Belajar Menghargai Waktu Lewat Trans Jogja

Untuk memahami makna 1 tahun, bertanyalah pada seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas
Untuk memahami makna 1 bulan, bertanyalah pada seorang ibu yang melahirkan anaknya secara prematur
Untuk memahami makna 1 minggu, bertanyalah pada seorang editor majalah mingguan
Untuk memahami makna 1 hari, bertanyalah pada seorang pekerja dengan gaji harian
Untuk memahami makna 1 jam, bertanyalah pada seorang yang sedang menunggu penuh penasaran
Untuk memahami makna 1 menit, bertanyalah pada seorang yang ketinggalan kereta
Untuk memahami makna 1 detik, bertanyalah pada seorang yang selamat dari kecelakaan
Untuk memahami makna 1 milidetik, bertanyalah pada seorang pembalab F1 atau MotoGP yang meraih juara kedua

Bagi saya untuk memahami waktu 1 detik bertanyalah pada saya, seorang pelanggan transjogja yang ketinggalan bis jalur 1B. karena artinya saya harus menunggu bis berikutnya yang jaraknya 15-30 menit. Kalau saya lagi buru-buru atau berangkat sekolah gitu misalnya alangkah berharganya 15 menit yang terbuang tersebut, karena bisa digunakan untuk nongkrong di kelas dan ngerjain PR sebelum masuk (ketahuan nggak pernah ngerjain PR).

Kembali ke paragraf quotes di atas. Saya suka membaca kalimat-kalimat di atas berulang karena membuat saya selalu menghargai waktu 24 jam yang telah diberikan secara gratis ini. Tapi bukan berarti waktu yang gratis ini nggak ada artinya, justru seperti kata pepatah, waktu adalah uang, tinggal mau gimana kita make uang ini. Mau kita jadiin modal usaha apa mau kita beliin narkoba is at our own risk. Lihatlah negara maju. Mereka bisa maju karena ke-ontime-an mereka, dimana mereka berhasil memanfaatkan waktu bahkan sedetikpun dengan baik, dengan sangat produktif sehingga mereka bisa maju. Kemudian sekarang lihat Indonesia. Saya nggak mau menjelek-jelekkan negara saya sendiri sebenernya, tapi saya sedih juga dengan jam karet yang seolah membudaya di Indonesia.

Saya nggak mau naif juga, saya emang bukan orang yang selalu on time, tapi saya selalu mengusahakan datang on time, karena on time adalah ciri awal orang sukses kalau teman saya Fatimah Putri bilang. Tapi terkadang suasana tidak mendukung kita untuk on time. Kita sudah berusaha on time gitu misalnya saat janjian dengan teman-teman, eh malah teman yang lain nggak ada yang on time. Jadilah on time kita sia-sia dan jadilah kita ilfil untuk on time.

Nah untuk mengtasi hal tersebut, saya punya cara jitu membiasakan on time, yaitu ya dengan jadi pelanggan trans jogja seperti yang sudah saya bilang di atas tadi. Coba semua orang pake trans jogja tiap harinya, kemanapun perginya. Memang sih, TJ juga nggak selalu on time, tapi at least TJ punya jadwal yang teratur yang bisa membut kita lebih menghargai waktu jika terlambat satu detik saja. Di samping itu, terbiasa menunggu TJ yang 15 menit ini juga bisa menjadi terapi kesabaran loh. Setelah terbiasa “ditinggal” oleh TJ seperti saya dan mengerti betapa berharganya 1 detik, saya yakin semua orang jadi bisa menghargai waktu dan menjadi on time.

Implikasinya, jika semua orang on time, tentu semua orang akan sukses juga dan negara ini bisa menjadi semakin maju bukan? :)
5 Responses
  1. ismailsunni Says:

    gur 15 menit... aku biyen, nunggu ankgot ngarep semesta, sejam pisan... nangis...

  2. pet Says:

    tergantung dimana kita berada ho'o to... Sudah rahasia umum kalau ada undangan , jam 7, mesthi ntar mulai minimal jam 8... Bukan masalah on time atau enggak, hanya kasih permainan menentukan waktu toleransi saja.....

  3. Nurvirta Monarizqa Says:

    itu kesalahan mindset rham :) nek menurutku on time yo on time. titik. :p

  4. m.fatah yasin Says:

    aku lho, on time... :p

Posting Komentar

abcs