Introducing My New-Half-of-My-Life

Remember this story?

Jadi ceritanya adalah flash ADATA merah saya menjadi penuh dengan ubuntu di dalamnya (sebagai boot device) sehingga saya harus mencari device penyimpanan lain *maaf saya mendua :(*

Iseng-iseng main ke Jogjatronik saya menemukan seburah flashdisk PNY 4 GB yang menarik hati saya banget, saya beli udah lama banget sebenernya, harganya sekitar 70 ribu rupiah. 

Nah beberapa hari yang lalu, saya dan si Fatimah main ke Jolie dan menemukan beberapa teman untuk flashdisk saya, inilah alasan kenapa saya posting hehehehe.... Karena teman-teman si PNY ini saya banget. Ini dia My New-Half-of-My-Life

 si PNY

 kamera mini, beli di Jolie Rp 2.500,00

leptop mini, beli di Jolie Rp 2.500,00

Ini baru gue banget :3

Ketika kalung-kalung burung hantu, kalung etnik dan sebagainya menjadi too mainstream sekarang, mungkin kalung yang IT banget ini boleh dicoba :3. Bikin kalung dengan membeli bahan sendiri, kita bisa membuatnya sesuai preferensi kita dan sesuai kepribadian kita (seperti "kalung" saya di atas). Lebih murah pula. Dijual lagi, untungnya bisa banyak banget. Kalau ada yang mau bikin-bikin kalung, saya diajak ya... Saya sebenernya suka bikin beginian tapi gak punya waktu buat pemasaran, huahahahaha.... jadi siapa tau ada yang mau bantuin? ;;)

Have a nice December!

PS: ternyata kamera saya masih oke juga asal pencahayaannya bagus :3

Irasionalitas


"Irasionalitas adalah rasionalitas yang belum terjawab"

-Prof Soenjoto, Rektor Universitas Widya Mataram, Guru Besar UGM
Bapak ini juga yang bilang bahwa  Indonesia butuh 30ribu Doktor, insya Allah saya akan jadi salah satunya :)

December

Too many things happen in this month :) kebanyakan adalah my-down condition :(
Ya Allah, saya kenapa? :( apa karena saya kurang dekat dengan-Mu? :(

Ditulis dengan *tanpa sadar* menitikkan air mata :'(
Miss U Allah... :''''''''''''''(

Need A Day Off

Seminggu ini ada yang berbeda dari diri saya, 
Saya hanya pulang maghrib 1 hari saja, sisanya di atas jam 8 malam.
Super nggak enak sama orang tua, sama ibu yang selalu nungguin kapan saya pulang

Saya lelah.
Need a day off.

Pantai Drini

Just another silly trip. Saya diajak Dydhan ke Pantai ini dan saya mau-mau aja *tanpa pikir panjang*. Akhirnya kami ke sana, berdua saja, boncengan naik barbara, dan hujan deres banget. Sempat pesimis juga bisa menikmati pantai apa enggak tapi alhamdulillahnya sampe sana terang :D. Jalan ke Drini kalo dari Jogja cukup lewat Jalan Wonosari ikutin terussssssss aja sampe alun-alun Wonosari, timur dikit ketemu lampu merah, belok kanan (ke selatan, arah Baron) terusssssssssss aja hampir 20 km, nanti masuk gerbang untuk retribusi pantai (Rp 2500). Bayar sekali langsung bisa menikmati kesemua pantai yang ada di sepanjang garis selatan Gunung Kidul.

Kami terus lurus, sampai pertigaan ambil arah timur. Lurusssss sampe 5 km apa ya, nanti ada plang "Pantai Drini" silakan belok kanan. That's my first time for bringing barbara to the South Mountain *opoh.

Parkir (Rp 2000), sholat, beli pop mie (Rp 5000) menunggu hujan reda dan akhirnya kami main di sekitaran pantai :D
pantai timur, lebih tenang, semacam rawa-rawa, banyak karang dan tebing


 Ada pulaunya juga, kita bisa naik ke sana untuk liat pemandangan lebih bagus (Rp 1000 -- aneh masak mau liat pemandangan di pulaunya bayar) 

pemandangan dari atas

Next kami main di pantai barat, yang ada ombaknya


Maaf postingan kali ini bener-bener postingan piknik alay dan nggak penting -,-


Oke, enjoy Drini :D

Research Point

Empat kriteria penelitian yang baik

enviromental sustainable
technological manageable
economical profitable
social acceptable

- M Hasroel Thayeib, APU

Piknik Oktober Part 2 - geMasTik 2011

Selasa, 11 Oktober 2011, setelah malamnya akhirnya dapet penginepan di Cibubur, rombongan berangkat ke Kemendiknas lagi. Guess what perjalanannya 2 jam -,- sampe telat ikut pembukaan OPSI, yang dibuka sendiri oleh Pak Mendiknas Muhammad Nuh. Saya cuma sempet sarapan, terus cus naik jalan kaki naik busway ke Blok M untuk cari Damri ke bandara. Sebenernya haltenya gak jauh, yang bikin capek adalah harus lewat jembatan penyebrangan dengan membawa bawaan yang berat -,-

Sampai, ternyata mencari Damri tidak semudah yang saya bayangkan. Saya turun di terminal dan ternyata Damrinya di depan Blok M Plaza, jalan lagi deh menantang panas Jakarta, apalagi saya pake batik dan jaket tebel, not recommended. Alhamdulillah sampai Damri, saya bisa istirahat. Semua berjalan lancar sampai saya mengetahui Damri ini lewat Senayan, lewat depan Kemendiknas gedung D, dan ada orang yang ngawe, terus bis ini berhenti untuk menaikkannya. GONDOK banget rasanya begitu tahu bis ini bisa dicegat di depan Kemendiknas begini...

Sampai suhat, naik Citilink, sampe Juanda, kemudian dijemput kedua orang ini --> Trias dan Ema. Belum selesai saya selonjoran, tau-tau saya udah sampe ITS aja buat Technical Meeting lomba geMasTik dan Welcome Party. Untungnya kami, tim Capslock dapat undian 12 yang berarti maju presentasi lusa. Akhirnya malam ini bisa selonjoran dan tidur tenang... :D

tim geMasTik JTETI UGM

Next day, kami nonton presentasi finalis yang lain. Saya dan dua teman saya ini ikut kategori Web Design, dan ini web yang kami buat: //gemastik.emartindonesia.com, supermarket online. Saya sempat ciut mental melihat finalis lain yang bagus-bagus. But I love this! Ini atmosfer favorit saya, atmosfer kompetisi yang membuat saya terpacu untuk menjadi lebih baik di antara yang lain :D

Gembiranya, saya mendapat kabar dari Jakarta bahwa DIY memboyong 2 emas (Bintang dan Febri), 3 perak (Nita, Nurul, Ridwan), 1 perunggu (Maulida) dan 4 special award (Rahmat, Joyo, Nurul, Bintang) dalam OPSI 2011 :D


Oke, next tinggal saya yang deg-deg an untuk presentasi keesokan harinya. But alhamdulillah, ternyata semua lancar. Saya sudah merasa done my best dan tinggal menunggu hasilnya saja :)


Menunggu pengumuman, kami ke Galaxy Mall untuk nonton Smurf. So smurfellous.... Ini akibat segala kesuraman yang terjadi selama di Surabaya, sehingga kami butuh hiburan, hahahaha... Dan tibalah saatnya pengumuman...


Alhamdulillah got the 2nd place :')

UGM menempati peringkat ke-4 dengan 1 perak dan 1 perunggu (bidang aplikasi), dan juara umum diraih oleh ITS, selengkapnya bisa dilihat di sini Alhamdulillah banget pokoknya, terima kasih untuk semua yang telah mendukung kami sehingga menjadi seperti ini :)

Saya iri sama ITB, UI, ITT, ITS yang sangat concern dengan lomba ini, karena UGM gak seconcern ini :(. ITB contohnya, mereka sampai sewa bis sendiri *yang bisnya sempat kami, tim UGM tebengin karena ketinggalan bis panitia*. Semoga ke depan UGM bisa lebih perhatian dengan lomba semacam ini sehingga juara umum tahun depan dan seterusnya bisa direbut UGM, amin :)

Piknik Oktober Part I - OPSI 2011

Jadi ini ceritanya mulai Sabtu, 8 Oktober 2011 ini saya dan Sagasitas Crew yang lain (Mas Zainal, Mas Ujang, Mas Azmi, Mas Vando, Mas Fahri, Mas Dani, Mas Adit, Mas Canggih, Mas Fajar, Nuha -- dan saya menjadi sole female seperti biasa) menjadi pasukan berjaket putih mengantarkan kontingen OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) dari DIY.

Dari Jogja, kami ber-48 yang terdiri dari 11 tim OPSI, guru pembimbing dan kami pasukan berjaket putih naik bus yang emang sengaja kita carter biar mobilitasnya gampang. Busnya bagus bet. Oke, setelah mengecek segala macam administrasi yang membutuhkan ekstra emosi ini kami berangkat menuju Jakarta.

Sampai pagi hari, kami ke Kantor Perwakilan Daerah DIY di daerah Menteng. Di sini kami masih mengurusi segala macam atribut administrasi, melengkapi ini itu dan bla blabala yang membakar emosi karena gak beres-beres. Kaperda yang mewah ini pun seketika tersulap menjadi lautan leptop dan kertas

ada yang mengurus karya yang belum kelar, saya sendiri ngerjain PR jarkom yang harus dikumpul hari itu *suram*

rapat sebelum capcus


Ada cerita miris waktu ngurus administrasi. Kan ketua tim semua menginap di Wisma Depsos nih, ada yang administrasinya belum lengkap, surat izin orang tua dan beberapa karya. Saya dan mas Adit "Genter" kemudian menculik Nuha untuk nganterin kami ke printshop. Karena banyak, ngeprintnya lama. Mas genter balik ke Wisma Depsos dan tinggalah saya berdua sama Nuha di printshop dan ternyata tidak satu pun dari kami bawa duit cukup -,- kenapa di saat-saat gak hoki begini partner sial saya selalu si Nuha --'

Akhirnya dipanggillah mas Ujang yang akhirnya berjalan ke printshop sekilo jauhnya buat minta duit, dan kata pertama begitu tau kami nggak bawa duit adalah "WUEDJIAAAAAAAAN" wakakakkaka....

Next day, setelah malemnya nggak dapet penginapan dan balik ke Kaperda (dan saya dengan suramnya take assessment Cisco di tempat tersebut jam 1 malam), kami loading barang untuk pameran esok hari di gedung D Kementrian Pendidikan Nasional Senayan. Karena pagi-pagi belum ada yang buka, saya dan Nuha nganter adek-adek makan di KFC Ratu Plaza, sebelah Kemendiknas, dan guess what... duitnya kurang lagi -______- untung Nuha bawa duit tambahan jadi nggak usah manggil mas Ujang lagi, wkwkwk...



Sayang, saya hanya bisa menemani rombongan ini hingga Selasa pagi. Siang saya harus cuss ke Surabaya. Doa saya adalah semoga Jogja mendapat yang terbaik di kompetisi ini, amin... Mau tau ngapain saya di Surabaya, tunggu part 2 ya....

Bersambung...

First

Saya tidak pernah meminta untuk terlahir menjadi anak pertama, tapi memang Allah yang kemudian mentakdirkan saya sebagai seorang anak pertama. 

Subyektif memang ketika saya bilang bahwa jadi anak pertama itu susah (karena semua anak juga merasa susah mengemban amanah jadi anak), terutama adalah tanggung jawab menjadi seorang kakak, kakak tertua. Tapi saya kemudian menulis kesusahan-kesusahan saya ini bukan untuk pamer atau mengeluh, saya hanya sedang ingin reflect, apakah saya sudah menjadi kakak yang baik untuk adik saya.

Anak pertama mau tak mau menjadi harapan keluarga. Diharap bisa membantu keluarga, diharap bisa menjadi contoh untuk adik-adiknya. Sehingga tak jarang orang tua lebih mempercayakan hal-hal berbau teknis dan pengambilan keputusan ke anak pertama daripada adik-adiknya. Contoh gampang aja nih, di keluarga saya, semua tanggung jawab barang elektronik ada di saya, printer lah, TV, dll jadi kalo ada yang nggak beres pasti manggil saya, padahal adek saya juga bisa. Tapi orang tua lebih trust ke saya yang anak pertama.

Anak pertama adalah panutan adik. Ini hampir terjadi di keluarga mana pun. Di awali dengan adik yang ingin barang-barang yang dibelikan orang tua untuk si kakak, hingga orang tua yang sering membandingkan anak pertama dengan adik-adiknya "Jadilah seperti kakakmu, bla bla bla bla" yang kemudian membuat adik, entah itu tertekan, entah itu termotivasi menjadi seperti kakaknya, atau bahkan lebih. Walaupun saya tahu, sebenernya mereka tidak suka dibanding-bandingkan dengan kakak mereka. Hal ini yang sebenarnya sering membuat saya miris sendiri, adalah ketika mereka kemudian tidak bisa mencapai target mereka yang adalah menjadi seperti kakaknya

Saya sendiri kemudian, merasa belum bisa jadi kakak yang baik untuk adik saya ketika tidak bisa membantunya mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sering yang dilakukan kakak adalah mengalah, agar si adik senang. Membuat adik senang kemudian adalah tugas utama kakak. Saya tidak ingin membuat adik saya sedih dengan pertengkaran yang remeh. Saya tidak ingin membuat adik saya merasa saya adalah rivalnya, dan jujur, saya tidak ingin adik saya tertekan karena saya. Saya ingin dia menjadi dirinya sendiri.

Semakin besar, saya sadar adik saya bukan anak kecil lagi. Entah kenapa kemudian saya sering merasa kehilangan adik saya yang lucu dan manja. But all grown up. Saya hanya bisa berharap kamu bisa menjadi manusia yang kemudian berguna dan berbakti pada orang tua.

Love you bro :')
Your Sister :*

Ditulis setelah mengetahui adik saya baru kecelakaan, dan ternyata, semenyebalkan apapun dia, saya tidak mau kehilangan dia


Rahasia

"Mungkin banyak orang yang menyangka saya nggak pernah gagal atau selalu sukses dalam segala hal. That's wrong. Saya pernah gagal dan kegagalan itulah yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Experience is the best teacher, and I'm not as perfect as you think :p"

 ----------- Nurvirta Monarizqa

Lampung Part 2 - On Duty, Piknik, Pulang

Kami on duty ceritanya 5 hari. Saya cuma kebagian 1 anak, namanya Muhammad Iqbal Mahfud. Anaknya cepet tangkep, lucu, menyenangkan dan manutan. Sayang berita terakhir dia gak dapet medali :( But well done Bal, I know you've already done your best :')

Selama 5 hari, kami nginap di hotel Anugerah, dan belajar pagi di SMA 2 Bandar Lampung. SMA yang wow, karena luas banget, bagus banget, dan semua kelas ber-AC (sekolah di Jogja nggak ada yang kayak gini). Malam belajar di hotel. Tiap pagi makan roti, atau buryam, atau nasgor bikinan hotel, dan 7 kali in a row makan siang-malemnya adalah nasi padang --yang saya sama sekali gak doyan-- walhasil saya sakit, hahahhahahaha *ndeso*. Untung ibu dinas Lampung know me so well, jadilah kami dibelikan nasi jawa, nasi plus ayam bakar, plus sambel terasi yang manis dan enak. Dua porsi nasi nggak sadar saya habiskan, hahaha... Dasar ilat Jowo..


Habis 5 hari, kami diajak piknik :D. Pertama, diajak makan ke rumah makan Ika, semacam lesehan seafood gitu. Kami makan pindang kepala simba yang enak banget (sayang nggak kefoto -- saking enaknya makan --)


Next kami ke PANTAAAAAAAAAAIIIIIIIIIII. Ini sesuatu banget buat saya karena saya emang lagi pengen ke pantai. Pengen nyebur kebawa arus (?). Nama Pantainya Pantai Mutun. Perpaduan antara bagus dan bersihnya pantai selatan Jawa dengan tenangnya arus pantai utara Jawa. Sesuatu banget pokoknya


Dari kejauhan kami melihat Pulau, cusss, kami langsung kesana. Dengan sewa 10 ribu aja pulang pergi kami udah diantar ke pulau yang ternyata namanya Pulau Tangkil


 
 
 

Sumpah pasirnya lembut banget, kayak abu merapi. Airnya juga tenang dan bersih banget, membuat saya yang awalnya kekeh gak akan nyebur akhirnya gak tahan dan nyebur, dan renang juga, aaa... uuuu... pengen banget kesana lagi *galau*

Malamnya, kami berniat cari oleh-oleh. Setelah makan malam di mie Jogja (yang harga seporsi plus es tehnya 19 ribu) kami muter cari oleh-oleh. Ternyata di tempat ini sebagian besar toko tutup jam 8 malem, sampe pom bensin juga tutup jam segini. Apa banget. Jadilah kami ke Mall (yang ternyata jam 9 udah kukut), untung masih dapet kripik pisang... aaaa :3

Tanggal 9 September 2011. Akhirnya kami pulang. Dari Lampung, kami naik "bis terbang", Merpati dengan pesawat MA-60 bikinan Cina, yang hanya memuat 50 orang, terisi 20 orang, dan melayani rute Lampung-Jakarta-Bandung-Semarang. "Pesawat ini berhenti 30 menit di setiap bandara" -- kata pak Kapten -- yang bikin saya hampir ngakak dan semakin yakin ini sebenarnya bis terbang.

Untung, kami selamat dan mendarat di Halim. Bandara yang nggak lazim untuk penerbangan komersial, makanya sepi bet, kayak bandara mati. Next kami (saya, mbak Marlina, mbak Lathifah, mas Ahmad) ke Suhat untuk balik Jogja. Karena naik Air Asia, kami nunggu di terminal 3 yang mirip Mall.


Beda banget sama Merpati tadi, Air Asia ini karena pake Air Bus jadi mirip kereta terbang. Yang nakutin adalah ketika ternyata kami tidak bisa mendarat tepat waktu karena antri landasan. Jadilah kami berputar-putar di atas awan melawan turbulens (yang sampe membuat pesawat *jatuh* beberapa meter dan membuat satu pesawat pucet semua mukanya) dan mendarat setelah 95 menit di atas langit.

Well, hello Jogja! Vacation saya selesai sampai di sini, dan saya harus kembali menghadapi dunia nyata. Semester baru, please be nice, I trully love you (konslet deh) ~

Lampung Part 1 - Berangkat

Ceritanya saya diundang Exer menggantikan si Sunni untuk mengajar kontingen Olimpiade Sains Nasional Provinsi Lampung bidang Matematika SMA. Saya yang merasa diacuhkan oleh provinsi sendiri yang emang gak ada acara pun menyanggupi. Itung-itung menyetarakan pendidikan. Jadilah cerita ini bermula dengan keberangkatan kami (saya, mbak Lathifah, mbak Marlina, mas Sugeng, mas Ahmad) dari Bandara Jogja Jumat 2 September 2011 jam 6 pagi using Batavia. Ini pertama kali saya naik Batavia Air dan mungkin karena saya lagi nggak sehat, telinga saya sakit banget selama perjalanan.

Sampai, ternyata penerbangan berikutnya ke Lampung masih 9 jam lagi. How nice. Akhirnya kami memutuskan mencari tempat menitip koper untuk kemudian entah membolang kemana. Setelah bolak-balik jalan, kami menemukan tempat nitip koper yang menurut kami mahal bet. Jadilah kami nyoba check in aja dan ternyata bisa #kenapagakdaritadi. Lanjut sarapan (makan dhuha buat saya) di KFC Terminal 2F yang nasinya selemper itu, dan merencanakan pembolangan.

Kayaknya dari rombongan cuma saya yang agaknya sok tahu tentang Bandara, Jakarta, dan sekitarnya soalnya mereka manut-manut aja saya tawarin ke kota naik Damri. Jadilah 20 ribu melayang untuk naik Damri ke Gambir (karena deket Monas, tempat yang at least bisa dinikmati semua orang, coba saya sendirian atau minimal bareng Dydhan, pasti udah ngelayap Mangga Dua atau Blok M).

Cuma 40 menit kami sampai Gambir. Mulus dan sepi karena masih suasana lebaran, di mana penduduk Jakarta pada pulang kampung, bikin macet kampungnya masing-masing. Agak ha ha ha ketawa garing juga, soalnya ini random bet, nungguin pesawat mau ke Lampung pake acara ke Monas segala. 

Para lelaki sholat Jumat, dan setelahnya kami ke Monas. Melihat antrian yang sepanjang antri BLT, kami pesimis pulang Bandara masih keburu naik pesawat. Merasa bodoh ngapain kesini, kami mutusin balik aja ke Bandara (tuh kan sumpah ini random bet, kakehan duit po piye ceritane). Ini nih yang agak menarik. Kami mau naik Damri lagi, tapi ditawarin naik taksi gelap sama bapak-bapak. Oke, karena mau 80 ribu berlima (yang artinya tiap orang 16 ribu), kami naik mobil tersebut balik Bandara. Bapaknya baik banget, cerita banyak hal yang inspiring, salah satunya

"Mau lapang mau sempit kita harus rajin sedekah"

Next sampai bandara, kami nggaya makan di Solaria (trauma makan lemper di KFC), kumpul sama rombongan yang lain (mbak Nisa, mas Ridlo, mas Jauhar, mas Sandi) untuk kemudian cus ke Lampung using Sriwijaya. Saya baru sadar Lampung-Jakarta tetanggaan, jadi terbangnya cuma setengah jam, sampai juga di Bandara Radin Inten II Lampung :D

keberangkatan yang random

hello Lampung!
kiri-kanan: mas Jauhar, mas Sandi, mas Ridlo, mbak Lathifah, mas Ahmad, saya (the youngest one), mbak Marlina, mbak Nisa

Bersambung...........

Iseng-iseng Berhadiah

Ceritanya saya lagi iseng ikut lomba yang diadain sama Balai Bahasa Yogyakarta. Semacam lomba esai untuk remaja (usia 12-19) tentang budaya, bahasa, sastra, gitu-gitu lah pokoknya. Ya sudah, dengan kekuatan Bandung Bondowoso, saya selesaikan esai 9 halaman ini dalam 3 jam, dan saya puas. Walaupun menurut saya ini acak-acakan dan jauh dari sempurna banget, ternyata juri berkata lain. Saya diundang presentasi di final 10 besar dan jadi Juara Pertama, alhamdulillah. Ini "sesuatu banget" buat saya, karena ini adalah penghargaan pertama yang saya dapat dari menulis esai. Enjoy :)
______________________________________________________________

Arthur Benjamin does "Mathemagic"

Dari mas Canggih, thanks :D

Gunung Api Purba Nglanggeran

Ceritanya saya gagal mengikuti sebuah acara, dan tidak punya plan B. Jadilah saya melongo di rumah, dan pengen membolang sendiri bareng Barbara. Pucuk dicinta ulam tiba, my-friend-in-doing-silly-interest pagi-pagi SMS saya ngajak ke Suroloyo. Ngek. Gak mungkin banget saya ngajak Barbara jauh-jauh ke sana. Akhirnya dengan sedikit tawar-menawar jadilah kami ke Nglanggeran yang berjarak sekitar 12 km sahaja dari rumah.

Saya yang sotoy, seperti biasa, menyasarkan rombongan. Yang harusnya ketika naik Jalan Wonosari, setelah Bukit Bintang, perempatan pertama, belok kiri, saya malah lurus, hampir sampe Wanagama baru belok kiri. Tanya sana sini, ternyata kami nyasar jauh banget, zz zzz zzz... 

Voila, sampailah kami via pintu timur Nglanggeran dengan sedikit off road

 Parkir seribu, masuk dua ribu apa empat ribu kalo gak salah


Oke, mari kita mendaki Gunung Purba yang satu ini. Dimulai dari melihat Song Gudel, yang nggak tahu ini buat apa. Saya nyesel gak sewa guide, besok kesini lagi sewa guide ah, harus ~ Terus manjat batu yang ada tali warna birunya itu. Ahsek... ini baru namanya jalan-jalan...


Habis manjat batu, ada batu besar yang kalo kita naik ke atasnya, bisa liat pemandangan yang lumayan, kayak di atas ini. Next, dengan rute yang berbatu, samapilah ke lorong sumpitan, sebuah celah di antara dua tebing besar, sekitar 30-40 cm (kayak di foto kedua, kanan bawah), dan kita nggak berjalan di antaranya, tapi naik ondho (tangga bambu). That's so wooooooowww. Apalagi di tangga teratas, ada batu yang nyelempit di antara dua celah ini, nggak kebayang kalo batunya jatuh ~ awww


Nggak jauh dari lorong sumpitan, kita sampai di Gardu pandang pertama, dan foto-foto di atas pemandangannya ~


Dua gambar atas (atas kiri dan atas kanan) merupakan puncak Gunung Batu yang kelihatan dari Gardu Pandang 1. Next, kami lanjut jalan ke puncak. Ini sesi yang paling melelahkan. Masuk hutan, jalannya monoton, nanjak, panas dan banyak nyamuk ~ Ada dua puncak, Gunung Kelir dan Gunung Gede, yang bisa ditempuh lewat jalan biasa, atau belok kanan lewat Comberan. Comberan ini semacam danau, atau kawah mati yang konon katanya keramat, jadi wanita lagi haid gak boleh lewat sini. Walau nggak berhalangan, saya juga ogah lewat sini ketika dikasih tau Bapak-bapak di bawah kalo rutenya jadi lebih jauh, hahaha..


setelah 1 jam, akhirnya sampai juga di puncak, aaaaaaaaaa.... Pertama, sampai di puncak Kelir dulu. Pemandangannya bagus banget, sayang mata kamera tidak bisa menangkap panorama seindah mata yang diberi Allah ke manusia..


Di sini kami ketemu rombongan anak FKH 2008 yang minta foto, hahahhaa. Kiri bawah: jalan ke puncak yang satunya. Di sini saya iri banget sama mas Fikri karena dia bisa foto bagus banget kayak iklan rokok-rokok itu, sementara saya? Lihatlah postingan ini, gak ada foto saya yang oke ~

kiri atas: tangga naik ke puncak yang satunya. Kanan atas: pemandangan antara dua bukit.

Akhirnya sampai di puncak yang satunya, pemandangannya nggak kalah bagus dari puncak sebelumnya.


TOP RECOMMENDED lah pokoknya tempat yang satu ini. Saya pengen kesini lagi, buat cari info dan buat foto-foto ~ soalnya saya kali ini nggak punya foto bagus di sini, udah jauh-jauh, capek-capek, nggak punya foto bagus pula T_____T Ada yang mau nganterin?

Selamat Idul Fitri

foto gagal kembang api, perjalanan Brebes-Jogja

Mohon maaf apabila selama saya menulis blog ini banyak kata-kata yang kurang berkenan, postingan sotoy, dan sebagainya, dan sebagainya. Semoga kita bertemu Ramadhan tahun depan beserta segala keuntungannya, dan semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi :)

Satu hal yang saya pelajari dari Ramadhan ini, perbanyak caring, smiling dan loving, maka akan dengan sendriinya kita dihargai, dicintai dan diberi perhatian :)

Candi Plaosan

Masih bersama Barbara tersayang dan my-new-partner-in-doing-silly-interest, mas Fikri, dari Candi Abang, perjalanan lanjut ke Candi Ijo, dan Candi Plaosan. Karena Candi Ijo udah pernah saya posting ni ye, saya mau cerita Candi Plaosan aja. Seperti biasa, saya yang belum pernah kesana dengan sotoynya sukses menyasarkan rombongan -,- untung manusia diberi ability oleh Allah untuk bertanya, maka kami tanya dimana Candi Plaosan sebenarnya berada. Ternyata dari gapura perbatasan Jogja-Jateng, perempatan kedua belok kiri (ke utara), teruuuuuussss, sampe nemu perempatan di mana di kiri jalan ada Dinas Purbakala gitu kalo gak salah, nah kita belok kanan. Candinya ada di kiri Jalan. Ada 2 Candi Plaosan, Lor dan Kidul, yang lor di kiri jalan, yang kidul agak masuk jalan, di selatan candi Lor.


Candi ini secara administratif terletak di Jawa Tengah, Klaten. Belum ada retribusinya, tapi kalo gak salah saya bayar Rp 2000,00. Candi ini nice banget, terdiri dari 2 candi induk dan 50 an candi pewara (pendamping) yang belum semua direkonstruksi. Kebayang kan kalo jadi semua, candi ini bisa jadi potensi pariwisata yang bagus banget nyaingin Candi Prambanan.

Berikut ada sekelumit info tentang Candi Plaosan

Candi Plaosan Lor yang terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dibangun oleh Rakai Panangkaran dinasti Sailendra yang juga mendirikan Candi Borobudur dan Candi Sewu. Candi tersebut terdiri dari candi induk dan mandapa yang terdiri dari 194 stupa. Pada beberapa perwara dijumpai tulisan-tulisan pendek yang memberikan indikasi bahwa bangunan tersebut merupakan bawahan raja Penelitian terhadap kompleks Candi Plaosan sudah dimulai dari masa pemerintahan Kolonial Belanda melalui penelitian dan pemugaran Candi Induk Selatan. Upaya pelestarian kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah RI melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah Salah satu hasil penelitian yang menarik yaitu ditemukannya parit berukuran 440 m x 270 m yang mengelilingi kompleks candi beserta temuan lepas berupa ribuan fragmen gerabah dan beberapa keramik asing di dalamnya. Kemungkinan besar, parit tersebut dahulu dimanfaatkan untuk menurunkan air tanah di Kompleks candi agar tanahnya menjadi padat. Usaha pelestarian yang dilakukan pemerintah hingga saat ini meliputi pemugaran Candi Induk Utara, Stupa dan Candi Perwara, Candi Patok, Arca-arca Dwarapala, Gapura serta Mandapa

atas: kompleks candi-candi pewara yang belum terbangun, bawah kiri: ada yang make buat foto model gitu, bawah tengah: ada turis masuk ke candi, bawah kanan: disini anehnya juga ditemukan banyak stupa ~

Candi utamanya ada dua, dan kembar

ada semacam "panggung" di kompleks candinya

kompleks candi, dari samping

kanan atas: semacam ada penangkal petir, tapi kabelnya raib, entah kemana, ckckck

Candi Plaosan Kidul, kayaknya nggak ada candi utamanya. Bentuknya beda sama candi-candi pewara di Plaosan Lor. Kira-kira kalo jadi semua, ada 20 an biji (banyak banget), jadi kalo ditotal, mungkin emang Plaosan terdiri dari seratusan candi (soalnya masih ada reruntuhan candi di daerah sawah yang belum keitung)

Weww.. nice place to be explored! :D

Candi Abang

Emang kalo baru pertama, agak susah nemu Candi yang satu ini. Letaknya di atas bukit dan jalannya offroad. Saya pernah iseng kemari dengan si Barbara (panggilan buat Beat Pink saya), dan walhasil nggak nemu candi, malah nemu Goa Jepang, tapi nggak bawa kamera #fail.

Cara ke tempat ini, kalau dari Jalan Solo, nanti di sekitar km 14 di depan kantor Kecamatan ada jalan ke selatan, ikuti jalan teruuuuuuuusssssss sampe ketemu perempatan besar pertama, ambil kanan, terusssssssssss sambil lihat kiri, kalau mulai kelihatan ada bukit di kiri jalan, itulah tempat Candi Abang berada, sampe perempatan yang kira-kira kita bisa mendekati bukit, belok kiri, sekitar 100 meter, nanti ada jalan naik ke bukit. Mirip jalan ke crop circle, kalo ke crop cirle lurus, ini belok kiri.

Percobaan kedua, dengan sotoynya, saya kemari lagi, kali ini bersama my-new-partner-in-doing-sillly-interest, yang karena membaca posting peta ini menjadikan saya tour guidenya, yang dengan sabar menghadapi segala kesotoyan saya (yang suka menyasarkan orang), mas Fikri

Pertama, naik bukit sedikit, kami nemu semacam situs gitu, saya nggak tahu ini dibuat apa, karena nggak ada penjelasannya sama sekali. Dari Google, kayaknya sih namana Goa Sentono


Next, kami naik ke atas bukit. Ternyata, di pertigaan pertama, kami harus belok kiri. Jalanan masih offroad dan karena kasihan sama Barbara, kami memutuskan menitipkan motor masing-masing ke rumah penduduk, dan jalan kaki. Nggak jauh kok, sekitar 500 m. Dan tara....... ini dia Candi Abangnya


Ini Candi, lapangan golf, apa bukit Teletubbies mon? -,-

Emang gak ada bentuk-bentuknya sama sekali. Warnanya hijau, jauh dari kesan merah (abang). Ternyata usut punya usut. abang adalah karena candi ini terbuat dari bata merah. Candinya sendiri tertutup rumput hingga jadi bukit gini. Sebenarnya, digunakan untuk tempat menyimpan barang apa gimana gitu ceritanya zaman dahulu. Maaf saya nggak bisa ngasih info valid karena gak ada info, bahkan, papan petunjuk nama "Candi Abang" nya aja nggak ada..

Tapi yang bagus di sini adalah view-nya. Kita bisa melihat view 360 derajat dari atas bukit ini. Berikut adalah beberapa view yang terlihat dari atas bukit. Di sebelah selatan kita bisa menemukan reruntuhan batu bata merah, mungkin reruntuhan kompleks candi, entahlah ~


Satu hal yang saya curigai adalah... Kayaknya bukit ini adalah obyek yang dipake buat wallpaper windows XP deh, lihat ini


hahahaha... #maksa
abcs