Getting Older

Sebenarnya saya udah pingin nulis ini sejak bulan Maret kemaren, tapi karena saya masih sibuk ujian jadi gak jadi deh, baru sempat sekarang, tapi saya harap substansinya masih tetap sama.

Ini tentang usia tujuh belas yang baru saya lewati dua bulan silam. Beda banget rasanya ketika saya menapaki usia 16 dan ketika menapaki usia 17. Masih lekat dalam pikiran, ulang tahun ke-16 saya begitu “meriah” karena saya sempat dikerjai teman sekelas, wali kelas, wakasek kesiswaan aka Pak Singgih dan teman-teman serta adik-adik di TSC dalam satu hari.

sebelum potong kue persembahan XI IPA 3, thanks dear

Beda dengan ulang tahun ke-17 yang –hanya- diramaikan ucapan dari sana-sini dan ratusan butir doa plus harapan. Saya sekarang mengerti kenapa usia ini tiap penduduk bisa punya KTP, bisa punya SIM, bisa nyontreng, dan bisa nonton film 17+. Karena kalau buat saya, perjalanan menuju tujuh belas berat banget rintangannya.

Pertama, tidak seperti anak berusia 16 pada umumnya, saya menghabiskan usia 16 saya di kelas 3 SMA yang otomatis nggak bisa seneng-seneng jika saya adalah perempuanberusiaenambelas yang biasa. Alhamdulilah saya perempuanberusiaenambelas yang tidak biasa, sekaligus perempuankelastigaSMA yang tidak biasa pula. Kelas 3 SMA saya malah dihabiskan untuk ikut olimpiade, seleksi menjadi tim IMO, bahkan ngurus kepanitiaan kemah ilmiah. Efek sampingnya, porsi belajar saya untuk UAN yang akan saya hadapi menurun.

Kedua, ini tentu melanda sebagian besar anak kelas tiga SMA di mana mereka harus memilih kuliah atau tidak, jika kuliah di jurusan apa, dan di jurusan tersebut ke depannya bisa menghasilkan pekerjaan apa. Sebuah pilihan yang saya rasa benar-benar sulit karena ini menyangkut masa depan saya kelak. Salah memilih bisa fatal akibatnya. Di sini kepekaan dan kemampuan membuat plan A, B C, D sampai Z saya benar-benar diuji.

Ketiga, ini yang paling membuat perjalanan ke usia 17 saya berwarna yaitu banyaknya cobaan yang melatih saya untuk menyikapi keberhasilan, kegagalan, penolakan dengan cara yang lebih bijaksana. Keberhasilan sekecil apapun bakan kegagalan pun harus dirayakan dengan syukur karena tidak semua orang mendapat apa yang kita dapatkan. Gagal pun harus bersyukur karena kegagalan membuat kita semakin belajar apa yang seharusnya membuat berhasil.

Jujur dalam sepuluh tahun terakhir, tahun ke-17 merupakan tahun yang banyak menguras air mata karena realita hidup saya tidak sejalan dengan idealita yang saya inginkan. Di sini saya belajar banyak hal bahwa yang terbaik belum tentu yang terindah, tapi kita harus tetap mencoba mendapatkan yang terindah karena jika tidak, kita tidak akan tahu bahwa hal tersebut bukan yang terbaik untuk kita.

Sedih rasanya meninggalkan usia enam belas. Sedikit tips saja bagi yang akan melewati usia tujuh belas atau menempuh kelas tiga SMA, nikmatilah hidup kalian dan pandai-pandailah mengambil pelajaran hidup, pekalah dengan sekitar dan buka wawasan selebar-lebarnya, karena hidup kalian adalah milik kalian sendiri, jangan mau orang lain mengatur hidup kalian namun jangan sampai kalian menyia-nyiakan hidup itu sendiri.

Delapan belas maret satu sembilan sembilan tiga – delapan belas maret dua ribu sepuluh :)
0 Responses

Posting Komentar

abcs