Kontes Robot Nasional 2011, Sebuah Pembelajaran (1)

What? Kontes Robot Nasional 2011
Where? Grha Sabha Pramana UGM
When? 11-12 Juni 2011


Tidak hanya sekali ini saya ikut kepanitiaan event nasional, bahkan saya sudah jadi panitia event nasional semenjak kelas 2 SMA (PIRNAS). Namun saya akui, kepanitiaan kali ini adalah yang paling banyak memberikan pelajaran hidup bagi saya.

Saya adalah seorang mahasiswi Teknologi Informasi yang direkrut kakak angkatan saya di JTETI untuk jadi sie acara KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia) dari Dikti dimana UGM tahun ini menjadi host. KRCI adalah salah satu cabang yang dilombakan dalam Kontes Robot Nasional, selain 3 cabang lain yakni Kontes Robot Indonesia (KRI), Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia Humanoid Soccer (KRCI Battle). Robot KRCI adalah robot yang didesain untuk memadamkan api dalam ruangan. Saya sih excited aja, nambah pengalaman baru bekerja dengan banyak orang. Awalnya kami hanya berenam di divisi beroda, akhirnya karena kebutuhan, kami ditambah menjadi 14 orang di divisi beroda dan digabung dengan 14 orang di divisi berkaki menjadi satu kepanitiaan KRCI-- selanjutnya disebut LO.

Pada permulaan saya pikir tugasnya enteng karena semua sistem pertandingan dan apa-apa yang harus dipersiapkan sudah ada pada panduan Kontes Robot Nasional, jadi istilahnya kami tinggal melakukan eksekusi saja pada segala hal yang harus dipersiapkan. Tapi semua itu berubah ketika H-3 hingga hari H pertandingan. Kamis, 9 Juni 2011 juri datang dan kami para LO di KRCI beroda-berkaki diberi pengarahan apa-apa saja yang harus dilakukan. Ternyata sistem pertandingannya seperti World Cup, setengah kompetisi. Peserta dimasukkan dalam grup-grup, kemudian diambil juara tiap grup dan dipertandingkan di babak berikutnya dengan sistem gugur.

Timbul satu masalah saat bertemu dengan juri ini, LO kurang. Karena kami memakai 2 set lapangan supaya cepat, LO yang dibutuhkan kurang. Mengapa bisa begitu? Oke, let's check flow-rule nya
  1. Peserta dipanggil oleh LO pemanggil. Waktu pemanggilan hanya 1 menit. Setelah pemanggilan pertama, stopwatch diaktifkan, 30 detik kemudian pemanggilan kedua dilakukan. Lewat dari itu, perserta didiskualifikasi. Di sini butuh 1 LO.
  2. Peserta ke bagian scrutting untuk melakukan banyak hal pada robotnya: menimbang, ukur dimensi, foto, menempel stiker, registrasi, cek wireless, melakukan pengundian konfigurasi lapangan, dan meletakkan robot pada box yang tersedia. Jadi supaya tidak terjadi kecurangan, robot dari meja scrutting diserahkan pada panitia, dan setelah itu menjadi tanggung jawab panitia untuk mengaktifkan robot di lapangan. Untuk itu peserta memberi tahu cara menggunakan sound activation pada robot. Di sini butuh 7 LO scrutting dan 8 LO pendamping pembawa robot.
  3. LO lapangan menyusun lapangan sesuai dengan konfigurasi pada undian, di mana letak home, furniture, letak lilin, sound damper, cermin, dan uneven floor. Di sini karena ada 4 lapangan, dan tiap lapangan butuh 4 LO, total butuh 16 LO.
  4. Pertandingan mulai, robot diaktifkan dengan sound activation, jika bisa, maka mendapat bonus sound activation, jika tidak, maka dinyalakan dengan tombol manual. Di sini robot adu cepat menemukan api, mematikan dan kembali ke home. Dibutuhkan 4 LO untuk merekam perjalanan robot, dan 2 LO untuk timer, serta 1 LO untuk menjadi komentator pertandingan yang berlangsung.
  5. Setelah pertandingan, LO lapangan menyerahkan form penilaian juri ke LO scoring. Karena ada 2 set lapangan, dibutuhkan 2 LO scoring. Kemudian 1 LO server data untuk mengumpulkan segala foto dari scrutting dan video pertandingan.

1+7+8+16+4+2+1+2+1=42

Karena kurang LO, maka panitia pun ditambal kesana kemari.

contoh konfigurasi lapangan

Saya dan Taufiq, mentang-mentang anak IT, sama koor kami mas Ridwan dikasih amanah jadi LO scoring. Kami berkewajiban mengconvert tulisan "ya" dan "tidak" pada form juri menjadi angka-angka yang nantinya dikalkulasi menjadi nilai akhir. Ada dua sistem skoring, jika berhasil menyalakan dan tidak berhasil. Jika berhasil, maka

nilai_akhir=waktu*room_factor*bonus_sound_activation*bonus_extinguisher*bonus_properti. 

Ribet ya? yang jelas karena nilainya berdasarkan perkalian, salah memasukkan angka bisa fatal akibatnya, karena meleset satu saja, contoh perintah "ya" salah terjemahkan menjadi "tidak", selisihnya bisa sangat jauh dan mempengaruhi siapa yang menang. Jika tidak berhasil mematikan api, maka 

nilai akhir=600-nilai_room-nilai_dekat_api-nilai_ke_juring. 

Pusing ya? Sama, saya juga.

Jumat, 10 Juni 2011 diadakan running test. Running test ini semacam babak kualifikasi di Moto GP, menentukan tim tersebut masuk mana, masuk mana. Karena terjadi masalah teknis di lampu halogen, running test sempat ditunda lama, hingga akhirnya baru selesai jam 12 malam. Saya terus nggak pulang gitu aja, saya selain mengurus scoring juga harus mengurus drawing, menyusun tim ini masuk grup mana, masuk mana dan mana. Di sini sebenarnya saya punya kewenangan menentukan beberapa tim masuk ke grup mana, termasuk UGM. Namun saya yang mencoba independen ngasal aja naruh tim ini masuk grup ini, tapi nggak sengasal itu juga sih, saya merhatiin peringkatnya juga, jangan sampe yang jago jadi satu tim. Karena kemaleman, saya nginep di kos Fanni dan bangun kesiangan :(

Next day, adalah hari pertama KRN berlangsung. Pertandingan pertama adalah KRCI beroda jam 07.30, tapi karena tragedi kesiangan tadi, saya kesiangan pulang ke rumah, kesiangan mandi, kesiangan balik, saya telat dan pertandingannya jadi molor, maaf ya ._. Riuh suporter memberi semangat tidak hanya pada tim tuan rumah saja, tapi tim-tim dari perguruan tinggi lain, hingga GSP yang berkapasitas 2000 orang ini bergetar. Serius bergetar, saya aja sampe ngirain ada gempa. Tiket seharga 10 ribu pun sold out jam 9 pagi. Tapi buat mereka yang nggak kebagian tiket, bisa nonton via streaming atau nonton via TV di lantai bawah, yang juga dipakai untuk pameran robot bertema "Jogja Under Attack". Hari Sabtu ini adalah babak grup, di mana di tiap cabang, dilakukan pertandingan intra grup untuk memperoleh juara di grup masing-masing yang nantinya berhak melaju ke babak berikutnya keesokan harinya. Seluruh pertandingan selesai pukul 9 malam, tapi saya, seorang juru skoring yang lagi-lagi harus membuat drawing pertandingan (ini ketemu ini, ini ketemu ini) harus pulang lebih malam. Saya sempet miris sendiri saat membuat drawing, karena tim Warfire (KRCI beroda UGM) di pertandingan perdelapan final harus langsung ketemu sama ITB, terus kalo lolos ketemu sama UI. Di divisi berkaki, tim UGM kalo menang di perempat final juga langsung ketemu ITB di semifinal. Sebenernya saya yang bikin drawing kemarin jadi nyesel kenapa tim-tim besar ini harus jadinya ketemu di awal-awal, kan pertandingan jadi gak seru ._. Tapi ya udah lah, saya berfikir, pasti Allah sedang membuat rencana.



Siap-siap pulang, ada tim dari PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya) yang minta rekapan nilai, tanya mengapa mereka nggak lolos. Saya yang udah kemas-kemas langsung buka lagi rekapan nilai. Saya yang udah capek akhirnya jadi grogi dan salah-salah ngeliat nilai, walhasil saya malah jadi memasukkan tim yang harusnya nggak masuk perempat final ke perempat final. Panik kan, secara saya juga udah dijemput, saya minta maaf ke ketua Juri (Pak Eril) atas keteledoran saya. Akhirnya saya baru pulang jam 11 malam. Usut punya usut, ternyata daftar pertama yang saya keluarkan (drawing pertama) sudah benar, jadi drawing kedua (yang dimana ada pergantian tim yang masuk) itu sebenernya salah. Pak Eril dan juri yang lain ngoreksi sampe jam setengah 3. Jadi intinya, saya udah bener bikin drawing, cuma karena grogi diprotes dan kecapekan karena udah malem, malah bikin kacau. Duh maaf pak, maaf....

Bersambung Part 2: Pertandingan yang penuh kejutan...
0 Responses

Posting Komentar

abcs