Kuantifikasi Galau

Semalam saya galau karena mendapatkan email dimana ternyata coaching untuk APICTA tabrakan sama symposium saya di Jepang. Padahal dari suratnya, kayaknya kalo gak ikut coaching bakal gak dibolehin berangkat APICTA. Gemes juga sih kenapa jadinya tabrakan, soalnya di awal dikasih taunya tanggal 26, bukan 12. Biasa, wanita, suka terlalu jauh berpikir ke depan dan saya sudah berpikir gak bisa berangkat APICTA

2

Lucunya adalah ketika kemudian, teman seperjuangan saya, teman yang sering sekamar sama saya jaman SMP-SMA: mbak Tata yang cantik, kemudian mbales twit saya dan kita jadi  ngomongin masalah galau yang dimodelkan dengan bahasa matematika #apadeh. NB: dibacanya dari bawah ke atas

conv

Dan yang membuat saya tertohok banget kemudian adalah twit terakhirnya

1

Yes, dari tadi saya mbahas bahwa galau itu nyata dan pasti punya penyelesaian real walaupun itu irrasional, padahal sebenarnya, galau itu pemodelan imajiner yang bahkan existensi realnya sama sekali nggak ada (abot tenan).

Karena galau itu cuma ada dan menjadi as real as now gara-gara trend. Bergerak naik sesuai pola regresi eksponensial.

Padahal sebenarnya, galau itu imajiner, cuma ada di otak kita, kita yang mengimajinasikannya dan membentuk galau itu sendiri. Kalau kita mengimajinasikannya sebagai sesuatu yang berat dan besar, pasti dia akan mendekati sumbu real, namun ketika kita bisa handling dengan melimitkannya hingga mendekati nol, galau itu nggak ada.

Ngomong opo sih Mon –,-, padahal intinya cuma satu sih:

Lebih baik kita menghindari hal-hal yang bikin galau daripada nantinya galau.

1 Response
  1. Yan Restu Freski Says:

    Ingin agar tidak atau mengobati alergi makanan?
    Ada dua caranya:
    1. Jangan dekat2 dengan udang itu lagi.
    2. Latihlah dengan makan udang sesekali sedikit2.

    Get it?

Posting Komentar

abcs