Becak


saya mau tamasya berkeliling keliling kota, hendak melihat lihat keramaian yang ada
saya panggilkan becak kereta tak berkuda
becak, becak coba bawa saya
saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki, melihat dengan asyik ke kanan dan ke kiri
lihat becakku lari bagai takkan berhenti
becak, becak jalan hati-hati

Itu soundtrack semasa kecil saya. Saya masa muda adalah seorang pelanggan becak yang setia. Saya  dahulu tinggal di daerah  Jokteng Wetan yang mana masih banyak becak berkeliaran di sana, dan kata ibu saya, saya nggak mau makan sore kalau belum naik becak keliling alun-alun selatan dan nonton gajah (ini pasti anggaran makan sore saya melebihi jumlah anggaran makan anggota keluarga yang lain).


Tapi semenjak saya beranjak gede dan rumah saya pindah ke daerah Sleman yang emang gak ada becak, saya jadi nggak pernah naik becak lagi. Rindu rasanya. Tapi alhamdulillah akhir-akhir ini saya sering ada kerjaan dan janji di tempat-tempat yang nggak terjangkau trans jogja, jadinya saya pun mau tak mau harus CLBK dengan kendaraan yang satu ini (tidak include bapak tukang becaknya), yang membuat saya menginspirasi membuat posting ini.

Becak adalah kendaraan tidak bermotor roda tiga yang penggeraknya adalah tenaga manusia untuk mengayuh pedal yang terhubung dengan roda belakangnya. Alat transportasi ini sendiri di Kota Jogja banyak banget bertebaran bak daun kering (lebayatun). Salah satu spot contohnya adalah malioboro dan sekitarnya.  Bentuk bodinya yang tambun kadang memenuhi jalan dan membuat agak macet seperti contohnya di jalan Ahmad Dahlan yang super random karena semua macam jenis kendaraan ada disitu: motor, mobil, sepeda, becak, andong, truk. 

Sebenarnya naik becak itu enak juga, asal kita pintar menawar. Nah ini asyiknya. Kegiatan tawar-menawar becak saya demen banget karena melatih skill "hemat" dan "irit" saya serta melatih bahasa Jawa Krama yang mungkin sekarang banyak anak muda seusia saya yang mulai nggak bisa menggunakannya. Biasanya, saya selalu dapet patok harga 10ribu (padahal asal naik dan tujuannya beda-beda). Nah ini pakai perasaan aja, berikut hal hal yang bisa jadi pertimbangan menawar harga becak (ini jangan diartikan harga becak secara utuh ya):
  1. Lihat jaraknya, saya 4-5 km palingan juga 5 ribu dapet kok
  2. Lihat kondisi jalannya, kalau emang nanjak, bolehlah kasih bapaknya lebih
  3. Lihat penampilan bapaknya, kalau ganteng dan masih muda, NGGAK USAH DIKASIH LEBIH LAAAAH..... tawar setawar-tawarnya (emang roti?)
  4. Lihat kondisi diri sendiri, kalau emang lagi pengen beramal dan bagi-bagi duit ya bolehlah kasih lebih ke abang tukang becaknya...
Itu asyiknya yang pertama, kedua naik becak memberikan suasana damai karena kita dibawa untuk menikmati perjalanan. Angin yang sepoi-sepoi, "jendela" becak yang lebar, plus "klakson" becak yang nyaring bunyinya itu membuat kita serasa raja, apalagi kalau perempuan pergi sendirian. Berasa ratu. Serius. Saya pernah naik becak dan di perempatan kebetulan becak ini dapet antrian di belakang, padahal biasanya becak selalu menjadi yang terdepan kalo berhenti di perempatan (melebihi zebra cross dan jalan sebelum ijo bahkan), nah kemudian para pemilik kendaraan-kendaraan (yang sebagian besar banget bermotor) di depan becak saya ini terus nyadar dan MEMBERI JALAN supaya becak ini bisa ngantri di depan. DIPERSILAKAN banget bo, kayak becak ini iring-iringan mobil presiden lewat aja, dan langsung saya jadi pusat perhatian. Aduh malu ;;)

Becak ini nggak hanya tersebar di Jogja, tapi juga di banyak daerah lain di Indonesia. Untuk di Jawa sendiri contohnya (ini yang pernah saya lihat dan saya naiki) adalah di Solo, dan daerah pesisiran utara seperti Brebes dan Tegal.Walaupun sama-sama becak, ternyata bentuknya berbeda-beda



taken from keiya.multiply.com
Becak Jogja
Becak Jogja terkenal dengan "KAP" atau dasbor roda sampingnya yang biasanya diberi lukisan pemandangan, lokasi hotel tempat mangkal, ataupun doa-doa, seperti gambar paling atas porsting ini. Artistik bukan? Makanya kap becak sering dijadikan seniman sebagai wadah menuangkan karya seninya untuk kemudian dipamerkan.


taken from flickr.com
Becak Solo
Becak Solo secara bodi nggak jauh beda sama becak Jogja. Yang membedakan adalah bodi bagian samping, ada semacam bentuk seperti huruf B nya yang menonjol. Tapi sepengalaman saya naik becak Solo, mereka pasang tarifnya lebih murah dari becak Jogja.


taken from vtrediting.wordpress.com
Becak Tegal/ Brebes
Secara bodi mereka lebih kurus dan sempit. Namun secara tarif mereka rajanya, murah abis, karena becak masih sangat sering banget digunakan di tempat ini, jadi masih gampang cari penghasilan lewat menarik becak.

Banyak orang yang menyebut kendaraan ini nggak manusiawi karena pertama, ditarik tenaga manusia dan kedua, uang yang didapat nggak sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan, dan tentunya nggak kuat menghidupi keluarga. Em em em ini kalau boleh saya berpendapat, pekerjaan kuli pun kalau begitu juga nggak manusiawi dong karena mengandalkan tenaga manusia. Dan dengan sekali tariknya yang 10 ribu rupiah, saya kira sehari abang tukang becak bisa dapat 30 ribu dan cukup untuk kasih makan keluarga.

Ini kembali lagi ke bagaimana cara me-maintain becak dan abangnya itu sendiri. Becak sudah menjadi semacam trademark dan ciri khas kota Jogja. Bolehlah becak ini terus beroperasi untuk kendaraan wisata dan kendaraan angkut asal nggak jauh-jauh, toh memang dibutuhkan dan lebih ramah lingkungan dibanding naik ojek. Untuk masalah penghasilan, saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa karena saya sendiri bingung juga solusinya. Kalau si abang becak mau dan mampu, dia bisa mencari pekerjaan yang lebih layak. Namun jika tidak, dia harus pandai memanagemen uangnya tersebut. Tiga puluh ribu tapi habis untuk rokok sama saja.
3 Responses
  1. Yan Restu Freski Says:

    jare ibukku, mbiyen aku yo kudu menyang ratan gedhe, ben aku iso sarapan. Wkwkwk... Padahal waktu itu jaraknya sekitar 1 kilometer (dirumah nenek waktu itu).

    Sembari digendong melihat pemandangan. Haha...

  2. gerry febrian Says:

    NICE BLOG :)
    SALAM KENAL,SALAM BUDAYA

    www.dokter-gerry.blogspot.com

  3. Nurvirta Monarizqa Says:
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

abcs