Suatu Hari di Warnet


Lama banget saya nggak blogging, bulan lalu cuma 4 post -,- maklum sedang kejar setoran. Untuk mengobati rasa rindu teman-teman, oke deh saya rela blogging lagi (hoek, geer). Kali ini saya mau cerita aja tentag sebuah peristiwa. Peristiwa ini terjadi saat saya masih polos dan masih di titik cupu-cupunya anak sekolah, yaitu kelas 1 SMA, tapi buanyak banget pelajaran yang saya dapat dari peristiwa ini.

Kala itu saya dan tiga teman lain: Titik, Wulan, Vera ngenet di sebuah warnet nggak jauh dari sekolah kami, sebut saja namanya Mayanet. Saya sebox berdua sama Titik. Rencananya saya memang punya gawe mau update antivirus saya di rumah.

Saat download updatan antivirus sedang berlangsung 27%, tiba-tiba muncul sosok gadis kecil berjaket jeans yang nongol di hadapan saya dan Titik.

“Mbak, bisa bantuin itu?”  

Titik menawarkan bantuannya, lalu ia diajak pergi sang gadis entah kemana.

Saat download updatan antivirus sedang berlangsung 52%, tiba-tiba sekarang Titik yang nongol di hadapan saya.

“Ngopo-e Tik?” (ada apa Tik?)
“Mon kowe wae, aku ra ngerti!” (Mon, kamu saja, aku tidak tahu)

Saya jadi makin bertanya, ada apa sebenarnya? speaker rusak?monitor njebluk? apa CPU meledak?  (-,-)
Saya digiring si adik yang tadi membawa Titik ke sebuah box. box yang ternyata hanya tepat di sebelah kiri box kami

“Ada yang bisa saya bantu?” saya eksyen.
“Oh ya. ini. saya mau membalas dia, saya mau berkenalan dengan dia, tapi saya nggak tahu bahasa gaulnya.”  

Saya kaget. Yang dihadapan saya sekarang adalah seorang bapak-bapak berkumis yang sedang membuka comment page di friendster. friendster sodara-sodara!

Nampaknya bapak itu mengerti raut wajah saya yang kernyitan dahinya udah lipat sembilan.

“..begini, ini teman anak saya. anak saya pergi dari rumah. setiap saya hubungi, handphonnya tidak pernah aktif. Kerjaannya sehari-hari ya cuma nge-game sama ke internet ber-friendster…”
“Putra atau putri anak bapak?” 

Saya mulai simpati tapi kernyitan di dahi nggak berkurang. Saya makin penasaran.

“putri, makanya saya takut kalau dia ada apa-apa. pernah dulu, 2 hari, lalu 15 hari baru pulang, sekarang sudah dua minngu dia tidak di rumah… saya takut dia sampai kenapa-napa..”  

Saya kini mulai menangkap apa maksud bapak tadi. Saya bertekad membantu bapak itu sebisanya dan saya pun mulai melontarkan beberapa pertanyaan yang mungkin bisa membantunya melacak anak bapak tersebut.

Di box lain, gadis kecil yang ternyata adik dari si anak hilang itu kini duduk manis di sebelah Titik. Titik yang iba mulai basa basi,

”Udah maem belom dek?”

si adik hanya menjawab,

”Belum, nggak punya uang..”

Titik jadi merasa bersalah menanyakan hal tsb.

“Ya bawa bekal aja dari rumah dik nanti dimakan di sekolah..”
“Nggak punya tempat makan mbak..”


Titik makin merasa bersalah.

“Ya..pakai kertas minyak tu lo dik, nanti habis dimakan bisa langsung dibuang, nggak perlu berat-berat juga!”

Titik berusaha menghibur. Si adik hanya tersenyum.

“Suka nonton TV nggak?”
“Di rumah nggak ada TV mbak..”

Tetoooot, kesalahan ketiga. Selamat Tik kamu dapet piring cantik.

Waktu berlalu. Hujan di luar sudah tinggal menghabiskan sisa uap airnya. Oke, saya tahu teman-teman mulai bosen mendengar cerita drama saya ini, langsung capcus aja ke inti masalah bapaknya yang saya dapatkan setelah sedikit interview yaa:
- Si bapak kehilangan anak gadisnya yang masih SMA
- Udah 2 minggu anaknya ninggalin rumah
- Si bapak tidak bisa menghubungi anaknya
- Jadi si bapak menggunakan friendster
- Si bapak menyamar jadi cewek cantik di friendsternya
- Si bapak nyamar jadi cewek biar nggak dicurigai anaknya
- Si bapak ndeketin temen-temen anaknya


dan yang paling penting

- Si bapak sayang banget sama anaknya :''')


Gimana enggak? Bapak tersebut rela belajar fs, berani tahan malu buat tanya anak SMA tuk ngajarin dia fs, bahkan rela ngeluarin duit banyak buat ke warnet yang tarif satu jamnya bisa mereka gunakan untuk makan dan yang saya tahu mereka sudah berjam-jam disana, bahkan sampai tarifnya cukup untuk membeli tempat makan si anak kecil tadi :( :(

anak yang tega!

Merasa nggak enak sama saya yang mukanya udah kelipet-lipet lagi, si bapak mempersilakan saya kembali ke boxnya dan mengucapkan terima kasih.

Setelah kembali ke box asal, saya dan Titik benar-benar bersyukur. Kami masih berada di jalan yang "cukup benar" dan ada beberapa hal yang bisa kami ambil saat itu:

- Betapa susahnya menjadi remaja perempuan dan betapa remaja perempuan harus menjaga banyak hal: pergaulannya, kehormatannya dan martabat keluarganya
- Betapa susahnya merawat anak perempuan, jadi anak perempuan haruslah membuat bangga kedua orang tuanya :)
- Kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan.


tips buat si bapak : Iikut termehek-mehek aja kalok beluk ketemu pak (--')
3 Responses
  1. fia masitha Says:

    sepertinya aku pernah membaca ini entah di mana. Di manaaaa gitu, di blogmu deh kayaknya. tetep merinding. Seraaaaam :(

  2. dydhan Says:

    antara ketawa dan iba...
    aku mau komen...
    pokoknya mengHIBUUUUUUUUUUUUUUUUURRRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!

  3. septiangilang Says:

    oke banget deh postinganmu yg ini.
    sama kayak dydhan, bingung mau ketawa atau iba.

    kesimpulan: ternyata susah punya anak cewek.

Posting Komentar

abcs