Pantai Goa Cemara

Sebelum baca isi postingan saya, saya mau tanya, khususnya bagi yang berada di luar kota:

Pantai di Jogja mana aja ya?
Saya yakin sebagian besar jawabannya adalah Pantai Parangtritis, bener kan? Paris, seperti biasa orang Jogja menyingkat kata Parangtritis memang pantai paling terkenal di DIY, tapi saking terkenalnya membuat pantai ini penuh kala Minggu dan liburan. Padahal kan tujuannya ke pantai mau refresh pikiran sama suara ombak, menenangkan perasaan, menikmati waktu bersama keluarga dan teman-teman, piknik dan bla bla bla lainnya yang butuh keleluasaan space untuk para pengunjung tentunya.

Sebenarnya, pantai di DIY itu banyaaak banget yang bisa dikunjungi selain Parangtritis, lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.

Nah di postingan ini, saya mau memperkenalkan pantai yang baru saja dibuka, yang tentunya masih "virgin" dan sepi pengunjung. Cocok banget buat kita-kita yang ingin suasana pantai yang masih alami dan relatif sepi sehingga berasa pantai pribadi.

Taraaa ini dia, pantai Goa Cemara. Letaknya di Kabupaten Bantul 30km dari pusat kota Jogja kurang lebih. Dari Jalan Bantul ke selatan terus sampai masuk Jalan Samas.Ikuti aja jalannya sampai ketemu perempatan jembatan merah, belok ke kanan (barat). Terus....sampai ketemu perempatan pertama ke kiri (selatan), kalau ada perempatan pertama lagi ke kanan (barat) intinya ikuti jalan aspal yang relatif besar dari cabang yang lain. Nah kalau sudah sampai ke perempatan yang ada "cakruk"nya bertuliskan "wonoroto", kita harus belok kiri (selatan. Di kanan kiri hanya ada pohon-pohon perdu. Saya sempat mikir ini benar jalan ke pantai nggak ya soalnya saya nggak nyium bau air sama sekali. Di sini hati-hati. Jika ada plang "pantai goa cemara", kita harus belok ke kiri lagi, kali ini nggak ngikutin jalan aspal lagi, tapi jalan pasir berbatu. Offroad abis. Kalau naik sepeda motor harus hati-hati biar nggak jatuh.

Dan akhirnya sampailah di Pantai Goa Cemara. Kesan pertama: ini pantainya mana ya? sampai saya memarkirkan sepeda motor pun saya belum lihat adanya "air" itu tadi hehe. Ternyata kalau mau mencapai pantainya harus masuk hutan cemara dulu, walaaaaaaaah. Sekarang saya tahu kenapa namanya Pantai Gua Cemara.

bersama APOLLO :)

 foto-foto di atas adalah suasana di dalam "goa cemara"

kalau yang ini "pintu keluar goanya"


Ombaknya lumayan besar, enak buat mainan dan masih minim banget dari SAMPAH. Pasirnya berwarna hitam, dan as usual, pantai selalu panas (kejuali hujan), jadi kalau nggak mau gosong ya sedia sunblock hehe
Sayangnya saya bukan fotografer profesional jadi nggak bisa ambil gambar yang bagus :'(
Tapi semoga postingan ini bisa memberi alternatif tempat wisata yang bisa dikunjungi liburan ini, GRATIS kok biaya masuknya. Kalau kemari pesan saya tolong jaga kebersihannya ya, 

enjoy Jogja! :)

OSN Memories #2

Ini keikutsertaan kedua saya di OSN, yaitu OSN SMP 2006 Semarang tapi sumpah kacau banget. Bukan karena gempa yang melanda Jogja 27 Mei 2006 silam. Di sini mental saya main. Tahun lalu saya udah dapet perak, jadi at least tahun ini harus bisa dapet yang lebih baik atau setara sama perak. Tapi saya kebawa beban, jadi hasilnya bener-bener nggak maksimal. I got bronze, walau nggak lebih baik dari perak tapi tetep alhamdulillah. :')

Tapi satu hal yang paling saya suka dari OSN ini adalah kekompakan kami. Sampai terakhir, awal bulan Juni lalu kami masih sempat mengadakan reunian walau sudah hampir pada kuliah :D. Miss ya so badly LASPODIA :'(
reuni @wanagama, ketambahan anak Brongto sih :)

Aka, perjalanan berangkat, apik Ka :p

jauh-jauh ke Semarang pikniknya ke Borobudur juga -__-
kiri-kanan: ika, pipit, diah, nana, ni'mah, mona, sita

bintang tamu jamuan makan malam di wonderia: Letto

laspo squad: gilang, aka, bandang, pras, nuha, yuda, fatah
nana, mona, ni'mah, ira
yang gak kefoto: gurit, muam, pipit, sita, ika, diah

all math: ira-bronze, mona-bronze, nana-silver, mas faiz-silver


PS: saya merasa beruntung banget bisa ikut OSN tahun 2006 ini, karena tahun 2007 peraturannya aneh banget jadi kontingen SMP DIY nggak bisa nyampe sebanyak LASPODIA di tahun2 berikutnya hahaaa...

Semoga Pemerintah Menepati Janjinya (BEASISWA UNGGULAN)


Nggak ada hujan nggak ada badai, Senin siang 29 Juni 2010 tumben-tumbennya saya ditelpon sama nomor dengan digit awal +6221. Jakarta. Saya nebak-nebak ini siapa ya? Apa saudara saya yang mau liburan? Apa ada perusahaan yang mau nawari kerja? Apa ada yang mau ngundang saya masuk TV (ngarep)? Saya angkat dan ternyata

"Halo ini dengan Nurvirta"

"Iya"

"Ini kami dari Beasiswa Unggulan mengundang Anda untuk tanda tangan kontrak beasiswa.............."

Selesai nutup telpon saya  berteriak kegirangan dalam hati (nggak mungkin teriak beneran, lagi banyak orang hihi). Akhirnya penantian saya 2 bulan ada hasilnya.

Oke, akan saya ceritakan awal mulanya saya ikut program ini.

Pangkal alasan utama saya ikut beasiswa ini adalah saya nggak keterima UGM lewat program PBUB beasiswa, padahal saya udah ngarep setengah mati bisa lolos (baca posting saya yang ini). Akhirnya pupus sudah harapan saya, saya musti kerja rodi waktu kuliah karena ortu saya parahnya juga njagakke beasiswa PBUB UGM itu tadi jadi gak sediain anggaran buat saya kuliah (aduh parah banget). Alternatif lain adalah saya harus cari beasiswa yang bisa cair sebelum saya masuk kuliah.

Pucuk dicinta ulam tiba. Saya dikasih tahu sohib saya Sarah Sausan kalau ada program beasiswa dari depdiknas untuk para pemegang kejuaraan tingkat internasional, ya lewat BU ini (beasiswa unggulan). Bisa dilihat di sini atau di sini untuk keterangan lebih lanjut. FYI, beasiswa yang ditawarkan ada banyak dan bermacam-macam, tidak hanya untuk yang punya kejuaraan tingkat internasional saja :)

"Bagi siapapun yang memiliki medali perunggu tingkat internasional, bebas biaya pendidikan S1 dimanapun yang dia mau, jika perak sampai S2 dan jika emas sampai S3"

Saya ingat benar intisari ucapan pak Bambang Sudibyo (mendiknas kabinet Indonesia Bersatu) waktu memberikan sambutan pada pembukaan OSN 2008 yang ternyata kembali ditegaskan oleh pak Muhammad Nuh (mendiknas kabinet Indonesia Bersatu jilid II) . Penasaran dong, merasa saya dan Sau punya hak, kami nyoba dan berharap permohonan kami bisa dikabulkan (kalau nggak kami berencana lapor pengadilan -lebay-). Dan dengan telepon siang hari yang ternyata didapatkan oleh Sau, kami cukup optimis lembaga sekelas depdiknas akan menepati janjinya tersebut. :)

Sedikit koreksi dari saya, program tersebut sangat bagus dan sangat mendukung pengembangan anak berprestasi Indonesia, hanya saja, SOSIALISASI mengenai adanya program BU ini harus giat digalakkan karena tidak sembarang orang tahu, tidak semua anak bermedali internasional juga tahu bahwa mereka bisa "menebus haknya" lewat program ini. Harusnya BU melakukan jemput bola kalau saya bilang. Memang setahu saya BU melakukan jemput bola seperti melakukan seleksi beasiswa ke anak PBUB UGM tahun lalu. Tapi menurut saya hal tersebut kurang mencakup deh. Ahmad Ataka, temen saya anak SMA 3 Jogja yang menang perunggu APhO misalnya. Dia juga korban PBUB gitu, dan kalau nggak tahu ada program ini kan parah juga.

Aka, kamu harus baca postinganku ini.

Bukit Bintang Gunung Kidul

Kebetulan lewat, sekalian aja ambil fotonya.

Letaknya di Kecamatan Patuk Gunung Kidul. Ikuti terus Jalan Wonosari ke arah timur, hingga sampai perempatan Pasar Piyungan, terus ikuti jalan lagi hingga 3 km. Di kanan jalan ada semacam jembatan di mana kita bisa melihat Jogja dan sekitarnya dari atas bukit. Di sekitarnya juga banyak warung dan orang berjualan seperti kelapa muda, dll hingga restoran bagus yang menyediakan aneka makanan. Asal usul dinamakan bukit bintang emang nggak gitu jelas. Kalau dilogika mungkin karena kalau malam bisa melihat bintang dengan jelas. Tapi alasan yang kuat menurut saya adalah karena disitu ada warung yang majang namanya gede-gede "BUKIT BINTANG".

Whatever, yang penting kalau kesini jaga kebersihan ya, jangan corat-coret apalagi buang sampah sembarangan. Kasihan pemandangannya yang udah bagus :)

OSN Memories #1

Setelah kemarin saya buat posting tentang OSN, saya kok jadi kangen OSN :'( karena bagi saya ini ajang yang membesarkan saya. Besar dalam makna denotasi dan konotasi hehe. Besar makna denotasi maksudnya dari sinilah saya mendapat tambahan uang saku buat jajan (sampai saya hingga sekarang jarang dikasih uang saku sama ortu, hiks), dan nggak jarang makanan yang dikasih waktu pembinaannya enak-enak, membuat saya beberapa kilo lebih gendut -ini besar dalam arti denotasinya-.

Kemudian besar dalam arti konotasinya ini lah yang benar-benar membesarkan saya (aduh bingung ya?). Nggak cuma kemampuan kognitif yang diasah selama saya ikut kompetisi dan pembinaan olimpiade matematika, tapi juga perasaan -ini yang paling utama- karena tekanan yang diberikan banyak banget. Dari bagaimana cara kita memanagemen waktu antara sekolah dan olim, bagaimana cara kita memanage waktu untuk main -disela pembinaan yang padat-  dan bagaimana cara mengatur mental supaya tidak down. Di olimpiade mata pelajaran seperti ini cara berkompetisinya berbeda dengan olimpiade olahraga. Jika di olimpiade lari misalnya kita bisa melihat sejauh mana lawan berlari, lain halnya dengan olimpade matematika. Kita nggak tahu lawan bisa ngerjain soal yang mana, benar berapa, sebelum hasilnya keluar.

Untuk itu mental yang bagus benar-benar dibutuhkan di "cabang" ini karena lawan sebelum dan sesudah bertanding sering menusuk kita dengan senjata mental seperti "aku udah belajar sampe sini..." atau "aduh tadi aku nggak bisa nomer 4 padahal gampang banget..." (padahal nomer 4 adalah soal tersusah di matematika -biasanya-), dll. Jika mental nggak kuat pasti langsung down dan buyar konsentrasinya.

Alhamdulillah saya udah 5 tahun mengecap pahit manis kejadian seperti itu jadi udah "kebal". Tapi efek sampingnya mungkin raut muka saya jadi terlihat judes (ini menurut penuturan sebagian besar orang baik yang saya tanyai maupun yang ngomong langsung ke saya) sehingga olimpiade seperti ini memberikan kesan yang gak enak di mata orang awam, paling mencolok yang saya sering dengar adalah "antisosial"

Well, lewat posting ini saya mau klarifikasi bahwa cap seperti itu nggak sepenuhnya benar karena saya sendiri buktinya punya banyak teman :DD. Memang sepenyelidikan saya ada beberapa teman yang -mungkin- cara berkomunikasinya kurang diasah, atau pemalu, atau dasarnya tidak begitu nyaman berteman dengan orang banyak. Tapi overall kami welcome sama orang-orang di sekitar kami :)

Foto-foto di bawah ini adalah saya dan teman-teman ketika ikut OSN SMP 2005 di Jakarta, OSN pertama saya, 19 orang 3 mapel dari DIY. Kangen kalian....


Sumpah cupu banget -________-
photos by: Bigboss Mr Wiworo
PS: I got silver, alhamdulillah

Modus Kejahatan Baru #2

Baru-baru ini saya disms teman yang intinya begini:

Hati-hati jika lewat jalan Magelang-Ring Road Utara-Jalan Kaliurang-Depok-Condong catur-Maguwo-Jalan Solo di atas jam 9 malam karena sekarang marak aksi pembacokan, lewat langsung bacok, korban kemarin sudah 7 orang, baca koran Kedaulatan Rakyat hari ini.
Sumpah serem abis saya bacanya, secara itu rute pulang saya kalo nebeng adek kelas. Saya juga banyak beraktivitas didaerah itu. Selidik punya selidik, tersangkanya belum tertangkap, dia seorang psikopat, biasa beraksi dengan vario warna putih (sayang nggak tau platnya).

Ya pokoknya mulai kini hati-hati saja jika lewat daerah tersebut, apalagi untuk wanita, sebisa mungkin menghindari pergi malam di daerah rawan, soalnya si pelaku asal bacok itu tadi. Rampok normal biasanya habis rampok langsung lari, hla ini mbacok dulu je, jadi mohon hati-hati, perbanyak doa dan perlindungan jika terpaksa lewat daerah tersebut di malam hari.

-------------------------------------updated-------------------------------
jika ingin mengetahui info mengenai pembacokan ini lebih lanjut bisa membuka link ini. Disitu disebutkan bahwa penjahatnya yang bervario putih telah tertangkap. Ohya, dari seorang teman saya, ada pembacokan lagi di utara hotel Melia Purosani dan ini terjadi SIANG HARI. Simboknya teman saya yang menjadi saksinya. Saran saya, kurangi penggunaan motor jika berkendaraan, kalau terpaksa hindari pergi malam hari dan lewat jalan yang sepi.

Pengumuman Peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMA 2010

Kemarin (22/6/2010) akhirnya peserta Olimpiade Sains Nasional untuk jenjang SMA tahun 2010 di Medan resmi diumumkan oleh dikmenum, bisa didownload di sini. Saya yang nggak ikut OSN juga deg-deg an nunggu pengumumannya, meskipun tahun ini udah pensiun. Tapi sebagai pembina lepas (ha nggak digaji :p) tim OSP (Olimpiade Sains Propinsi) matematika-nya SMA N 1 Yogyakarta was-wasnya tahun ini lebih besar lagi.

Taraaaa benar saja kewas-wasan saya, tahun ini kontingen SMA N 1 Yogyakarta untuk OSN SMA menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana tidak, pada 2005 mengirim 16 orang, 2006 18 orang, 2008 20 orang dan 2009 22 orang (untuk 2007 saya nggak punya datanya karena saya sendiri absen OSN hehe). Dilihat dari data 4 tahun saya ikut OSN saja, keikutsertaan Teladan (SMA 1) di OSN selalu menunjukkan progress yang positif bahkan membentuk deret aritmatika dengan selisih 2 orang. Jika pakai pola yang sama, harusnya tahun 2010 kirim 24 orang dong (ngarep). Ya, itu bisa saja terjadi, namun kenyataannya, pada tahun 2010 ini setelah saya membaca daftar peserta satu per satu, saya hanya menemukan SEPULUH nama anak Teladan, hanya 41,7% nya banyak peserta dari Teladan tahun lalu.

Total kotingen SMA DIY hanya 26, tahun lalu 55 orang.

Oke, ini benar-benar membuat saya dan teman-teman sesama pembina lepasnya tim olimpiade Teladan kelabakan dan bertanya-tanya, apa penyebab menurunnya kuantitas siswa Teladan yang tembus OSN. Dari hasil diskusi dan mencari tahu sendiri, saya bisa menyimpulkan beberapa hipotesis

1. Kebijakan passing grade (anak passing grade DIY yang ikut OSP dianggap "anak bawang")
Bagi yang belum tahu, passing grade adalah batasan nilai untuk mencapai OSP/ OSN. Maksudnya begini, yang dipanggil OSP hingga OSN lazimnya adalah mereka yang juara kota/ kabupaten untuk OSP dan juara propinsi untuk OSN. Untuk OSN, peserta OSP yang nilainya di atas passing grade tetap bisa ikut OSN. Analog untuk OSP. Tapi yang memberlakukan sistem passing grade untuk OSP setahu saya hanya sedikit propinsi, salah satunya DIY. Ini sebagai akibat DIY hanya punya 1 kota 5 kabupaten sehingga supaya yang lolos ke OSN bisa banyak, harus ditambah anak-anak passing grade untuk ikut OSP. Kebijakan ini bekerja dengan baik sampai tahun 2009 bahkan pada 2008 dan 2009 berhasil mengantar DIY menjadi peringkat 3 nasional perolehan medali OSN. Namun pada 2010 ini entah mengapa passing grade dihilangkan. Gila banget, bunuh diri banget nih DIY pikir saya, padahal tahun lalu katanya ingin memperbaiki kualitas agar tembus peringkat 2 nasional. Selidik punya selidik alasannya adalah PEMERATAAN. Bagus. OSN butuh kualitas untuk tembus olimpiade internasional bapak ibuk dinas yang terhormat, pemerataan boleh, tapi jangan seperti ini caranya.

Wakasek kesiswaan kami pernah melakukan protes ke dinas dan hasilnya anak-anak yang nilainya lebih dari juara 3 Kota B (Info, Kota Yogyakarta dibagi 2 bagian, Kota A (SMA 1 dan SMA 3) serta kota B (selain kedua sekolah tersebut)) akhirnya boleh ikut OSP. Saya senang, karena kemungkinan lolos menjadi lebih banyak dan tak jarang, bahkan selalu ada anak passing grade yang lolos nasional. Harapannya sih begitu, teorinya sih begitu, namun setelah saya baca satu per satu, kotingen DIY tahun ini tidak ada yang dari anak passing grade. Saya heran pol ini karena kualitas anak passing grade di hampir semua bidang nggak jauh dari anak jatah (yang juara), bahkan lebih baik. Jadi hipotesis saya yang pertama adalah
Anak passing grade DIY yang ikut OSP dianggap "anak bawang"

2. Tiap sekolah dijatah maksimal 2 orang ke OSN (untuk beberapa mapel ada yang 3)
Ini juga menurut penyelidikan saya setelah scanning daftar nama peserta satu per satu. Aneh banget ketika saya menemukan SMA K 1 Penabur dan SMA Semesta contohnya cuma meloloskan 2 (3 untuk Semesta) di bidang matematika padahal biasanya ada segambreng.

3. Tidak ada pembinaan menuju OSP yang diselenggarakan oleh Dinas Propinsi
Nggak ada anggaran katanya. Gak tau tuh buat apa. Kalah sama pilkada mungkin.

4. Persaingan lebih ketat
Oke, jangan melulu menyalahkan faktor eksternal, Mona. Kita kembali harus ingat bahwa tiap tahunnya karena OSN adalah ajang yang bergengsi, tiap peserta mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dan di era serbadigital ini semua materi olimpiade bisa didapat dengan cepat, mudah dan murah, membuat belajar menjadi lebih terkondisi pula.

5. Pembinaan di Teladan kurang terkondisi
Hahaaa.... kembali ke masalah internal, mungkin karena pembinanya ya hanya kami-kami ini veteran OSN sebelumnya yang belum begitu mumpuni :'(

Dari kelima hipotesis saya ini, yang paling saya yakini kebenarannya ya yang nomer 1 hehe. Tapi namanya juga masih hipotesis, harus dibuktikan supaya menjadi kesimpulan yang benar. Untuk itu saya sedang melakukan riset sana-sini untuk membuktikan hipotesis ini, tunggu perkembangan dan posting saya selanjutnya.

PS: Walau begitu, selamat dan terus berjuang tetap saya ucapkan kepada kontingen DIY yang berhasil tembus OSN, terutama adik-adik Teladan di bawah ini

BIDANG MATEMATIKA
ADIYAT NURKAUTSAR S
Kelas 10
BIDANG FISIKA
ANNA FITRIANA
Kelas 11
BIDANG KIMIA
RIDWAN PRATAMA PUTRA
Kelas 11
BIDANG KOMPUTER
MUHAMMAD YAFI
Kelas 10
NAHAR FITRI HIDAYAT
Kelas 11
BIDANG BIOLOGI
HANANI KUSUMASARI
Kelas 10
BIDANG ASTRONOMI
ANAS SETYO HANDARU
Kelas 11
GAYUH MUSTIKO JATI
Kelas 11
BIDANG EKONOMI
IKHSAN BRILIANTO
Kelas 10
NURUL WAKHIDAH
Kelas 11
BIDANG KEBUMIAN
-
-

Good luck, lanjutkan perjuangan Teladan di OSN :)

Jual Stiker Teladan Part 2


WHATEVER YOU SAY, I'M STILL PROUD TO BE TELADAN! Ya, jargon inilah yang menjadi inspirasi stiker teladan (yang mungkin menjadi stiker teladan) terakhir kami. Stiker ini memang khusus dibuat untuk anak-anak teladan 2010 dan akan segera launching wisuda mendatang (19 Juni 2010). Asal usul dibuatnya stiker ini adalah karena banyaknya permintaan teman-teman 2010 yang ingin dibuatkan stiker. Memang sih, saya udah bikin ambigram, tapi banyak teman yang tidak bisa membaca ambigram sehingga mereka meminta dibuatkan stiker yang tulisan Teladan2010 nya terbaca jelas. Kami (saya dan perusahaan) yang dipeseni sih oke-oke saja, hitung-hitung buat kenang-kenangan masa muda 3 tahun bersama angkatan metamorphosis ini yang telah memberi banyak kenangan :)

Kemudian kenapa harus proud to be? Karena saya dan teman-teman merasa angkatan kami termasuk yang banyak cobaannya, sehingga banyak pula yang terus memberi kami semangat, namun tak kadang juga malah mencerca dan menertawai. Resiko hidup di negara demokrasi sih semua pendapat bisa disampaikan...

Namun dibalik semua himpitan itu, angkatan kami tetap berjuang di jalurnya masing-masing dan meskipun belum optimal, kami merasa hal tersebut sudah maksimal. Sebenarnya saya benci kalau orang mencerca angkatan kami, hanya karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Memang, lebih menarik membicarakan kejelekan daripada kebaikan. Namun ingat bahwa angkatan kami juga telah banyak menyumbang piala untuk memenuhi almari lobi hingga melakukan perubahan yang positif di sana-sini.

Tak ada gading yang tak retak, saya hanya berharap dengan ini, dengan stiker ini, orang dapat melihat kekompakan kami dan keteguhan serta kebanggaan kami menjadi Teladan 2010, sehingga saya harap orang-orang kini tak hanya melihat sisi buruk angkatan kami saja :)

stiker di atas masing-masing 1000, berukuran lebar 3cm, panjang menyesuaikan - ada stiker macam ini yang seharga 500 rupiah juga lho, lebar 1,6 cm


macam stiker yang ini juga 1000 an saya, lebar 3cm, panjang menyesuaikan

Apapun yang anda katakan, saya tetap bangga menjadi Teladan 2010. Teladan, Jayamahe!

Stiker Prodi untuk Maba UGM

Ohya, sudah saya ceritakan di beberapa post bawasannya saya dan teman-teman melakukan bisnis stiker. Namun karena kami tentunya beranjak dewasa dan sebentar lagi mau kuliah, tentunya nggak bisa kalau jualan di lapak kami yang lama (SMA 1 Yogyakarta) terus. Bisnis ini harus terus dikembangkan di jenjang yang lebih tinggi demi niat mulia yang telah saya utarakan di post ini. Maka dari itu, sebagai langkah permulaan, perkenankanlah saya dan teman-teman satu pabrik stiker memperkenalkan STIKER PRODI UNTUK MABA UGM. Kenapa harus UGM? karena saya dan dua orang teman dalam perusahaan ini diterima di UGM semua. Kenapa harus maba? karena kami pikir maba kebanyakan belum punya stiker prodinya dan masih berapi-api karena masih fresh menjadi mahasiswa, jadi kami berkesimpulan maba UGM merupakan sasaran empuk melanjutkan bisnis.

Sambil menyelam minum air.


Per stikernya berharga seribu rupiah, ukuran lebarnya 3 cm tapi panjangnya menyesuaikan panjang tulisan.
Ohya, ini bisa pre order juga loh, pilih warna dsb, kami akan terus mengupdate model baru dan prodi-prodi baru, sementara ini dulu :)

Berminat? hubungi email saya nurvirtamonarizqa@yahoo.com atau via komen blog ini

Proporsi Masuk UGM Tahun 2010

Saya lagi iseng. Waktu itu ceritanya saya terlibat diskusi di sebuah grup (grup maba prodi saya - Teknologi Informasi UGM 2010) dan mendapati kenyataan bahwa di prodi saya terdapat 23 anak yang masuk melalui jalur PBS (penelusuran bibit swadaya), 26 lewat jalur ujian tulis, 6 lewat jalur PBUPD (penelusuran bibit unggul pembangunan daerah), 3 lewat jalur PBUTM (penelusuran bibit unggul tiddak mampu), 1 orang lewat jalur PBOS (penelusuran bibit olahraga dan seni) dan 1 orang lewat jalur PBUB (penelusuran bibit unggul berprestasi), artinya 34 orang lewat jalur PB (penelusuran bibit), 26 orang ujian tulis dan akan disusul dengan 10 orang yang akan masuk lewat jalur snmptn (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri).

Tour de Candi

Menjadi pengangguran kelas 3 SMA ini memang menyenangkan. Bisa bangun siang, ke sekolah siang, pergi-pergi, main, dsb. Namun saya nggak pingin masa pengangguran ini terasa hampa. Oleh karena itu saya membuat jadwal piknik (duile) selama saya menganggur ini.

Salah satu yang ada dalam daftar piknik saya adalah Bersepeda ke Candi atau bahasa Jawanya biasa disebut dengan Bike to Temples. Kenapa harus candi? kenapa harus sepeda? Karena saya tinggal di Kecamatan Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta yang dikenal dengan seribu candinya (aduh lebay) dan bersebelahan dengan kecamatan Prambanan yang tak kalah banyak menyimpan candi-candi yang bahkan termahsyur sampai dunia internasional. Akhirnya 3 Juni 2010 saya putuskan bersepeda pagi (supaya sehat dan lebih ramah lingkungan, toh paling jauh hanya 5 km) ke beberapa Candi untuk sekedar mengagumi, menilik sejarahnya dan berdecak kagum karena nenek moyang kita sebegitu strong dan artistiknya bisa membuat candi sebesar dan seindah itu
.
Tujuan pertama saya adalah Candi Boko yang terletak di desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Namun karena saya gak kuat nanjaknya, yaudah saya turun terus belok ke Prambanan. Di Prambanan, saya nggak masuk ke Candinya, tapi cukup ngintip lewat panggung sendratarinya. Sekedar info, untuk masuk ke Candi Prambanan dan Boko dikenakan biaya 10000 rupiah per orangnya.
Candi Prambanan saat sunrise, difoto dari panggung sendratari Ramayana

Modus Kejahatan Baru

Berita dari seorang teman, hati-hati kini ada modus kejahatan baru. Bagi teman-teman yang biasa naik sepeda motor dan boncengannya kosong, patut waspada. Bukan karena takut dibonceng kuntilanak, pocong atau sejenisnya, tapi ini lebih seram lagi, yaitu dibonceng anak kecil gelandangan. Loh kok?

Jadi ceritanya, jika boncengan kita kosong, anak kecil tersebut akan mendekati motor kita dan membujuk supaya dia boleh membonceng atau diantar ke suatu tempat tertentu. Oke karena kasihan, bisa saja kita kemudian memboncengkan anak tersebut. Namun apa yang akan terjadi? Jika jalanan sudah sepi, anak tersebut akan menodongkan pisau atau senjata tajam lain semacamnya itu lah dan minta diantar ke tempat yang notabene merupakan “markas besar “mereka. Nah disitulah baru harta kita akan dilucuti oleh bos mereka.
Seram bukan? Makanya tadi saya bilang kejehatan ini lebih seram dari kuntilanak, pocong dan teman-teman lain. Karena kalau hantu didoakan bisa hilang, tapi kalau garong semacam anak tadi? :p

Just tips, pertama tentu berdoa di jalan dan selalu berhati-hati dengan orang yang tidak dikenal. yang penting adalah waspada. Jangan sampai niat baik kita justru mendatangkan petaka.

Ngeblog Lagi

Alhamdulillah akhirnya saya ngeblog lagi :D dan akhirnya saya mendapatkan leptop saya kembali, setelah sekitar satu minggu nggak menyentuh laptop ini. Jadi ceritanya tiga bulan yang lalu, dengan segala kecerobohan dan ketidaksengajaan, laptop saya, tepat pada keyboard ketumpahan air panas ketika saya akan menyeduh bubur instan. Jadilah keyboard yang tidak berpelindung kemasukan air panas tersebut. Awalnya masih no problem, tapi setelah saya resart, keyboard saya nggak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagai info, ini adalah bagian paling bodoh saya. Kalau kata mereka yang sudah ahli, seharusnya keyboard yang kemasukan/ ketumpahan air jangan dinyalakan lagi setelah dimatikan, takut terjadi konslet, kemudian segera dibawa ke tempat reparasi terdekat. (sayang saya tahu hal ini satu bulan kemudian)

Karena leptop saya keyboardnya dah gak fungsi (karena kesalahan tadi) akhirnya saya beli keyboard flexible (keyboard gulung) dengan harga 45 ribu rupiah di sebuah toko di daerah jalan Babarsari. Sudah cukup murah menurut saya mengingat saya sudah berkeliling dari satu toko ke toko lain dan mereka menjual keyboard macam ini paling murah di atas 70 ribu rupiah.

keyboard flexible yang saya taruh di atas keyboard yang sudah tidak berfungsi

Tidak nyaman memang, namun mau bagaimana lagi, asap dapur harus tetap mengepul.

Sekitar tiga bulan saya memakai keyboard ini semua lancar seperti biasa. Namun akhir Mei, saya mulai merasakan keanehan karena laptop saya suka melakukan hal-hal tidak lazim seperti
1. Ngejam sendiri, jadi kalau kita buka pengolah kata seperti notepad, tanpa menyentuh keyboard akan muncul berderet huruf b, atau j, atau i tanpa henti
2. Jika saya klik dua kali pada folder yang muncul kemudian adalah propertiesnya, bukan isi foldernya
3. Jika saya mengeclose sebuah window, semua window akan ikut terclose
4. Jika saya mengcopy sebuah file, yang tercopy adalah shortcutnya, bukan file aslinya.

Wah stress juga saya lama-lama, dugaan saya adalah penderitaan laptop saya sudah cukup berat diakibatkan konslet dari keyboard lamanya. Akhirnya saya putuskan untuk memperbaiki laptop.

Benar saja, akar permasalahan ada pada keyboard. Keyboard saya benar harus diganti.

Pasrah dong, 200 ribu melayang untuk membeli dan memasangkan keyboard baru, plus satu minggu nggak bersama laptop saya tersayang ini, huhu... Tapi alhamdulillah kini laptop saya sudah kembali seperti baru lagi dengan keyboard yang mulus dan berfungsi normal, usai sudah penderitaan saya. Intinya, sayangi segala macam barang anda dan jauhkan barang elektronik dari yang namanya air.

ps: keyboard lama saya juga dikembalikan, tapi bingung ini mau saya apakan. Mungkin bisa untuk membuat liontin kalung seperti milik Fitri Tropika menggantikan kalung flashdisk saya :p

abcs