Movember Part 6: Let’s Play in Singapore!

Posting ini adalah lanjutan Movember yang sebelumnya. Part ini akan menceritakan beberapa pengalaman ketika kami sudah tiba di Singapore, setelah hari sebelumnya kami bertolak dari Air Asia menggunakan bus selama 6 jam untuk mencapai Singapore.

CIMB Singapore, Hi Tech Bank

16

One more finance. Kali ini dibawakan langsung oleh CEO CIMB Singapore. Apa yang membuat saya menarik adalah ketika mengetahui bahwa CIMB Singapore hanya memiliki 2 cabang fisik dan 6 ATM fisik namun jumlah nasabahnya tiap tahun berkembang dengan cepat.

That’s what I called hi-tech bank karena mereka kemudian memaksimalkan internet banking untuk aktivitas banking sehari-hari mengingat di Singapura, semua tempat sudah terjangkau internet dengan koneksi yang cepat sehingga ini tidak menjadi masalah.

17

Mejeng dulu.

 

Universal Studio Singapore!

Best part dari trip ini, akhirnya setelah tahun lalu cuma bisa foto sama globenya, tahun ini saya benar-benar masuk ke USS, GRATIS! :3

18

see a couple of gay there? :&

19

beberapa wahana awal yang kami coba

20

what a trap, ternyata Pyramid ini isinya ROLLER COASTER :& dan si Gilang cupu nggak berani cobain wahahaha

21

Transformer Ride 3D, kita akan dibawa ke dunia Transorfmer, mengendarai mobilnya, berubah, balapan, dan bertarung. The most awesome!

22

Si Ihsan alias Nizam nyobain roller coaster jumbo ini, foto di atas adalah before (kiri) dan after (kanan) nya

24

New Partners in crime: saya, Gilang, Nuha, ditambah Ihsan, Berti sama Nyoman

23

sempatin liat pertunjukan Madagascar

 

Sentosa, Luge, Song of The Sea, Crane Dance

Mainnya nggak cukup itu saja, kami ke Merlion Sentosa. Di sini saya dan dua partner in crime saya Gilang dan Nuha sebenernya sudah tidak cukup interest berfoto di sini. Wes tau Smile with tongue out

25

yang menarik adalah excitement setelah itu, ke pantai, ada Luge, semacam papan seluncur atau laker yang mana kalau mau main harus naik kereta gantung dulu *part ternyeremin*, terus malemnya nonton Song of The Sea dan Crane Dance. Awesome show is awesome!

26

dan saya pulang dengan gembiraaaaa… Tapi ceritanya belum selesai, masih

Bersambung….

Movember Part 5: Air Asia Malaysia, Inspiring!

Bagian ini adalah lanjutan dari sequel Movember yang kayaknya bakal sampai season Ramadhan hahaha… Jadi dianjurkan membaca Part 4 nya terlebih dahulu. Baca dari Part 1, terus dilanjut Part 2 dan Part 3 boleh juga lho…

 

KBRI Tersibuk di Dunia: KBRI Kuala Lumpur

9

Sedikit belajar tentang politik Luar Negeri, itulah yang didapatkan dari kunjungan kami keesokan harinya ke KBRI Kuala Lumpur. Sedikit terlambat, kami tidak bisa berjumpa dengan bapak Kepala Bagian Penerangan, Sosial dan Budaya, Bapak Suryana Sastradireja. Beruntung, kami masih bisa berdiskusi dengan ibu Dewi yang mewakili beliau.

Seperti finance, I’m also have no interest in International Relation. Tapi so far, ibu Dewi cukup baik memberikan penjelasan mengenai bagaimana peran KBRI menghadapi isu-isu yang berkembang dewasa ini seperti TKI on sale misalnya.

Satu hal yang menjadi sorotan saya karena saya adalah anak Teknologi Informasi adalah kurangnya KBRI melakukan ekspos berita positif untuk menangkal berita-berita negatif. Padahal, KBRI Kuala Lumpur memiliki kewenangan yang besar untuk melakukan hal tersebut. Berita yang positif akan menumbuhkan optimisme di Indonesia. Sebagai contoh pemuatan berita WNI yang sukses memiliki usaha di Malaysia, efeknya kita jadi tahu bahwa “oh ternyata orang Indonesia bisa jadi bos di Malaysia, tidak hanya sebagai bawahan yang selalu disuruh-suruh”, atau “Oh, saya bisa juga berinvestasi di Malaysia, sumbangsihnya akan jauh lebih besar ketimbang hanya menjadi TKI”. Saya yakin sebenarnya KBRI bisa melakukan ini karena faktanya memang banyak orang Indonesia yang sukses demikian, sedihnya, kurang terekspos.

Selesai siang hari, kami makan dan beli oleh-oleh, dan foto di Petronas

10

Coklat Beryl’s enak banget sodara-sodaraaaaaa…

And then kami cuss ke Air Asia Smile

 

The Very Inspiring Air Asia

11

12

image

Scholars were very lucky dapat mengunjungi Kantor Air Asia di LCCT KLIA, double combo luckies karena sempat bertemu dengan CEO nya yang legendaris, Tony Fernandes. Saya juga merasa sangat beruntung karena akhirnya tidak harus berjibaku lagi dengan finance maupun politik. Saya juga mendapat combo keberuntungan karena pelajaran yang didapatkan sangat menginspirasi hidup saya hari ini.

Everyone is happy

14

Sekeliling, saya melihat para karyawan sangat bersahabat satu sama lain. Tempat ini adalah tempat di mana orang bekerja dengan bahagia. Dengan memiliki rasa senang ketika bekerja, tentu bekerja menjadi lebih ringan seperti tanpa beban sehingga hasilnya tentu dapat maksimal.

Mandiri dan Kreatif

13

Sementara maskapai lain menggunakan pihak ketiga untuk membuat sistem online bookingnya, Air Asia membuatnya sendiri di seluruh lini sistem termasuk server. Keuntungan pertama, monitoring dapat dilakukan secara maksimal karena tentu lebih mudah dipantau mengingat jaraknya yang secara fisik “dekat” antara server, administrator dan sistem. Akibatnya, keamanan yang prima dapat dimiliki,

Keuntungan kedua adalah menekan biaya karena sebagai Budget Airlines Air Asia diharuskan menekan biaya seminimal mungkin dan keuntungan ketiga, sebagai maskapai yang memang sangat berfokus pada online ticketingnya, mereka bisa melakukan kustomisasi sesuka hati pada sistem, seperti memperbaharui tampilan web. Tentunya lebih kreatif juga karena yang membuatnya adalah karyawan sendiri yang mengetahui seluk-beluk Air Asia, selain juga karena mereka melakukannya dengan gembira.

Openess

15

Baris tengah adalah meja pak Tony, berbaur dengan meja karyawan lain, yang membedakan hanyalah tempelan topi di dinding wkw

Tidak ada dinding antara satu kantor dengan kantor yang lain. Saya hanya menjumpai teralis kayu yang mengitari setiap ruangan sehingga apa yang dilakukan di sebuah ruangan kantor bisa dilihat oleh yang lain. Termasuk dengan meja Tony Fernandes, tidak ada sekat ruangan, berbaur dengan pegawai yang lain. Filosofinya adalah openess atau keterbukaan. Bekerja dengan keterbukaan membuat semuanya menjadi transparan dan tentu dapat meminimalisasi rasa curiga atau timbulnya dugaan-dugaan negatif yang dapat merusak kinerja perusahaan.

Natural Disaster, Culture Preservation, Human Trafficking

Air Asia tidak memiliki kegiatan Social Corporate Responsibility secara khusus. Mereka mengintrepretasikan “social responsibility” dengan sudut pandang yang lebih luas. Dengan cara mereka membuka rute “aneh” misalnya. Aneh di sini adalah mereka membuka penerbangan ke tempat yang bahkan orang tidak ingin pergi ke tempat tersebut, tahu saja tidak. Namun ternyata efeknya besar. Mereka menjadi “pembuka lahan” dengan mendatangkan pengunjung, wisatawan ke tempat tersebut hingga akhinrnya “tempat yang tidak diketahui dan diinginkan untuk didatangi siapa pun” tersebut berkembang ekonominya dan bertumbuh karena ada akses transportasi yang disediakan Air Asia. It gives broader-look and huge benefits better than just make a social event in a place in a narrow time.

Selain itu mereka juga sangat concern dengan Natural Disaster, seperti menjadi maskapai yang terbang ke Aceh saat Tsunami kala semua maskapai tidak ada yang berani terbang ke sana.

Namun mulai Januari 2013, Air Asia akan membuat Air Asia Foundation yang akan mengorganisir CSR ini menjadi lebih real dengan berfokus pada empat hal seperti penerbangan “aneh” tadi, membantu pemulihan daerah terkena bencana alam, melestarikan kebudayaan dan mencegah perdagangan manusia.

We hire real person wih real friends, not fake person with just facebook or dogs

That’s what Yvonne have said ketika kami bertanya kriteria orang macam apa yang diterima bekerja di Air Asia. Simple sekali ternyata, dan mengena.”I will work with you 8 hours a day so it will be disaster if I feel not comfort working with you”, tambahnya. Sekali lagi, kemampuan komunikasi dan bergaul memang sangat penting. Sayangnya, kemampuan ini sekarang cukup langka mengingat dunia maya dewasa ini kadang menjadi penghambat berkembangnya seni komunikasi langsung pada individu.

Dalam sekali makna pesan yang terakhir ini. Memang benar bahwa dunia maya kadang mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Seni komunikasi langsung menjadi hilang seiring dengan banyaknya orang yang lebih suka “menunduk” ketika berada di antara banyak orang, bukan mengajaknya ngobrol. Semoga kita bukan salah satunya

Bersambung……

Movember Part 4: Belajar Finance di Kuala Lumpur

Oke, setelah Movember di Jepang 12-17 November (Part 1, Part 2 dan Part 3), Episode Movember selanjutnya adalah Titian Muhibah 19-22 November 2012.

Ceritanya, Beasiswa Unggulan yang tercinta ini pengen memberikan apresiasi kepada Scholars-nya yang berprestasi melalui program Titian Muhibah ini, jadilah kami para scholars disuruh ikut seleksi. Seleksinya aneh-aneh, disuruh bikin profil diri, laporan akademik, prestasi, sosial, terus kirim foto diri yang menarik *speechless*

Alhamdulillahnya lolos sih :)) Jadilah saya marathon habis ke Jepang terus ikut trip nggak jelas ini (lha nggak tau mau dibawa ke mana aja). Ternyata total ada 24 scholars yang diajak, gabungan dari scholarsnya BU CIMB Niaga sama BU mandiri (murni dibiayai Kemendikbud tanpa sponsor). Se-trip lagi deh sama Nuha, sama Gilang, jadi de javu perjalanan tahun lalu wkwkw. Disclaimer, saya scholars BU mandiri, dan trip ini disponsori CIMB. Jadi…… Kebayang kan tripnya akan seperti apa?? Kalo belum yaudah sih disimak saja cerita-cerita di bawah ini

 

The Great CIMB Malaysia

Trip dimulai 19 November, pagi. 17 November saya masih di Jepang, sempat 3 jam di Korea, 18 November di Jakarta, dan 9 November di Malaysia. Super sekali. Naik Mandala Air, kami mendarat di LCCT KLIA dan kemudian langsung ke kota, makan siang

1

dan saya tidak doyan makanannya sodara-sodara…… :&

Saya berasa KKL (Kuliah Kerja Lapangan, semacam kunjungan Indsutri) di sini. Padahal KKL kampus saya baru tanggal 26 besok (akan diceritakan di part Movember yang lain) karena ternyata kami akan mengunjungi banyak perusahaan. Destinasi pertama kami adalah CIMB Malaysia. Kantor CIMB ini kebetulan tidak jauh dari Rumah Makan Warisan tempat kami makan siang.

2

Disambut dengan sangat baik, kami masuk dalam sebuah ruangan untuk kemudian mendengarkan talkshow

3

Personally, I’m not interested so much in finance :&, berbeda dengan teman-teman dari Beasiswa Unggulan CIMB yang memang setelah lulus diplot untuk bekerja di CIMB sehingga sangat tertarik dengan sesi kunjungan ini. Kami Para Scholars berjumpa dengan Jenda dan Albert untuk melakukan diskusi mengenai apa dan bagaimana bekerja di CIMB termasuk di dalamnya proses TCB.

TCB adalah proses setahun berupa pendidikan menyeluruh mengenai perbankan. Jenda dan Albert sendiri merupakan dua diantara lulusan terbaik TCB Indonesia sehingga mereka berkesempatan mencicipi karir di CIMB Malaysia.

Terlepas dari seperti apa rasanya bekerja di sektor finance, ada banyak pelajaran mendasar yang didapatkan dari diskusi bersama kedua orang yang luar biasa ini.

Jadilah orang dengan ketrampilan komunikasi yang baik

Menjadi pintar saja tidak cukup di dunia kerja. Bertemu dengan orang, meyakinkan orang lain adalah hal yang harus dikuasai agar bisa survive. Kedua TCB graduates ini sudah membuktikannya sendiri.

Jadilah orang yang well prepared

Jenda dan Albert ternyata hanya diberitahu ada kunjungan dari Titian Muhibah sekitar dua hari sebelumnya, tapi mereka mampu meng-handle acara ini dengan baik. Ini karena kedua orang ini sudah terbiasa siap dalam kondisi apa pun (well-prepared).

Jadilah orang yang berwasan luas namun tidak sok tahu

Albert bercerita bahwa salah satu pertanyaan yang diberikan padanya ketika wawancara adalah “Berita apa yang ada di koran hari kemarin?”. Ini menjadi menarik karena di era serba internet ini, tidak banyak lagi yang interest mencari berita lewat hard media walaupun berita hard media tersebut sebenarnya justru adalah sumber berita yang memberikan informasi mendalam dibanding media online yang biasanya hanya memberikan informasi at a glance. Dengan mendapat informasi yang mendalam, pembacanya jadi lebih memahami permasalahan dibanding mereka yang hanya mendapatkan informasnya secara at-a-glance tersebut. Mendapat informasi secara sepotong-potong cenderung membuat pembacanya hanya berspekulasi dan tak jarang membuat opini sendiri terkesan sok tahu.

Jadilah orang yang berintegritas tinggi dan bisa dipercaya

Bank adalah trust-based company yang bekerja dengan landasan kepercayaan pelanggan, sehingga integritas menjadi nomor satu. Namun sebenarnya, di mana pun kita berada, kita juga seharusnya memiliki integritas tinggi agar bisa dipercaya orang banyak dan nantinya banyak sekali keuntungan yang didapatkan.

Super sekali.

Setelah itu, kami diajak berputar-putar Menara Bumiputera, tempat CIMB ini bernaung

4

Octopus everywhere. Selain itu ada tempat fitness dan ruang multimedia untuk syuting. A modern office

Malamnya, kami dijamu CIMB di Rumah Makan Rebung, milik pemenang Master Chefnya Malaysia. Tapi so far walaupun punya seorang Master Chef, kok rasanya agak nggak cocok sama lidah saya ya, dari kemaren lho :&. Walau begitu, satu hal yang saya tahu, kambing bakarnya ENAK MAMPUS. Kambing bakar terenak di dunia dengan saus yang mmmmmm…… *laper*

6

Dan malamnya, menginaplah kami di hotel 5 elements di Chinatown. Banyak hal menarik yang bisa dilihat-lihat, tapi sayangnya jarang sekali jajanan halal di sekitar penginapan kami tersebut. Jadinya ya udah sih foto-foto aja :3

5

7

Nuha sama Gilang mau ikut disko *ngebayangin mbak-mbak di clubnya yang jadul abis diliat dari posternya*

Dengan demikian hari pertama selesai sudah. Eits, tapi saya masih 3 hari lagi bersama trip Titian Muhibah ini, jadi masih

Bersambung……

They Said I'm Workaholic

diambil dari http://media-cache-ec2.pinterest.com/upload/85075880431816653_5xUHalhI_c.jpg

"Ketika kita berusaha menyenangkan semua orang, di akhir, kita sendiri yang tidak bahagia" - Ir Subagyo, Ph.D

Akhir-akhir ini saya sibuk, sangat sibuk, bahkan sampai 7 pekan tidak kuliah. Kemudian banyak "kesimpulan" datang menghampiri saya seperti

"Kamu memenuhi syarat nomor 2 istri bukan idaman: workaholic"

atau

"Kalau pake istilah cowokku, kamu itu 'yes girl'"

:')

Secara mendasar, saya adalah orang Jawa yang pakewuhan memang, lebih tepatnya. tidak pernah ingin mengecewakan orang lain. Saya paling sedih melihat raut kecewa dari orang yang sudah percaya pada saya.

Semakin dipercaya oleh orang lain, maka semakin kamu "dipakai". Itu yang saya alami sekarang, sebuah konsekuensi menjadi orang yang "dipercaya". Back to my nature, saya tidak ingin mengecewakan mereka. Akibatnya saya jadi punya banyak kerjaan dan menjadi apa yang mereka katakan "sibuk" atau "workaholic" atau "yes girl" itu.

Nggak nolak Mon?

Kalau kalian tahu, sebenarnya yang saya tolak itu lebih banyak dari yang saya terima sekarang :)

Begini-begini saya juga punya prioritas. Saya bertindak berdasarkan prioritas. Apa yang saya kerjakan di kurun waktu T(x) adalah prioritas saya terhadap x *malah bikin fungsi*, yang intinya, setiap menit saya memiliki prioritas. Dulu mungkin prioritas saya masih acak-acakan sehingga saya terlihat seperti sangat yes girl dan tidak punya prioritas. Tapi semakin berusia, saya semakin improve manajemen prioritas saya sehingga alhamdulillah lebih baik sekarang. Semoga seterusnya juga begini :)

Nggak stress Mon? Kayaknya kelihatan stress banget gitu.

Kalo ini murni salah saya juga yang sering mengeluh di jejaring sosial :)) Seharusnya ketika saya menyanggupi sesuatu, saya juga menyanggupi segala resikonya. Maaf untuk berlaku sangat tidak dewasa tentang hal ini. Mona juga manusia (ngeles)

Bahagiain orang lain melulu, kapan bahagiain diri sendiri?

Fokus utama dari post ini. Tadi pagi saya kuliah Manajemen Industri dan cukup tertohok dengan quote pak Subagyo di atas tadi, bukan karena saya sedang mengalaminya sekarang, tapi DULU saya mengalaminya saat masih jadi yes girl banget. Semua orang pengen saya bahagiain, tapi saya sendiri nggak bahagia karena saya nggak punya waktu membahagiakan diri sendiri.

Lain dulu lain sekarang. Berkat manajemen prioritas, saya jadi makin "lihai" curi-curi waktu di sela kehectican saya tersebut untuk membahagiakan diri sendiri. Have a talk with family atau hang out bareng temen, itu yang paling sering saya lakukan.

Ya, hang out dengan temen adalah salah satu cara ampuh membahagiakan orang lain (temen yang ngajak, karena dia lagi galau mungkin) sekaligus membahagiakan diri kita sendiri karena tidak jarang mereka menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi "beban hidup" (ya secara saya belum punya suami)

Tapi sedih adalah ya ketika itu tadi, teman-teman malah mengeluh sama saya yang jarang jumpa mereka, mengeluh saya terlalu sibuk, dengan segala ungkapannya seperti di atas.

Dear my friends, di saat aku bertemu kalian, itulah prioritasku saat itu, menemui kalian :') Nilainya lebih tinggi di atas nilai prioritas untuk take a job mungkin, atau bahkan berkumpul dengan keluarga. Sedih sekali sebenarnya kalian mengeluh begitu pada saya, rasa-rasanya peluangan waktu saya menjadi tidak dihargai :')

Dan itu saya lakukan selain untuk membahagiakan teman-teman, juga untuk membahagiakan saya sendiri, agar saya tidak lupa caranya membahagiakan diri di tengah hecticnya aktivitas membahagiakan orang banyak.

Tapi lumrah sih, kita tidak bisa merasakan apa yang dirasakan individu lain. Kita nggak bisa tukeran badan sehingga tahu persis apa yang diinginkan dan dirasakan. Jadi wajar sebenarnya ketika teman-teman seperti itu. Everybody wants attention :)

So....

Ketika saya tanya ke temen saya tersebut "Aku harus gimana" ketika dia bilang saya workaholic, dia njawab

"Selagi masih muda, jalani saja"

agak facepalm juga sih, dia bilang saya bukan istri idaman tapi nyuruh saya melanjutkan aktivitas tersebut. Tapi memang itu yang saya lakukan. Selama saya punya kesempatan mengembangkan diri, akan terus saya ambil, selagi saya masih punya passion dan semangat. Karena di jaman 2.0 ini, efeknya nggak cuma buat saya, tapi bisa menyebar ke orang banyak. Kalo saya jadi sukses dan memotivasi mereka dan akhirnya mereka lebih sukses dari saya kan ya pahalanya banyak to? :)

Lagi, I'm not perfect. Tolong selalu ingatkan saya ketika saya punya salah. Ingatkan saya ketika saya mengeluh dan ingatkan kembali akan mimpi dan target-target saya ketika saya sedang down. Teman-teman adalah "pembentuk" saya, sehingga selalu punya nilai prioritas yang tinggi di mata saya. Selain sumber koreksi dan belajar, kalian adalah salah satu sumber kebahagiaan saya, jadi saya nggak mungkin meninggalkan kalian begitu saja.

So jangan khawatir :)

Seperti cerita secangkir kopi, sekalipun hidupmu tampak sudah penuh, tetap selalu tersedia tempat utk secangkir kopi bersama sahabat :)

Secangkir Kopi

*Repost dari blognya Sunni, maknanya dalem banget buat saya*

http://media-cache0.pinterest.com/upload/216595063298332999_GAM2Gygl_c.jpg

Seorang Professor berdiri di depan kelas Filsafat.
Saat kelas dimulai, dia mengambil toples kosong dan mengisi dengan bola-bola golf.
Kemudian berkata kepada murid-muridnya,

apakah toples sudah penuh…… ?

Mereka setuju

Kemudian dia menuangkan batu koral ke dalam toples, mengguncang degan ringan.
Batu-batu koral mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf.
Kemudian dia bertanya kepada murid-muridnya, 

apakah toples sudah penuh ??

Mereka setuju
Selanjutnya dia menabur pasir ke dalam toples …
Tentu saja pasir menutupi semuanya.
Profesor sekali lagi bertanya 

apakah toples sudah penuh..??.

Para murid berkata, “Yes”…!!

Kemudian dia menuangkan dua cangkir kopi ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.

Para murid tertawa….

“Sekarang.. saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu. “

Bola-bola golf adalah hal yang penting; beribadah, keluarga, anak-anak, kesehatan. Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh.

Batu-batu koral adalah hal-hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil.“

“Pasir adalah hal-hal yg sepele.”


“Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples, maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu-batu koral ataupun untuk bola-bola golf..
"Hal yg sama akan terjadi dlm hidupmu.”

“Jika kalian menghabiskan energi utk hal-hal yang sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian.”

“Jadi beri perhatian untuk hal-hal yang penting untuk kebahagiaanmu."


“Bermainlah dengan anak-anakmu.”
“Luangkan waktu untuk check up kesehatan.”
“Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam”
“Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf"
"Hal-hal yang benar-benar penting."

"Atur prioritasmu."

"Baru yg terakhir, urus pasirnya."

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, 

“Kopi mewakili apa?"

Profesor tersenyum, “Saya senang kamu bertanya.”



“Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama Sahabat

Movember Part 3: Fukuoka

Dianjurkan baca Movember Part 1 dan Movember Part 2 nya dulu :3

Hari ketiga, jadwalnya ke ecotown, tapi kayaknya si Bapak nggak interest dan malah ngajak ke Nagasaki. Pak Armin memberi titik tengah untuk ke Fukuoka dari pagi saja

16

row atas: sarapan saya hari pertama di Kitakyushu (kiri), sarapan saya hari terakhir di Kitakyushu (kanan). Yang kanan lebih “njepangi”

Saya sih ngikut-ngikut aja walau saya personally penasaran sama ecotown, dan jadilah kami naik kereta Shinkansen ke Fukuoka seharga 1250 Yen. Sumpah di sini duit saya udah abis sebenernya, jadilah saya sering ngutang ke si Bapak. Pelajaran untuk siapapun yang ke negara manapun, tuker duitlah di Indonesia saja, lebih murah, atau bawa USD. Saya nggak sempat nuker ke yen dan cuma nuker SGD saya di bandara dan cuma dinilai 1400 Yen T___T padahal di Indonesia kayaknya SGD segitu setara hampir 3000 Yen T__T

17

Turun dari stasiun Hakata langsung ke Yodobashi, gudang gadgetnya Fukuoka. Mirip Jogjatronik gitu kali ya. Tapi karena ngga punya duit, yaudah liat-liat aja.

18

Kami rencana mau sholat Jumat di Masjid Fukuoka, masjid terbesar di pulau Kyushu. Sekalian aja lewat Kyushu University kampus lama. Kata Pak Armin udah banyak gedung yang ngga dipake karena udah pada pindah. Tinggal FMIPA doang yang disini. Tempat ini deket banget sama bandara jadi bisa liat pesawat dalam ukuran yang besar dan frekuensi yang tinggi. Cocok banget buat si Danni kuliah di sini.

19

Walaupun namanya masjid terbesar, tapi ya karena Islam disini minoritas, secara fisik bangunannya ngga besar-besar banget. Se masjid Al Uswah (Masjid nya SMA saya), tapi ada 3 lantai. Lantai 1 untuk laki-laki, lantai 2 untuk wanita, lantai 3 untuk TPA dan tempat sholat ummahat yang bawa anak kecil. Di sini si Bapak yang emang artis banget ketemu banyak mahasiswanya lagi, termasuk Pak Cuk dan Mas Tyan, anak S1 TETI 2009 yang lagi exchange di Kyushu Univ. Sebenernya saya dulu pernah ngasih spoiler ke dia bahwa saya akan ke Fukuoka. Tapi dia ngiranya saya akan “melanjutkan” dia yang exchange setahun di Kyudai sampe-sampe dia udah kepikiran mewariskan sepedanya ke saya. Padahal saya kesini cuma satu hari dan dia kaget karena nggak nyangka ketemunya “secepet” ini. Cepet dalam jangka waktu dari saya ngasih spoilernya dan cepet dalam durasi saya di Fukuokanya.

20

Kami ke Ohori, semacam taman begitu yang ada kuil dan mantan kuilnya. Ada danau, pohon-pohon indah, dan tempat tinggi untuk mendapatkan pemandangan  Fukuoka

DSC_0155o

Sore, kami cari makan. Udon lagi sih, dilanjut cari hotel kami. Si Bapak bilang kami dikasih hotel di b-Hakata, tapi pak Armin dan rombongan ternyata di hotel Toyoko Inn. Baiklah kami mencar. Kami cari hotel dibantu mas Tyan dan Pak Cuk. Ternyata cari hotelnya susah, lagi-lagi ada orang Jepang baik yang melihat kebingungan kita kemudian datang mendekat “Can I help you?” terus melihat alamat yang kita cari dan menunjukkan jalan. Baik mampus bukan? *meleleh*

Sampai, tidak ada nama kami di sana. Saya sebenernya juga agak aneh sih sama hotel ini, secara dulu saya urus visa ngga pake alamat hotel ini waktu ngisi bagian “tempat tinggal di Jepang”. Jadilah saya make fasilitas internet untuk mencari tahu kebenaran kami harusnya tinggal di mana, dan bener aja, harusnya kami ke hotel satunyaaaaaa…… –_________-. Setelah minta maaf ke resepsionis, pergilah kami ke hotel satunya yang deket sama stasiun Hakata.

Malam, rencananya mau cari oleh-oleh, sekalian ketemu Zakiya Aryana, dan foto buat #TeladanEverywhere :3 Makasih buat Jeki yang mau nemenin walau cuma ketemu beberapa jam aja :’)

22

dan malam ini saya nggak sempat beli maem, jadilah cuma nge”junkfood” ala Jepang, beli onigiri di 7eleven –,-

23

enak :3

Dan malam itu adalah malam terakhir saya di Jepang. Honestly, saya sudah terlanjur juatuh cinta sama negeri yang satu ini, tapi apa boleh buat, saya harus pulang :’) Jadilah keesokan harinya saya mengalami perjalanan panjang pulang ke Indonesia, jalan jam 8 pagi, sampe Jakarta jam 8 malam :’)

Alhamdulillahnya, si Waseda yang baik hati ini menginapkan kami di Airport hotel, walau saya akhirnya nggak jadi pulang ke Jogja (karena ada Movember Part 4). Saya langsung inget jaman setahun lalu dimana saya nginep di Bandara untuk menunggu penerbangan esok hari. Nginep di emper! Dan sekarang saya nginep di kasur empuk di Airport Hotel dengan gratis. Betapa terharunya :’’’’’’>

Oke, maaf saya terlalu bahagia mendapatkan penginapan di Airport Hotel. Saya jadi lupa cerita. Jadi di tempat inilah saya dan Si Bapak berpisah. Saling pamit, kami janjian sarapan bareng esok paginya (selama ini kami nggak pernah sarapan bareng karena saya selalu sarapan lebih siang, hahahaha). Di sesi sarapan inilah saya bisa sempat ngobrol dan dapat banyak hal, salah satunya meluapkan penasaran saya

“Pak, kan sebenarnya bisa saja Bapak mengajak Graduate Student buat ikut seminar ini, kenapa Bapak ngajaknya Undergraduate Student? Ngajaknya saya lagi.”

“Ya soalnya di undangan nggak ada ketentuannya :))”

Oke ini agak trolling –,-, tapi si Bapak melanjutkan,

“Sebenarnya bisa saja, malah mungkin research yang ditampilkan juga lebih beneran, tapi kalo saya ngajaknya Graduate Student, itu hanya akan berguna untuk pengembangan diri mereka saja dan lingkungannya/organisasinya. Sementara saya inginnya pengalaman seperti ini bisa ditularkan pelajarannya ke banyak mahasiswa. Saya melihat di kamu ada sesuatu yang bisa mewujudkan itu. So setelah ini kamu punya tanggung jawab besar untuk share apa yang sudah kamu dapatkan di sini ke lingkunganmu. Entah itu disisipkan di sela-sela pergaulan misalnya. Dengan demikian mereka bisa termotivasi. Efeknya tentu akan lebih besar dibandingkan saya ngajak Graduate Student”

I’m flying and then I’m dead (lebay)

Feel so honored dipuji “punya sesuatu” oleh si Bapak. So far, dari perjalanan seminggu ini kalau saya boleh menyimpulkan kenapa saya bisa ikut trip ini adalah karena:

Si Bapak mau “meninggalkan” JTETI :’) karena mendapat jabatan di Fakultas.

Karena si Bapak sayang sekali dengan JTETI dan tetap ingin yang terbaik ketika si Bapak sudah tidak ada,  maka harus ada yang dikasih “titipan” sama Si Bapak.

Dan salah satu yang terpilih untuk dititipi adalah saya, adapun bentuk titipannya antara lain: (1) supaya saya bisa memotivasi teman-teman dan (2) supaya saya bisa membantu teman-teman juga turut berprestasi. Si Bapak bilang, atmosfer JTETI sekarang sudah baik sekali untuk berprestasi dan pengembangan mahasiswa di banyak bidang lainnya, sehingga harus terus dijaga bahkan ditingkatkan lagi.

So ini tanggung jawabnya besar. Doakan saya bisa memenuhinya ya teman-teman semua :’) Buat teman-teman JTETI, ayo kita bersama-sama belajar untuk terus memberikan yang terbaik buat JTETI tercinta  :’_)

Movember edisi Jepang Ends. Selamat menempati posisi yang baru sebagai Wakil Dekan III ya Pak :’)

 

 

Eits, tapi Movember Jepangnya doang yang tamat, Movembernya sendiri masih

Bersambung..

Movember Part 2: Poster Session and Gala Dinner

Posting ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya yakni Movember Part 1.

Hari kedua seminar adalah hari saya, which means disini saya musti presentasi mengenai project saya yang saya tuangkan di poster. Project saya ngga jauh-jauh dari eMart sih, yakni Drag and Drop usabilitynya. I must say thanks untuk semua teman yang sudah mau dijadikan responden :”)

Di sesi ini, banyak 3 M yang saya rasakan (malu, minder, menyesal). Malu karena saya mewakili UGM tapi poster saya not proper at all. Ting tlekuk. Sumpah malu banget sama si Bapak waktu itu. Peserta lain pake bahan indoor yang mahal dan saya cuma pake eco banner :”<

8

Minder karena saya adalah satu diantara dua undergraduate student yang ada di sini. Lainnya minimal Master Student. Banyak yang PhD student jadi researchnya nggenah, nggak kayak saya yang researchnya cupu mampus. Minder dong sayaaa……

Menyesal karena kemudian saya tidak melakukan persiapan dengan baik termasuk mengecek koneksi internet yang aksesnya susah (akses masuk lho, bukan internetnya yang lambat). Saya harus minta panitia solve this. Di sini keramahan mereka juga ditunjukkan. Mbak-mbak yang bantu saya nggak mau beranjak dari tempat saya sampai ada teknisi internetnya dateng. Akhirnya mereka bantu dan saya diberi akses koneksi internet jadi saya bisa demo. Makan waktu hampir setengah jam, jadinya booth saya agak sepi gitu karena di awal sering saya tinggal Sad smile

Tapi yaudah sih, so far saya dapat banyak ilmu dari sesi ini, itu yang harus disyukuri karena tidak semua mahasiswa UGM berkesempatan seperti saya Smile

9

Selesai poster session, ada acara kunjungan laboratorium yang diselani dengan acara Upacara minum Teh gitu. Kemajuan, saya sudah bisa pakai sumpit ala Jepang dengan benar :3 (yang bagian atasnya terbuka kalau nyumpit). Di upacara minum tehnya, kami diberi kue khas upacara minum Teh yang rasanya manis. Kayak kue apa gitu saya lupa. terus juga dikasih green tea yang rasanya enak, dan bonus berfoto dengan mbak-mbak cantik yang kulitnya mulus banget semulus iklan Pond’s (malah).

Tur Laboratorium dibagi dalam 6 kelompok dan 3 round, jadi kita bisa memilih maksimal 3 kelompok tur dalam 3 round tersebut. Saya ikut 2 saja, kelompok 1 di round 2 yang isinya data mining dan kelompok 4 di round 3 yang isinya multimedia. Round 2 saya isi dengan ikut upacara minum Teh.

10

Oke, tur pertama ini sangat menarik dan bahkan menginspirasi kira-kira saya mau ambil skripsi apa besok *halah*. Kayaknya saya mengunjungi 3 lab tapi saya cuma inget 2 @,@

Pertama ke Data Engineering Laboratory milik Professor Iwaihara (row atas). Di sini Prof Iwaihara cerita gimana caranya handling a very huge data seperti data social media dan sebagainya, kemudian diambil polanya, seperti rekomendasi untuk setting privacy Facebook misalnya, diambil dari data se-strong apakah Facebook user biasanya mengamankan privasinya. Oh iya, termasuk di dalamnya Social Network Analysis, bahan yang pengen saya jadiin skripsi karena cocok untuk saya yang tukang kepo *eh*.

Kedua ke tempat Prof Lepage dari Perancis (row bawah). Saya punya first impression yang menyenangkan dari prof yang satu ini karena beliau pas ke booth saya nyeletuk “Saya mau beli susu anak” sumpah saya kaget. Ternyata istrinya ada keturunan Malaysia –,-. Prof Lepage ini spesialisasi Language Processing Machine Translation. Translasi bahasa biasanya dilakukan dengan memiliki big data tentang satu bahasa dan bahasa lain atau bahasa tujuan. Namun terkadang big data tersebut tidak didapatkan. Di sektor inilah para mahasiswa di lab Prof Lepage bekerja, yakni mencari keterkaitan antara satu frasa dengan frasa translasinya, dituangkan dalam bentuk perbandingan, dan perbandingan (algoritma) ini yang digunakan untuk “menebak” jika ada kalimat x yang mirip kalimat y yang sudah diketahui nilai “perbandingan”nya, translasinya akan jadi seperti apa. Lebih ke sentence sih, macam grammar dan sebagainya. Menarik.

11

Round ketiga kami ikut Tour 4 ke Multimedia labs. Ini juga menarik banget. Kami ke 3 lab yang mirip, semuanya konsen ke hardware, membuat processing card macam graphic card (row atas dan tengah). Bayangin dong mahasiswa bikin graphic card sendiri.

Di row bawah foto di atas adalah Lab Prof Ikenaga, yang dulunya kerja di NTT, perusahaan telekomunikasi Jepang. So far saya menemukan sebagian besar Prof di Jepang dulunya memang kerja di perusahaan. Itu membuat mereka tidak hanya punya ilmu tapi juga experience di industri jadi gampang banget buat mereka untuk meng-embedkan hasil penelitiannya ke industri. Prof Ikenaga konsen di Man-machine interface, tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan mesin. Di row bawah sebelah kiri beliau memperlihatkan board yang dulunya adalah moyang MPEG2. Di sebelah kanan, beliau mendemokan riset lab nya yang bisa identifikasi gesture jari di udara untuk membentuk pesan di layar. Kabarnya labnya sedang mengembangkan riset yang akan dipakai untuk TV Sharp selanjutnya. Wew.

Awesome Japan is awesome. Saya merasa sangat beruntung bisa keliling lab, tahu seperti apa riset di Jepang dan bisa bertemu dengan Prof-Prof yang keren. Pas saya tanya ke si Bapak

“Pak jurusan kita kenapa nggak gini aja Pak? Punya banyak lab terus mahasiswanya diembed ke lab-lab yang mereka inginkan”

“Idelanya gitu mon, tapi realitanya kita nggak punya tempat”

;_; So sad.

Sorenya kami ke Mojiko, semacam daerah pinggir pantai, Kota Lama gitu kalo di Semarang atau Kota Tua nya Jakarta untuk malamnya kami gala dinner. Di perjalanan, saya sama si Bapak diskusi banyak hal, mulai dari besok habis kuliah saya mau ngapain

“Saya kayaknya pengen kuliah di Jepang sini pak”

“Nggak pengen ke barat po?”

“Pengen tapi saya pengen cari tau dulu yang bagus apa pak”

“Halah S2 ki yang penting sekolah kamu Mon nggak usah nyari bagus apa enggak”

Bapak……………

Si Bapak juga tanya kenapa mahasiswa IT sekarang jarang yang suka ngoding, bener-bener coding, paling cuma beberapa, satu atau dua biji mahasiswa aja

“Kurang di-push kali pak, saya dulu juga baru ngerti gimana coding gara-gara dikasih tugas akhir PBO yang suruh bikin whole aplikasi. Dari awal kan juga kami diberi tahu kalau IT tidak hanya sekedar coding tapi juga ada jaringan, mungkin pada ngira jaringan lebih gampang jadinya pada interest ke sana yang dipikirnya lebih gampang dari coding”

Jadi pada intinya problem di atas belum solved. Temen-temen kelas C mungkin ada yang bisa bantu saya menjawab kenapa diantara kita jarang yang suka coding?

12

Di sini ada jembatan yang menghubungkan Honsu dengan Kyushu

13

Banyak bangunan tua yang ngga mirip bangunan Jepang

14

Stasiun lama, dulu sini pusat transportasi gitu karena deket pelabuhan

15

Foto-foto yang ada saya-nya ini credits to si Bapak yang bawa Canon 550D nya. Pantai, apalagi senja memang selalu romantis, apalagi di pinggir dermaga, apalagi jalan berdua, apalagi hunting sunset, tapi kenapa harus sama si Bapak, kenapa nggak sama…… *sebagian teks hilang*

Malamnya kami dinner di Restoran Briliansa Mojiko, tepi pantai, lantai 3. Lumayan bisa lihat pemandagan malam pulau sebelah yang indah. Di sini nggak semua makanannya halal jadi harus dipilih. Ada acara toast pake Wine lagi, tapi saya dan teman-teman sejenis saya pakenya es teh ._.

Unexpectedly, ada pengumuman penghargaan presenter terbaik dan penyaji poster terbaik. Presenter itu untuk sesi seminar. Dan ketika diumumkan penyaji poster terbaik…

“1st Winner is Nurvirta Monarizqa from Universitas Gadjah Mada”

Melongo mampus dong. Pertama karena research saya cupu dan kedua karena poster saya jelek dari segi penampilan fisik. Hipotesis saya, mungkin saya bisa dapet karena saya masih undergraduate kali ya jadi masih bisa komunikasi secara “manusiawi” karena konon katanya semakin pinter semakin susah menuangkan ide dalam komunikasi, hahahaha……

21

Saya maju ke depan (dan bodohnya masih pake jaket buluk saya tersebut padahal ini acara resmi) dan memberikan speech kayak pemenang Oscar aja. Foto credits to Taro Umetsu yang dengan baiknya ngirim 11 foto saya waktu di depan via email. Tuh kan orang Jepang emang baik banget :”)

I feel so blessed, thanks to orang tua yang selalu doain, terus juga Gembelszt: Trias, Ema, sebagai tim eMart yang inspire saya untuk bikin ini dan tentu si Bapak yang ngasih saya kesempatan ikut Symposium. Walau cuma award lucu-lucuan, tapi ini cukup precious buat saya soalnya saya bener-bener nggak nyangka akan diapresiasi seperti ini. Terima kasih IPS Waseda Smile

Bersambung…

abcs