Iseng-iseng Berhadiah

Ceritanya saya lagi iseng ikut lomba yang diadain sama Balai Bahasa Yogyakarta. Semacam lomba esai untuk remaja (usia 12-19) tentang budaya, bahasa, sastra, gitu-gitu lah pokoknya. Ya sudah, dengan kekuatan Bandung Bondowoso, saya selesaikan esai 9 halaman ini dalam 3 jam, dan saya puas. Walaupun menurut saya ini acak-acakan dan jauh dari sempurna banget, ternyata juri berkata lain. Saya diundang presentasi di final 10 besar dan jadi Juara Pertama, alhamdulillah. Ini "sesuatu banget" buat saya, karena ini adalah penghargaan pertama yang saya dapat dari menulis esai. Enjoy :)
______________________________________________________________

Menulis Ilmiah dengan Mini dan Maya

Nurvirta Monarizqa
Teknologi Informasi
Universitas Gadjah Mada

Sejak usia berapakah kita bisa membaca? Tiga tahun? Empat tahun? Sejak usia berapa pula kita bisa menulis? Lima tahun? Saat duduk di sekolah dasar? Pertanyaan selanjutnya, sudah berapa huruf yang kita tulis hingga usia sekarang? Terakhir, sudah sejauh mana efek dari tulisan yang kita buat? Bermanfaatkah untuk sekitar kita? Apa tulisan yang kita buat selama ini hanya sebatas menunaikan tugas sekolah?
Menulis memang bukan hal yang asing bagi setiap orang. Apakah menulis itu? Membentuk karakter-karakter di atas media sehingga membentuk bahasa. Bahasa ini kemudian menjadi sarana yang dapat dimengerti satu orang dengan orang yang lain untuk menyampaikan ide dan gagasan.
Sejarah, kata ini tidak asing bagi kita. Ternyata kata “sejarah” secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri sejarah disebut تاريخ (tarikh). Kata “tarikh” dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah “waktu”. Lebih lanjut, kita kemudian mengenal zaman sejarah dan zaman prasejarah yang dibatasi oleh diperkenalkannya tulisan untuk mendokumentasikan peristiwa yang terjadi.
Zaman prasejarah sendiri telah berakhir 4000 tahun sebelum masehi di Mesir dan diperkirakan abad ke-5 di Indonesia. Ini berarti tulisan sudah menjadi warisan nenek moyang kita sejak ribuan tahun. Kala itu media yang digunakan berupa dinding, maupun batu prasasti, sehingga kita yang merupakan generasi penerus dengan segala fasilitas ini jauh lebih beruntung dalam mendokumentasikan peristiwa dan gagasan melalui segala media yang ada.
Menulis adalah penuang gagasan yang paling efektif. Tentu, menulis yang dimaksud di sini bukanlah sekedar menulis karangan maupun menulis puisi, melainkan menulis ilmiah. Menulis ilmiah adalah kegiatan kepenulisan yang bertujuan menghimpun gagasan atas permasalahan, mencari penyebabnya dari studi-studi dan metodologi yang dilakukan, kemudian mencoba menyimpulkan solusi yang cocok diterapkan menghadapi permasalahan tersebut berdasar penyebab yang ditemukan secara sistematis dan logis.
Tidak diragukan lagi, banyak perubahan dunia yang terjadi dari tulisan, seperti Kartini dengan kumpulan surat-suratnya yang dibukukan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dapat membuat penyetaraan hak antara perempuan dengan laki-laki.
Mengapa menulis ilmiah lebih efektif menuang gagasan? Karena media untuk menulis sangat banyak dan menulis membuat penulisnya lebih “tampak” dan “dihargai” intelektualitasnya. Dengan banyaknya media untuk menuangkan tulisan, gagasan tersebut akan lebih banyak menarik perhatian, lebih sistematis dan fokus, dibandingkan hanya dengan mengutarakan gagasan lewat perkataan.
Sebut saja demonstrasi yang sekarang marak dilakukan. Aksi-aksi ini seakan tidak pernah didengar oleh pemerintah yang menjadi obyek aksi. Hal ini disebabkan oleh kurang fokus dan sistematisnya gagasan yang disampaikan. Sebagai contoh, mahasiswa yang melakukan demonstrasi hanya meneriakkan “Turunkan harga! Rakyat Menderita”. Menurut aturan ilmiah, kebenaran “teriakan” ini tentu disangsikan karena tidak ada bukti yang mereka paparkan secara sistematis, dan didapat dari cara-cara yang ilmiah.
Di abad ke-21 ini, telah begitu banyak media yang digunakan untuk menuangkan gagasan melalui tulisan ilmiah, yang tentu akan lebih efektif dibandingkan berteriak-teriak di perempatan jalan seperti itu. Entah itu melalui jurnal dunia maya, portal surat kabar, maupun blog pribadi. Menulis pun mulai diminati oleh para remaja yang telah mengenal media-media tersebut. Namun sayang, tidak jarang kegiatan menulis hanya sebatas menuangkan permasalahan pribadi atau kata lainnya “curhat” via dunia maya. Sebut saja jejaring sosial “twitter” maupun “facebook” yang sering digunakan untuk meng-update status semata yang sering diistilahkan remaja sekarang sebagai “status galau”. Banyak motif yang melatarbelakanginya, sebagian besar menyebut agar eksis dan mendapat banyak perhatian dari teman-temannya.
Tidak banyak yang menggunakan jejaring sosial dan media menulis lain untuk menuangkan gagasan yang kritis, aktual, dan merupakan sebuah problem solving. Kompetisi menulis ilmiah seperti esai maupun penelitian pun menjadi sesuatu yang kurang populer, kurang diminati. Padahal, dari kompetisi menulis ilmiah ini dapat lahir gagasan-gagasan yang membantu memecahkan permasalahan negara. Sehingga sebagai negara berkembang, Indonesia sangat butuh pemikiran dari generasi penerus yang masih memiliki semangat berkarya ini guna memperbaiki bangsa.

Ketika Mini Menjadi Penghalang

Mini di sini bukan nama orang, maupun nama tokoh kartun. Mini berarti kecil, sedikit menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal-hal yang mini dapat menjadi penghalang dalam semangat kepenulisan ilmiah, antara lain
a.      Porsi yang mini
Kegiatan menulis ilmiah bukanlah makanan di restoran yang bisa dipesan porsi kecilnya. Jika memang kegiatan menulis ilmiah adalah makanan, dia harus disediakan dengan porsi yang besar, lengkap dengan lauk pauk yang mendukung makanan tersebut.
Di sekolah menengah, tempat remaja bergagasan cemerlang banyak ditempa ini, tidak banyak yang mengenalkan apa itu menulis ilmiah kepada siswa-siswanya. Biasanya, kegiatan ini hanya diintegrasikan ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia, yang menurut sebagian pelajar adalah pelajaran yang kurang menarik.
Akibatnya, tentu saja menulis ilmiah mendapatkan porsi yang kecil di dalam kegiatan belajar mengajar, padahal kegiatan menulis ilmiah seharusnya tidak diintegrasikan ke mata pelajaran Bahasa Indonesia semata, namun juga ke semua pelajaran.
Menulis ilmiah pada dasarnya harus memiliki landasan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, sehingga alangkah lebih baiknya porsi yang mini ini “dibesarkan” dengan diintegrasikan ke semua mata pelajaran. Integrasi ini bisa dalam bentuk pembuatan tulisan, mengkaji permasalahan aktual pelajaran tersebut, atau dalam bentuk observasi lapangan yang menyenangkan.
b.      Kesan yang mini
Remaja adalah agen perubahan dan agen pembawa pesan. Sifat remaja yang terbuka dengan sekitarnya untuk mendapatkan pengakuan dalam komunitas membuat remaja sangat mudah untuk mengambil “kesan”. Kesan yang diambil inilah yang kemudian mempengaruhi pemuda dalam bertingkah laku terhadap sesuatu yang memberi “kesan” tersebut.
Menulis ilmiah telah membekaskan “kesan” yang datar, cenderung menyeramkan dan membosankan. Hal ini adalah sebagai akibat dari poin sebelumnya, yaitu porsi yang mini, serta cara penyampaian materi menulis ilmiah yang kaku dan monoton.
Memang, dalam menulis ilmiah diperlukan langkah-langkah yang tidak boleh ditinggalkan agar tulisan tetap bersifat ilmiah. Menjelaskan tata cara memang membosankan jika tidak dibarengi dengan praktek, seperti seorang pembawa acara masak-memasak yang memperagakan resep tanpa memasaknya langsung. Jadi sebenarnya, “kesan” yang mini ini bisa dihindari dengan penyajian materi yang menyenangkan dan cenderung praktikal.
c.       Pendampingan yang mini
Kegiatan menulis ilmiah bukan pekerjaan Bandung Bondowoso yang “semalam jadi”. Dibutuhkan pendampingan-pendampingan dari mereka yang berpengalaman lebih untuk membimbing, mengkoreksi, dan memberi masukan dalam kegiatan menulis ilmiah. Inilah sebabnya di tingkat perguruan tinggi pasti ada Dosen pembimbing skripsi untuk mengerjakan skripsi.
Di tingkat sekolah menengah, pembimbing, lebih tepatnya pendamping, sangat dibutuhkan untuk mengarahkan siswa menulis ilmiah dengan benar. Agar lebih efektif, pendampingan harus dilakukan oleh mereka yang berpengalaman, pada bidangnya, namun dapat menyampaikan apa-apa yang dibutuhkan dengan bahasa remaja. Hal ini sangat bisa dilakukan oleh kakak-kakak mereka yang berada di perguruan tinggi.
Pendampingan semacam ini telah diterapkan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Tim Sagasitasnya, yang berisi sekumpulan mahasiswa berbagai bidang yang siap mendampingi siswa sekolah menengah berkegiatan ilmiah. Hal ini terbukti efektif karena setelah dilakukan pendampingan yang terarah, muncul prestasi-prestasi yang tercetak di tingkat nasional hingga internasional di bidang karya ilmiah dan penelitian.
Sayangnya, komunitas seperi ini masih belum banyak ditemui, sehingga tugas kita lah, mahasiswa untuk memiliki kesadaran dan menyadarkan kerabat-kerabat lain bahwa mendampingi adik-adik yang masih bersekolah untuk berkegiatan ilmiah adalah kegiatan yang banyak manfaatnya bagi kepenulisan ilmiah dan kemajuan bangsa ke depannya.
d.      Promosi dan inovasi yang mini
Bahasa adalah salah satu unsur yang dinamis. Terlebih menulis ilmiah, tidak akan pernah lekang dimakan zaman karena sangat dinamis dan mengikuti permasalahan di setiap zamannya. Tentu, berbeda zaman, berbeda pula pola remajanya. Remaja kini dimanjakan oleh kemudahan inovasi teknologi. Menulis ilmiah harus mengerti akan hal ini. Perkembangan harus disesuaikan sehingga promosi dan inovasi menulis ilmiah harus gencar dilaksanakan.
Sayangnya, promosi dan inovasi masih mini. Para “pengajar” masih kaku dengan cara menulis ilmiah lama, sehingga inovasi tersendat. Kemudian, promosi akan karya ilmiah dan segala keuntungannya menjadi jarang tersentuh oleh remaja.
Kurangnya promosi dan inovasi ini bisa menimbulkan anggapan bahwa kegiatan menulis ilmiah adalah kegiatan yang dilakukan mereka-mereka yang jenius, cupu, tidak populer. Padahal, kegiatan ini bisa dilakukan siapa saja di mana saja. Adalah tugas kita bersama untuk kembali menumbuhkan promosi dan inovasi di bidang kepenulisan agar setara dengan zamannya.
e.       Penghargaan yang mini
Apa yang didapat dari menulis ilmiah? Tentu pengetahuan dan kepuasan batin ketika dapat memecahkan masalah dan bermanfaat bagi sekitar. Tapi jika hasil menulis ilmiah yang dilakukan akhirnya hanya menjadi kenangan di atas kertas semata, tidak ada tindak lanjut, akan sungguh disayangkan karena kesempatan memperbaiki bangsa ini menjadi tersendat.
Kurangnya penghargaan yang diberikan kepada kegiatan kepenulisan ilmiah membuat kurangnya motivasi. Penghargaan ini dapat berupa moral maupun material. Moral adalah dengan diwujudkannya gagasan yang telah dituliskan dan material adalah dengan pemberian sejumlah balas materi atas gagasan seperti uang misalnya.
Inilah yang kemudian mengakibatkan peserta audisi Indonesian Idol, atau ajang pencarian bakat lainnya menjadi lebih banyak ketimbang peserta lomba kepenulisan ilmiah. Hadiah yang ditawarkan, fame yang diberikan, dan kesempatan berkarya menjadi lebih luas.
Sangat ironis, ketika pejuang di bidang ilmu pengetahuan dan perubahan nyata seperti ini justru mendapat apresiasi yang kurang jika dibandingkan dengan kegiatan hiburan.

Ketika Mini Menjadi Solusi

Indonesia adalah negara dengan pengguna internet kelima terbanyak di dunia yaitu sejumlah 45 juta orang melalui desktop, dan diperkirakan sebayak 150 juta orang melalui telepon genggam di semester pertama tahun 2011, yang naik 70% dari tahun sebelumnya. Sayangnya, 60% mobile internet yang dilakukan hanya berkutat di social media saja, berupa berbagi status maupun bercakap-cakap. Lebih detail, Indonesia adalah negara pengguna Twitter terbesar ketiga di dunia dengan 5 juta akun dan 1,6 juta tweet yang beredar tiap harinya, serta pengguna Facebook terbesar kedua di dunia.
Hal ini didukung oleh presiden kita, seperti dikutip pada Detiknews, "Kami memiliki 'kolam' besar penduduk muda. Sekitar 50 persen dari 240 juta penduduk Indonesia di bawah usia 29 tahun," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberikan sambutan dalam Overseas Private Invesment Corporation (OPIC) yang berlangsung di Ballroom Hotel Sangri La, Jakarta, Rabu, 4 Mei 2011. Beliau melanjutkan, "Pemuda kami ini bisa dibilang paling 'connected'. Saat ini kita adalah pengguna Facebook tertinggi kedua di dunia, dan tertinggi ketiga pengguna Twitter. Ini bukan cuma bentuk kepercayaan diri dan bentuk nasionalisme saja. Tapi ini adalah sikap terbuka kreatif, sebuah keyakinan bahwa keterlibatan kami dengan dunia membuat kita lebih kuat, lebih aman, dan lebih baik,"
Jumlah pemuda yang banyak dan connected, penggunaan internet dan social media yang besar ini bisa menjadi cara baru dalam menghadapi porsi, kesan, pendampingan, inovasi, promosi dan penghargaan yang mini ini
Pertama, dari jejaring sosial Twitter. Microblogging 140 karakter yang sukses mendapatkan lebih dari 200juta pengguna hanya dalam waktu 5 tahun sejak dipublikasikan ini membuat orang semakin keranjingan Twitter karena mau tidak mau mereka harus terus menerus posting tweet mereka agar dapat tetap bercakap-cakap di timeline bersama teman-teman di twitternya.
Twitter pun berkembang fungsinya dari yang tadinya situs jejaring sosial untuk berbagi status atau apa yang sedang anda lakukan hari ini menjadi sarana promosi. Entah itu bisnis, kegiatan, maupun berbagi tulisan. Sebut saja akun @poconggg yang berbagi tulisan hingga kemudian menerbitkan buku. Akun @terselubung yang me-link twit-nya ke posting-posting blog yang memuat fakta-fakta yang tidak banyak diketahui, akun @mbljr yang berbagi pengetahuan, akun @gnfi yang membagikan kabar-kabar baik dan membanggakan dari Indonesia, maupun akun-akun artis yang mempromosikan kegiatannya.
Begitu pula kegiatan menulis ilmiah. Pendampingan, kesan dan promosi bisa dilakukan pihak yang terkait dengan membuat akun mengenai kepenulisan. Bisa berupa akun konsultasi kepenulisan, maupun akun pemberi semangat bagaimana cara menulis dan apa saja benefit yang didapatkan.
Kemudian sebagai inovasi prakteknya, remaja bisa diajak membuat twit mereka berisi sesuatu yang kritis, mengomentari atau memberi informasi mengenai hal aktual. Kegiatan ini sering disebut dengan kultwit (kuliah twitter) dimana twit satu bersambung dengan twit yang lain hingga apa yang dikuliahkan ini selesai.
Pelaku kultwit akan terlatih dan ketagihan untuk berbagi dan kritis dengan sekitar, dan tentu, di twitter seperti ada hukum “banyak memberi info, banyak yang memfollow” sehingga tentu mereka akan mendapatkan follower yang lebih banyak. Semakin banyak follower, maka akan semakin “tinggi” juga gengsi yang didapatkan. Sebagai anak muda yang menjadikan pengakuan dan eksistensi adalah parameter keberhasilan bergaulannya, tentu hal ini bisa dijadikan ajang mengkompori remaja bertwitter yang sehat dan bermanfaat.
Selain itu, twitteran dengan memfollow akun-akun yang bermanfaat akan memancing penggunanya untuk ikut kritis menanggapi masalah. Diskusi-diskusi berupa tanya jawab pun tidak jarang terjadi sehingga menghasilkan ide. Ide-ide yang datang dari twitter ini dapat dikumpulkan sebagai ide menulis ilmiah.
Selain dari twitter, ide bisa datang dari grup-grup yang diikuti di jejaring sosial Facebook. Tak jarang, banyak pembicaraan yang melatih kekritisan dan cara menyampaikan pendapat yang baik kepada orang lain. Ini akan berguna untuk berlatih bersosialisasi dan mengemukakan pendapat.
Kedua, ke situs media penulisan. Saat ini ada sekitar 60 juta pengguna blog di seluruh dunia. Blog ini dapat digunakan sebagai sarana mengemukakan pendapat secara panjang. Jika twitter hanya 140 karakter sehingga hanya bisa digunakan menampung ide, blog atau pun website adalah sarana untuk mengembangkan ide menjadi tulisan yang utuh dan komplit. Fakta-fakta pendukung tulisan ilmiah pun bisa didapatkan di banyak tempat, entah itu bertukar pranala saat diskusi, observasi sosial dunia maya melalui jejaring sosial, wawancara melalui chatting internet, maupun penjelajahan web.
Awalnya, mungkin menulis blog hanya yang berkesan untuk pribadi, namun dengan terbiasa kritis dari diskusi tadi, blog dapat menjadi sarana ampuh untuh mendapatkan “massa” dalam melontarkan opini dan tulisan ilmiahnya.
Ketiga, tentu mencetak atau mempublikasikan ke media yang lebih besar, seperti diikutkan kompetisi, ataupun dimasukkan ke media massa. Di sini apresiasi dan penghargan yang mini tadi akan lebih besar diberikan. Masyarakat dunia maya Indonesia adalah masyarakat yang sangat solid dan mudah dipengaruhi, terbukti dari seringnya Trending Topic  pada Twitter yang berasal dari Indonesia. Kekuatan ini dapat dimanfaatkan untuk menjadikan tulisan kita mendapat apresiasi dan penghargaan yang lebih, karena memiliki banyak pendukung.
Penghargaan secara materi juga banyak diberikan di dunia maya. Lomba blog, artikel dengan hadiah yang besar banyak diberikan. Ini karena dunia maya adalah lahan yang baik untuk berbisnis dan berpromosi, sehingga sponsor yang mengakibatkan banyaknya hadiah akan lebih mudah didaptkan.
Akhirnya, tulisan pun selesai. Menulis ilmiah di abad 21 ini sangat banyak medianya, dan terbukti dapat menumpas keminian yang selama ini terjadi jika kita jeli dalam melihat peluang. Remaja adalah generasi penuh semangat yang justru bahaya jika semangatnya tidak diarahkan dan disalurkan ke media yang baik.
Menulis ilmiah adalah sarana tepat untuk mendidik dan membentuk karakter generasi penerus bangsa sebagai generasi cerdas, kritis dan berprestasi. Di era globalisasi ini, sudah saatnya menulis  ilmiah berakulturasi dengan dunia maya melahirkan penulis-penulis ilmiah dengan gagasan yang orisinal, tepat sasaran, dan mampu memecahkan persoalan bangsa.


1 Response
  1. Yan Restu Freski Says:

    Khakha, terkadang esai bisa jadi ajang curhat kita mon.

    _penghargaan mini

Posting Komentar

abcs