UGM what's wrong with you

Saya menulis post ini tanggal 27 Maret 2010, tepat satu hari sebelum Ujian Masuk UGM (Utul UGM). Well, saya mengakui kalau UGM memang universitas yang sangat bagus, tapi jujur dari awal saya SMA, hati nurani saya nggak pernah kepincut sama UGM. Kenapa?

Banyak alasan sih, pertama, karena sebenernya saya nggak pengen kuliah di Indonesia, apalagi di Jogja. Dulu sebenarnya, sedari kelas 3 SMP saya udah punya keinginan untuk sekolah di luar Jogja karena saya tidak ingin menjadi katak dalam tempurung. Saya ingin mandiri dan merasakan pendidikan terbaik di luar Jogja. Kebetulan saya sudah mengantongi beasiswa dari sebuah sekolah di luar propinsi, tapi ternyata, orang tua dan guru saya tidak mengizinkan, alasannya, supaya DIY tetap punya atlet olimpiade matematika. Hem, akhirnya saya luluh juga, orang tua saya juga kemudian “nglegani” saya dengan menjanjikan akan mengizinkan saya kuliah di luar kota, bahkan luar negeri. Semenjak saat itu saya mulai merencanakan studi saya, saya ingin ke NTU atau ITB.

Tapi janji tinggalah janji, orang tua saya melarang saya untuk kuliah di luar kota saat saya awal duduk di kelas 3 SMA, apalagi luar negeri. Prak, hancur banget rasanya, semua rencana saya nggak ada yang direstui. Orang tua saya memberi alasan karena di Jogja sudah ada universitas bagus, di lain tempat biaya hidupnya mahal, nanti adik saya nggak ada yang mbantu belajar, bahkan ibu saya mengancam akan mengdopsi satu anak lagi jika saya kuliah di luar kota.

Saya sedih banget waktu itu, saya diarahkan juga untuk ke sini lah, untuk ke sana lah, yang nggak sesuai sama keinginan saya. Tapi yaudahlah, demi membahagiakan orang tua saya manut. Saya yang awalnya nggak pernah berpikir dan berencana masuk UGM harus membuat plan baru. Saya pun kemudian cari-cari info tentang jurusan apa yang cocok sama saya dan jalur-jalur masuk UGM. Akhirnya mantap, saya memutuskan masuk jurusan matematika FMIPA UGM dengan jalur PBUB (penelusuran bibit unggul berprestasi), saya ingin belajar komputasi atau menjadi aktuaria, lagipula dengan piagam yang saya punya, saya bisa mengajukan beasiswa (lewat jalur PBUB, kita bisa mengajukan beasiswa, bisa juga tetap membayar biaya kuliah), apa salahnya saya coba.

Akhirnya semua proses saya jalani mulai dari pendaftaran hingga mengikuti tes. Gila tesnya susah banget….saya disini mulai curiga ada yang nggak beres. Soal yang diberikan setingkat olimpiade dan kami harus mengerjakan semua mapel minimal satu. Hanya orang superjenius yang saya yakini bisa mengerjakan soal-soal seperti ini. Terus apa maksud UGM mengadakan tes ini? Hipotesis saya kemudian adalah UGM mencari orang-orang yang “koneksinya” luas hehe..pisss…

Pasrah, saya kemudian hanya bisa berdoa mendapat yang terbaik.
Hari pengumuman datang, saya bela-belain begadang untuk menunggu pengumuman yang katanya mulai bisa diakses tengah malam tersebut. Teman saya ada yang memberi saran untuk mengirim SMS ke sms centernya UGM, tapi sayang saya hanya punya paket sms jadi nggak bisa memanfaatkan layanan tersebut. Akhirnya teman saya ada yang baik hati mau meng-smskan nomer saya dan hasilnya saya gagal.

Saya menarik nafas panjang dan berusaha untuk menanamkan prasangka baik saja pada UGM malam itu walaupun kecewa banget rasanya. Down banget rasanya, apalagi dua hari sebelumnya saya juga telah dinyatakan tidak lolos tahap 3 pembinaan calon peserta IMO. Ya sudahlah.

Keesokan harinya ternyata saya medapati bahwa nggak cuma saya yang nggak lolos. Dari 11 orang pelamar pbub di sekolah saya cuma 4 yang diterima, hmmm… terus saya kroscek ke teman2 di sekolah dan daerah lain, ternyata banyak yang tidak diterima juga, padahal menurut saya mereka mampu-mampu aja, hem….

Bingungnya, UGM bener-bener abu-abu dalam masalah ini. Saya inget banget waktu promosi di sekolah saya, si UGM bilang kalau ana yang mau ikut pbub jurusan yang dipilih harus sesuai dengan prestasi yang dimiliki, tapi teman saya matematika ada yang masuk elektro, bahkan yang masuk kedokteran padahal jauh banget nyambungnya. Sementara teman saya yang biologi malah nggak masuk ke kedokteran. Ada lagi yang punya medali emas dua kali nggak keterima di jurusan yang jelas-jelas bidang medalinya itu sendiri. Parah banget.

Dari situ, saya yang tadinya khusnudzon berubah curiga dan ilfil berat. Apalagi ternyata jurusan matematika nggak ada yang diterima lewat pbub, kontradiksi banget sama ucapan salah seorang dosen pengajar saya (setahu saya beliau kajur) waktu pembinaan olimpiade di propinsi bawasannya,
"kalau anak bermedali matematika mau masuk ke jurusan matematika, dapat beasiswa mereka asal masuk jalur prestasi (pbub-red). Kemarin mas ****** (sensor) nggak mau masuk matematika, sekarang dia di ilkom, tapi nggak bisa dapet beasiswa. Ya itu terserah dia, dia kan mampu membayar sendiri, orang kaya..”


Kalau ingat kata-kata bapak itu, tambah miris saja hati saya ini. Merasa dikhianati telak, kayak lagu utopia “kuajak kau melayang tinggi dan kuhempaskan ke bumi” :’(

Sumpah saya sakit hati sama universitas satu ini.

Tapi apa daya, sama orang tua, saya nggak boleh keluar kota. Akhirnya mau dikatakan apa lagi, saya harus masuk UGM. Bagus. Berarti saya harus ikut utul, padahal saya dengan pedenya “njagakke” pbub dan saya sama sekali nggak pernah mempersiapkan “tubuh” ini untuk ikut utul alias nggak pernah belajar soal utul, selain yang dikasih waktu PMKT (semacam jam ke nol untuk persiapan UM), itupun saya jarang berangkat.

Dengan modal seratus persen nekat saya ikut utul UM UGM. Ya enggak se –nggak mau tahu- itu juga sih, saya juga usaha cari buku sukses UM atau semacamnya itu lah, tapi ternyata dah laris manis terjual (ya iyalah orang saya nyarinya ha min dua minggu). Jadi saya browse soal-soal UM tahun-tahun kemaren dari internet terus di print. Jadi lah buku sukses UM buatan saya sendiri, hahaaaa.

Tapi saya nggak mau gitu aja diperbudak sama UM. Saya atur strategi dong. Akhirnya saya memutuskan untuk mengerjakan matematika IPA dan dasar semua soal dan harus benar, separuh soal fisika, sebisanya soal kimia dan biologi. Bahasa inggris, TPA, bahasa indo ke laut aje dulu :p

Well, dengan strategi tersebut akhirnya yang saya pelajari cuma matematika sama fisika doang, sisanya pasrah. Hari ini juga nggak belajar, pasrah aja pokoknya. Kita lihat aja besok hari :D. I hope I can get the best. Everything that would be happen next sudah saya pasrahkan sama Yang Di Atas. Kalau nggak lolos berarti UGM memang bukan jodoh saya.
7 Responses
  1. Anonim Says:

    iya emang...

    tes PBUB emang aneh....
    Lagipula itu gak bisa jadi tolok ukur kemampuan siswa,,

    darimana UGM tahu kalo peserta PBUB mengerjakan soal tes secara jujur???

    selama sistem penilaian PBUB belum diubah, pasti banyak yang merasa sakit hati dengan UGM

  2. Nurvirta Monarizqa Says:

    anonim: bener banget, saya setuju, harus ada TRANSPARANSI di dalam ini. apakah anda juga korban?

  3. Darwinho Says:

    Hmm...
    semangat...semangat...

  4. Darsa Says:

    nanti S2 , lanjutin keluar negeri Mon :) ! , hehhee
    Yakin.. seorang Mona pasti Bisa . . be Positive ;)

  5. Didud Says:

    Matematika itu sangat erat kaitannya dengan Elektro mbak, kalau dilihat sepintas keihatannya gak nyambung to :D
    tapi Matematika adalah dasar dari elektro. Kalau mbak liat paper bidang elektro isinya matematika, apalagi bidang Kendali atau Antenna & microwave, itu bisa dikatakan sodara tiri atau kandungnya matematika. nanti kalau sudah jauh belajar elektro, akan heran, ini elektro atau matematika :D
    tapi kalau Teknologi Informasi lebih ke Matematika Diskrit. Kalau kendali lebih banyak ke Differensial dan Integral, Telkom banyak ke statistik.
    ada yg namanya Metode transformasi, transformasi Laplace dan Fourier, itu isinya matematik, nanti elektro banyak memakai ini. kalau di TI mungkin lebih ke Metode Numerik.

  6. fajarbs Says:

    (applause) sehari sebelum UM sempet bikin ginian.... ketrima lagi

  7. Nurvirta Monarizqa Says:

    hahhahahaaa jodoh mungkin

Posting Komentar

abcs