Mantan Laskar Pelangi

Siapa yang nggak tahu Laskar Pelangi? Novel yang diangkat ke layar lebar ini telah banyak menginspirasi rakyat Indonesia, bahkan sudah go international saking bagusnya. Secara garis besar mengisahkan kehidupan 10 orang siswa (yang jadi 11 karena kedatangan Flo) di sebuah SD tua, dengan segala fasilitas yang sangat tidak memadai berjuang untuk terus menuntut ilmu.


Percayakah teman-teman kalau saya adalah seorang "Mantan Laskar Pelangi"?
Kondisi sekolah tua macam sekolah Laskar Pelangi ini tidak hanya bisa dijumpai di kota-kota terpencil saja, di Sleman yang notabene satu kabupaten sama Universitas Gadjah Mada ini pun bisa dijumpai sekolah macam tersebut di zaman saya, nggak tahu sih kalau sekarang.

Bingung ya kenapa bisa? Oke saya ngaku deh. Jadi sebenarnya saya masuk TK itu umur 3 th di sebuah TK di kota Yogyakarta karena kebelet sekolah (agak nyesel juga sih sebenernya :p) walhasil kelas 5 udah nggak TK, disuruk TK lagi setahun nggak mau. Tapi aturan waktu itu umur 5 th belum boleh masuk SD di Kota. Pas banget orang tua saya pindah dari rumah lama saya di Timuran untuk ngontrak di daerah Mlati, Sleman. Jadi saya "dititipkan" di sebuah SD, namanya SD Waras, Sariharjo Ngaglik Sleman.

Di SD inilah saya merasa menjadi Laskar Pelangi. Siswa angkatan saya hanya 11 orang. Saya bisa nangis kalo inget kondisi sekolah saya kala itu. Kamar mandi nggak punya, guru olahraga nggak punya, jadi guru kelas ya mengajar semua mata pelajaran, perpustakaan hanya berisi beberapa eksemplar buku :'). Tapi banyak hal luar biasa yang saya dapatkan. Hidup survive sebagai seorang villager dengan teman-teman saya dengan suka keluar-masuk kebon (semacam hutan), untuk mencari tanaman-tanaman baru yang bisa dimakan (hiyek banget ya), main ke sawah, ke sungai, mengembala kambing teman, terus koleksi mainan boneka-boneka kertas yang bajunya bisa diganti-ganti (saya inget banget harganya 100 rupiah, saya pernah membeli dengan harga 50 rupiah karena saya pikir saya akan mendapatkan kembalian 50 rupiah juga, 50+50=100. Bodoh banget -__-)

Sayang, hal-hal indah itu bertahan hingga saya kelas 2 SD. Adik kelas saya hanya ada 1 orang.

Nah, aturannya sama seperti yang di Laskar Pelangi itu, kurang dari 10 siswa sekolah harus ditutup. Karena adik kelas saya yang hanya 1 biji itu, sekolah kami ini harus di regroup dengan SD dusun sebelah yang kira-kira 700 m jauhnya. Ada yang lanjut, ada yang putus sekolah....

SD N Jongkang, tempat regroup

Orang tua saya pun memutuskan untuk mengakhiri "menitipkan" saya dengan sekolah ini, dan saya "dikembalikan" ke sekolah yang semula akan saya "masuki", SD N Percobaan 1 Yogyakarta. Di Timuran saya masih punya eyang, jadi tiap pulang sekolah yang jaraknya 50 m dari rumah eyang saya kesana dulu, baru pulang ke rumah asli.

Sedih ya :( sedih banget.... saya kalo inget masa-masa itu nggak nyangka saya ini "lahir" dari pendidikan yang prihatin. Tapi saya bersyukur karena saya pernah mengecap pendidikan yang prihatin. Jadi lebih nge-feel rasanya mendapatkan pendidikan dan memperjuangkan pendidikan yang layak.

Ceritanya, 10 tahun berlalu saya penasaran sama SD saya tersebut, dan guess what, SD saya jadi apa.......


PERUMAHAN ELIT

saya speechless.... sayang saya nggak punya foto "before"-nya sebagai pembanding. Yang jelas saya lemes banget, kompleks SD saya yang luas itu berubah jadi petak-petak rumah mewah, yang saya pikir biaya beli satu rumah mereka saja sama dengan biaya beli seluruh tanah se-SD-nya waktu itu.

Pendidikan vs bisnis, pendidikan vs uang, pendidikan vs kepentingan pribadi

Saya bisa terima kalau sekolah saya dihancurkan untuk membuat fasilitas publik lain seperti puskesmas, kantor desa,dll. Tapi kalau perumahan elit seperti ini?

Saya langsung keinget kasus Amplaz dulu yang kalo nggak salah juga "bekas" sekolah. Ternyata masih banyak yang harus dibenahin di negara ini. Masalah mindset, masalah mental. Saya kepikiran teman-teman saya yang dulu. Saya masih jauh lebih beruntung dari mereka karena saya masih bisa melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Tapi mereka? saya pernah mencari nama mereka di database peserta UAN dan saya hampir nggak menemukan satu-pun nama mereka.

Saya yakin masih banyak laskar pelangi - laskar pelangi lain di Indonesia. Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? Kalau saya pribadi, saya ingin serius belajar, saya ingin menjadi kaya dan nantinya mendirikan sekolah (kalau cukup duit) sebagai ganti SD saya ini. Kalau nggak kuat bikin sekolah, saya pengen punya banyak anak asuh dan saya sekolahkan. Prihatin banget melihat semua ini. Yang di atas, yang pada korupsi, apakah kalian nggak pernah sedetikpun memikirkan hal seperti ini? Uang yang kalian korupsi bisa untuk menyekolahkan ratusan, ribuan anak Indonesia yang putus sekolah itu....
3 Responses
  1. Hasna Khairunnisa Says:

    mooooon :') so touching

  2. Yan Geologist Says:

    huaa... nangis... T_T

    mon, SD-ku dulu pernah hampir senasib. Lalu, sekarang agaknya sudah lebih baik. Sudah renovasi sana sini. Dulu SD-ku juga nggak laku. Kalah pamor dengan SD lain soalnya...

    Huhu... speechless.

  3. ismailsunni Says:

    (worship)
    aku biyen sekolah, waton cedhak...

Posting Komentar

abcs