First

Saya tidak pernah meminta untuk terlahir menjadi anak pertama, tapi memang Allah yang kemudian mentakdirkan saya sebagai seorang anak pertama. 

Subyektif memang ketika saya bilang bahwa jadi anak pertama itu susah (karena semua anak juga merasa susah mengemban amanah jadi anak), terutama adalah tanggung jawab menjadi seorang kakak, kakak tertua. Tapi saya kemudian menulis kesusahan-kesusahan saya ini bukan untuk pamer atau mengeluh, saya hanya sedang ingin reflect, apakah saya sudah menjadi kakak yang baik untuk adik saya.

Anak pertama mau tak mau menjadi harapan keluarga. Diharap bisa membantu keluarga, diharap bisa menjadi contoh untuk adik-adiknya. Sehingga tak jarang orang tua lebih mempercayakan hal-hal berbau teknis dan pengambilan keputusan ke anak pertama daripada adik-adiknya. Contoh gampang aja nih, di keluarga saya, semua tanggung jawab barang elektronik ada di saya, printer lah, TV, dll jadi kalo ada yang nggak beres pasti manggil saya, padahal adek saya juga bisa. Tapi orang tua lebih trust ke saya yang anak pertama.

Anak pertama adalah panutan adik. Ini hampir terjadi di keluarga mana pun. Di awali dengan adik yang ingin barang-barang yang dibelikan orang tua untuk si kakak, hingga orang tua yang sering membandingkan anak pertama dengan adik-adiknya "Jadilah seperti kakakmu, bla bla bla bla" yang kemudian membuat adik, entah itu tertekan, entah itu termotivasi menjadi seperti kakaknya, atau bahkan lebih. Walaupun saya tahu, sebenernya mereka tidak suka dibanding-bandingkan dengan kakak mereka. Hal ini yang sebenarnya sering membuat saya miris sendiri, adalah ketika mereka kemudian tidak bisa mencapai target mereka yang adalah menjadi seperti kakaknya

Saya sendiri kemudian, merasa belum bisa jadi kakak yang baik untuk adik saya ketika tidak bisa membantunya mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sering yang dilakukan kakak adalah mengalah, agar si adik senang. Membuat adik senang kemudian adalah tugas utama kakak. Saya tidak ingin membuat adik saya sedih dengan pertengkaran yang remeh. Saya tidak ingin membuat adik saya merasa saya adalah rivalnya, dan jujur, saya tidak ingin adik saya tertekan karena saya. Saya ingin dia menjadi dirinya sendiri.

Semakin besar, saya sadar adik saya bukan anak kecil lagi. Entah kenapa kemudian saya sering merasa kehilangan adik saya yang lucu dan manja. But all grown up. Saya hanya bisa berharap kamu bisa menjadi manusia yang kemudian berguna dan berbakti pada orang tua.

Love you bro :')
Your Sister :*

Ditulis setelah mengetahui adik saya baru kecelakaan, dan ternyata, semenyebalkan apapun dia, saya tidak mau kehilangan dia


3 Responses
  1. Yan Restu Freski Says:

    Eh, mon, kecelakaan dimana dia? parah ya? masuk rumah sakit?

  2. Nurvirta Monarizqa Says:

    untungnya gak papa kok yan, cuma lecet dan bengkak-bengkak :)

  3. dydhan Says:

    huaaaa, jadi mak jleb jleb...
    adikku :'(

Posting Komentar

abcs