Petualangan INAICTA – Part 2

Ini adalah sambungan dari Part sebelumnya. Untuk episode 2 ini ceritanya akan lebih seru lagi ;)
 
Jumat, 14 September, hari pertama kami pameran, dan kami nggak ikut pembukaan karena baru pada siap jam 10, dan kami jalan ke JCC walau agak muter jauh. Biar hemat beb. Kesan pertama liat stand-stand pamerannya: Keren dan Sopistiketet! Satu stand dapet kursi, meja berlaci, poster dan bonus hiasan. Saya sama Trias sempat itung-itung itu sekitar hampir Rp 200.000,00 lah harganya padahal sekali pakai. Sayang banget, mending buat akomodasiin kami kan ya :/
 
 
Saya sendiri di hari ini tidak banyak ikut jaga stand karena siangnya ada semacam workshop begitu dan sorenya bertolak ke Puncak Bogor, acara Microsoft Summit. Saya suka banget sama workshopnya. Workshop ini dihadiri tiga orang pembicara, yaitu Pak Andreas Raharso, CEO HayGroup Singapore, sebuah perusahaan konsultan bisnis, Pak Sumartok dari Presentonomics yang mengajarkan bagaimana berpresentasi yang benar dan Pak William yang memberi pengarahan bagaimana caranya melakukan valuasi.
 
Pak Andreas menyampaikan materi tentang High Performance Organization. Organisasi dapat terus bertahan ternyata kuncinya bukan pada managemen, tapi pada budaya. Kalau hanya dari segi managemen saja, cukup panggil orang ahli maka managemen beres. Tapi masalah budaya, ini diinisiasi dari pemiliknya. Beliau mencontohkan tiga perusahaan besar yang berhasil karena budayanya
 
1. General Electric (GE)
GE dapat sukses dan berusia panjang hingga lebih dari 100 tahun karena memiliki tiga budaya andalan. Pertama adalah budaya tidak takut salah karena salah adalah proses dari pembelajaran. Kedua adalah teori dan praktek yang tidak pernah dipisahkan, di saat semua orang menganggap “ah itu hanya teori”. GE sangat concern pada riset dan percaya bahwa riset yang baik mendukung kualitas produk yang baik. Terakhir, adalah budaya pendidikan kepemimpinan yang sangat terstruktur. Senior GE diwajibkan untuk mendidik juniornya di GE secara personal. Sampai-sampai, ada seorang senior yang kemudian mengajak sang junior kemana-mana untuk memberi pendidikan, termasuk saat rapat dan saat bekerja. Saat rapat sang junior diajak ke dalam ruangan dan mengetahui segala percakapan yang terjadi, bagaimana sang senior melakukan negosiasi. Saat bekerja, pintu ruang sang senior juga dibiarkan terbuka agar junior dapat melihat dengan jelas bagaimana pola kerja sang senior. Tidak ada yang ditutup-tutupi dan ini efektif mendidik pemimpin yang memiliki karakter GE.
 
2. Google
Marisa Mayer pernah berkata “fokuslah pada produk maka profit akan mengikuti”. Itu pula yang dilakukan oleh Google, tidak meributkan profit dan fokus pada customer. Karena sesungguhnya yang membawa profit pada perusahaan adalah customer, maka fokuslah pada kepuasan customer, maka profit akan mengikuti. Selain prinsip tersebut, Google juga menganut buadaya Keep it Simple. Manajemen by simple rules, karena semakin rumit sistemnya, maka akan semakin susah dalam melakukan kontrolnya. Terakhir, budaya yang dianut Google adalah cinta dengan kesalahan. Karena hanya dengan melakukan kesalahanlah kita jadi tahu mana yang benar. Namun tentu bukan sembarang kesalahan yang bisa dibuat. Buatlah kesalahan yang cepat dan perbaiki dengan cepat pula.
 
3. Toyota
Ada beberapa budaya yang dianut seperti Kaizen yakni continuous improvement, kemudian rendah hati dan Gemba yakni turun langsung melihat kondisi bawahan di lapangan sehingga tidak terjadi miss. Pada dasarnya, apa yang dilakukan tiga perusahaan ini adalah pembelajaran sepanjang hayat. Pak Andreas pun mengakhiri dengan sebuah quotes
 
“Anyone who stops learning is old. Anyone who keeps learning is young. The greatest thing in life is to keep your mind young”
 
Super sekali pak, saya juga setuju.
 
 
 
Selanjutnya adalah presentasi mengenai bagaimana membuat slide presentasi yang baik dari Pak Sumartok.
 
“Everything should be as simple but not simpler, semua hal harus sederhana tapi tidak sepele”
 
yang intinya adalah dalam slide kita, kita harus menampilkan slide yang simple, tidak aneh-aneh, namun tetap berbobot sehingga tidak bisa disepelekan. Untuk itu, ada 3 hal yang harus dijadikan fokus
 
1. Keep it Simple, one slide one point. Jangan pernah membuat orang yang melihat presentasi kita menebak apa isi slide lebih dari tiga detik. Untuk membuat simple, pilihlah kata yang dapat mewakili banyak hal.
 
2. Konten harus memiliki tiga hal ini: start strong, persuasive dan memorable ending
 
3. Desain. Tampilkan solusi bukan dalam bentuk list, jual benefit, highlite dengan size, shape atau color dan organisasi dalam satu slide bisa berupa huruf Z,L atau C terbalik
 
Sebenernya saya pernah baca teor-teorinya di Slideology, dan juga sudah kami terapkan saat membuat presentasi eMart Indonesia yang awesome, tapi ya sudahlah anggap saja pengayaan :))
 
Untuk pak William, saya sudah tidak mengikuti karena ada rumor juri berkeliling ke stand jadi saya panik, buru balik ke stand karena gak ada yang jaga. Sampai sana nggak ketemu juri siapa-siapa. Yaudah sih :/ saya juga sekalian berangkat ke Gambir untuk meneruskan perjalanan ke Bogor :)
 
bersambung ......
0 Responses

Posting Komentar

abcs