Moving On

"Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving."
- Albert Einstein

(Lagi-lagi)(Alhamdulillah)(Ternyata) Saya Masih Perempuan

Pulang kampus saya kaget karena di meja saya ada SEBUKET BUNGA dan SEBUAH KADO



 Ternyata kado ini dari Dydhan dan Shuluh yang mereka anter sendiri ke rumah. Aaaaaaaaa saya terharu banget, I got a sweet magenta cat dan sebuket bunga. Sumpah, seumur-umur baru kali ini saya dikasih sebuket bunga, dan saya TERHARU....

Dulu saya pernah berpikir nggak ada gunanya orang ngasih saya bunga karena toh nanti layu dan bunga nggak bisa dimakan (?) Tapi ternyata setelah mengalami sendiri, "oh gini toh rasanya" dan gimana rasanya? Biasa aja (zzzzzz...) gak ding, overall saya terharu banget karena ini so sweeeeeeeeeeeet paraaaah :')

Dengan begini saya bersyukur karena ternyata memang saya gini-gini masih perempuan juga yang meleleh kalau dikasih bunga, alhamdulillah :')


Makasih adik-adikku, semoga UAN kalian sukses ya :*

With love
Nurvirta Monarizqa

Saya Masih Perempuan



Saya kuliah di Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi yang mana sebagian besar mahasiswanya adalah mereka yang dalam tubuhnya dikaruniai kromosom XY. Tapi sebenarnya, saya sudah sejak lama berada dalam komunitas minoritas wanita, soalnya dalam silsilah keluarga dari bapak saya sendiri, sepupu saya kebanyakan sangat besar laki-laki. Saya ingat semasa SD sepupu saya yang perempuan hanya 1, Alifia Masitha, belasan lainnya laki-laki, baru beberapa tahun kemudian nongol sepupu-sepupu perempuan lainnya -___-

Jadi nggak asing lagi kalau teman-teman saya kebanyakan laki-laki, hanya saja, akhir-akhir ini saya jadi agak bete karena kayaknya lama-lama saya mereka samakan jadi laki-laki juga

mon karaoke yuk| jam berapa| jam 8| buset aku pulang jam berapa??| oya kamu cewek deng| zzzzz 

mbak mon kok gak boleh kuliah di luar jogja| soalnya aku disuruh bantu-bantu di rumah| ohya kamu cewek deng| zzzzzzzzzzzz

mon ini temen2 mau nonton mitnite| lah ntar aku tidur dimanaaa?????| ohya lupa kamu cewek| aaaaaaaaaaaa

memang semacho itukah saya? T.T

Tapi sebenernnya nggak selamanya ngeselin sih, ada juga yang lucu kayak semisal

mon kok kamu pake jilbab? karena botak ya| zzzz

mon jilbab kamu merknya adidas ya?| ini rabbani bukan adidas, zzzz 

tapi overall walau lucu dan ngeselin, asyik juga berada dalam komunitas XY karena pikiran mereka biasanya logis, luas dan terbuka :) Tinggal sekarang bagaimana saya harus memilih-milih komunitas dan menjaga perilaku karena bagaimanapun saya secara kodrat beda satu kromosom dari mereka, hehehehehe

Belanja

Buy What You Need

-Confession of A Shopaholic

Saya tahu anda kaya, saya tahu anda mampu belanja macam-macam, tapi bukankah daripada kita menghamburkan uang untuk beli barang nggak penting dan nggak begitu perlu mending kita investasikan, nabung misalnya, atau dibuat modal jualan misalnya (curhat), atau lebih mulia lagi diinvestasikan ke jalan akhirat (zakat, infaq, shodaqoh) hehe...

Hemmmat beeebbb!

Sedikit Curhat Part 2

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri nikahan saudara saya di Jakarta


Oke, saya jadi berfikir kalau ternyata suatu saat saya akan menjadi yang dikunjungi untuk diberi ucapan "selamat menempuh hidup baru", atau "langgeng yaaa" dan sebenernya nggak cuma kepikiran sekarang sih, dari awal kuliah saya juga udah memikirkan hal ini.
Yang saya pikirkan sebenarnya bukan siapa nanti jodoh saya, tapi "kapan saya menikah" atau bahkan "apakah saya menikah". Loh kok pertanyaannya seperti itu? Ini bermula dari lingkungan saya yang isinya mayoritas adalah manusia kromosom XY dimana pandangan mereka luas dan logis. Banyak dari mereka yang ingin melanjutkan sekolah, punya karir yang bagus dan nantinya sukses.

Saya juga ingin lanjut S2, S3 bahkan jika mungkin dan kemudian punya karir yang bagus.

Tapi satu pertanyaan yang mengganjal saya: "Mungkinkah?"

Pertanyaan sepele, tapi ini ngganjel di pikiran saya. Saya ingin S2, tapi saya takut nggak dibolehin sama suami saya, karena semisal kalau saya S2 di luar negeri (amin) suami ditinggal dong, anak-anak gimana dong?

Apalagi saya ngetik ini sambil liat acara "Tokoh" di TVONE yang menayangkan dekan termuda di FE UI dalam usia 32 tahun dan bergelar profesor di usia 27. Saya pengen. Pengen banget. Tapi kalau saya S3, ilmunya dibuat apa?

Saya ingin jadi dosen di UGM, di jurusan saya, tapi kalau suami saya minta saya ikut dia semisal harus dinas keluar kota gimana dong?

Solusinya saya S2 dulu baru menikah. Toh usia saya baru 18, kalo langsung S2, saya bisa lulus usia 23.

Pertanyaan selanjutnya, apakah saya laku? (zzzzzzzzzzzzz ini parah ya pertanyaannya)

Saya takut pendidikan saya ketinggian, jadi orang yang pengen nikah sama saya minder kalau istrinya berpendidikan lebih tinggi daripada dia. Contoh sepele kalo di undangan nikah deh, gelarnya tinggian saya dong (misalnya).

Haha... sebenernya semua ini adalah pertanyaan cupu yang nggak penting tapi ternyata cukup membuat saya galau. Temen saya bahkan ada yang bilang saya ini feminis (saya sendiri nggak tahu apa artinya) karena berpikiran seperti ini. Well...  sebenernya rejeki, jodoh, hidup mati di tangan Tuhan dan saya tinggal mengupayakan yang terbaik saja. Tapi tapi tapi tapi tetep aja kepikiran zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...

Maaf ya karena postingan kali ini nggak mutu dan galau, lain posting akan lebih bermutu lagi kok, dijamin, hehe...

Ditulis saat sedang galau pangkat sembilan belas
Salam cenat cenut,
Nurvirta Monarizqa

Getting A Year Older

I am eighteen.

I am not seventeen anymore :( it was a fact that makes me even sad, and realize that I have no longer time to stay in this world. I just hope I can be a much much much better person and I will my 18th year fulfilled with many unforgettable experiences, many things that make my life would be never flat, many friends, many qualities time with family and friends and much money, hahahahahaha...

Thanks Allah,You've done Your best in my last 17 year's life, and I'm sure You will do that too in my rest lifetime :)


March 18th, 1993 - March 18th, 2011
Me, an ordinary girl who want to be an extraordinary woman
Nurvirta Monarizqa

Ps: if you want to give me something in my birthday, please give me an android phone, a set of tupperware,  or a raincoat for my lovely backpack, I need that all :p

Pantai Sadranan

Where? Pantai Sadranan, Gunung Kidul
When? 12-13 Maret 2011
With? JTETI 2010 :*
What? Makrab angkatan

Pantai Sadranan berjarak 64 km dari kota Jogja, sebelah pantai Sundak persis (baratnya). Jadi jika ingin kesini, dai Jogja lewat Jl Wonosari sampai Wonosari. Terus masuk Jl Baron, sampai Baron ambil kiri terus sekitar 7 km dapetlah pantai Sundak, belok kanan, terus jangan parkir di Sundak tapi ke pantai sebelahnya. Pantai ini memiliki banyak kelebihan dibanding pantai lain. Selain bersih, sepi, ada fasilitas penginapan yang suangat bersih, murah dan bisa disewa, terus ada catering segala. Nyaman dan homy banget pokoknya, check this out (nanti foto nambah lagi- btw ini foto semua bukan dari kamera saya karena kamera saya mati kemasukan air asin sama pasir, huks, thanks to Tontun, Ce em, Fanni)



 
 
 



Kompetisi

Saya termasuk orang yang doyan kompetisi, karena dengan kompetisi ini lah saya bisa mengukur kemampuan saya dan membandingkan dengan yang lain untuk kemudian membuat diri saya lebih baik lagi. Sejarah saya ikut kompetisi sungguhlah panjang lebar kali tinggi (volume dong), mulai dari lomba fashion show (sungguh zaman TK saya adalah anak yang kemayu puol sakpole) hingga yang agak bergengsi olimpiade matematika semenjak SMP.

Kiprah saya di olimpiade matematika yang sudah cukup banyak (sombong) membuat saya kepikiran masuk jurusan matematika, tapi mungkin karena satu dan lain hal saya tidak diterima di jurusan matematika sebuah univesitas ternama di Kota saya (sudah sungguh saya males bahas kenapa), jadilah saya masuk Teknologi Informasi UGM saja. Nah saya sempat kepikiran untuk sudah mengakhiri karir saya di dunia permatematikaan dan menekuni dunia saya, jadilah saya mencoba compose untuk macam-macam lomba seperti


Imagine Cup

PKM


Tapi karena satu dan lain hal bahkan saya tidak berhasil meng-compose proposal dan mengirimkannya :( 

Bandingkan dengan lomba-lomba yang saya ikuti dengan iseng seperti

OSN-PTI

yang benar-benar iseng tapi benar-benar menghasilkan. Dan baru-baru ini

ONMIPA 

yang saya baru lolos tahap I-nya padahal juga murni iseng nggak tau materi apa-apa :(

emang sih OSNPTI dan ONMIPA nggak sebanding dengan PKM dan Imagine Cup yang memang butuh mengerahkan kekuatan fisik mental perasaan yang sangat itu. Tapi saya pikir sudah saatnya saya mengembangkan diri di bidang saya yang baru. Saya ingin kontribusi di bidang baru saya ini, tapi terkendala masalah lingkungan kalau saya pikir. Saya butuh orang yang mau membimbing saya untuk berkembang out of my box, karena saya ingin berlari dan saya merasa orang-orang di sekitar saya hanya mampu berjalan. Jika kondisinya begini terus, saya takut jadi tidak bersyukur dengan apa yang saya miliki. Sigh. Anyone?

Suatu Hari di Warnet


Lama banget saya nggak blogging, bulan lalu cuma 4 post -,- maklum sedang kejar setoran. Untuk mengobati rasa rindu teman-teman, oke deh saya rela blogging lagi (hoek, geer). Kali ini saya mau cerita aja tentag sebuah peristiwa. Peristiwa ini terjadi saat saya masih polos dan masih di titik cupu-cupunya anak sekolah, yaitu kelas 1 SMA, tapi buanyak banget pelajaran yang saya dapat dari peristiwa ini.

Kala itu saya dan tiga teman lain: Titik, Wulan, Vera ngenet di sebuah warnet nggak jauh dari sekolah kami, sebut saja namanya Mayanet. Saya sebox berdua sama Titik. Rencananya saya memang punya gawe mau update antivirus saya di rumah.

Saat download updatan antivirus sedang berlangsung 27%, tiba-tiba muncul sosok gadis kecil berjaket jeans yang nongol di hadapan saya dan Titik.

“Mbak, bisa bantuin itu?”  

Titik menawarkan bantuannya, lalu ia diajak pergi sang gadis entah kemana.

Saat download updatan antivirus sedang berlangsung 52%, tiba-tiba sekarang Titik yang nongol di hadapan saya.

“Ngopo-e Tik?” (ada apa Tik?)
“Mon kowe wae, aku ra ngerti!” (Mon, kamu saja, aku tidak tahu)

Saya jadi makin bertanya, ada apa sebenarnya? speaker rusak?monitor njebluk? apa CPU meledak?  (-,-)
Saya digiring si adik yang tadi membawa Titik ke sebuah box. box yang ternyata hanya tepat di sebelah kiri box kami

“Ada yang bisa saya bantu?” saya eksyen.
“Oh ya. ini. saya mau membalas dia, saya mau berkenalan dengan dia, tapi saya nggak tahu bahasa gaulnya.”  

Saya kaget. Yang dihadapan saya sekarang adalah seorang bapak-bapak berkumis yang sedang membuka comment page di friendster. friendster sodara-sodara!

Nampaknya bapak itu mengerti raut wajah saya yang kernyitan dahinya udah lipat sembilan.

“..begini, ini teman anak saya. anak saya pergi dari rumah. setiap saya hubungi, handphonnya tidak pernah aktif. Kerjaannya sehari-hari ya cuma nge-game sama ke internet ber-friendster…”
“Putra atau putri anak bapak?” 

Saya mulai simpati tapi kernyitan di dahi nggak berkurang. Saya makin penasaran.

“putri, makanya saya takut kalau dia ada apa-apa. pernah dulu, 2 hari, lalu 15 hari baru pulang, sekarang sudah dua minngu dia tidak di rumah… saya takut dia sampai kenapa-napa..”  

Saya kini mulai menangkap apa maksud bapak tadi. Saya bertekad membantu bapak itu sebisanya dan saya pun mulai melontarkan beberapa pertanyaan yang mungkin bisa membantunya melacak anak bapak tersebut.

Di box lain, gadis kecil yang ternyata adik dari si anak hilang itu kini duduk manis di sebelah Titik. Titik yang iba mulai basa basi,

”Udah maem belom dek?”

si adik hanya menjawab,

”Belum, nggak punya uang..”

Titik jadi merasa bersalah menanyakan hal tsb.

“Ya bawa bekal aja dari rumah dik nanti dimakan di sekolah..”
“Nggak punya tempat makan mbak..”


Titik makin merasa bersalah.

“Ya..pakai kertas minyak tu lo dik, nanti habis dimakan bisa langsung dibuang, nggak perlu berat-berat juga!”

Titik berusaha menghibur. Si adik hanya tersenyum.

“Suka nonton TV nggak?”
“Di rumah nggak ada TV mbak..”

Tetoooot, kesalahan ketiga. Selamat Tik kamu dapet piring cantik.

Waktu berlalu. Hujan di luar sudah tinggal menghabiskan sisa uap airnya. Oke, saya tahu teman-teman mulai bosen mendengar cerita drama saya ini, langsung capcus aja ke inti masalah bapaknya yang saya dapatkan setelah sedikit interview yaa:
- Si bapak kehilangan anak gadisnya yang masih SMA
- Udah 2 minggu anaknya ninggalin rumah
- Si bapak tidak bisa menghubungi anaknya
- Jadi si bapak menggunakan friendster
- Si bapak menyamar jadi cewek cantik di friendsternya
- Si bapak nyamar jadi cewek biar nggak dicurigai anaknya
- Si bapak ndeketin temen-temen anaknya


dan yang paling penting

- Si bapak sayang banget sama anaknya :''')


Gimana enggak? Bapak tersebut rela belajar fs, berani tahan malu buat tanya anak SMA tuk ngajarin dia fs, bahkan rela ngeluarin duit banyak buat ke warnet yang tarif satu jamnya bisa mereka gunakan untuk makan dan yang saya tahu mereka sudah berjam-jam disana, bahkan sampai tarifnya cukup untuk membeli tempat makan si anak kecil tadi :( :(

anak yang tega!

Merasa nggak enak sama saya yang mukanya udah kelipet-lipet lagi, si bapak mempersilakan saya kembali ke boxnya dan mengucapkan terima kasih.

Setelah kembali ke box asal, saya dan Titik benar-benar bersyukur. Kami masih berada di jalan yang "cukup benar" dan ada beberapa hal yang bisa kami ambil saat itu:

- Betapa susahnya menjadi remaja perempuan dan betapa remaja perempuan harus menjaga banyak hal: pergaulannya, kehormatannya dan martabat keluarganya
- Betapa susahnya merawat anak perempuan, jadi anak perempuan haruslah membuat bangga kedua orang tuanya :)
- Kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan.


tips buat si bapak : Iikut termehek-mehek aja kalok beluk ketemu pak (--')

Edisi Wanita Berharga by Ustadz Salim A Fillah

di cc tweetnya oleh mas Fikri, makasih hlo mas :D


@salimafillah: 61. #Wanita paling berharga adalah ahli Matematika: mengalikan kebahagiaan sampai tak hingga, membagi kesedihan sampai tak berarti.

abcs