Movember Part 5: Air Asia Malaysia, Inspiring!

Bagian ini adalah lanjutan dari sequel Movember yang kayaknya bakal sampai season Ramadhan hahaha… Jadi dianjurkan membaca Part 4 nya terlebih dahulu. Baca dari Part 1, terus dilanjut Part 2 dan Part 3 boleh juga lho…

 

KBRI Tersibuk di Dunia: KBRI Kuala Lumpur

9

Sedikit belajar tentang politik Luar Negeri, itulah yang didapatkan dari kunjungan kami keesokan harinya ke KBRI Kuala Lumpur. Sedikit terlambat, kami tidak bisa berjumpa dengan bapak Kepala Bagian Penerangan, Sosial dan Budaya, Bapak Suryana Sastradireja. Beruntung, kami masih bisa berdiskusi dengan ibu Dewi yang mewakili beliau.

Seperti finance, I’m also have no interest in International Relation. Tapi so far, ibu Dewi cukup baik memberikan penjelasan mengenai bagaimana peran KBRI menghadapi isu-isu yang berkembang dewasa ini seperti TKI on sale misalnya.

Satu hal yang menjadi sorotan saya karena saya adalah anak Teknologi Informasi adalah kurangnya KBRI melakukan ekspos berita positif untuk menangkal berita-berita negatif. Padahal, KBRI Kuala Lumpur memiliki kewenangan yang besar untuk melakukan hal tersebut. Berita yang positif akan menumbuhkan optimisme di Indonesia. Sebagai contoh pemuatan berita WNI yang sukses memiliki usaha di Malaysia, efeknya kita jadi tahu bahwa “oh ternyata orang Indonesia bisa jadi bos di Malaysia, tidak hanya sebagai bawahan yang selalu disuruh-suruh”, atau “Oh, saya bisa juga berinvestasi di Malaysia, sumbangsihnya akan jauh lebih besar ketimbang hanya menjadi TKI”. Saya yakin sebenarnya KBRI bisa melakukan ini karena faktanya memang banyak orang Indonesia yang sukses demikian, sedihnya, kurang terekspos.

Selesai siang hari, kami makan dan beli oleh-oleh, dan foto di Petronas

10

Coklat Beryl’s enak banget sodara-sodaraaaaaa…

And then kami cuss ke Air Asia Smile

 

The Very Inspiring Air Asia

11

12

image

Scholars were very lucky dapat mengunjungi Kantor Air Asia di LCCT KLIA, double combo luckies karena sempat bertemu dengan CEO nya yang legendaris, Tony Fernandes. Saya juga merasa sangat beruntung karena akhirnya tidak harus berjibaku lagi dengan finance maupun politik. Saya juga mendapat combo keberuntungan karena pelajaran yang didapatkan sangat menginspirasi hidup saya hari ini.

Everyone is happy

14

Sekeliling, saya melihat para karyawan sangat bersahabat satu sama lain. Tempat ini adalah tempat di mana orang bekerja dengan bahagia. Dengan memiliki rasa senang ketika bekerja, tentu bekerja menjadi lebih ringan seperti tanpa beban sehingga hasilnya tentu dapat maksimal.

Mandiri dan Kreatif

13

Sementara maskapai lain menggunakan pihak ketiga untuk membuat sistem online bookingnya, Air Asia membuatnya sendiri di seluruh lini sistem termasuk server. Keuntungan pertama, monitoring dapat dilakukan secara maksimal karena tentu lebih mudah dipantau mengingat jaraknya yang secara fisik “dekat” antara server, administrator dan sistem. Akibatnya, keamanan yang prima dapat dimiliki,

Keuntungan kedua adalah menekan biaya karena sebagai Budget Airlines Air Asia diharuskan menekan biaya seminimal mungkin dan keuntungan ketiga, sebagai maskapai yang memang sangat berfokus pada online ticketingnya, mereka bisa melakukan kustomisasi sesuka hati pada sistem, seperti memperbaharui tampilan web. Tentunya lebih kreatif juga karena yang membuatnya adalah karyawan sendiri yang mengetahui seluk-beluk Air Asia, selain juga karena mereka melakukannya dengan gembira.

Openess

15

Baris tengah adalah meja pak Tony, berbaur dengan meja karyawan lain, yang membedakan hanyalah tempelan topi di dinding wkw

Tidak ada dinding antara satu kantor dengan kantor yang lain. Saya hanya menjumpai teralis kayu yang mengitari setiap ruangan sehingga apa yang dilakukan di sebuah ruangan kantor bisa dilihat oleh yang lain. Termasuk dengan meja Tony Fernandes, tidak ada sekat ruangan, berbaur dengan pegawai yang lain. Filosofinya adalah openess atau keterbukaan. Bekerja dengan keterbukaan membuat semuanya menjadi transparan dan tentu dapat meminimalisasi rasa curiga atau timbulnya dugaan-dugaan negatif yang dapat merusak kinerja perusahaan.

Natural Disaster, Culture Preservation, Human Trafficking

Air Asia tidak memiliki kegiatan Social Corporate Responsibility secara khusus. Mereka mengintrepretasikan “social responsibility” dengan sudut pandang yang lebih luas. Dengan cara mereka membuka rute “aneh” misalnya. Aneh di sini adalah mereka membuka penerbangan ke tempat yang bahkan orang tidak ingin pergi ke tempat tersebut, tahu saja tidak. Namun ternyata efeknya besar. Mereka menjadi “pembuka lahan” dengan mendatangkan pengunjung, wisatawan ke tempat tersebut hingga akhinrnya “tempat yang tidak diketahui dan diinginkan untuk didatangi siapa pun” tersebut berkembang ekonominya dan bertumbuh karena ada akses transportasi yang disediakan Air Asia. It gives broader-look and huge benefits better than just make a social event in a place in a narrow time.

Selain itu mereka juga sangat concern dengan Natural Disaster, seperti menjadi maskapai yang terbang ke Aceh saat Tsunami kala semua maskapai tidak ada yang berani terbang ke sana.

Namun mulai Januari 2013, Air Asia akan membuat Air Asia Foundation yang akan mengorganisir CSR ini menjadi lebih real dengan berfokus pada empat hal seperti penerbangan “aneh” tadi, membantu pemulihan daerah terkena bencana alam, melestarikan kebudayaan dan mencegah perdagangan manusia.

We hire real person wih real friends, not fake person with just facebook or dogs

That’s what Yvonne have said ketika kami bertanya kriteria orang macam apa yang diterima bekerja di Air Asia. Simple sekali ternyata, dan mengena.”I will work with you 8 hours a day so it will be disaster if I feel not comfort working with you”, tambahnya. Sekali lagi, kemampuan komunikasi dan bergaul memang sangat penting. Sayangnya, kemampuan ini sekarang cukup langka mengingat dunia maya dewasa ini kadang menjadi penghambat berkembangnya seni komunikasi langsung pada individu.

Dalam sekali makna pesan yang terakhir ini. Memang benar bahwa dunia maya kadang mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Seni komunikasi langsung menjadi hilang seiring dengan banyaknya orang yang lebih suka “menunduk” ketika berada di antara banyak orang, bukan mengajaknya ngobrol. Semoga kita bukan salah satunya

Bersambung……

0 Responses

Posting Komentar

abcs