Movember Part 1: “Warm” Kitakyushu

Jadi ceritanya, saya berkesempatan mengikuti International Collaboration Symposium yang diadakan oleh Graduate School of Information and Production System, Waseda University, Jepang. Gimana cara mendapatkan kesempatannya-lah yang kemudian membuat saya berpikir bahwa nama tengah saya adalah “Lucky”. Saya lupa sih, kalo nggak salah bapak Ketua Jurusan saya yang baik hati, pak Lukito  mengundang saya ke ruangannya. Saya lupa, lewat Plurk apa ya, maklum si Bapak yang satu ini adalah Dosen 2.0. Pertamanya sih takut soalnya suatu hari saya pernah dipanggil ke ruangan si Bapak, lewat Plurk juga, yang ternyata kemudian diinterogasi macam2, semacam disidang gitu, gara-gara waktu itu saya lagi galau dan kayaknya kegalauan saya membuat si Bapak resah karena mungkin mengancam stabilitas jurusan (plis mon) hahahahahahaaaa….

Ternyata eh ternyata

“Mon ini ada seminar di Jepang, kelihatannya sih semua akomodasi ditanggung, kamu mau ikut nggak”

Hening sejenak. Ini kayak Si Bapak nawarin permen aja ke saya, gampang banget gitu kelihatannya. Automatically, saya njawab

“Ya mau lah Pak, siapa yang nggak mau”

“Yaudah ini formulirnya diisi, sebelum tanggal 3 dikembalikan ke sini”

Which means lusa harinya. Dan awalnya saya nggak expect too much soalnya kayak nggak serius banget gitu kan ._. Lagipula kenapa gitu si Bapak milihnya saya? *ini misteri terbesar saya selama 3 bulan ini*. Lagipula saya sibuk ngurusi INAICTA sama Gemastik saya waktu itu. Hingga akhirnya saya dikirim email dari Waseda untuk kemudian kirim paspor, dan akhirnya saya dikirimi tiket pesawat dari sana, dan akhirnya ngurus visa, dan akhirnya saya benar-benar berangkat pada 12 November 2012 berdua dengan si Bapak.

 

“Warm” Kitakyushu

Saya kasih tanda petik karena pada dasarnya Jepang sedang musim gugur, suhunya 9-13 derajat. Sumpah kayak suhu kulkas. Tapi yang bikin saya amazed adalah ke-hangat-an orang Jepang dalam hal berkomunikasi dan bersosialisasi dengan kami. Dari pertama saja sebelum kami berangkat, mereka membantu banyak. Informasi yang mereka berikan sangat jelas, sampai tempat di mana mereka akan menunggu di bandara Fukuoka, mereka foto dan dikirim ke kami. Baik banget. Sampe saya inget banget saya nggak ngasih tahu mereka kalo udah dapet visa sampe mereka khawatir, terus mereka email dan baru saya jawab

image

Ramah bangeeeeeeeeeeeeeet….

Keramahan orang Jepang tidak berhenti sampai situ saja. Mereka selalu membantu dengan tulus ikhlas dan total. Kayaknya udah dibahas panjang lebar sama si Bapak di sebuah notesnya, jadi cukup baca di sini saja gimana baiknya mereka selalu membantu kami. Bandingin sama di Indonesia yang orangnya sok sibuk ketika ditanya mereka simply said “tidak tahu” biar nggak ditanya melulu.

Perjalanan ke Jepang, saya transit di Korea, total hampir 12 jam perjalanan apa ya. Dari Jogja 19.00 tanggal 12 dan baru sampe di sana 09.30 waktu setempat tanggal 13. Selisih dua jam. Di sana lebih cepat dua jam. Perjalanan yang saya tempuh kayak jalanan Pogung, belum diaspal alias full of turbulence. Di sini saya sadar saya mulai takut naik pesawat.

Sampai, kami dijemput panitia dan diantar ke hotel Crown Palais Kitakyushu. Kitakyushu adalah satu kabupaten di pulau Kyushu, sepi, nggak rame, kayaknya ini Jepang kampung gitu. Tapi so far so good, udaranya dingin tapi tidak membuat saya yang alergi dingin ini kemudian kambuh dan sakit. Udaranya enak mampus.

1

Kamar saya. Kecil tapi nyaman, apalagi klosetnya anget.

Belum makan siang, saya janjian sama si bapak mau cari makan sorenya. How lucky, kami ketemu rombongan Indonesia! Di undangan, Universitas di Indonesia hanya kami yang diundang. Saya sebenernya nggak kebayang sih kalo nantinya hanya kemana-mana berdua dengan si bapak, jadi cukup bersyukur ada tambahan rombongan. Ada Pak Armin, Pak Pur, Kak Anti, Kak Puput, Kak Mey dari Makassar. Ternyata Prof Armin dulu kuliah di Jepang jadi punya relasi kemari. Kami cari makan di semacam Mall. Mahal banget dapet Udon 610 Yen ;_;

2

Saya dengan nekatnya cuma pake kaos dilapis sweater ini di suhu 10 derajat. Ajaibnya, saya kok nggak menggigil dan merasa kedinginan yang sangat ya? Efek sugesti kayaknya.

3

jajan di foodmart dulu

The Symposium

Ternyata, kabupaten Kitayushu ini oleh pemerintah diset sebagai kabupaten berbasis riset dan semacam ecotown begitu, jadi disini ada Research Area yang mana ada tiga cabang Universitas di dalamnya termasuk Waseda University, yang mencabangkan Graduate School of IPS nya.

Symposiumnya sendiri berlangsung 3 hari, hari pertama seminar begitu, mendengarkan speech dari berbagai researcher di penjuru Asia ini seharian. Hari kedua ada poster session untuk kami para student dan hari ketiga ada kunjungan ke eco town. So tidak banyak yang saya dapatkan di hari pertama selain mendengarkan seminar, seminar dan seminar

4

Cukup menarik adalah ketika seminar ini mendatangkan Pak Seichi Horie, MD, MPH, PhD sebagai Keynote Speakernya. Beliau dari Department of Health Policy and Management, Institute of Industrial Ecological Sciences, University of Occupational and Environmental Health Jepang yang membawakan speech tentang Development of occupational health policies di Jepang. Jadi di Jepang, mereka juga memperhatikan kesehatan para pekerja di sana dan Bapak tersebut menjelaskan bangaimana mereka mendevelop aturan-aturan dan standar kesehatan untuk para pekerja tersebut.

Hari pertama kami juga nyempatin foto-foto *penting*

5

Baiknya panitia, kami diberi makanan halal disana :3. Di sini si Bapak bertemu dengan banyak mahasiswanya. Resiko dosen eksis nih Pak. Beruntungnya, salah satu dari mereka yaitu Pak Tibyani mengajak si Bapak (dan include saya alhamdulillahnya) untuk makan di malam harinya

6

Pak Tibyani mengajak keluarganya, Bu Tibyani, dan kedua anaknya (Fia plus Naufal yang lucu) untuk ikut turut makan serta di tempat makan sushi yang menurut saya mirip warnet. Kita antri dulu, dapet nomer meja, kalo udah kosong baru bisa masuk ke semacam bilik gitu yang ada kursinya. Warnet banget kan? Sushinya ditaruh di atas meja yang berputar. Kita juga bisa memesan lewat layar sentuh yang ada di setiap biliknya. Di sini saya dan si Bapak yang nggumun mampus disodorin sushi macem2 dan karena excitednya yaudah apa aja dimakan. Ha.. Ha.. Ha…

Di sini kami bertukar banyak hal. Cerita, pengalaman, ilmu, menyenangkan sekali. Saya diajari gimana caranya pake sumpit dan makan sushi yang bener sama dek Fia yang ternyata Jepangnya jago banget secara udah 3 tahun sekolah dan hidup di sini. Baca tulis dan ngomong Jepang udah level 1 apa ya katanya. Terus Pak Tib cerita gimana caranya satu keluarga ini bisa hijrah kemari. Ternyata beliau dan istrinya dapat beasiswa kuliah di sini, sweet mampus :3 Jadi selain dapet beasiswa, mereka juga dapet tunjangan kalo punya anak, jadi hidupnya terjamin lah kalo kuliah di sini, katanya sih begitu. Di sini juga revealed kalo ternyata si Bapak akan pindah jadi pengurus Fakultas setelah dua periode ini menjabat jadi Kajur. I’ll miss you Bapak, semoga lebih berkembang di tempat yang baru besok. Tetep ngeplurk ya Crying face

Makan selesai, piringnya ditotal. Si pelayan punya semacam penggaris untuk menotal berapa piring yang dihabiskan. Saya pribadi lupa habis berapa piring, 5 lebih kayaknya, plus es krim satu gelas yang enak banget itu :3. Kata dek Fia petugas di sini dedicated sekali selain didukung peralatan yang canggih. Di bawah piringnya ada sensor yang bisa menjamin kualitas mutu makanan, piring muter sekian menit nggak laku, buang. Taunya ya dari sensor itu. Terus kan setiap ambil menu apapun kita harus ambil sepiring-piringnya. Dulu pernah ada yang ambil jus nggak ambil sepiringnya. Ketahuan kan di dapur tinggil piring kosong doang yang muter, diuberlah sampe dapet jus tersebut oleh si Pegawai. Dedicated sekali.

Malam ini kami akhiri dengan mengunjungi semacam jalan yang kanan-kirinya ada pinus, semacam hutan pinus Bantul. Saya sama si Bapak doang ding, Pak Tib karena malam pulang karena si Naufal udah ngerengek minta pulang. Saya nggak bisa baca tulisan Jepang, tapi sepenangkep saya dari gambar di papan kayaknya buat ngarak sesuatu kalo ada perayaan gitu

7

Di sini kami jumpa beberapa orang yang masih jogging padahal itu udah sekitar jam 10 malam. Pantes aja orang di sini banyak yang panjang umur. Saya jadi kebrainstrom banyak hal selama beberapa hari pertama di sini. Termasuk diantaranya menghabiskan masa tua saya di Jepang *lho* tapi sama siapa belum tau :”> #eh

Bersambung……

0 Responses

Posting Komentar

abcs