Jogja Kini Tak Se-Homy Dahulu Kala

Sabtu minggu yang lalu saya ingat betul Jogja dilanda angin kencang yang bahkan sampai merenggut korban jiwa karena kejatuhan baliho. Saya penasaran kenapa hal ini bisa terjadi. Setelah search kesana kemari saya menemukan sedikit artikel tentangnya dari sini


 diambil dari PSBB MAN 3 Yogyakarta lantai 2, langit sebelah utara
JOGJA: Angin kencang mengancam sejumlah kawasan di DIY. Menurut Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jogja, Toni Agus Wijaya mengungkapkan bahwa kecepatan angin kurang dari 30 km/jam. “Kecepatan ini terhitung sedang," ujar Toni saat dihubungi Harian Jogja, Sabtu (25/9).

Penyebab terjadinya angin kencang, lanjut Toni dikarenakan adanya beda tekanan suhu permukaan yang terlalu tinggi.

Hal ini mengakibatkan terjadi angin kencang yang bersifat lokal atau hanya terjadi di kawasan DIY dan di beberapa daerah yang berdekatan dengan DIY.

“Menurut pantauan kami angin yang berhembus sifatnya masih mendatar dan tidak terpusat pada satu titik. Angin kencang berukuran sedang ini tak menyebabkan terjadinya puting beliung,” sambung Toni.

Toni melengkapi, perbedaan suhu yang menyebabkan terjadinya angin kencang ini di DIY karena pengaruh perubahan musim dari pancaroba menuju musim penghujan. Transisi ini akan terjadi hingga awal bulan November 2010.(Harian Jogja/Joko Nugroho)

Cukup memberi info, tapi saya kurang puas nih, ada yang bisa jelasin ke saya? Apa ada hubungannya sama cuaca ekstrim Jogja akhir-akhir ini? (yang panas pol kemudian langsung hujan deres).

Ya, saya sekarang makin merasa nggak homy sama Jogja karena banyak hal, dua diantaranya adalah cuaca ekstrim dan lalu lintas Jogja yang mulai memadat dan terlihat mulai macet di beberapa titik. Apalagi kini status Gunung Merapi juga dinaikkan menjadi "waspada".

Selain hal-hal yang berbau "fisik", hal-hal non fisik tentang Jogja juga makin membuat saya gerah, semisal anak-anak Jogja yang katanya ramah, kadang ada juga yang  mulai bersikap tidak ramah dan tidak "jogja banget". Pemuda Jogja pun kini makin hedon dan lupa dengan akar tradisinya. Terakhir, yang makin membuat saya miris adalah image "kota pelajar" yang mungkin kini agak disepelekan oleh pelajar kota Jogja itu sendiri. Banyak kini pelajar Jogja yang asal ke sekolah, belajar, walaupun masih banyak juga yang berprestasi. Penghargaan dan pemerataan pada pendidikan yang masih kurang, yang bahkan kalah sama provinsi sebelah.

Ya saya sih cuma berdoa semoga Jogja baik-baik saja, tetap membuat saya dan penghuni Jogja lain nyaman, serta penduduk Jogja (sebenarnya ini ditujukan pada saya sendiri) lebih peka lagi terhadap masalah-masalah yang membuat Jogja kurang homy agar Jogja kembali berhati nyaman, Sleman tetap sembada, Kulonprogo Binangun, Gunung Kidul Handayani dan Bantul terus Projotamansari (loh?)
7 Responses
  1. fikrirahman Says:

    cuaca buruk sih efek dari badai la nina.

    yang fenomena non-alam, kompleks masalahnya *sok menganalisis

  2. ipho Says:

    nek gejala iklim ki carane gawe homy meneh piye?

  3. Nurvirta Monarizqa Says:

    @mas fikri: ya ya ya boleh juga analisisnya pak profesor
    @ipho: banyak berdoa mungkin... emm... aduh.. (solusi kepepet)
    @yan: kok malah nangis yan... ayolah calon profesor geologi, jelaskan padaku

  4. uhaisnaini Says:

    Harus di akui si emang Jogja nda se Homy dulu,, tp sbagai orang Jogja Q masih sangat betah tnggal disini :D

  5. fizzypop Says:

    Iya nih... Yogya feelny udah beda banget sama dulu >.< Kangen ama ketenangan dan keramahannya...

  6. Yan Restu Freski Says:

    kali aja Hukumku berlaku mon. tapi aku belum menganalisa Yogya secara keseluruhan je. Hanya bagian tempatku saja.

Posting Komentar

abcs