My 2010, My Heart Beat

Waktu tidak bisa kembali, dan waktu tidak bisa dihentikan. Sungguh banyak yang telah saya dapatkan dari tahun 2010. Saya jatuh, saya bangkit, saya tertampar, saya melambung, saya senang, saya sedih, saya datar semua ada di 2010. Tahun 2010 ini saya juga mengalami fase usia 17 tahun dimana ini adalah fase usia yang saya rasa paling labil dibanding usia-usia saya sebelumnya. Di usia ini saya mulai belajar mencari jati diri saya. Siapa saya, apa tujuan hidup saya, bagaimana saya bertindak, bagaimana saya mengambil keputusan, bagaimana membagi waktu dan bagaimana fokus pada tujuan saya. Ini tahun dimana saya sangat sering merenung, introspeksi, bahkan mungkin menangis menyesal. Ya itu tadi karena kelabilan saya, he he he he. Jadi mohon maaf buat teman-teman yang selama ini menjadi korban kelabilan saya #kabur

Banyak plan A saya yang gagal di 2010, silakan jelajah sendiri blog saya karena saya rasa saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi. Tapi manusia berencana, Tuhan pula yang menentukan. Banyak rezeki yang justru tak pernah saya duga, yang justrunya lagi saya dapatkan karena saya gagal menjalankan plan A saya. Sungguh Allah begitu baik pada saya. Untuk itu, di 2010 ini ada satu hal pelajaran besar yang saya dapatkan, yakni buat plan hidup sebanyak mungkin dan tidak usah kecewa jika plan A gagal karena Allah punya plan A yang ternyata lebih keren.

Ingatkah kisah laptop saya di postingan ini? Laptop ini saya dapat karena rezeki yang tidak diduga. Dan tahun ini, karena lebih banyak rezeki yang tidak terduga yang saya dapatkan, saya nggak nyangka banget bisa beli benda yang satu ini

Alhamdulillah........
Saya seneng kuadrat punya benda yang satu ini. Teman-teman yang sangat kenal saya dengan seabreg kegiatan saya pasti ikut senang, karena saya nggak bakalan lagi mengeluh ke mereka tentang transjogja yang dateng telat, tentang waktu perjalanan yang satu setengah jam, tentang ketidakontiman saya, tentang waktu yang harusnya bisa dimaksimalkan, tentang duit yang keluar banyak karena harus mbecak, tentang harus bawa helm kemana mana dan bla bla bla dan bla bla bla. Tapi teman-teman yang sangat kenal saya pasti juga akan mempertanyakan kenapa saya beli beat, yang notabene matic dan warna pink, yang notabene nggak saya banget. Jawaban saya simpel: biar kelihatan kalau itu motor saya, secara saya sering berada di komunitas yang sebagian besar penduduknya adalah manusia kromosom XY, sehingga supaya mudah mengenali motor, saya beli yang "cewek" banget, heheeee (alasan nggak penting)

Ya, bagi saya yang hidup seperti setrikaan (wira-wiri kesana kemari), saya butuh aksesibilitas yang luar biasa (lebay), dan bagi saya waktu lebih berharga daripada uang. Saya mending kehilangan banyak uang daripada banyak waktu. Uang bisa kembali lagi, dalam jumlah yang lebih banyak bahkan, tapi waktu nggak akan bisa kembali lagi, boro-boro banyak, sebutir debu-pun nggak akan bisa kembali. Itu  yang menjadi pertimbangan awal saya untuk sangat ngebet punya motor, yang tentunya bisa mengantar saya berputaran kesana kemari lebih cepat daripada abang trans jogja, maupaun abang jogja-prambanan yang selama ini menemani saya.

Photobucket
abang Jogja-Prambanan yang mulai kehilangan pamor dan pramudinya yang mulai kehilangan penghasilan :'(

Photobucket
abang TJ yang tetap tersenyum kala penumpang lowong maupun penumpang berjejal

Tapi dibalik itu, timbul rasa menyesal dan bersalah juga. Saya telah meninggalkan abang transjogja tanpa pamit, saya telah menambah satu knalpot di jalan yang berarti juga menambah polusi. Saya juga telah tidak memakmurkan angkutan-angkutan umum yang makin lama kehilangan pamornya itu. Terlebih saya telah menambah jumlah konsumsi BBM yang notabene tidak bisa diperbaharui itu lagi. Bukannya sok idealis, tapi dari dulu saya merasa hal ini sebenarnya tidak perlu saya lakukan, saya bisa tetap beraktivitas dengan menggunakan angkutan umum dan becak, walau waktu terbuang tapi bisa memaslahatkan orang banyak.

Eh ini saya serius sedih banget loh, nyesek rasanya saya berganti kendaraan begini :(

Apa mau dikata ya nasi telah menjadi bubur. Sering terpikir kenapa orang Indonesia tidak ramai-ramai menggunakan angkutan umum saja seperti di negara maju. Pastilah angkutan umum lebih oke dibanding sekarang, lebih cepat. lebih murah dan waktu tunggunya lebih pendek sehingga efisien uang dan waktu.  Dengan demikian saya juga nggak akan beli motor dan tetap setia dengan abang-abang angkutan umum itu. Percuma juga kalau hanya saya yang naik angkutan umum karena kepikiran hal-hal di atas sementara orang Indonesia lain nggak ada yang mikir demikian. Perubahan harus secara sistematis dan dimulai dengan kekuasaan atau orang banyak jika ingin perubahan yang terjadi besar manfaatnya.

Pengen jadi menteri transportasi gitu deh jadinya, buat kebijakan ini dan itu supaya tidak banyak orang yang menjadi berallih ke angkutan pribadi seperti saya ini.

Ah ngomong apa sih kamu Mon.
3 Responses
  1. Yan Restu Freski Says:

    Ah ngomong apa sih kamu Mon?

  2. Melisa Pramesti Dewi Says:

    dibayar berapa mon buat iklan honda beat haha :P

  3. Nurvirta Monarizqa Says:

    @Yan: komentar apa kamu yan
    @Melisa: hahahahahaaaaaaaaaaaaa dibayar hutang kayaknya

Posting Komentar

abcs