UGM versus dinas pendidikan propinsi

Aduh saya lupa itu tepatnya tanggal berapa, yang jelas kejadiannya bulan April 2010 hari Minggu. Waktu itu seperti biasa saya ditugaskan bekerja di dinas pendidikan propinsi DIY jalan Cendana nomor sembilan Yogyakarta. Ow, anda pasti bertanya-tanya apa pekerjaan saya di dinas hari Minggu lagi, apakah mengepel? Atau ngelap kaca? Atau jaga parkir? Atau ngurus kebun? Salah semua. Saya disini sebagai pendamping penelitian dalam acara Gladhi Penelitian Ilmiah Remaja Prov DIY yang telah diselenggarakan berminggu-minggu silam, tapi hari ini adalah kegiatan monitoring perkembangan naskahnya.

Well nggak usah berpanjang lebar mengenai pekerjaan saya tadi, to the point saja pada pokok permasalahannya: saya telah membuat kepala dinas pendidikan prop DIY harus berhadapan dengan rektor UGM. Kok bisa?

Begini, dalam acara hari Minggu tersebut, ada sesi pengarahan dari kepala dinas prop DIY, ibu Suwarsih Madya, Ph. D atau lebih akrab disapa Bu Warsih. Di sana saya ketemu beliau dan mengeluarkan unek-unek saya bahwa saya merasa kelanjutan studi anak-anak berprestasi di KIR kurang diperhatikan. Saya ambil contoh Hidayu dan Kautsar SMA N 6 jogja. Mereka meraih emas ICYS atas penelitian mereka, tapi keduanya nggak lolos PBUB UGM. Terus saya sendiri, punya perunggu IEYI juga nggak diterima PBUB UGM. Kontan Bu Warsih juga kaget. Saya ambil banyak contoh lagi, kali ini dari anak-anak olimpiade. Gilang, Aka, Darmadi, dll. Tambah kaget beliaunya kok orang-orang seperti kami nggak diterima. Dan permohonan saya kala itu adalah minta transparansi dari UGM agar kejadian dan kesalahan kami tidak terulang pada adik-adik kami: kategori manusia seperti apa yang diterima lewat PBUB, apakah yang super-duper jenius, apakah yang paling banyak piagamnya, apakah yang paling tinggi prestasinya, atau apakah yang menyumbang paling banyak?

Beliau kemudian bilang “saya temui rektornya”

Bener aja, beliau nemui rektor UGM dan hasilnya sungguh-sungguh tidak memuaskan. Rektor UGM bilang yang intinya begini

“Mereka kan anak pintar dan berprestasi, tidak lolos karena rangking mereka di bawah yang lain. Toh mereka berprestasi, universitas bagus lain juga pasti akan menerima mereka.”


Ini lucu, lucu banget. Kalau memang karena rangking, plis UGM, mikir dong, soal pbub harusnya yang bisa dijangkau secara normal. Soal pbub kemarin isinya soal-soal setaraf OSN dari mapel matematika, fisika, biologi, kimia. Terus yang KIR yang nggak pernh ikut olimpiade gitu gimana ngerjainnya, hellooooo? orang yang anak OSN belum tentu juga bisa ngerjain, PLIS DEH.

Oke kalau itu memang keinginan anda UGM, jangan salahkan jika saya pergi dari negeri ini.

Alangkah lucunya negeri ini.
6 Responses
  1. oRHA_MAsalah Says:

    wew.. ra ngawur mon... Mungkin ada maksud lain dari pihak UGM yg tidak diketahui oleh masyarakat awam...., jd bnyak menimbulkan ketidakjelasan..

  2. Nurvirta Monarizqa Says:

    yoa, saya khusnudzon ram

  3. Saushine Says:

    loh loh loh.. atas dasar apa merangking nya? hmm

  4. Nurvirta Monarizqa Says:

    @sau: sauuuuuuuuuuuu akhirnya nyantol juga ke blog ini... :D
    gak tau, duitnya mungkin :p
    gak lah, banyak pertimbangan juga, sekarang tinggal khusnudzon... btw BU belom ada kabar :'(

  5. Didud Says:

    kadang kepintaran di SMA tidak selalu menjadi jaminan di terima di PTN, contohnya di SMA 1 yk angkatan saya, yang golongan pinter-pinternya/rangking 3 besar, banyak yang gagal masuk PTN, sedangkan yg kelompok bodoh2nya SMA1, rangking 10 kecil di tiap kelas, banyak yg diterima di jurusan tebaik/terketat/terfavorit di ITB dan UGM (ada satu kelas, rangking 1-3 tidak diterima di PTN, rangking 1-4 dari bawah 3 orang diterima di elektro UGM, 1 orang di Mesin ITB) :)
    ada faktor X yg jadi sebabnya :D

Posting Komentar

abcs