur. :p

So, saya langsung urus hal-hal yang dibutuhkan. Rencananya saya pengen ikut beasiswa mitsui sama monbusho. Karena yang ngadain duluan mitsui (februari-akhir April) , saya siapin dokumennya dulu, antara lain isi formulir yang bisa didapet dari guru BK dua lembar, foto tiga kali empat terbaru juga dua lembar, fotokopi rapor semester lima, terus surat rekomendasi kepala sekolah dan yang terakhir adalah fotokopi piagam kejuaraan kalau punya. Kirim, tinggal tunggu deh.

Dan hasilnya adalaaaah.........


alhamdulillah, gak nyangka banget saya lolos seleksi berkas dan berhak ikut seleksi tanggal 24 Mei besok di Jakarta, tapi apa respon orang tua saya?

"Nggak usah ikut ke Jakarta, mahal, sekolah di Jogja aja dah bagus banget. Kita masih butuh kamu di rumah, kalau S2 nggak apa, tapi kalau sekarang jangan dulu."


Satu, dua, tiga detik kemudian saya langsung down, tau gitu harusnya jangan kasih saya harapan boleh daftar..

"Waktu itu kan kamu belum dapat sekolah, jadi daftar Jepang boleh, sekarang dah dapet sekolah, paling bagus lagi."


:') saya nggak usah ndeskripsiin perasaan saya ya, pokoknya lebih hancur dari ditolak tanpa alasan transparan oleh UGM kemaren. Tapi kembali, Allah sedang menguji saya untuk sabar dan pandai-pandai membuat plan B, C sampai Z.

Karena yang terbaik belum tentu yang terindah. Kalau boleh mengutip kata guru saya
"sangkar besi tidak akan mengubah elang menjadi burung nuri"


Kisah Om Fibonacci (Who Was Fibonacci?)


Leonardo Pisano is better known by his nickname Fibonacci. He was the son of Guilielmo and a member of the Bonacci family. Fibonacci himself sometimes used the name Bigollo, which may mean good-for-nothing or a traveller. As stated in [1]:-

Getting Older

Sebenarnya saya udah pingin nulis ini sejak bulan Maret kemaren, tapi karena saya masih sibuk ujian jadi gak jadi deh, baru sempat sekarang, tapi saya harap substansinya masih tetap sama.

Ini tentang usia tujuh belas yang baru saya lewati dua bulan silam. Beda banget rasanya ketika saya menapaki usia 16 dan ketika menapaki usia 17. Masih lekat dalam pikiran, ulang tahun ke-16 saya begitu “meriah” karena saya sempat dikerjai teman sekelas, wali kelas, wakasek kesiswaan aka Pak Singgih dan teman-teman serta adik-adik di TSC dalam satu hari.

sebelum potong kue persembahan XI IPA 3, thanks dear

Beda dengan ulang tahun ke-17 yang –hanya- diramaikan ucapan dari sana-sini dan ratusan butir doa plus harapan. Saya sekarang mengerti kenapa usia ini tiap penduduk bisa punya KTP, bisa punya SIM, bisa nyontreng, dan bisa nonton film 17+. Karena kalau buat saya, perjalanan menuju tujuh belas berat banget rintangannya.

Pertama, tidak seperti anak berusia 16 pada umumnya, saya menghabiskan usia 16 saya di kelas 3 SMA yang otomatis nggak bisa seneng-seneng jika saya adalah perempuanberusiaenambelas yang biasa. Alhamdulilah saya perempuanberusiaenambelas yang tidak biasa, sekaligus perempuankelastigaSMA yang tidak biasa pula. Kelas 3 SMA saya malah dihabiskan untuk ikut olimpiade, seleksi menjadi tim IMO, bahkan ngurus kepanitiaan kemah ilmiah. Efek sampingnya, porsi belajar saya untuk UAN yang akan saya hadapi menurun.

Kedua, ini tentu melanda sebagian besar anak kelas tiga SMA di mana mereka harus memilih kuliah atau tidak, jika kuliah di jurusan apa, dan di jurusan tersebut ke depannya bisa menghasilkan pekerjaan apa. Sebuah pilihan yang saya rasa benar-benar sulit karena ini menyangkut masa depan saya kelak. Salah memilih bisa fatal akibatnya. Di sini kepekaan dan kemampuan membuat plan A, B C, D sampai Z saya benar-benar diuji.

Ketiga, ini yang paling membuat perjalanan ke usia 17 saya berwarna yaitu banyaknya cobaan yang melatih saya untuk menyikapi keberhasilan, kegagalan, penolakan dengan cara yang lebih bijaksana. Keberhasilan sekecil apapun bakan kegagalan pun harus dirayakan dengan syukur karena tidak semua orang mendapat apa yang kita dapatkan. Gagal pun harus bersyukur karena kegagalan membuat kita semakin belajar apa yang seharusnya membuat berhasil.

Jujur dalam sepuluh tahun terakhir, tahun ke-17 merupakan tahun yang banyak menguras air mata karena realita hidup saya tidak sejalan dengan idealita yang saya inginkan. Di sini saya belajar banyak hal bahwa yang terbaik belum tentu yang terindah, tapi kita harus tetap mencoba mendapatkan yang terindah karena jika tidak, kita tidak akan tahu bahwa hal tersebut bukan yang terbaik untuk kita.

Sedih rasanya meninggalkan usia enam belas. Sedikit tips saja bagi yang akan melewati usia tujuh belas atau menempuh kelas tiga SMA, nikmatilah hidup kalian dan pandai-pandailah mengambil pelajaran hidup, pekalah dengan sekitar dan buka wawasan selebar-lebarnya, karena hidup kalian adalah milik kalian sendiri, jangan mau orang lain mengatur hidup kalian namun jangan sampai kalian menyia-nyiakan hidup itu sendiri.

Delapan belas maret satu sembilan sembilan tiga – delapan belas maret dua ribu sepuluh :)

kenapa kamu suka matematika?

Ini salah satu pertanyaan yang sering susah saya jawab tapi sayangnya juga merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan banyak orang. Biasanya saya cuma jawab
“karena saya bisa belajar kehidupan dengan cara saya sendiri lewat matematika yang infinite (tidak terbatas) sehingga kita sadar bahwa pengetahuan kita yang berbatas ini masih lebih lemah dibanding pengetahuan Tuhan.”


Oke, memang bukan jawaban yang mudah dicerna banyak orang. Saya sebenarnya punya banyak versi jawaban:

a. Jawaban yang diperuntukkan bagi anak kecil atau adik-adik kita yang masih polos, lugu, lucu dan menggemaskan:
karena matematika itu asyik adek-adek, sangat bermanfaat, bisa buat menghitung berapa banyak uang kita, menghitung berapa banyak nyamuk di kamar, menghitung berapa banyak hutang, sampe berapa banyak dosa dan pahala kita
(aduh berat-berat)

b. Jawaban yang diperuntukkan bagi remaja:
soalnya dia PDKT duluan, kami kan sering ketemu, ternyata si matematika ini misterius banget dan bikin penasaran, makanya aku jadi suka juga sama dia.
(doh, narsis abis)

c. Jawaban yang diperuntukkan di sesi serius:
karena matematika sangat bermanfaat, bidang apa saja butuh matematika, at least cara berpikirnya. Dengan menyukai matematika, kita diajak untuk terlatih berpola pikir yang rasional, logis dan penuh perhitungan.
(apa-apaan)

d. Terakhir adalah jawaban ala Pak Nanang dosen UGM di sebuah episode pada acara Kick Andy yang intinya
“jawaban kenapa saya suka matematika sama seperti jawaban kenapa saya suka wanita tertentu, susah dijelaskan”
(I like this)

Nah, kira-kira ada yang bisa memberi jawaban yang lebih elegan?

UGM versus dinas pendidikan propinsi

Aduh saya lupa itu tepatnya tanggal berapa, yang jelas kejadiannya bulan April 2010 hari Minggu. Waktu itu seperti biasa saya ditugaskan bekerja di dinas pendidikan propinsi DIY jalan Cendana nomor sembilan Yogyakarta. Ow, anda pasti bertanya-tanya apa pekerjaan saya di dinas hari Minggu lagi, apakah mengepel? Atau ngelap kaca? Atau jaga parkir? Atau ngurus kebun? Salah semua. Saya disini sebagai pendamping penelitian dalam acara Gladhi Penelitian Ilmiah Remaja Prov DIY yang telah diselenggarakan berminggu-minggu silam, tapi hari ini adalah kegiatan monitoring perkembangan naskahnya.

Well nggak usah berpanjang lebar mengenai pekerjaan saya tadi, to the point saja pada pokok permasalahannya: saya telah membuat kepala dinas pendidikan prop DIY harus berhadapan dengan rektor UGM. Kok bisa?

Begini, dalam acara hari Minggu tersebut, ada sesi pengarahan dari kepala dinas prop DIY, ibu Suwarsih Madya, Ph. D atau lebih akrab disapa Bu Warsih. Di sana saya ketemu beliau dan mengeluarkan unek-unek saya bahwa saya merasa kelanjutan studi anak-anak berprestasi di KIR kurang diperhatikan. Saya ambil contoh Hidayu dan Kautsar SMA N 6 jogja. Mereka meraih emas ICYS atas penelitian mereka, tapi keduanya nggak lolos PBUB UGM. Terus saya sendiri, punya perunggu IEYI juga nggak diterima PBUB UGM. Kontan Bu Warsih juga kaget. Saya ambil banyak contoh lagi, kali ini dari anak-anak olimpiade. Gilang, Aka, Darmadi, dll. Tambah kaget beliaunya kok orang-orang seperti kami nggak diterima. Dan permohonan saya kala itu adalah minta transparansi dari UGM agar kejadian dan kesalahan kami tidak terulang pada adik-adik kami: kategori manusia seperti apa yang diterima lewat PBUB, apakah yang super-duper jenius, apakah yang paling banyak piagamnya, apakah yang paling tinggi prestasinya, atau apakah yang menyumbang paling banyak?

Beliau kemudian bilang “saya temui rektornya”

Bener aja, beliau nemui rektor UGM dan hasilnya sungguh-sungguh tidak memuaskan. Rektor UGM bilang yang intinya begini

“Mereka kan anak pintar dan berprestasi, tidak lolos karena rangking mereka di bawah yang lain. Toh mereka berprestasi, universitas bagus lain juga pasti akan menerima mereka.”


Ini lucu, lucu banget. Kalau memang karena rangking, plis UGM, mikir dong, soal pbub harusnya yang bisa dijangkau secara normal. Soal pbub kemarin isinya soal-soal setaraf OSN dari mapel matematika, fisika, biologi, kimia. Terus yang KIR yang nggak pernh ikut olimpiade gitu gimana ngerjainnya, hellooooo? orang yang anak OSN belum tentu juga bisa ngerjain, PLIS DEH.

Oke kalau itu memang keinginan anda UGM, jangan salahkan jika saya pergi dari negeri ini.

Alangkah lucunya negeri ini.

hutan pinus bantul

Mungkin banyak yang nggak tahu kalo Jogja, tepatnya di Bantul sebenarnya nggak cuma kaya pantai, tapi juga kaya hutan, contohnya kayak hutan pinus yang sempat saya sama dua orang temen saya (titik, wulan) datengin 25 November 2009 lampau ini. Tepatnya di deket imogiri, di pinggir jalan arah ke dlingo. So beautiful!



(gambar di atas diambil waktu masih dalam perjalanan, di kiri kelihatan bahwa hutan ini terletak di atas bukit, kita bisa liat jogja dari atas, di kanan, terlihat bahwa jalan ke sana bagus banget, kayak nggak di jogja)


(ternyata di bukit kapur ini ada sebagian lapang yang digundulin, waw, saya nggak tau buat apa tapi yang jelas panas banget berada di atasnya)



(sampe disana, pertama kali yang kepikiran saya lakukan adalah memfoto, foto dan foto. gila bagus banget, tapi maaf kalau hasilnya berantakan, maklum amatiran.)





(Tempat sebagus ini tentu nggak akan kami lewatkan begitu saja tanpa foto-foto, yaiy!)


so, visit and enjoy Jogja!

pengumuman UM UGM

Tujuh belas april. Hari ini hari yang ditunggu oleh empat puluh tujuh ribu peserta utul UGM. Apakah nama mereka ada pada jajaran empat ribu orang yang beruntung? Saya pun jadi penasaran. Tapi sebelum waktu yang dijanjikan, yaitu 17 April 2010 00.00 saya udah dapet link web nya dari 16 April 2010 maghrib. Karena dasarnya saya super pasrah (lihat posting sebelumnya), jadi saya santai-santai aja masukin nomor peserta di kotak yang tersedia dan jeng-jeng



Alhamdulillah. Saya nggak tahu ini musibah atau anugerah yang jelas ini sudah garis takdir saya deh kayaknya. Beberap detik saya diem. Ternganga. Jadi bingung sendiri kenapa saya lolos. Tapi saya bersyukur, seenggaknya ini mungkin jawaban dari doa saya dan banyak orang yang mendukung saya :D.

Saya liatin pengumuman ini ke bapak-ibu dan mereka seneng banget keliatannya, padahal sayanya biasa-biasa aja, mungkin saya masih kebawa trauma kemaren. Langsung saya disuruh cepet-cepet urus segala hal yang dibutuhin. Tapi kok saya males banget ya rasanya, jadi gamang, ini diambil apa enggak. Oke, saya tunggu same besok dulu aja.

Dan ternyata, banyak yang nggak seberuntung saya di sekolah, sekolah saya ada delapan puluhan orang yang alhamdulillahnya diterima, tapi itu masih nggak sebanding sama dua ratusan yang daftar utul. Banyak juga yang milih TI kelempar ke pilihan dua, tiga. Saya jadi nggak enak banget. Akhirnya saya mutusin ya udah ini diambil aja. Saya nggak mau takabur dan saya emang harus mensyukuri apa yang udah saya dapet. Sedihnya lagi saya harus bayar-bayar pake duit saya sendiri. Aaaaaaaaaaaaaa tabungan saya langsung ludes deh, gabisa beli motor juga, huhu :’(. Pokoknya saya harus dapet ganti. Habis ini saya mau cari beasiswa sebanyak-banyaknya (menagih janji pemerintah yang mana setiap orang bermedali inter bebas mau kuliah di mana aja dan dibiayai negara)

UGM what's wrong with you

Saya menulis post ini tanggal 27 Maret 2010, tepat satu hari sebelum Ujian Masuk UGM (Utul UGM). Well, saya mengakui kalau UGM memang universitas yang sangat bagus, tapi jujur dari awal saya SMA, hati nurani saya nggak pernah kepincut sama UGM. Kenapa?

Banyak alasan sih, pertama, karena sebenernya saya nggak pengen kuliah di Indonesia, apalagi di Jogja. Dulu sebenarnya, sedari kelas 3 SMP saya udah punya keinginan untuk sekolah di luar Jogja karena saya tidak ingin menjadi katak dalam tempurung. Saya ingin mandiri dan merasakan pendidikan terbaik di luar Jogja. Kebetulan saya sudah mengantongi beasiswa dari sebuah sekolah di luar propinsi, tapi ternyata, orang tua dan guru saya tidak mengizinkan, alasannya, supaya DIY tetap punya atlet olimpiade matematika. Hem, akhirnya saya luluh juga, orang tua saya juga kemudian “nglegani” saya dengan menjanjikan akan mengizinkan saya kuliah di luar kota, bahkan luar negeri. Semenjak saat itu saya mulai merencanakan studi saya, saya ingin ke NTU atau ITB.

Tapi janji tinggalah janji, orang tua saya melarang saya untuk kuliah di luar kota saat saya awal duduk di kelas 3 SMA, apalagi luar negeri. Prak, hancur banget rasanya, semua rencana saya nggak ada yang direstui. Orang tua saya memberi alasan karena di Jogja sudah ada universitas bagus, di lain tempat biaya hidupnya mahal, nanti adik saya nggak ada yang mbantu belajar, bahkan ibu saya mengancam akan mengdopsi satu anak lagi jika saya kuliah di luar kota.

Saya sedih banget waktu itu, saya diarahkan juga untuk ke sini lah, untuk ke sana lah, yang nggak sesuai sama keinginan saya. Tapi yaudahlah, demi membahagiakan orang tua saya manut. Saya yang awalnya nggak pernah berpikir dan berencana masuk UGM harus membuat plan baru. Saya pun kemudian cari-cari info tentang jurusan apa yang cocok sama saya dan jalur-jalur masuk UGM. Akhirnya mantap, saya memutuskan masuk jurusan matematika FMIPA UGM dengan jalur PBUB (penelusuran bibit unggul berprestasi), saya ingin belajar komputasi atau menjadi aktuaria, lagipula dengan piagam yang saya punya, saya bisa mengajukan beasiswa (lewat jalur PBUB, kita bisa mengajukan beasiswa, bisa juga tetap membayar biaya kuliah), apa salahnya saya coba.

Akhirnya semua proses saya jalani mulai dari pendaftaran hingga mengikuti tes. Gila tesnya susah banget….saya disini mulai curiga ada yang nggak beres. Soal yang diberikan setingkat olimpiade dan kami harus mengerjakan semua mapel minimal satu. Hanya orang superjenius yang saya yakini bisa mengerjakan soal-soal seperti ini. Terus apa maksud UGM mengadakan tes ini? Hipotesis saya kemudian adalah UGM mencari orang-orang yang “koneksinya” luas hehe..pisss…

Pasrah, saya kemudian hanya bisa berdoa mendapat yang terbaik.
Hari pengumuman datang, saya bela-belain begadang untuk menunggu pengumuman yang katanya mulai bisa diakses tengah malam tersebut. Teman saya ada yang memberi saran untuk mengirim SMS ke sms centernya UGM, tapi sayang saya hanya punya paket sms jadi nggak bisa memanfaatkan layanan tersebut. Akhirnya teman saya ada yang baik hati mau meng-smskan nomer saya dan hasilnya saya gagal.

Saya menarik nafas panjang dan berusaha untuk menanamkan prasangka baik saja pada UGM malam itu walaupun kecewa banget rasanya. Down banget rasanya, apalagi dua hari sebelumnya saya juga telah dinyatakan tidak lolos tahap 3 pembinaan calon peserta IMO. Ya sudahlah.

Keesokan harinya ternyata saya medapati bahwa nggak cuma saya yang nggak lolos. Dari 11 orang pelamar pbub di sekolah saya cuma 4 yang diterima, hmmm… terus saya kroscek ke teman2 di sekolah dan daerah lain, ternyata banyak yang tidak diterima juga, padahal menurut saya mereka mampu-mampu aja, hem….

Bingungnya, UGM bener-bener abu-abu dalam masalah ini. Saya inget banget waktu promosi di sekolah saya, si UGM bilang kalau ana yang mau ikut pbub jurusan yang dipilih harus sesuai dengan prestasi yang dimiliki, tapi teman saya matematika ada yang masuk elektro, bahkan yang masuk kedokteran padahal jauh banget nyambungnya. Sementara teman saya yang biologi malah nggak masuk ke kedokteran. Ada lagi yang punya medali emas dua kali nggak keterima di jurusan yang jelas-jelas bidang medalinya itu sendiri. Parah banget.

Dari situ, saya yang tadinya khusnudzon berubah curiga dan ilfil berat. Apalagi ternyata jurusan matematika nggak ada yang diterima lewat pbub, kontradiksi banget sama ucapan salah seorang dosen pengajar saya (setahu saya beliau kajur) waktu pembinaan olimpiade di propinsi bawasannya,
"kalau anak bermedali matematika mau masuk ke jurusan matematika, dapat beasiswa mereka asal masuk jalur prestasi (pbub-red). Kemarin mas ****** (sensor) nggak mau masuk matematika, sekarang dia di ilkom, tapi nggak bisa dapet beasiswa. Ya itu terserah dia, dia kan mampu membayar sendiri, orang kaya..”


Kalau ingat kata-kata bapak itu, tambah miris saja hati saya ini. Merasa dikhianati telak, kayak lagu utopia “kuajak kau melayang tinggi dan kuhempaskan ke bumi” :’(

Sumpah saya sakit hati sama universitas satu ini.

Tapi apa daya, sama orang tua, saya nggak boleh keluar kota. Akhirnya mau dikatakan apa lagi, saya harus masuk UGM. Bagus. Berarti saya harus ikut utul, padahal saya dengan pedenya “njagakke” pbub dan saya sama sekali nggak pernah mempersiapkan “tubuh” ini untuk ikut utul alias nggak pernah belajar soal utul, selain yang dikasih waktu PMKT (semacam jam ke nol untuk persiapan UM), itupun saya jarang berangkat.

Dengan modal seratus persen nekat saya ikut utul UM UGM. Ya enggak se –nggak mau tahu- itu juga sih, saya juga usaha cari buku sukses UM atau semacamnya itu lah, tapi ternyata dah laris manis terjual (ya iyalah orang saya nyarinya ha min dua minggu). Jadi saya browse soal-soal UM tahun-tahun kemaren dari internet terus di print. Jadi lah buku sukses UM buatan saya sendiri, hahaaaa.

Tapi saya nggak mau gitu aja diperbudak sama UM. Saya atur strategi dong. Akhirnya saya memutuskan untuk mengerjakan matematika IPA dan dasar semua soal dan harus benar, separuh soal fisika, sebisanya soal kimia dan biologi. Bahasa inggris, TPA, bahasa indo ke laut aje dulu :p

Well, dengan strategi tersebut akhirnya yang saya pelajari cuma matematika sama fisika doang, sisanya pasrah. Hari ini juga nggak belajar, pasrah aja pokoknya. Kita lihat aja besok hari :D. I hope I can get the best. Everything that would be happen next sudah saya pasrahkan sama Yang Di Atas. Kalau nggak lolos berarti UGM memang bukan jodoh saya.
abcs