Ngalay di Sala

Where? Surakarta
When? 29 Juni 2011
With? Ema Fitriana, Trias Nur Rahman, Muhammad Iqbal Jayadi

Kelas saya berniat piknik ke Solo, tapi karena rencana pikniknya pake motor, saya yang masih agak sedikit trauma kecelakaan dan Ema yang emang nggak dibolehin naik motor memilih naik Prameks saja. Tidak dinyana, dua pria alay ini (Trias plus Iqbal) setelah melakukan ym conference yang cukup alot malam harinya ikut mrameks juga. Fix, kami naik Prameks (Rp 9000) dari stasiun Maguwo 08.50 dan turun di Stasiun Purwosari 09.33. Keretanya sangat sangat ontime.

Keluar, kami tertarik sama tulisan "Batik Solo Trans -->", jadilah kami memutuskan naik angkutan mirip Trans Jogja ini di Solo tepat setelah menghirup bau Solo (?)

Kami bingung ini rutenya mana aja, karena beda sama TJ, BST ini (BST adalah singkata Batik Solo Trans -- sebuah singkatan yang sensitif :p) tidak ada petugas di haltenya, dan membayarnya di dalam bus (Rp 3000). Jadi "turis-turis" kayak kami ini minim informasi :p

Melewati Jalan Slamet Riyadi, kami berencana turun di daerah Kraton untuk nemenin Ema belanja di Klewer -,- dan liat-liat Kraton tentuya. Ternyata lagi ada festival Hadrah di sini, wah lumayan dapet pemandangan sepanjang perjalanan :D


Turun di ujung jalan, Ema beli serabi (--a) (Rp 1500 per serabinya)



Next, capcuss ke daerah Kraton

keren kan foto lompatnya? Ini saya yang motret :"> #gakpenting

Nha... Pertama kami ke Kraton Solo. Banyak ilmu baru yang kami dapatkan di sini. First, bayar dulu tiket masuknya (Rp 5000). Pertimbangan menjadi turis berkualitas, kami sewa guide, dengan fee seikhlasnya. Pemandu yang membersamai kami bernama Pak Setiadi, yang sekaligus abdi dalem asli Kraton, disumpah tahun 2001. Tempat yang kamu kunjungi pertama adalah Pendopo Pagelaran, berfungsi untuk mempertemukan raja dan rakyat. Di sana juga ada singgasana bernama .... (lupa, zzzz) yang menjadi tempat duduk raja saat audiensi dengan rakyat, ini fotonya... (yang bawah)

Iqbal-Trias-Mona-Ema

Terus foto yang atas apa dong? Yang atas itu adalah Siti Hinggil, tempat pelantikan Raja. Di sini Pak Setiadi mulai bercerita banyak. Mulai dari orang yang salah kaprah menyebut kota ini dengan "Solo" padahal harusnya "Sala" (huruf a disebut seperti a pada kata "ana" di Bahasa Jawa), karena Solo adalah pengaruh Eropa: Portugis, Belanda, Inggris. Kemudian di ujung pendopo ada dua bangsal di kanan dan kiri. Kiri adalah untuk masyarakat yang mengantri hadiah dari raja, dan kanan untuk masyarakat yang mengantri hukuman dari raja. Hiiiihh.... Di sini kami diperingatkan untuk tidak sembarangan motret karena ini demi keselamatan. Hem... ngeri sih emang... :p

Kalau dilihat pada foto ada tangga. Tangga ini juga punya cerita, di anak tangga pertama ada batu, semacam tegel yang lebih rendah dari sekitarnya, tepat di tengah. Kami disarankan untuk menginjak. Batu ini namanya batu pencat kalo nggak salah, karena dahulu dipakai untuk memenggal para perusuh kerajaan, seperti Trunojoyo. Ada lagi cerita tentang kerajaan ketika kami sampai di Siti Hingil. Kami boleh berfoto disana, tapi dilarang mempublishnya ke tempat umum, "Di tempat pribadi saja" "Kenapa Pak?" "Demi keselamatan" Hem.... Oke..

Terus saat di Siti Hinggil, kami disarankan untuk lewat kiri, bukan lewat kanan. Di sini juga ada pohon Sala, cikal-bakal nama desa Sala, sebagai tempat didirikannya kerajaan. Di belakang Siti Hinggil ada Bangsal Winata yang menandakan asal mula manusia (wiwit=mulai). Di atasnya ada semacam bilik-- yang saat kami tanyakan ke Pak Setiadi ini apa beliau tidak berani menjawab, karena memang diamanahi untuk merahasiakannya. Sekali lagi, demi keselamatan pengunjung, karena abdi dalem Kraton tidak hanya yang "terlihat", tapi juga yang "tidak terlihat". Bilik tersebut diibaratkan sebagai lingga, dan bangsalnya adalah yoni.

Di belakang Bangsal, ada tembok putih, namanya bla bla bla Renteng saya lupa. Melambangkan ruang pribadi manusia. Karena melambangkan ruang pribadi, di sini pula tempat yang tepat memberi hal-hal pribadi ke abdi dalem, siapapun itu. Tempatnya tersembunyi, melambangkan kerahasiaan. Terlihat sekali ajaran kerajaan untuk selalu rendah hati, dan menyembunyikan kepribadian, bandingkan dengan zaman sekarang, ckckck..

Banyak hal yang terkesan aneh dan tidak logis selama perjalanan, Pak Setiadi hanya berpesan "boleh tidak percaya, tapi jangan menyanggah". That means, ini adalah kearifan lokal, tidak semua bisa dinalar dan sebaiknya hormati saja adat yang berlaku. Satu pelajaran lagi yang saya dapatkan adalah

dalam melakukan apapun, mulut, hati dan pikir harus sejalan dan manunggal

which means segala sesuatu harus dilakukan dengan ikhlas hati, jangan di mulut iya, tapi hati tidak rela :')


Selesai, kami ke ruang kereta. Di sini ada kesempatan narsis :3

Udah siang, kami berkesempatan Sholat Dhuhur jamaah pertama di Majid Agung Surakarta


Laper, kami makan di Galabo :3


Ini letaknya di timur Slamet Riyadi, saya beli seporsi timlo (Rp 9000), lumayanlah kenyang

Next, sudah siang, kami memutuskan pulang. Pertanyaannya: naik apa? Kami pun jalan ke utara dan menemukan halte. Desperate bisnya gak dateng-dateng, kami disaranin naik taksi ke stasiun Balapan dengan mencari ke pangkalannya di deket Pasar Gede, hahahaa... mbolang kok naik taksi.... :p Karena harus jalan ke Pasar Gede, saya jadi punya kesempatan motret BI Solo sama Pasar Gede

maaf editannya alay... ohya di Kraton Solo (kanan atas) ada tower, yang merupakan tempat ketemunya raja dengan Nyi Roro Kidul tiap Kamis pagi, hem...

Dengan taksi Rp 10000 saja kami sudah sampai Stasiun Balapan, apesnya adalah, prameks sudah lewat sejam yang lalu dan sekarang harus nunggu Madiun Jaya sejam lagi (@ Rp 9000). Ema yang udah laper (lagi) minta dianter ke tempat jual sosis solo. Ya udah daripada nganggur, kami jalan ke arah toko Viens, tempat jualan selat solo yang lumayan terkenal, setelah kami ngalay dan jajan dulu di Alfamart #penting


Ema beli beberapa sosis (bukan solo) yang sukses dirayah teman-temannya yang juga laper lagi ini (@ Rp 2000). Lucunya ibu kasirnya tanya 
"Ini yang tadi dari Jogja ya? dari UGM" 
Kami kaget, kok ibunya tau? :o 
"Oh bukan, itu tadi temen sekelas kami juga, naik motor kan? Beda kloter bu, hehe" - Bang Trias

Ngahahaha ternyata mereka kesini tadi

Kereta kami jam 14.50 dari stasiun Balapan. Amazingnya ketika kami nyadar ternyata banyak yang juga berangkat ke Jogja dan kami di dalem berasa kayak pepes... udah nggak bisa gerak :o. Dan untungnya kami dapet tempat berdiri di bawah kipas, hahahha.... Dan daripada boring berdiri, kami NGALAY dengan foto-foto di dalem kereta, zzz zzz zzz


Dan perjalanan hari itu pun end, maag dear readers karena catatan perjalanan hari ini gak mutu -- dan alay ngahahahahha....

nb: Trias kok kamu mirip Pak Tarno di foto2 alay ini, wakakak :p
1 Response
  1. Wantoooook Says:

    waaaah... serunyaaaa.... kapan2 ajak yang lain juga yaaa. hahahaa...

Posting Komentar

abcs