Antara Kartini, Emansipasi, Feminisme dan Marissa Nasution

Judulnya panjang amat yak -_________-

Anyway, sekarang lagi tanggal 21 April, bertepatan dengan ulang tahun si Trias yang sekarang udah punya cewek dan bertepatan dengan hari Kartini.

Oke, saya sebenernya agak nggak setuju dengan diagung-agungkannya ibu Kartini karena menurut saya masih banyak tokoh wanita yang perjuangannya lebih riil dibanding surat-suratan. But karena saya bukan ahli sejarah ya sudah saya tidak akan berkomentar lebih banyak.

Well, sekarang tentang emansipasi dan feminis. Saya sering dibilang oleh teman-teman saya kalau saya ini feminis. Saya sebenernya nggak tau arti feminis, jadi tidak usah dibahas lebih lanjut apa definisinya. Saya sendiri tidak merasa menjadi feminis. Jadi ya saya tidak merasa terganggu saja orang saya nggak merasa feminis. Tapi saya nggak suka ketika kemandirian saya kemudian membuat saya sering dianggap sebagai seseorang yang terlalu mengagungkan emansipasi -- menjadi derajatnya lebih tinggi dari laki-laki dan menjadi seolah-olah tidak membutuhkan laki-laki.

Saya sudah menemui beberapa laki-laki yang menganggap saya demikian. Saya capek.

Terus apa hubungannya sama Marissa Nasution? Saya posting ini sebenarnya bukan karena pas Hari Kartini sih, tapi lebih karena kemarin apa ya saya nonton acara Talk Show di TV sebut saja namanya Hitam Putih dan mendatangkan Marissa Nasution sebagai bintang tamunya.


Yang kemudian membuat saya tertarik adalah karena ternyata hidupnya mirip-mirip saya. Di usia 14 dia sudah bekerja (kala itu di Jerman) untuk menghidupi dirinya sendiri, walaupun orang tuanya kaya raya dan bisa saja memberinya uang. Ia pernah hanya punya 20.000 rupiah untuk dipakai 3 hari saja.

Saya juga mirip-mirip sih. Di usia 10 (apa 11 ya) saya ikut kuis Penjelajah Dunia di TV7 dan mendapatkan uang dari situ, yang kemudian saya pakai untuk bayar sekolah saya (SD waktu itu). Semenjak saat itu saya jadi terpikir untuk "gimana kalo setelah ini saya nggak ngerepotin orang tua lagi".

Alhamdulillah SMP saya 3 tahun jadi paralel dan mendapatkan beasiswa SPP karenanya. Saya juga ikut Olimpiade sehingga punya uang tambahan. Mulai saat itu, saya benar-benar membeli semua kebutuhan saya sendiri. Sudah tidak diberi uang saku dan tidak minta uang saku. Istilahnya orang tua saya tinggal memberi saya makan dan tempat tidur kalo lagi dirumah.

SMA juga demikian, karena ikut Olimpiade saya bisa dapat beasiswa bebas SPP, semua kebutuhan selain kebutuhan rumah juga saya cukupi sendiri. Hingga akhirnya saya kuliah. Dapet beasiswa sih alhamdulillah, Beasiswa Unggulan. Namun sayangnya entah saya nggak ngerti gimana sistemnya, beasiswa ini gak jelas banget kapan turun duitnya. Jadilah saya harus nalangin dulu.

Menalangin duit beasiswa dulu dan biaya hidup kuliah yang lebih tinggi membuat saya mau nggak mau harus kerja lebih keras. Saya ngajar sana sini dan ikut project sana sini. Demi uang. Untuk membiayai hidup. Untuk tidak memberatkan orang tua. Untuk mandiri.

Sekarang mari kontra-kan dengan statement bahwa 
"Emansipasi berlebihan adalah kondisi ketika wanita ingin posisinya lebih tinggi dari pria"
Ya. Saya selalu ingin posisi saya lebih tinggi dari pria. Dalam hal apa? Prestasi. Karena dengan prestasi yang lebih tinggi, uang saya lebih banyak (ahay) contohnya kalo lomba, juara 1 pasti hadiahnya lebih gede dari juara 2. Jika tujuan saya demikian, apakah saya feminis? Apakah saya ingin emansipasi berlebihan???

"Emansipasi berlebihan adalah kondisi ketika wanita sudah tidak membutuhkan lagi pria"

Untuk yang satu ini saya jadi inget. Temen-temen sagasilay saya yang kebanyakan cowok ini pernah merasani saya "gimana ya suami mona besok?" "emang mona bakal punya suami? emang mona butuh cowok?" "ada ngga ya yang bakal dibikinin mona secangkir teh" dsb dsb. Sungguh nggak penting, ngebetein dan totally wrong.

Saya sangat pengen punya pendamping. Saya sangat butuh pria. Itu saya rasakan belakangan-belakangan ini. Tapi selama saya masih belum menikah dan belum ada yang menafkahi, saya memang harus giat cari uang, seaktif mungkin yang saya bisa karena saya tahu kalau saya sudah menikah, saya tidak bisa dan tidak perlu seaktif ini lagi :). But unfortunately banyak orang yang tidak paham ataupun tahu akan hal ini kemudian melihat bahwa saya tidak punya waktu lagi untuk sekedar mencari pria atau meluangkan waktu untuk pria --> tidak butuh pria. :((((((((((((((

So, masihkah kamu kamu menganggap saya feminis?

Saya melakukan ini semua agar saya dapat mandiri -- tidak bergantung pada finansial orang tua lagi. Sedih adalah ketika banyak yang belum paham dan membuat saya sakit hati karenanya :((((

Ketika ditanya Deddy Corbuzier tentang apa perbedaan laki-laki Jerman dan Indonesia, Marissa menjawab

"Pria Indonesia cenderung takut pada wanita mandiri, mereka lebih suka wanita yang manis dan manja"

I absolutely agree
Oh, poor me.

Tapi ya saya tetap tidak bisa merasa bahwa diri saya paling benar. Semua yang saya lakukan memang ada konsekuensinya dan itu membuat saya memiliki banyak kekurangan. Kekurangan waktu luang terutama. Kekurangan ini harus terus saya perbaiki agar menjadi pribadi yang lebih baik (bahasa Mario Teguh banget).

Ada yang bilang bahwa wanita mandiri itu harus tau kapan dia harus bersikap manja. Yeah, itu memang bener, dan saya hanya akan bersikap manja pada orang yang saya rasa pantas untuk saya begitukan -- suami saya besok :)

Ya Allah paringono bojo sholeh ugi ganteng.

Nurvirta Monarizqa, bukan feminis
12 Responses
  1. Kalikautsar Says:

    berarti trias sama ceweknya baru jadian kemarin? wow, ckck.

  2. fahmisme Says:

    emansipasi lahir di eropa dan kemudian berkembang pesat di amerika, semua berkembang berlatar belakang pembedaan hak publik kl ga salah :D dan sekarang semua tuntutan emansipasi sebenarnya sudah terpenuhi dimana tidak ada pembedaan hak publik, minimal saya tidak menemukannya, kecuali toilet.
    dan... mona itu sangat wanita, tidak ada keraguan utk itu, buktinya dia pake rok dan jilbab, hehehe

  3. fayruzrahma Says:

    wow kereen :O
    nohok ni, hm...

  4. Fanni Irsanti Says:

    Quote akhirnya maknyuuuuss mbak momon!
    semangat yaaw :3

  5. Nurvirta Monarizqa Says:

    kalih: udah semingguan katanya

    mas ujang fahmi: saya gak bayangin kalo hak publik atas toilet disamakan :&
    hahahaha, terima kasih lhoo

    mbak fay: nohok siapa? :o

    fanni: :3

  6. irham Says:

    Setuju bangett .Saya suka dengan perempuan yang mandiri tapi saya paling gk suka dengan perempuan yg mentang" dia mandiri dia bisa melakukan semuanya sendiri saat setelah berkeluarga

  7. Trias Says:

    GREAT, nice mon, tapi itu paragraf awal ga nyambung sama kontennya samasekali --" zz

  8. reno Says:

    no comment aku, suka bgt ngasih tugas yg berat berat sama dari cowok ke cewek karena persamaan gender itu emang harus..sekaligus aku suka lihat org tersiksa pria ataupun wanita

  9. Nurvirta Monarizqa Says:

    Trias: lho kok tumben kamu baca blogku.. ._.
    Reno: maaf ini siapa ya, kenapa me link nya ke facebook saya?

  10. cerita kita Says:

    saran: blog kamu bagus, coba deh sering baca kompas biar tulisane runut aku juga masih belajar juga tapi yakin deh ntar tambah bagus
    sukses ya...

  11. fajarbs Says:

    (rofl) (lmao) (lol)... manteeeeeppp

  12. salMADliYA Says:

    haloo salam kenal kakak :)
    aku juga sempet berpikir kalo cowo indonesia terlalu takut sama cewe mandiri. sampe-sampe pernah baca blog, ada seorang Ibu yg nyuruh putrinya pura2 goblok n manja ketika ditawari calon suami wkwkwk.
    anyway, menurut aku tulisannya VERY AMAZING !
    keep spirit kakaa !

Posting Komentar

abcs