Sedikit Curhat

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
(Imam Syafii, dikutip dari novel Negeri 5 Menara)

dari kiri: Saya, Ucik, Risa, Retno, Faput, Wirda, Zakiya, Mbak Deta, Tiara, Ratri, Intan
14 September 2010, nganter Zakiya berangkat ke Jepang

Beruntunglah kalian wahai teman-teman saya yang telah diberi kesempatan untuk merantau ke negeri orang, minimal ke kota seberang sana yang memang untuk tingkat pendidikan masih selevel sama Jogja, tapi pengalaman hidup disana akan jauh lebih tinggi levelnya dari Jogja.

Kalau boleh curhat (memang posting ini posting curhat) saya 17 tahun hidup di Jogja dan sekolah di Jogja. Ingin banget rasanya merantau, mencari pendidikan yang lain, suasana yang lain, mengasah kemandirian, mengasah kemampuan hidup survive dan kalau beruntung bisa dapet pasangan hidup lain kota alias nggak gagal roaming.

Ditambah dengan saya yang udah bosen hidup di Jogja, hidup di lingkungan Jogja yang pakewuhnya tinggi (ini yang bikin Indonesia susah maju) dan jiwa bolang saya yang tinggi, saya mantep banget untuk kuliah minimal di luar Jogja lah, syukur-syukur bisa ke luar negeri, ditambah Rasulullah pernah bersabda "tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina", makin pengenlah saya sekolah di luar Jogja S1 ini.

Tapi apa daya, idealita saya tidak berjalan dengan realita. Orang tua saya melarang saya kemana-mana seperti yang saya paparkan di postingan saya yang ini. Okelah, saya memang harus bersyukur dengan apa yang saya punya dan ini memang rencana Allah untuk menyekolahkan saya S1 di Jogja dulu. Saya thinking positive aja, Allah lagi nguji saya, sepinter apa saya mengolah plan B saya kuliah di Jogja menjadi seindah plan A saya kuliah di luar negeri, minimal luar Jogja.

Dengan ini, toh saya nggak bisa nyalahin siapa-siapa. Nyalahin pemerintah yang limit dana? Yang APBN keseluruhannya bahkan lebih sedikit dari APBN Jepang bidang pendidikan sehingga nggak kuat menyelenggarakan pendidikan setaraf negara maju, atau guru-guru SMA saya yang kurang bisa memprovokasi orang tua saat pleno kelas XII, atau orang tua saya yang (mungkin) pikiran mereka masih terlalu sempit mengenai pendidikan?

Daripada sibuk menyalahkan, saya sekarang udah punya rencana yang bisa menghapuskan semua memori indah saya sekolah di luar, pertama menyibukkan diri sesibuk-sibuknya di Jogja. Egois kedengarannya. Tapi saya ingin merasa "dibutuhkan" oleh sekitar saya, agar saya tidak merasa menyesal menuruti perintah orangtua karena ada yang butuh saya di Jogja.

Kedua jadi dosen JTETI UGM. Rencana ini saya dapatkan hari pertama PPSMB (ospek) fakultas, dimana saya mengenang semua perjalanan saya untuk masuk ke UGM, pahit manis asin asem. Tujuan saya jadi dosen adalah supaya ada alasan kuat saya untuk S2 di luar negeri. Saya nggak mau ketunda lagi seperti S1 kemarin. Selain itu juga supaya bisa berbagi sama adik-adik saya. Saya ingin jadi pengajar karena selain pahalanya ngalir terus walau udah meninggal, saya ingin menjadi pengajar berkualitas agar SDM negara juga berkualitas. Realitanya sekarang, pekerjaan dosen, guru, pendidik dan pengajar dianggap remeh karena dianggap pekerjaan pintas, sehingga kadang mutu SDM pendidik itu sendiri menjadi kurang maksimal, implikasinya generasi bangsa kurang maksimal juga dong.

Dan alasan pamungkas saya jadi dosen adalah untuk masuk ke jaringan UGM. Saya ingin berjuang hingga nantinya mendapat posisi penentu kebijakan pedidikan UGM seperti beasiswa, ujian masuk, atau prestasi, agar tidak banyak lagi korban-korban UGM seperti saya (baca ini). Siapa tahu naik lagi jadi menteri, terus wakil presiden, terus presiden :p (ngarep)

Ketiga adalah memotivasi adik-adik saya untuk berani merantau. Kalau ini gampang lah, sering-sering ketemu adik kelas lalu bakar semangatnya untuk mencuri ilmu negara lain dan membawanya kembali ke Indonesia. Karena dengan merantau kita bisa memajukan bangsa yang katanya makin bobrok ini. Contoh aja, Malaysia beberapa puluh tahun lalu berbondong-bondong berguru ke Indonesia dan guru-guru Indonesia diboyong ke Malaysia, apa hasilnya? Mereka lebih maju dari negara kita. Karena mereka tidak egois dan KEMBALI ke negaranya.

Orang Indonesia sebenarnya tidak kalah pintar dari negara maju sekali pun. Lihatlah di berbagai ajang olimpiade ilmu pengetahuan Indonesia sering unggul. Hanya pendidikan di Indonesia kalah oleh permainan politik sehingga teman-teman kita malas untuk kembali ke Indonesia. Saya maklumi. Untuk itu, marilah kita generasi penerus bangsa harus mau merantau, minimal berjiwa merantau (mandiri, kritis, survive, kere). Majunya negara tercermin dari pendidikannya. Pendidikan kalah dari politik karena orang yang berada di politik tidak banyak yang benar-benar concern sakpole dengan pendidikan. Coba mereka dari latar belakang pendidikan yang kuat, maka pendidikan akan terangkat pula.

Tapi kan tidak semua dari latar belakang pendidikan yang kuat mau jadi politisi?

Pertanyaan bagus, makanya karena nggak kan ada yang tahu nasib kita jadi apa, SEMUA dari pemuda generasi bangsa harus mau belajar yang giat sesuai dengan minatnya. Oke, memang banyak banget kendalanya, pendidikan yang nggak merata lah, ini lah itu lah, tapi ayolah kita bahu membahu untuk mewujudkannya. Kedengarannya emang mission impossible (saya pas ngetik juga ragu) dan masih abstrak. Memang sih, ini sulit, tapi bisa! Mau negara maju kan?????
16 Responses
  1. Yan Restu Freski Says:

    Setuju mon.

    Aku juga ingin jadi dosen. Njuk kuliah e ning luar negeri dibayari nganti S3. Wkwkwk... Tapi aku nasionalis kok mon. Artinya, aku mau pulang. Nggak peduli kata orang, 'bualan'ku ini disebut teoritis. Yang penting aku punya idealisme dan sedikit ambisius juga sedikit obsesif. Wkwkwk...

  2. dza.talidhut Says:

    Semoga kedua teman saya diatas (Monmon dan Yanyan) bisa menjalankan rencananya dengan baik dan mendapat hasil yang baroqah, amin :)

  3. ratriiiapik Says:

    setuju mon! semangat sekolah di luar negri, menuntut ilmu sebaik - baiknya. terus KEMBALI ke Indonesia, bikin karya yg berguna buat majuin bangsa. hidup mahasiswa Indonesia! (dampak kena ospek MIPA) hehehe

  4. fatimahfapud - فاطمة Says:

    (goodluck) sudah 18 tahun d jogja .. dan kini saatnya berkarya d luar sana ..

  5. intan Says:

    mun, cita2 kita sama, ayo jadi dosen :))
    go dosen !

  6. luphitaza Says:

    Assalamualaikum mbak mon....
    salam kenal ya...
    nasib kita sama.....
    saya juga tidak di izinkan ke luar kota untuk menimba ilmu...
    padahal waktu SMA saya di terima Di UNPAD- Bandung melalui jalan SPMB
    saya sudah berjuang mati-mayian tapi,,,orangtu saya tetap melarang...
    jadilah saya di kuliahkan di perguruan tinggi swasta yg kualitasnya jauh dari angan2 saya.....
    (ops jadi curhat ni..) hehehehehe

    saya juga iri dengan teman2 saya yg kuliah di korea dan jepang....
    kapan ya waktunya saya...?? hehehehe

  7. Nurvirta Monarizqa Says:

    thanks all, mari berjuang bersama :)

  8. Melisa Pramesti Dewi Says:

    weeh, aku ga diajak nganter Zakiyaaaa :'(((
    sedih banget aku. .
    ayo mon, jadi dosen bareng yaa. .
    mari mari jadi orang pintar biar Indonesia pun pintar pulaa :DD

  9. sebut saja blog.. Says:

    Sip... haha.. mona ketmbien karaktere ncen keras kepala... (doh).., rapopo mon, ora asyik nggo crita ke anak cucu nek misale smua keinginanmu ki kelakon terus...

    Bagi yang pengin jadi dosen.., beri pengabdian terbaik untuk bangsa eaphz... Biar generasi penerus tak lagi merasa harus "merantau" ke negeri orang untuk belajar..

  10. Nurvirta Monarizqa Says:

    @melisa: maaf mel, aku juga taunya ndadak e, takutnya kamu gakbisa :(
    @rhama: yap yap yap that's i am :p

  11. Didud Says:

    Kalau mau keluar negri tidak harus jadi Dosen mbak, tapi lebih mudah mencari beasiswa kalau Dosen, karna saingan tidak sebanyak non dosen.
    di Fakultas Teknik ada beasiswa AUNSeed net, ke Thailand (Elektro dan IT) atau ke Singapore.
    nanti setelah lulus bisa mendaftar, syarat pendaftarnya alumni ITB atau UGM, dari UGM juga hanya dari Teknik, jadi saingan lebih sedikit.
    kalau mau beasiswa yang agak banyak saingan, bisa MonbukaGakusho, Panasonic (Jepang), ADS (Oztrali) dsb.

  12. Didud Says:

    Selain S2, ke luar negri bisa juga dengan exchange student, banyak sekali exchange student ditawarkan baik di Korea, Jepang, USA dll, tiap tahun biasanya ada, 6-1 thn di LN, rajin-rajin saja search infonya
    ada mhs JTETI angkatan 2007, yang sudah 2 kali exchange student, 8 bulanan ke Jepang, terus setelah pulang dapat lagi ke USA, kalua ndak salah namanya Mas Odit, Ramadhan Praditya Putra, coba saja tanya gimana caranya :D

  13. Didud Says:

    mbaknya dwi Tweeter tanya tentang saya to ?
    Saya alumni SMP8 (3.8) - SMA1 (3A11) dan alumni TSC :)

    Semoga berhasil cita2nya ke LN, asal ada kemauan, pasti ada jalan.

    btw: sudah betul nasehat ortu untuk kuliah di Jogja, krn keluar jogja itu tidak enak, kalau blm pernah keluar jogja rasanya ingin keluar, tapi nanti kalau sudah keluar, pasti ingin kembali ke Jogja :)

  14. Nurvirta Monarizqa Says:

    amin :)
    terima kasih, salam kenal juga :)

  15. Didud Says:

    ini ada bukaan exchange student ke Korea dari OIA UGM, paling lambat 28 Juni 2012
    http://oia.ugm.ac.id/interface/?cat=3

    Admission requirements:

    Applicant must be a citizen of ASEAN nations and currently enrolled in College or University.
    Undergraduate student majoring in Information Technology (e.g. Computer Engineering, Computer Science, Electrical/Electrics Engineering, Communications Engineering or IT Related major)

    goodluck

Posting Komentar

abcs