Lost

"Kita temen aja ya"

Dan dengan naifnya saya timpali dengan

"Loh kan kita daridulu juga temen"

Dan itu sukses membuat ramadhan saya kali ini, err, apa ya padanan katanya, sangat bermakna, karena saya jadi sering mendengarkan tausyiah dan mencari pelarian rohani, agar tidak sedih berkepanjangan.

I lost a bestfriend. Itu masalahnya. Kehilangan sesuatu, yang selama 6 tahun ini ada. Yang menghibur, yang peduli, yang selalu khawatir, yang selalu mengingatkan, walaupun nyebelin, walaupun sering bikin kesel.

Alasannya klasik sekali, karena sudah menemui tambatan hati. Sekitar dua minggu saya tidak percaya dengan apa yang dilakukan badan saya, saya menangis setiap malam. Saya insomnia dan depresi. Hanya capek nangis yang bisa bikin saya tidur.

Setiap orang bebas datang dan pergi, kalau kita bisa merelakan dia masuk, kita harus merelakan dia pergi. Itu kata Dydhan.

But I couldn't. Badan saya seperti tidak rela menerima semua ini. Sakit. Dan Hancur. Merasa tidak rela, merasa tidak adil.

Saya merasa orang ini terlalu precious dan kemudian dengan naifnya saya berharap banyak atas segala harapan yang diberikan.

Makan tuh harapan Mon, makan.

Perilaku yang sudah berbeda, dan rasa kehilangan yang amat sangat. Cuma itu yang saya rasakan, dan saya dapatkan dari orang tersebut.

Ini seperti seorang pemegang saham yang berinvestasi banyak sekali di sebuah perusahaan namun dia tidak menyangka perusahaan tersebut akhirnya bangkrut.

I've invested my heart.

Dan sekarang karena perusahaannya bangkrut, saya tidak bisa mengambil kembali semua hal yang saya investasikan.

Termasuk hati saya.

Si pemilik perusahaan tahu saya menginvestasikan hati saya disana. Dan dia hanya bilang untuk jangan bersedih.

Doa.

Tinggal itulah yang bisa saya berikan padanya. Ketika akhirnya mau kangen udah ada yang lebih kangen, mau menghibur kalo sedih udah ada yang ngehibur, dan mau sayang udah ada yang sayang.



 - sometimes when you love someone very much, you'd have to go through every tear, every heartache, every pain, because in the end it's not how much you suffered but how you loved
5 Responses
  1. ftamir Says:

    Monmon, kenapa sedih yah *ikutan melow

  2. Nurvirta Monarizqa Says:

    aduh maaf dza, gak maksud bikin kamu melow :')

  3. A L I F A Says:

    Pain makes you stronger. Tears makes you braver. Heartbreak makes you wiser, Mona ;)

  4. dydhan Says:

    haduh ada namaku...
    janjane yo kakak, aku juga dulu gitu kok. tapi anehnya nyeseknya cuma sehari.
    aku jadi inget kata mbak ratri:
    "kalau kamu mencintai sesuatu selain Allah, cukup genggamlah, jangan dimasukkan ke dalam hati. biar kalau kamu lelah untuk menggenggamnya, kamu hanya tinggal melepaskannya dan hatimu gak akan sakit"

    hehe. kayaknya gampang, tapi susah banget kakak.
    rasanya kayak 'sia-sia' banget to seneng terhadap sesuatu itu kalau kejadiannya kayak yang pernah kita alami. dan sok tegarnya bilang "kita banyak dapet hal baru", padahal "baru hancur" hahahaha :))
    semangat Kak cantik :)

Posting Komentar

abcs