Discovering Kotagede

Kotagede, salah satu spot favorit saya di Yogyakarta. Bagi pencinta sejarah seperti saya, tempat ini masuk dalam kategori harus dikunjungi jika sedang berlibur ke Jogja. Kotagede yang sangat termahsyur dengan kerajinan peraknya ini secara administratif merupakan nama sebuah kecamatan di Kota Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bantul di Timur dan Selatan, bahkan sedikit di sebelah Utara. Cukup "pinggiran" memang dari pusat kota, yaitu sekitar 9 km arah Tenggara. 

Asal muasal nama Kotagede sendiri diambil dari kata pasar gede yang memang ada di tengah-tengah wilayah Kotegede, pasar ini ramai setiap hari pasaran Legi, dan pas banget saya kesana pas pasaran Legi, jadi jalan di sekitar pasar gede menjadi pol macet. Selain disebut Pasar Gede, wilayah ini juga disebut Sargede, singkatan dari Pasar Gede, sebelum akhirnya menjadi Kota Gede karena tempat ini juga merupakan ibukota kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16 silam.

Kenapa saya suka banget sama tempat ini?
Karena disini kita bisa melakukan wisata religi, wisata kuliner, (kipo, cendol, sate karang, cokelat Monggo, dll), wisata sejarah, sekaligus wisata belanja (perak, kerajinan). Satu hal yang paling saya suka dari Kotagede adalah suasana kota-tuanya yang masih sangat kental dengan bangunan-bangunan gaya Joglo-eropa dan reruntuhan peninggalan kraton masa lalu yang masih dapat dinikmati. Sejarahnya, seperti dikutip pada blog ini adalah sebagai berikut
 Tempat ini merupakan bekas kerajaan Mataram Islam yang merupakan embrio kerajaan Ngayogyokarta Hadiningrat. Menurut Babad Tanah Jawi Kotagede merupakan ibukota kerajaan Mataram Islam. Sebelumnya Kotagede merupakan hutan belantara yang belum terjamah penduduk. Tanah ini milik Sultan Hadiwijoyo penguasa kerajaan Pajang. Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa Sultan Hadiwijaya mempunyai musuh yang sangat kuat bernama Arya Penangsang. Dalam menghadapi musuhnya tersebut Sultan Hadiwijaya mengutus patihnya yang bernama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Penjawi. Dua patih beserta pasukan dari Pajang berhasil menumpas Arya Penangsang. Dalam babad tanah Jawi menceritakan bahwa tokoh yang berjasa dalam memerangi Arya Penangsang itu sebenarnya anak dari Ki Ageng Pemanahan yang bernama Sutawijaya. Atas keberhasilan mengalahkan Arya Penangsang, Sultan Hadiwijaya memberikan tanah Mataram dan tanah Pati kepada kedua patihnya. Usia Ki Penjawi yang lebih tua dari Ki Pemanahan, maka Ki Penjawi disuruh memilih pertama kali. Ki Penjawi memilih tanah Pati yang sudah berpenduduk dan ramai dengan aktivitas masyarakat. Ki Pemanahan harus berlapang dada menerima tanah Mataram yang masih berupa hutan belantara. Keluarga Ki Pemanahan lalu hijrah ke Mataram. Dalam perjalanannya Ki Ageng Pemanahan bertemu dengan Ki Ageng Karanglo dan tokoh spiritual Sunan Kalijaga. Dua tokoh itu membantu Ki Ageng Pemanahan dalam membangun kota Mataram. Tanah Mataram itu kemudian berubah menjadi kota kecil. Lambat laun kota itu semakin ramai didatangi warga dari berbagai penjuru daerah. Anak Ki Pemanahan yang bernama Sutawijaya menjadikan Mataram menjadi negara yang kuat, bahkan Pajang yang dulu merupakan atasannya bertekuk lutut terhadap Mataram. Iniliah realita politik, yang kadang tidak memandang kawan, saudara maupun keluarga. Dalam politik yang ada hanya kepentingan maka tidak ada kawan sejati tidak ada pula lawan abadi. Sutawijaya lalu bergelar Panembahan Senopati. Daerah kekuasannya sampai ke timur dan Barat Jawa. Pada masa Sultan Agung Mataram mencapai zaman keemasannya. Hampir seluruh kota di Jawa mengakui dan tunduk terhadap Mataram. Teori Ibnu Khaldun tentang tiga masa dalam kerajaan ternyata dialami juga oleh Mataram. Tiga Masa itu adalah Masa Kebangkitan yang diawali dengan perjuangan untuk berdiri, setelah itu masa kejayaan yang merupakan konsekuensi dari perjuangan panjang, terakhir masa keruntuhan. Masa keruntuhan biasanya merupakan ekses dari sikap snobisme dan hedonis para penguasa di masa kejayaan. Pasca Sultan Agung Mataram semakin surut bahkan perpecahan internal sering terjadi. Kekuasan saling diperebutkan antar keluarga, disinilah politik itu. Tepatnya pada tahun 1749 Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua yaitu Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta. Implikasinya teritorial Kotagedepun pecah menjadi dua bagian. Pada masa orde baru Kotagede menjadi nama kecamatan yang berada di wilayah Kotamadya Yogyakarta. Pembagian wilayah tersebut didasarkan pada tanah milik Kasultanan dan Kasunanan. Tanah milik Kasultanan masuk wilayah kecamatan Kotagede (kotamadya Yogyakarta), sedangkan tanah milik Kasunanan masuk wilayah kecamatan Banguntapan (kabupaten Bantul). 
Pantesan aja saya menemukan dua rumah bersebelahan dimana yang satu alamatnya Kotagede, Yogyakarta dan satunya lagi alamatnya Banguntapan, Bantul. Beda Kabupaten.

Spot pertama yang saya kunjungi adalah masjid tertua di Yogyakarta, Masjid Mataram Kotagede. Saya suka banget sama arsitekturnya, gerbangnya berbentuk seperti candi-candi di Jawa Timur dan bangunan masjidnya sendiri masih khas mempertahankan bentuk Joglo.
pintu masuk masjid Mataram-kompleks ini dinobatkan sebagai cagar budaya
kompleks masjid

Bicara tentang masalah keyakinan, Islam di daerah Kotagede ini memang cukup kuat didukung dengan adanya basis organisasi Muhammadiyah yang cukup besar di tempat ini. Untuk wisata religi yang lain, kita bisa mengunjungi masjid perak (yang sedang direnovasi) maupun musholla aisyiah.

Selanjutnya, saya dan teman-teman beranjak ke selatan, ke pabrik coklat Monggo yang  cukup terkenal di Dalem KG III/978 Yogyakarta. Saya beli satu buah coklat dark 58% 80gr seharga 20 ribu rupiah, dan ternyata senangnya saya dapat promosi buy 1 get 1, lumayanlah. Bagi yang penasaran bisa buka situs coklat Monggo di www.chocolatemonggo.com.

coklat monggo, toko dan pabriknya

Perjalanan dilanjutkan ke arah selatan lagi, disana kami melewati sebuah dalem yang dipergunakan sebagai tempat pemakaman keluarga dan kerabat kraton. Lebih ke selatan bisa kita jumpai sebuah rumah yang ternyata di dalamnya terdapat bermacam-macam batu! Lalu apa menariknya batu-batu ini?

kiri-"rumah" para batu, kanan-watu gilang

kiri-watu gatheng, kanan-watu genthong

Ternyata batu yang dipamerkan ada 3 macam, watu gilang, watu gatheng dan watu genthong. Watu gilang menurut penuturan abdi alem yang jaga, merupakan tempat duduk/ singgasana Panembahan Senopati (pendiri Kraton Yogyakarta). Juga disebut dengan batu meteor karena strukturnya berbeda dengan batu lain pada umumnya. Kemudian ada pula watu gatheng. Sepengetahuan saya waktu muda dulu, yang jago main gatheng, gatheng adalah permainan sejenis bekel dimana bola dan krewengnya semuanya dari batu (biasa). Tapi betapa takjubnya ketika saya menjumpai batu yang digunakan Raden Ronggo (anak P Senopati) bermain gatheng sebesar bola voli! What a strong boy. Terakhir adalah watu genthong. Batu ini ceritanya zaman dahulu digunakan untuk menampung air wudhu.

Next, perjalanan kami lanjutkan kembali ke Masjid Mataram.

kiri-gerbang dalem, kanan-reruntuhan dinding kamar

Ada spot unik yang kami temukan saat perjalanan pulang, yaitu reruntuhan dinding kamar Panembahan Senopati (kanan). Apa menariknya? Pertama ketebalan dindingnya. Gile aja, dinding kamar saya aja selapis bata, tapi kamar eyang Senopati ini sekitar 8-10 lapis bata! Busyet. Lebih menakjubkan lagi sejarah kenapa runtuhnya. Ceritanya P Senopati sedang lelah dan minta putranya, Raden Ronggo, si strong boy tadi memijatnya. Saat memijat jempol kaki, P Senopati merasakan sakit yang amat sangat. Refleks, P Senopati mengibaskan kakinya yang efek sampingnya si Raden Ronggo ikut terhempas menabrak dinding dan membuat dinding tersebut runtuh. Ajaibnya Raden Ronggo nggak merasakan sakit apa-apa dan kemudian malah tertawa karena menganggap ayahnya sedang bercanda. Plis deh.

Sampai di Masjid Mataram, kami menunaikan ibadah sholat Dhuhur dan kemudian menjelajahi kompleks sendang (pemandian) yang masih satu kompleks dengan masjid itu sendiri. Ada Sendang Kakung (pemandian untuk putra) dan Sendang Putri (pemandian untuk putri). Selain itu, di dalam kompleks ini juga ada makam Panembahan Senopati. Tapi saya nggak bisa masuk ke makam, alasannya pertama, harus sewa baju 10 ribu, kedua, baju yang digunakan adalah kemben, yang biasa digunakan abdi dalem. Buat saya yang berjilbab ini mana bisa? Ketiga nggak boleh ambil gambar dalam makam, karena jika iya kameranya harus ditinggal dalam makam. Aduh mana tahan.



Wah satu hari ini saya benar-benar jadi turis rasanya keliling Kotagede. Thanks to all my "mawut" (membawa wujud terkendali) friends: Wulan Nur Jatmika, Fatimah Putri, Nurina Umi, Karunia Agustantini, Windi Anarta, Setyo Utami Wisnusanti (harusnya Titik Dwi juga ikutan ini) dan of kors Mbak Eka yang masih sabar menerima kemawutan kami .


Ohya sedikit info, bagi yang ingin keliling Kotagede tapi buta banget soal tempat yang satu ini bisa ikut kegiatan Rambling Through Kotagede (telusur Kotagede) yang dikelola oleh Yayasan Kanthil dan Pusat Studi dan Dokumentasi Kotagede (PUSDOK) yang beralamat di Jalan Mondorakan 93 Kotagede 55172. For Further Information, click here.

Enjoy Jogja! :)
4 Responses
  1. fatimahfapud - فاطمة Says:

    ayo mlaku" meneh .. :D

    kapan mbolang ng Solo ki mon?

  2. Nurvirta Monarizqa Says:

    yo ayo fatimaaah.... kapan?????

  3. Bamz Gentolet Says:

    wah.... pingin mbolang ke jogja.
    tpi bingung tempat jogja.

  4. Bamz Gentolet Says:

    pingin mbolang di joja tapi gak tau tempat yang asik.

Posting Komentar

abcs