Piknik Oktober Part 2 - geMasTik 2011

Selasa, 11 Oktober 2011, setelah malamnya akhirnya dapet penginepan di Cibubur, rombongan berangkat ke Kemendiknas lagi. Guess what perjalanannya 2 jam -,- sampe telat ikut pembukaan OPSI, yang dibuka sendiri oleh Pak Mendiknas Muhammad Nuh. Saya cuma sempet sarapan, terus cus naik jalan kaki naik busway ke Blok M untuk cari Damri ke bandara. Sebenernya haltenya gak jauh, yang bikin capek adalah harus lewat jembatan penyebrangan dengan membawa bawaan yang berat -,-

Sampai, ternyata mencari Damri tidak semudah yang saya bayangkan. Saya turun di terminal dan ternyata Damrinya di depan Blok M Plaza, jalan lagi deh menantang panas Jakarta, apalagi saya pake batik dan jaket tebel, not recommended. Alhamdulillah sampai Damri, saya bisa istirahat. Semua berjalan lancar sampai saya mengetahui Damri ini lewat Senayan, lewat depan Kemendiknas gedung D, dan ada orang yang ngawe, terus bis ini berhenti untuk menaikkannya. GONDOK banget rasanya begitu tahu bis ini bisa dicegat di depan Kemendiknas begini...

Sampai suhat, naik Citilink, sampe Juanda, kemudian dijemput kedua orang ini --> Trias dan Ema. Belum selesai saya selonjoran, tau-tau saya udah sampe ITS aja buat Technical Meeting lomba geMasTik dan Welcome Party. Untungnya kami, tim Capslock dapat undian 12 yang berarti maju presentasi lusa. Akhirnya malam ini bisa selonjoran dan tidur tenang... :D

tim geMasTik JTETI UGM

Next day, kami nonton presentasi finalis yang lain. Saya dan dua teman saya ini ikut kategori Web Design, dan ini web yang kami buat: //gemastik.emartindonesia.com, supermarket online. Saya sempat ciut mental melihat finalis lain yang bagus-bagus. But I love this! Ini atmosfer favorit saya, atmosfer kompetisi yang membuat saya terpacu untuk menjadi lebih baik di antara yang lain :D

Gembiranya, saya mendapat kabar dari Jakarta bahwa DIY memboyong 2 emas (Bintang dan Febri), 3 perak (Nita, Nurul, Ridwan), 1 perunggu (Maulida) dan 4 special award (Rahmat, Joyo, Nurul, Bintang) dalam OPSI 2011 :D


Oke, next tinggal saya yang deg-deg an untuk presentasi keesokan harinya. But alhamdulillah, ternyata semua lancar. Saya sudah merasa done my best dan tinggal menunggu hasilnya saja :)


Menunggu pengumuman, kami ke Galaxy Mall untuk nonton Smurf. So smurfellous.... Ini akibat segala kesuraman yang terjadi selama di Surabaya, sehingga kami butuh hiburan, hahahaha... Dan tibalah saatnya pengumuman...


Alhamdulillah got the 2nd place :')

UGM menempati peringkat ke-4 dengan 1 perak dan 1 perunggu (bidang aplikasi), dan juara umum diraih oleh ITS, selengkapnya bisa dilihat di sini Alhamdulillah banget pokoknya, terima kasih untuk semua yang telah mendukung kami sehingga menjadi seperti ini :)

Saya iri sama ITB, UI, ITT, ITS yang sangat concern dengan lomba ini, karena UGM gak seconcern ini :(. ITB contohnya, mereka sampai sewa bis sendiri *yang bisnya sempat kami, tim UGM tebengin karena ketinggalan bis panitia*. Semoga ke depan UGM bisa lebih perhatian dengan lomba semacam ini sehingga juara umum tahun depan dan seterusnya bisa direbut UGM, amin :)

Piknik Oktober Part I - OPSI 2011

Jadi ini ceritanya mulai Sabtu, 8 Oktober 2011 ini saya dan Sagasitas Crew yang lain (Mas Zainal, Mas Ujang, Mas Azmi, Mas Vando, Mas Fahri, Mas Dani, Mas Adit, Mas Canggih, Mas Fajar, Nuha -- dan saya menjadi sole female seperti biasa) menjadi pasukan berjaket putih mengantarkan kontingen OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) dari DIY.

Dari Jogja, kami ber-48 yang terdiri dari 11 tim OPSI, guru pembimbing dan kami pasukan berjaket putih naik bus yang emang sengaja kita carter biar mobilitasnya gampang. Busnya bagus bet. Oke, setelah mengecek segala macam administrasi yang membutuhkan ekstra emosi ini kami berangkat menuju Jakarta.

Sampai pagi hari, kami ke Kantor Perwakilan Daerah DIY di daerah Menteng. Di sini kami masih mengurusi segala macam atribut administrasi, melengkapi ini itu dan bla blabala yang membakar emosi karena gak beres-beres. Kaperda yang mewah ini pun seketika tersulap menjadi lautan leptop dan kertas

ada yang mengurus karya yang belum kelar, saya sendiri ngerjain PR jarkom yang harus dikumpul hari itu *suram*

rapat sebelum capcus


Ada cerita miris waktu ngurus administrasi. Kan ketua tim semua menginap di Wisma Depsos nih, ada yang administrasinya belum lengkap, surat izin orang tua dan beberapa karya. Saya dan mas Adit "Genter" kemudian menculik Nuha untuk nganterin kami ke printshop. Karena banyak, ngeprintnya lama. Mas genter balik ke Wisma Depsos dan tinggalah saya berdua sama Nuha di printshop dan ternyata tidak satu pun dari kami bawa duit cukup -,- kenapa di saat-saat gak hoki begini partner sial saya selalu si Nuha --'

Akhirnya dipanggillah mas Ujang yang akhirnya berjalan ke printshop sekilo jauhnya buat minta duit, dan kata pertama begitu tau kami nggak bawa duit adalah "WUEDJIAAAAAAAAN" wakakakkaka....

Next day, setelah malemnya nggak dapet penginapan dan balik ke Kaperda (dan saya dengan suramnya take assessment Cisco di tempat tersebut jam 1 malam), kami loading barang untuk pameran esok hari di gedung D Kementrian Pendidikan Nasional Senayan. Karena pagi-pagi belum ada yang buka, saya dan Nuha nganter adek-adek makan di KFC Ratu Plaza, sebelah Kemendiknas, dan guess what... duitnya kurang lagi -______- untung Nuha bawa duit tambahan jadi nggak usah manggil mas Ujang lagi, wkwkwk...



Sayang, saya hanya bisa menemani rombongan ini hingga Selasa pagi. Siang saya harus cuss ke Surabaya. Doa saya adalah semoga Jogja mendapat yang terbaik di kompetisi ini, amin... Mau tau ngapain saya di Surabaya, tunggu part 2 ya....

Bersambung...

First

Saya tidak pernah meminta untuk terlahir menjadi anak pertama, tapi memang Allah yang kemudian mentakdirkan saya sebagai seorang anak pertama. 

Subyektif memang ketika saya bilang bahwa jadi anak pertama itu susah (karena semua anak juga merasa susah mengemban amanah jadi anak), terutama adalah tanggung jawab menjadi seorang kakak, kakak tertua. Tapi saya kemudian menulis kesusahan-kesusahan saya ini bukan untuk pamer atau mengeluh, saya hanya sedang ingin reflect, apakah saya sudah menjadi kakak yang baik untuk adik saya.

Anak pertama mau tak mau menjadi harapan keluarga. Diharap bisa membantu keluarga, diharap bisa menjadi contoh untuk adik-adiknya. Sehingga tak jarang orang tua lebih mempercayakan hal-hal berbau teknis dan pengambilan keputusan ke anak pertama daripada adik-adiknya. Contoh gampang aja nih, di keluarga saya, semua tanggung jawab barang elektronik ada di saya, printer lah, TV, dll jadi kalo ada yang nggak beres pasti manggil saya, padahal adek saya juga bisa. Tapi orang tua lebih trust ke saya yang anak pertama.

Anak pertama adalah panutan adik. Ini hampir terjadi di keluarga mana pun. Di awali dengan adik yang ingin barang-barang yang dibelikan orang tua untuk si kakak, hingga orang tua yang sering membandingkan anak pertama dengan adik-adiknya "Jadilah seperti kakakmu, bla bla bla bla" yang kemudian membuat adik, entah itu tertekan, entah itu termotivasi menjadi seperti kakaknya, atau bahkan lebih. Walaupun saya tahu, sebenernya mereka tidak suka dibanding-bandingkan dengan kakak mereka. Hal ini yang sebenarnya sering membuat saya miris sendiri, adalah ketika mereka kemudian tidak bisa mencapai target mereka yang adalah menjadi seperti kakaknya

Saya sendiri kemudian, merasa belum bisa jadi kakak yang baik untuk adik saya ketika tidak bisa membantunya mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sering yang dilakukan kakak adalah mengalah, agar si adik senang. Membuat adik senang kemudian adalah tugas utama kakak. Saya tidak ingin membuat adik saya sedih dengan pertengkaran yang remeh. Saya tidak ingin membuat adik saya merasa saya adalah rivalnya, dan jujur, saya tidak ingin adik saya tertekan karena saya. Saya ingin dia menjadi dirinya sendiri.

Semakin besar, saya sadar adik saya bukan anak kecil lagi. Entah kenapa kemudian saya sering merasa kehilangan adik saya yang lucu dan manja. But all grown up. Saya hanya bisa berharap kamu bisa menjadi manusia yang kemudian berguna dan berbakti pada orang tua.

Love you bro :')
Your Sister :*

Ditulis setelah mengetahui adik saya baru kecelakaan, dan ternyata, semenyebalkan apapun dia, saya tidak mau kehilangan dia


Rahasia

"Mungkin banyak orang yang menyangka saya nggak pernah gagal atau selalu sukses dalam segala hal. That's wrong. Saya pernah gagal dan kegagalan itulah yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Experience is the best teacher, and I'm not as perfect as you think :p"

 ----------- Nurvirta Monarizqa
abcs