Sedikit Curhat Part 2

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri nikahan saudara saya di Jakarta


Oke, saya jadi berfikir kalau ternyata suatu saat saya akan menjadi yang dikunjungi untuk diberi ucapan "selamat menempuh hidup baru", atau "langgeng yaaa" dan sebenernya nggak cuma kepikiran sekarang sih, dari awal kuliah saya juga udah memikirkan hal ini.
Yang saya pikirkan sebenarnya bukan siapa nanti jodoh saya, tapi "kapan saya menikah" atau bahkan "apakah saya menikah". Loh kok pertanyaannya seperti itu? Ini bermula dari lingkungan saya yang isinya mayoritas adalah manusia kromosom XY dimana pandangan mereka luas dan logis. Banyak dari mereka yang ingin melanjutkan sekolah, punya karir yang bagus dan nantinya sukses.

Saya juga ingin lanjut S2, S3 bahkan jika mungkin dan kemudian punya karir yang bagus.

Tapi satu pertanyaan yang mengganjal saya: "Mungkinkah?"

Pertanyaan sepele, tapi ini ngganjel di pikiran saya. Saya ingin S2, tapi saya takut nggak dibolehin sama suami saya, karena semisal kalau saya S2 di luar negeri (amin) suami ditinggal dong, anak-anak gimana dong?

Apalagi saya ngetik ini sambil liat acara "Tokoh" di TVONE yang menayangkan dekan termuda di FE UI dalam usia 32 tahun dan bergelar profesor di usia 27. Saya pengen. Pengen banget. Tapi kalau saya S3, ilmunya dibuat apa?

Saya ingin jadi dosen di UGM, di jurusan saya, tapi kalau suami saya minta saya ikut dia semisal harus dinas keluar kota gimana dong?

Solusinya saya S2 dulu baru menikah. Toh usia saya baru 18, kalo langsung S2, saya bisa lulus usia 23.

Pertanyaan selanjutnya, apakah saya laku? (zzzzzzzzzzzzz ini parah ya pertanyaannya)

Saya takut pendidikan saya ketinggian, jadi orang yang pengen nikah sama saya minder kalau istrinya berpendidikan lebih tinggi daripada dia. Contoh sepele kalo di undangan nikah deh, gelarnya tinggian saya dong (misalnya).

Haha... sebenernya semua ini adalah pertanyaan cupu yang nggak penting tapi ternyata cukup membuat saya galau. Temen saya bahkan ada yang bilang saya ini feminis (saya sendiri nggak tahu apa artinya) karena berpikiran seperti ini. Well...  sebenernya rejeki, jodoh, hidup mati di tangan Tuhan dan saya tinggal mengupayakan yang terbaik saja. Tapi tapi tapi tapi tetep aja kepikiran zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...

Maaf ya karena postingan kali ini nggak mutu dan galau, lain posting akan lebih bermutu lagi kok, dijamin, hehe...

Ditulis saat sedang galau pangkat sembilan belas
Salam cenat cenut,
Nurvirta Monarizqa
9 Responses
  1. goizza Says:

    huahaha ntah kenapa ini lucu :p

    eh mon follow blog ku lagi yak. ini blog baru cuman url nya sama

  2. Melisa Pramesti Dewi Says:

    aku juga sering mikir gitu lho ngomong ngomong, soalnya aku pingin 'lari sana, lari sini' dulu hahaha.. solusinya adalah, cari suami dosen mon wkwkwkwk

  3. Nurvirta Monarizqa Says:

    @melisa: hahahaha ide bagus, wakakaka
    @izak: karena alamatnya sama, jadi si blogger yang baik hati tetep menaruh kamu di list following-ku kok zak :3

  4. Yan Restu Freski Says:

    aku ket mbiyen je mon le galau.

    bayangke, nek geologis ki wong lapangan. Sering di hutan survey2, pemetaan, menentukan lokasi sumber daya, dll. Belum lagi kadang nek krungu berita, ada ahli geologi cuma pulang 2 bulan sekali. Njuk anak istri?

    Dadi kelingan film-e Armageddon, jadi tukang bor minyak di lepas pantai, balik2 ke daratan, anaknya lahir njuk tanya ke ibunya,

    "Dia siapa Ma?"

    Pertanyaan yang wajar, lugu, tapi menohok. Njuk aku suk piye? --a

  5. Nurvirta Monarizqa Says:

    @yan: nikah sama sesama geologist yan, hahahaha

  6. dydhan Says:

    mbakkkk moni..
    #maaf sedikit tidak nyambung...

    kenapa kok kalo kondangan musti bawa aksesoris 'flasdish'??????
    kan aneh tu...
    eh tapi emang mb moni bangettt deh.
    hahahahahahaha


    salam cenat cenut juga:p

  7. Nurvirta Monarizqa Says:

    ya soalnya itu ciri khasku dan, soulmateku sehidup semati hahahahaha
    kembali cenat cenut

  8. dza.talidhut Says:

    monmon cantik, sekeluarga juga cantik dan cakep.

Posting Komentar

abcs