Movember Part 2: Poster Session and Gala Dinner

Posting ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya yakni Movember Part 1.

Hari kedua seminar adalah hari saya, which means disini saya musti presentasi mengenai project saya yang saya tuangkan di poster. Project saya ngga jauh-jauh dari eMart sih, yakni Drag and Drop usabilitynya. I must say thanks untuk semua teman yang sudah mau dijadikan responden :”)

Di sesi ini, banyak 3 M yang saya rasakan (malu, minder, menyesal). Malu karena saya mewakili UGM tapi poster saya not proper at all. Ting tlekuk. Sumpah malu banget sama si Bapak waktu itu. Peserta lain pake bahan indoor yang mahal dan saya cuma pake eco banner :”<

8

Minder karena saya adalah satu diantara dua undergraduate student yang ada di sini. Lainnya minimal Master Student. Banyak yang PhD student jadi researchnya nggenah, nggak kayak saya yang researchnya cupu mampus. Minder dong sayaaa……

Menyesal karena kemudian saya tidak melakukan persiapan dengan baik termasuk mengecek koneksi internet yang aksesnya susah (akses masuk lho, bukan internetnya yang lambat). Saya harus minta panitia solve this. Di sini keramahan mereka juga ditunjukkan. Mbak-mbak yang bantu saya nggak mau beranjak dari tempat saya sampai ada teknisi internetnya dateng. Akhirnya mereka bantu dan saya diberi akses koneksi internet jadi saya bisa demo. Makan waktu hampir setengah jam, jadinya booth saya agak sepi gitu karena di awal sering saya tinggal Sad smile

Tapi yaudah sih, so far saya dapat banyak ilmu dari sesi ini, itu yang harus disyukuri karena tidak semua mahasiswa UGM berkesempatan seperti saya Smile

9

Selesai poster session, ada acara kunjungan laboratorium yang diselani dengan acara Upacara minum Teh gitu. Kemajuan, saya sudah bisa pakai sumpit ala Jepang dengan benar :3 (yang bagian atasnya terbuka kalau nyumpit). Di upacara minum tehnya, kami diberi kue khas upacara minum Teh yang rasanya manis. Kayak kue apa gitu saya lupa. terus juga dikasih green tea yang rasanya enak, dan bonus berfoto dengan mbak-mbak cantik yang kulitnya mulus banget semulus iklan Pond’s (malah).

Tur Laboratorium dibagi dalam 6 kelompok dan 3 round, jadi kita bisa memilih maksimal 3 kelompok tur dalam 3 round tersebut. Saya ikut 2 saja, kelompok 1 di round 2 yang isinya data mining dan kelompok 4 di round 3 yang isinya multimedia. Round 2 saya isi dengan ikut upacara minum Teh.

10

Oke, tur pertama ini sangat menarik dan bahkan menginspirasi kira-kira saya mau ambil skripsi apa besok *halah*. Kayaknya saya mengunjungi 3 lab tapi saya cuma inget 2 @,@

Pertama ke Data Engineering Laboratory milik Professor Iwaihara (row atas). Di sini Prof Iwaihara cerita gimana caranya handling a very huge data seperti data social media dan sebagainya, kemudian diambil polanya, seperti rekomendasi untuk setting privacy Facebook misalnya, diambil dari data se-strong apakah Facebook user biasanya mengamankan privasinya. Oh iya, termasuk di dalamnya Social Network Analysis, bahan yang pengen saya jadiin skripsi karena cocok untuk saya yang tukang kepo *eh*.

Kedua ke tempat Prof Lepage dari Perancis (row bawah). Saya punya first impression yang menyenangkan dari prof yang satu ini karena beliau pas ke booth saya nyeletuk “Saya mau beli susu anak” sumpah saya kaget. Ternyata istrinya ada keturunan Malaysia –,-. Prof Lepage ini spesialisasi Language Processing Machine Translation. Translasi bahasa biasanya dilakukan dengan memiliki big data tentang satu bahasa dan bahasa lain atau bahasa tujuan. Namun terkadang big data tersebut tidak didapatkan. Di sektor inilah para mahasiswa di lab Prof Lepage bekerja, yakni mencari keterkaitan antara satu frasa dengan frasa translasinya, dituangkan dalam bentuk perbandingan, dan perbandingan (algoritma) ini yang digunakan untuk “menebak” jika ada kalimat x yang mirip kalimat y yang sudah diketahui nilai “perbandingan”nya, translasinya akan jadi seperti apa. Lebih ke sentence sih, macam grammar dan sebagainya. Menarik.

11

Round ketiga kami ikut Tour 4 ke Multimedia labs. Ini juga menarik banget. Kami ke 3 lab yang mirip, semuanya konsen ke hardware, membuat processing card macam graphic card (row atas dan tengah). Bayangin dong mahasiswa bikin graphic card sendiri.

Di row bawah foto di atas adalah Lab Prof Ikenaga, yang dulunya kerja di NTT, perusahaan telekomunikasi Jepang. So far saya menemukan sebagian besar Prof di Jepang dulunya memang kerja di perusahaan. Itu membuat mereka tidak hanya punya ilmu tapi juga experience di industri jadi gampang banget buat mereka untuk meng-embedkan hasil penelitiannya ke industri. Prof Ikenaga konsen di Man-machine interface, tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan mesin. Di row bawah sebelah kiri beliau memperlihatkan board yang dulunya adalah moyang MPEG2. Di sebelah kanan, beliau mendemokan riset lab nya yang bisa identifikasi gesture jari di udara untuk membentuk pesan di layar. Kabarnya labnya sedang mengembangkan riset yang akan dipakai untuk TV Sharp selanjutnya. Wew.

Awesome Japan is awesome. Saya merasa sangat beruntung bisa keliling lab, tahu seperti apa riset di Jepang dan bisa bertemu dengan Prof-Prof yang keren. Pas saya tanya ke si Bapak

“Pak jurusan kita kenapa nggak gini aja Pak? Punya banyak lab terus mahasiswanya diembed ke lab-lab yang mereka inginkan”

“Idelanya gitu mon, tapi realitanya kita nggak punya tempat”

;_; So sad.

Sorenya kami ke Mojiko, semacam daerah pinggir pantai, Kota Lama gitu kalo di Semarang atau Kota Tua nya Jakarta untuk malamnya kami gala dinner. Di perjalanan, saya sama si Bapak diskusi banyak hal, mulai dari besok habis kuliah saya mau ngapain

“Saya kayaknya pengen kuliah di Jepang sini pak”

“Nggak pengen ke barat po?”

“Pengen tapi saya pengen cari tau dulu yang bagus apa pak”

“Halah S2 ki yang penting sekolah kamu Mon nggak usah nyari bagus apa enggak”

Bapak……………

Si Bapak juga tanya kenapa mahasiswa IT sekarang jarang yang suka ngoding, bener-bener coding, paling cuma beberapa, satu atau dua biji mahasiswa aja

“Kurang di-push kali pak, saya dulu juga baru ngerti gimana coding gara-gara dikasih tugas akhir PBO yang suruh bikin whole aplikasi. Dari awal kan juga kami diberi tahu kalau IT tidak hanya sekedar coding tapi juga ada jaringan, mungkin pada ngira jaringan lebih gampang jadinya pada interest ke sana yang dipikirnya lebih gampang dari coding”

Jadi pada intinya problem di atas belum solved. Temen-temen kelas C mungkin ada yang bisa bantu saya menjawab kenapa diantara kita jarang yang suka coding?

12

Di sini ada jembatan yang menghubungkan Honsu dengan Kyushu

13

Banyak bangunan tua yang ngga mirip bangunan Jepang

14

Stasiun lama, dulu sini pusat transportasi gitu karena deket pelabuhan

15

Foto-foto yang ada saya-nya ini credits to si Bapak yang bawa Canon 550D nya. Pantai, apalagi senja memang selalu romantis, apalagi di pinggir dermaga, apalagi jalan berdua, apalagi hunting sunset, tapi kenapa harus sama si Bapak, kenapa nggak sama…… *sebagian teks hilang*

Malamnya kami dinner di Restoran Briliansa Mojiko, tepi pantai, lantai 3. Lumayan bisa lihat pemandagan malam pulau sebelah yang indah. Di sini nggak semua makanannya halal jadi harus dipilih. Ada acara toast pake Wine lagi, tapi saya dan teman-teman sejenis saya pakenya es teh ._.

Unexpectedly, ada pengumuman penghargaan presenter terbaik dan penyaji poster terbaik. Presenter itu untuk sesi seminar. Dan ketika diumumkan penyaji poster terbaik…

“1st Winner is Nurvirta Monarizqa from Universitas Gadjah Mada”

Melongo mampus dong. Pertama karena research saya cupu dan kedua karena poster saya jelek dari segi penampilan fisik. Hipotesis saya, mungkin saya bisa dapet karena saya masih undergraduate kali ya jadi masih bisa komunikasi secara “manusiawi” karena konon katanya semakin pinter semakin susah menuangkan ide dalam komunikasi, hahahaha……

21

Saya maju ke depan (dan bodohnya masih pake jaket buluk saya tersebut padahal ini acara resmi) dan memberikan speech kayak pemenang Oscar aja. Foto credits to Taro Umetsu yang dengan baiknya ngirim 11 foto saya waktu di depan via email. Tuh kan orang Jepang emang baik banget :”)

I feel so blessed, thanks to orang tua yang selalu doain, terus juga Gembelszt: Trias, Ema, sebagai tim eMart yang inspire saya untuk bikin ini dan tentu si Bapak yang ngasih saya kesempatan ikut Symposium. Walau cuma award lucu-lucuan, tapi ini cukup precious buat saya soalnya saya bener-bener nggak nyangka akan diapresiasi seperti ini. Terima kasih IPS Waseda Smile

Bersambung…

Movember Part 1: “Warm” Kitakyushu

Jadi ceritanya, saya berkesempatan mengikuti International Collaboration Symposium yang diadakan oleh Graduate School of Information and Production System, Waseda University, Jepang. Gimana cara mendapatkan kesempatannya-lah yang kemudian membuat saya berpikir bahwa nama tengah saya adalah “Lucky”. Saya lupa sih, kalo nggak salah bapak Ketua Jurusan saya yang baik hati, pak Lukito  mengundang saya ke ruangannya. Saya lupa, lewat Plurk apa ya, maklum si Bapak yang satu ini adalah Dosen 2.0. Pertamanya sih takut soalnya suatu hari saya pernah dipanggil ke ruangan si Bapak, lewat Plurk juga, yang ternyata kemudian diinterogasi macam2, semacam disidang gitu, gara-gara waktu itu saya lagi galau dan kayaknya kegalauan saya membuat si Bapak resah karena mungkin mengancam stabilitas jurusan (plis mon) hahahahahahaaaa….

Ternyata eh ternyata

“Mon ini ada seminar di Jepang, kelihatannya sih semua akomodasi ditanggung, kamu mau ikut nggak”

Hening sejenak. Ini kayak Si Bapak nawarin permen aja ke saya, gampang banget gitu kelihatannya. Automatically, saya njawab

“Ya mau lah Pak, siapa yang nggak mau”

“Yaudah ini formulirnya diisi, sebelum tanggal 3 dikembalikan ke sini”

Which means lusa harinya. Dan awalnya saya nggak expect too much soalnya kayak nggak serius banget gitu kan ._. Lagipula kenapa gitu si Bapak milihnya saya? *ini misteri terbesar saya selama 3 bulan ini*. Lagipula saya sibuk ngurusi INAICTA sama Gemastik saya waktu itu. Hingga akhirnya saya dikirim email dari Waseda untuk kemudian kirim paspor, dan akhirnya saya dikirimi tiket pesawat dari sana, dan akhirnya ngurus visa, dan akhirnya saya benar-benar berangkat pada 12 November 2012 berdua dengan si Bapak.

 

“Warm” Kitakyushu

Saya kasih tanda petik karena pada dasarnya Jepang sedang musim gugur, suhunya 9-13 derajat. Sumpah kayak suhu kulkas. Tapi yang bikin saya amazed adalah ke-hangat-an orang Jepang dalam hal berkomunikasi dan bersosialisasi dengan kami. Dari pertama saja sebelum kami berangkat, mereka membantu banyak. Informasi yang mereka berikan sangat jelas, sampai tempat di mana mereka akan menunggu di bandara Fukuoka, mereka foto dan dikirim ke kami. Baik banget. Sampe saya inget banget saya nggak ngasih tahu mereka kalo udah dapet visa sampe mereka khawatir, terus mereka email dan baru saya jawab

image

Ramah bangeeeeeeeeeeeeeet….

Keramahan orang Jepang tidak berhenti sampai situ saja. Mereka selalu membantu dengan tulus ikhlas dan total. Kayaknya udah dibahas panjang lebar sama si Bapak di sebuah notesnya, jadi cukup baca di sini saja gimana baiknya mereka selalu membantu kami. Bandingin sama di Indonesia yang orangnya sok sibuk ketika ditanya mereka simply said “tidak tahu” biar nggak ditanya melulu.

Perjalanan ke Jepang, saya transit di Korea, total hampir 12 jam perjalanan apa ya. Dari Jogja 19.00 tanggal 12 dan baru sampe di sana 09.30 waktu setempat tanggal 13. Selisih dua jam. Di sana lebih cepat dua jam. Perjalanan yang saya tempuh kayak jalanan Pogung, belum diaspal alias full of turbulence. Di sini saya sadar saya mulai takut naik pesawat.

Sampai, kami dijemput panitia dan diantar ke hotel Crown Palais Kitakyushu. Kitakyushu adalah satu kabupaten di pulau Kyushu, sepi, nggak rame, kayaknya ini Jepang kampung gitu. Tapi so far so good, udaranya dingin tapi tidak membuat saya yang alergi dingin ini kemudian kambuh dan sakit. Udaranya enak mampus.

1

Kamar saya. Kecil tapi nyaman, apalagi klosetnya anget.

Belum makan siang, saya janjian sama si bapak mau cari makan sorenya. How lucky, kami ketemu rombongan Indonesia! Di undangan, Universitas di Indonesia hanya kami yang diundang. Saya sebenernya nggak kebayang sih kalo nantinya hanya kemana-mana berdua dengan si bapak, jadi cukup bersyukur ada tambahan rombongan. Ada Pak Armin, Pak Pur, Kak Anti, Kak Puput, Kak Mey dari Makassar. Ternyata Prof Armin dulu kuliah di Jepang jadi punya relasi kemari. Kami cari makan di semacam Mall. Mahal banget dapet Udon 610 Yen ;_;

2

Saya dengan nekatnya cuma pake kaos dilapis sweater ini di suhu 10 derajat. Ajaibnya, saya kok nggak menggigil dan merasa kedinginan yang sangat ya? Efek sugesti kayaknya.

3

jajan di foodmart dulu

The Symposium

Ternyata, kabupaten Kitayushu ini oleh pemerintah diset sebagai kabupaten berbasis riset dan semacam ecotown begitu, jadi disini ada Research Area yang mana ada tiga cabang Universitas di dalamnya termasuk Waseda University, yang mencabangkan Graduate School of IPS nya.

Symposiumnya sendiri berlangsung 3 hari, hari pertama seminar begitu, mendengarkan speech dari berbagai researcher di penjuru Asia ini seharian. Hari kedua ada poster session untuk kami para student dan hari ketiga ada kunjungan ke eco town. So tidak banyak yang saya dapatkan di hari pertama selain mendengarkan seminar, seminar dan seminar

4

Cukup menarik adalah ketika seminar ini mendatangkan Pak Seichi Horie, MD, MPH, PhD sebagai Keynote Speakernya. Beliau dari Department of Health Policy and Management, Institute of Industrial Ecological Sciences, University of Occupational and Environmental Health Jepang yang membawakan speech tentang Development of occupational health policies di Jepang. Jadi di Jepang, mereka juga memperhatikan kesehatan para pekerja di sana dan Bapak tersebut menjelaskan bangaimana mereka mendevelop aturan-aturan dan standar kesehatan untuk para pekerja tersebut.

Hari pertama kami juga nyempatin foto-foto *penting*

5

Baiknya panitia, kami diberi makanan halal disana :3. Di sini si Bapak bertemu dengan banyak mahasiswanya. Resiko dosen eksis nih Pak. Beruntungnya, salah satu dari mereka yaitu Pak Tibyani mengajak si Bapak (dan include saya alhamdulillahnya) untuk makan di malam harinya

6

Pak Tibyani mengajak keluarganya, Bu Tibyani, dan kedua anaknya (Fia plus Naufal yang lucu) untuk ikut turut makan serta di tempat makan sushi yang menurut saya mirip warnet. Kita antri dulu, dapet nomer meja, kalo udah kosong baru bisa masuk ke semacam bilik gitu yang ada kursinya. Warnet banget kan? Sushinya ditaruh di atas meja yang berputar. Kita juga bisa memesan lewat layar sentuh yang ada di setiap biliknya. Di sini saya dan si Bapak yang nggumun mampus disodorin sushi macem2 dan karena excitednya yaudah apa aja dimakan. Ha.. Ha.. Ha…

Di sini kami bertukar banyak hal. Cerita, pengalaman, ilmu, menyenangkan sekali. Saya diajari gimana caranya pake sumpit dan makan sushi yang bener sama dek Fia yang ternyata Jepangnya jago banget secara udah 3 tahun sekolah dan hidup di sini. Baca tulis dan ngomong Jepang udah level 1 apa ya katanya. Terus Pak Tib cerita gimana caranya satu keluarga ini bisa hijrah kemari. Ternyata beliau dan istrinya dapat beasiswa kuliah di sini, sweet mampus :3 Jadi selain dapet beasiswa, mereka juga dapet tunjangan kalo punya anak, jadi hidupnya terjamin lah kalo kuliah di sini, katanya sih begitu. Di sini juga revealed kalo ternyata si Bapak akan pindah jadi pengurus Fakultas setelah dua periode ini menjabat jadi Kajur. I’ll miss you Bapak, semoga lebih berkembang di tempat yang baru besok. Tetep ngeplurk ya Crying face

Makan selesai, piringnya ditotal. Si pelayan punya semacam penggaris untuk menotal berapa piring yang dihabiskan. Saya pribadi lupa habis berapa piring, 5 lebih kayaknya, plus es krim satu gelas yang enak banget itu :3. Kata dek Fia petugas di sini dedicated sekali selain didukung peralatan yang canggih. Di bawah piringnya ada sensor yang bisa menjamin kualitas mutu makanan, piring muter sekian menit nggak laku, buang. Taunya ya dari sensor itu. Terus kan setiap ambil menu apapun kita harus ambil sepiring-piringnya. Dulu pernah ada yang ambil jus nggak ambil sepiringnya. Ketahuan kan di dapur tinggil piring kosong doang yang muter, diuberlah sampe dapet jus tersebut oleh si Pegawai. Dedicated sekali.

Malam ini kami akhiri dengan mengunjungi semacam jalan yang kanan-kirinya ada pinus, semacam hutan pinus Bantul. Saya sama si Bapak doang ding, Pak Tib karena malam pulang karena si Naufal udah ngerengek minta pulang. Saya nggak bisa baca tulisan Jepang, tapi sepenangkep saya dari gambar di papan kayaknya buat ngarak sesuatu kalo ada perayaan gitu

7

Di sini kami jumpa beberapa orang yang masih jogging padahal itu udah sekitar jam 10 malam. Pantes aja orang di sini banyak yang panjang umur. Saya jadi kebrainstrom banyak hal selama beberapa hari pertama di sini. Termasuk diantaranya menghabiskan masa tua saya di Jepang *lho* tapi sama siapa belum tau :”> #eh

Bersambung……

Turbulence


Dalam 12 hari harus menghadapi 8 penerbangan itu menyiksa. Seperti captionnya, saya memang benci turbulens, karena...

  1. ... rasanya seperti kamu naik motor di jalanan berbatu. Konsentrasi ekstra karena resiko jatuhnya besar. Kalo di darat, jatuh di jalan berbatu, paling cuma lecet. Lha ini di udara, kalo jatuh kan :((
  2. ... saya nggak punya "tangan lain" untuk digenggam :| #ifyouknowwhatImean
Hahahaha.........

Movember

Literally, karena saya sedang melakukan pergerakan (move) di bulan November ini. So damn excited dan tak sabar untuk menuliskannya di sini. Spoiler saja, rutenya adalah Jog - Jkt - Seoul - Fukuoka - Seoul - Jkt - Malay - Sgpore - Jkt - Jog. Seandainya APICTA juga November, rutenya pasti nambah, habis Jog terakhir akan ada  Jkt - Brn - Jkt - Jog. Terus habis itu tepar, hahahaha.

Satu hal yang saya dapatkan dari sini adalah, saya jadi tau apa middlename saya

LUCKY

Yes, I am Nurvirta "lucky" Monarizqa.

Tahu Diri

Tahu Diri (OST-Perahu Kertas) 
Maudy Ayunda 

Hai, Selamat bertemu lagi 
Aku sudah lama menghindarimu 
Sialkulah kau ada disini 
Sungguh tak mudah bagiku 
Rasanya tak ingin bernafas lagi 
Tegak berdiri didepanmu kini.. 

Sakitnya menusuki jantung ini 
Melawan cinta yang ada di hati 

Reff: 
Dan upayaku tahu diri 
Tak s'lamanya berhasil 
'Pabila kau muncul terus begini 
Tanpa pernah kita bisa bersama 
Pergilah..menghilang sajalah lagi 

Bye, Selamat berpisah lagi 
Meski masih ingin memandangimu 
Lebih baik kau tiada disini 

*kemudian mendelete sebuah kontak di HP yang status wasapnya memunculkan nama seorang wanita - bukan namaku tapi*

Sungguh tak mudah bagiku 
Menghentikan s'gala khayalan gila 
Jika kau ada dan ku cuma bisa.. 
Meradang menjadi yang disisimu 
Membenci nasibku yang tak berubah 

ke: Reff 

Berkali-kali kau berkata.. 
Kau cinta tapi tak bisa 
Berkali-kali ku t'lah berjanji.. 
Menyerah... 

Dan upayaku tahu diri.. 
Tak s'lamanya berhasil... 

Ke: Reff 

Pergilah..menghilang sajalah 
Pergilah..menghilang sajalah.. 
Lagi..

Hai lagu, kenapa kamu dalem banget :')

Autumn

Saya kemaren habis melakukan perjalanan menyedihkan, yang saya dokumentasikan di sebuah posting nggak mutu. Tapi positifnya dari perjalanan tersebut, saya tersadar bahwa selain suka sunlight (sunset dan sunrise), saya juga cinta banget sama pepohonan yang daunnya meranggas jatuh. Walaupun terlihat gersang, tapi mereka di mata saya terlihat kuat karena masih berdiri tegak walau ditinggalkan dedaunan. Coklat dan misteriusnya itu lho yang nggak nahan. Heavenly, pemandangan spektakuler tersebut saya dapatkan selama perjalanan seminggu saya tersebut

IMG_20121016_162047

IMG_20121017_214016

dua gambar di atas diambil dengan menggunakan Charles, alias XPERIA MINI, diedit pake instagram, sekitar jalan Cepu-Blora

IMG_2196

Pohon di atas bukit, saya lupa di desa mana, diambil pake IXUS 220

IMG_2242

Hutan di Kedungtuban, diambil juga pake IXUS 220 dengan sedikit editan photoshop biar terkesan misterius

Dan ini dia foto favorit saya, yang menggabungkan dua hal favorit: sunset dan pohon meranggas

IMG_2240

Diambil di jalan Randublatung – Blora pake IXUS 220 pas senja-senjanya. Lovely.

Walaupun bagus, IMHO, saya males balik ke sana karena sejuta alasan. Terutama karena sudah tidak ada yang diperjuangkan lagi, nggak ada motivasi deh *eh*.

abcs