Selamat Idul Fitri

foto gagal kembang api, perjalanan Brebes-Jogja

Mohon maaf apabila selama saya menulis blog ini banyak kata-kata yang kurang berkenan, postingan sotoy, dan sebagainya, dan sebagainya. Semoga kita bertemu Ramadhan tahun depan beserta segala keuntungannya, dan semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi :)

Satu hal yang saya pelajari dari Ramadhan ini, perbanyak caring, smiling dan loving, maka akan dengan sendriinya kita dihargai, dicintai dan diberi perhatian :)

Candi Plaosan

Masih bersama Barbara tersayang dan my-new-partner-in-doing-silly-interest, mas Fikri, dari Candi Abang, perjalanan lanjut ke Candi Ijo, dan Candi Plaosan. Karena Candi Ijo udah pernah saya posting ni ye, saya mau cerita Candi Plaosan aja. Seperti biasa, saya yang belum pernah kesana dengan sotoynya sukses menyasarkan rombongan -,- untung manusia diberi ability oleh Allah untuk bertanya, maka kami tanya dimana Candi Plaosan sebenarnya berada. Ternyata dari gapura perbatasan Jogja-Jateng, perempatan kedua belok kiri (ke utara), teruuuuuussss, sampe nemu perempatan di mana di kiri jalan ada Dinas Purbakala gitu kalo gak salah, nah kita belok kanan. Candinya ada di kiri Jalan. Ada 2 Candi Plaosan, Lor dan Kidul, yang lor di kiri jalan, yang kidul agak masuk jalan, di selatan candi Lor.


Candi ini secara administratif terletak di Jawa Tengah, Klaten. Belum ada retribusinya, tapi kalo gak salah saya bayar Rp 2000,00. Candi ini nice banget, terdiri dari 2 candi induk dan 50 an candi pewara (pendamping) yang belum semua direkonstruksi. Kebayang kan kalo jadi semua, candi ini bisa jadi potensi pariwisata yang bagus banget nyaingin Candi Prambanan.

Berikut ada sekelumit info tentang Candi Plaosan

Candi Plaosan Lor yang terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dibangun oleh Rakai Panangkaran dinasti Sailendra yang juga mendirikan Candi Borobudur dan Candi Sewu. Candi tersebut terdiri dari candi induk dan mandapa yang terdiri dari 194 stupa. Pada beberapa perwara dijumpai tulisan-tulisan pendek yang memberikan indikasi bahwa bangunan tersebut merupakan bawahan raja Penelitian terhadap kompleks Candi Plaosan sudah dimulai dari masa pemerintahan Kolonial Belanda melalui penelitian dan pemugaran Candi Induk Selatan. Upaya pelestarian kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah RI melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah Salah satu hasil penelitian yang menarik yaitu ditemukannya parit berukuran 440 m x 270 m yang mengelilingi kompleks candi beserta temuan lepas berupa ribuan fragmen gerabah dan beberapa keramik asing di dalamnya. Kemungkinan besar, parit tersebut dahulu dimanfaatkan untuk menurunkan air tanah di Kompleks candi agar tanahnya menjadi padat. Usaha pelestarian yang dilakukan pemerintah hingga saat ini meliputi pemugaran Candi Induk Utara, Stupa dan Candi Perwara, Candi Patok, Arca-arca Dwarapala, Gapura serta Mandapa

atas: kompleks candi-candi pewara yang belum terbangun, bawah kiri: ada yang make buat foto model gitu, bawah tengah: ada turis masuk ke candi, bawah kanan: disini anehnya juga ditemukan banyak stupa ~

Candi utamanya ada dua, dan kembar

ada semacam "panggung" di kompleks candinya

kompleks candi, dari samping

kanan atas: semacam ada penangkal petir, tapi kabelnya raib, entah kemana, ckckck

Candi Plaosan Kidul, kayaknya nggak ada candi utamanya. Bentuknya beda sama candi-candi pewara di Plaosan Lor. Kira-kira kalo jadi semua, ada 20 an biji (banyak banget), jadi kalo ditotal, mungkin emang Plaosan terdiri dari seratusan candi (soalnya masih ada reruntuhan candi di daerah sawah yang belum keitung)

Weww.. nice place to be explored! :D

Candi Abang

Emang kalo baru pertama, agak susah nemu Candi yang satu ini. Letaknya di atas bukit dan jalannya offroad. Saya pernah iseng kemari dengan si Barbara (panggilan buat Beat Pink saya), dan walhasil nggak nemu candi, malah nemu Goa Jepang, tapi nggak bawa kamera #fail.

Cara ke tempat ini, kalau dari Jalan Solo, nanti di sekitar km 14 di depan kantor Kecamatan ada jalan ke selatan, ikuti jalan teruuuuuuuusssssss sampe ketemu perempatan besar pertama, ambil kanan, terusssssssssss sambil lihat kiri, kalau mulai kelihatan ada bukit di kiri jalan, itulah tempat Candi Abang berada, sampe perempatan yang kira-kira kita bisa mendekati bukit, belok kiri, sekitar 100 meter, nanti ada jalan naik ke bukit. Mirip jalan ke crop circle, kalo ke crop cirle lurus, ini belok kiri.

Percobaan kedua, dengan sotoynya, saya kemari lagi, kali ini bersama my-new-partner-in-doing-sillly-interest, yang karena membaca posting peta ini menjadikan saya tour guidenya, yang dengan sabar menghadapi segala kesotoyan saya (yang suka menyasarkan orang), mas Fikri

Pertama, naik bukit sedikit, kami nemu semacam situs gitu, saya nggak tahu ini dibuat apa, karena nggak ada penjelasannya sama sekali. Dari Google, kayaknya sih namana Goa Sentono


Next, kami naik ke atas bukit. Ternyata, di pertigaan pertama, kami harus belok kiri. Jalanan masih offroad dan karena kasihan sama Barbara, kami memutuskan menitipkan motor masing-masing ke rumah penduduk, dan jalan kaki. Nggak jauh kok, sekitar 500 m. Dan tara....... ini dia Candi Abangnya


Ini Candi, lapangan golf, apa bukit Teletubbies mon? -,-

Emang gak ada bentuk-bentuknya sama sekali. Warnanya hijau, jauh dari kesan merah (abang). Ternyata usut punya usut. abang adalah karena candi ini terbuat dari bata merah. Candinya sendiri tertutup rumput hingga jadi bukit gini. Sebenarnya, digunakan untuk tempat menyimpan barang apa gimana gitu ceritanya zaman dahulu. Maaf saya nggak bisa ngasih info valid karena gak ada info, bahkan, papan petunjuk nama "Candi Abang" nya aja nggak ada..

Tapi yang bagus di sini adalah view-nya. Kita bisa melihat view 360 derajat dari atas bukit ini. Berikut adalah beberapa view yang terlihat dari atas bukit. Di sebelah selatan kita bisa menemukan reruntuhan batu bata merah, mungkin reruntuhan kompleks candi, entahlah ~


Satu hal yang saya curigai adalah... Kayaknya bukit ini adalah obyek yang dipake buat wallpaper windows XP deh, lihat ini


hahahaha... #maksa

Jogja's Killing Roads

Wah lama nggak nulis review, sekalinya nulis review, judulnya lebay hahaha...

Review ini adalah tentang jalan-jalan yang patut dihindari di Jogja (ketauan judulnya lebayy), sebenernya sudah lama saya siapkan materinya, semenjak setahun yang lalu bahkan, tapi saya terserang virus malasiana tropikuliahana ~ dan baru ngeh lagi setelah melihat berita kemacetan mudik lebaran (?)

Review ini murni subyektif saya ya... semoga menikmati......

1. Jalan Solo

Saya taruh di nomer satu karena ini menurut saya adalah jalan paling "membunuh" di Jogja. Mulai dari Laksda Adisutjipto yang dihuni Mall bernama Amplaz yang membuat jalan sering macet, hingga jalan "keluar" ring road yang dipadati truk dan bis besar. Saya tiap hari setidaknya menggadaikan nyawa saya dua kali di jalan ini. Gimana enggak, jalan ini menghubungkan DIY, dengan Solo, Klaten, yang penduduknya banyak mengadu nasib di Jogja, jadi jalanan penuh kendaraan pelaju -- yang disetir dengan kecepatan minimal 60 km per jam -- sementara rumah saya di kanan jalan, kebayang kan harus saingan sama sebut saja bus Mira, Eka, Truk, Sumber Selamat, dll ketika saya harus motong jalan -,-

2. Jalan Wonosari
Jelas killing, karena rame dan berlliku khas pegunungan

3. Jalan Magelang
Mirip-mirip jalan Solo, cuma karena jalannya lebih lebar jadinya lebih sepi dan enak ---

4. Jalan Malioboro
No offense lah, pusat wisata sih -,-

5. Jalan Sardjito (Jl Kesehatan)
Jalan terkumuh -- menurut saya -- satu jalan penuh sama pedagang kaki lima dan parkiran mobil, padahal jalan sempit. Kalo udah dilewatin bis, dijamin susah nyelipnya. Saya pernah hampir ketabrak bis disini karena jalan ini nggak punya trotar. Heran sama pemerintah Sleman, rumah sakit pemerintah kok fasilitasnya begini -,-

6. Jalan Kusumanegara
Jalan seribu traffic light, saking banyaknya traffic light disini. Pusat keramaian terjadi kalo pagi berangkat sekolah, soalnya ini jalan favorit buat berangkat sekolah

7. Jalan KHA Dahlan

Jalan paling heterogen, ada andhong, bis kota, motor, sepeda, becak, truk, semua lewat sini, stressss

8. Jalan Kaliurang
Jalan seribu motor, karena daerah mahasiswa, jadi sering macet kalo jam berangkat sama pulang kampus

9. Jalan C Simanjuntak
Rame, karena ada tempat beli baju macem Karita, Pands, terus ada beberapa sekolah di sini

Kayaknya udah setahun nyiapin materi, tapi tetep aja kayaknya banyak yang nggak ada foto dan infonya nggak lengkap -,-

Lagi-lagi, ini subyektif saya, kalo ada yang mau nambahin, silakan lhooo, enjoy Jogja!

Finally I've Watched This: Ramayana Ballet Show

Terima kasih buat mas Fikri atas responnya di sini, dan atas ajakan nonton *akhirnya ada yang ngajak* dan segala foto-fotonya. Saya nggak bawa kamera karena dikirain nggak boleh bawa kamera -,- ternyata boleh, tapi bayar 5 ribu apa ya kalo gak salah...

Such a great show, kalian harus lihat teman-teman! Saya kalo diajak nonton lagi mau kok :)
Kalau nonton jangan lupa ambil selebaran sinopsis biar dong ceritanya apa, selebaran saya, saya lupa naruhnya jadi saya nggak bisa tulis di sini #lupa, mending nonton langsung aja! Dijamin nggak nyesel. Berikut beberapa fotonya...












Dapet foto sama pemeran Anoman juga :D


Find 3 Words

From this
saya: funny, broken, nice
yessss, saya masih tetap lucu dan bagus walaupun sedang rusak (?)

Pensil

Sebagai #edisiramadhan, saya mau posting sesuatu yang agak bermutu, diambil dari sebuah power point yang saya copy beberapa waktu yang lalu. Silakan dibaca :)
________________________________________________

Cerita Pensil

Suatu ketika, Pembuat Pensil berkata kepada pensil-pensil buatannya,

“Ada lima hal yang perlu kalian ketahui sebelum Aku mengirimkan kalian ke dunia. Ingatlah selalu kelima hal tersebut sehingga kalian dapat menjadi pensil terbaik sesuai kemampuan masing-masing”.


Pertama, kalian dapat mengerjakan berbagai hal luar biasa, tetapi hanya jika kalian berada pada tangan seseorang.


Kedua, kalian akan mengalami pengalaman menyakitkan setiap kali diraut, tetapi hal ini dibutuhkan agar kalian menjadi pensil yang lebih baik.


Ketiga, kalian memiliki kemampuan untuk memperbaiki setiap kesalahan yang kalian perbuat.


Keempat, bagian terpenting dari dirimu adalah apa yang ada didalam dirimu.


Kelima, apapun yang terjadi, kalian harus tetap menulis. Kalian harus meninggalkan tulisan yang jelas dan dapat dibaca meskipun menghadapi situasi yang sangat sulit.



Semua pensil memahami, berjanji untuk mengingat, dan masuk ke dalam kotak pensil dengan menghayati tujuan dari Pembuatnya.

Sekarang bayangkan pensil tadi adalah diri Anda; ingatlah selalu dan jangan lupakan, sehingga Anda dapat menjadi orang terbaik sesuai kemampuan masing-masing.

Pertama: Kita dapat mengerjakan berbagai hal luar biasa, tetapi hanya jika Kita menempatkan diri pada tangan Allah dan membiarkan orang lain mendapatkan manfaat dari kelebihan yang Anda miliki.

Kedua: Kita akan mengalami pengalaman menyakitkan setiap kali diuji melalui berbagai permasalahan, tetapi hal itu dibutuhkan agar Kita menjadi orang yang lebih baik dan lebih kuat.

Ketiga: Kita selalu dapat memperbaiki setiap kesalahan yang Kita lakukan atau tumbuh menjadi lebih baik melalui kesalahan-kesalahan tersebut.

Keempat: Bagian terpenting dari diri Kita adalah selalu apa yang berada didalam diri Kita.

Kelima: Pada setiap langkah kehidupan yang Kita jalani, Kita seharusnya meninggalkan karya dan amal kebaikan. Meskipun situasinya sangat sulit, Kita dapat terus berkarya dan beribadah kepada Allah melalui berbagai cara.


Setiap orang seperti sebatang pensil …
Kita diciptakan Allah untuk suatu tujuan yang unik dan khusus.

Dengan penuh pemahaman dan keikhlasan, marilah kita mengisi kehidupan kita di dunia dengan berkarya, beribadah, dan mengerjakan amal perbuatan yang baik serta terus mengingat Allah setiap hari.

Sendu

Akhirnya saya ngeblog lagi setelah sekian lama saya membiarkan blog ini jamuran, hahahhaa....
Ohya, postingan kali ini just photoblog, diambil dari bukit Boko, Pereng, Prambanan, tatkala sebagian besar pohonnya mengalami keguguran (?) dan terlihat rapuh. Enjoy! :D

 Candi Prambanan, kayak di kartupos. Coba saya punya kamera yang lebih bagus plus lensa telenya

Pohon di depan Museum Affandi, yang jadi inspirasi :)

 sendu ala saya

 sendu ala Dydhan

akhirnya bisa foto berdua -- using self timer, helm dan wadah kamera :p

Ohya ada yang menarik dari foto terakhir, ternyata kami berfoto di sebuah situs --yang kami nggak tahu namanya-- --yang akan saya posting dalam waktu dekat-- so please waiting :)
abcs