Tour de Candi

Menjadi pengangguran kelas 3 SMA ini memang menyenangkan. Bisa bangun siang, ke sekolah siang, pergi-pergi, main, dsb. Namun saya nggak pingin masa pengangguran ini terasa hampa. Oleh karena itu saya membuat jadwal piknik (duile) selama saya menganggur ini.

Salah satu yang ada dalam daftar piknik saya adalah Bersepeda ke Candi atau bahasa Jawanya biasa disebut dengan Bike to Temples. Kenapa harus candi? kenapa harus sepeda? Karena saya tinggal di Kecamatan Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta yang dikenal dengan seribu candinya (aduh lebay) dan bersebelahan dengan kecamatan Prambanan yang tak kalah banyak menyimpan candi-candi yang bahkan termahsyur sampai dunia internasional. Akhirnya 3 Juni 2010 saya putuskan bersepeda pagi (supaya sehat dan lebih ramah lingkungan, toh paling jauh hanya 5 km) ke beberapa Candi untuk sekedar mengagumi, menilik sejarahnya dan berdecak kagum karena nenek moyang kita sebegitu strong dan artistiknya bisa membuat candi sebesar dan seindah itu
.
Tujuan pertama saya adalah Candi Boko yang terletak di desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Namun karena saya gak kuat nanjaknya, yaudah saya turun terus belok ke Prambanan. Di Prambanan, saya nggak masuk ke Candinya, tapi cukup ngintip lewat panggung sendratarinya. Sekedar info, untuk masuk ke Candi Prambanan dan Boko dikenakan biaya 10000 rupiah per orangnya.
Candi Prambanan saat sunrise, difoto dari panggung sendratari Ramayana

Puas lihat Prambanan, saya meneruskan perjalanan ke Klaten untuk istirahat di Masjid (aduh saya lupa namanya) yang terkenal di perbatasan DIY-Jateng. Secara saya dah lumayan capek bersepeda sekitar 12 km muter jalan piyungan-prambanan. Subhanallah bagus banget masjidnya....
Habis itu saya ke Candi Sari di desa Candi Sari, Tirtomartani, Kalasan Sleman. Kalau dari Jalan Solo km 14,5, cukup masuk gang Candi Sari utara jalan Solo sekitar 50 m dan langsung ketemu candinya. Sayang bapak petugasnya nggak ada di pos jadi saya nggak berani masuk, baca papan informasi dan ambil foto banyak-banyak.

Candi Sari

Kemudian tujuan terakhir tentu Candi deket rumah saya, Candi Kalasan di desa Kalibening, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Dari Jalan Solo km 14, masuk gang depan SMP N 1 Kalasan (selatan jalan) sekitar 10 meter jalan turunan langsung ketemu candinya. Ohya sekedar info lagi, untuk masuk ke Candi Sari dan Candi Kalasan biayanya sama, 2000 rupiah untuk dewasa dan 1000 rupiah untuk anak. Tapi karena saya warga Kalibening jadi saya gak usah bayar hehe...

bentuk utuh Candi Kalasan


Candi Kalasan difoto dari berbagai view


Kiri: pintu barat candi, tengah: pintu timur candi, kanan: tempat menyimpan arca

Karena boleh masuk akhirnya saya bisa foto-foto dan baca papan sejarahnya deh. Sebenarnya udah sering banget saya ke Candi Kalasan, tapi yang tujuannya sebagai turis mencari ilmu pengetahuan ya baru ini inih hehe (biasanya cuma main dah buat delikan :p). Dan papan informasinya ternyata menceritakan sejarah Candi sebagai berikut (saya ketik persis dengan aslinya)

Keberadaan Candi Kalasan dapat dikaitkan dengan sebuah prasasti batu berbahasa Sansekerta berhuruf Pranagari yang berangka tahun 700 Saka atau tahun 778 Masehi. Di dalam prasasti Kalasan itu disebutkan tentang diperingatinya jasa Raja Panangkaran yang telah membangun sebuah kuil bagi Dewi Tara serta membuat arca dewi yang kemudian ditahtakan dalam kuil tersebut. Kuil tersebut dinamakan Tarabhawana yang kini dikenal sebagai Candi Kalasan (Candi Tara).

Selain itu di dalam prasasti Kalasan juga disebutkan tentang pendirian tempat tinggal (asrama) bagi para pendeta dengan menghibahkan desa Kalasan kepada para sanggha.

Di dalam prasasti tersebut, baik kuil Dewi Tara maupun asrama disebut sebagai Wihara. Penyebitan asrama bagi para sanggha sesuai dengan bangunan Candi Sari yang berada 500 m di sisi Timur Laut Candi Kalasan

Candi Kalasan adaah candi yang bercorak Budha. Bangunan Candi Kalasan memiliki keunikan bila dibandingkan dengan candi-candi lain di sekitar Prambanan.

Berdasar penelitian terhadap struktur bangunan candi diketahui bahwa bangunan candi yang kita saksikan kini adalah bangunan ketiga, sehingga dapat diperkirakan penyebutan tahun 700 Saka dalam prasasti ini tentu bukan bangunan yang saat ini, melainkan bangunan yang sudah ditutup bangunan baru.

Seni hias pada Candi Kalasan juga mempunyai corak khas yakni berupa pola hias sulur gelung yan ditempatkan secara vertikal pada tubuh candi hingga bisa memberikan kesan tinggi pada bangunan.

Saat ini sisa bangunan candi Kalasan adalah 24 m. Bangunan tubuh candi berdiri pada batur setinggi 1m dengan kaki candi setinggi 3 m, tubuh 13 m dan atap 7m. Tubuh candi berdenah bujur sangkar berukuran 16,5 x 16,5 m. Di tiap sisi bangunan terdapat pintu dengan tangga, sedangkan sisi timur merupakan pintu utama. Dahulunya pada bilik utama ini terdapat sebuah arca yang cukup besar, hal ini diketahui dari dudukan arca yang juga sangat besar.

Tahun 1939-1940an Candi Kalasan dilakukan perbaikan, yakni memasang kembali batu-batu atap serta melakukan konsolidasi pintu masuk sisi selatan yang mulai rusak. Namun secara keseluruhan Candi Kalasan belum pernah dipugar total seperti candi-candi lainnya.
Ternyata seru juga bukan mengetahui sejarah candi semacam ini. Masak orang Indonesia nggak tau sejarah negerinya sendiri kan malu juga hehe. Jadi mulai sekarang jangan malu berkunjung ke tempat-tempat bersejarah seperti ini. Dugaan saya, salah satu faktor yang membuat merosotnya moral remaja Indonesia masa kini adalah karena mereka kurang menghargai sejarah bangsanya. Mau seperti mereka? :p
2 Responses
  1. Yan Geologist Says:

    aku juga suka arkeologi.
    pengin ngerasain gmn rasanya ikut nggali2 benda2 purbakala.

    kan hampir sama dengan hunting mineral dan batuan...
    wkwkwk...

  2. Nurvirta Monarizqa Says:

    yup yup, aku sempat kepikiran jadi arkeolog lo yan saking banyaknya candi yang bertebaran di sekitar rumahku, hehe

Posting Komentar

abcs