They Said I'm Workaholic

diambil dari http://media-cache-ec2.pinterest.com/upload/85075880431816653_5xUHalhI_c.jpg

"Ketika kita berusaha menyenangkan semua orang, di akhir, kita sendiri yang tidak bahagia" - Ir Subagyo, Ph.D

Akhir-akhir ini saya sibuk, sangat sibuk, bahkan sampai 7 pekan tidak kuliah. Kemudian banyak "kesimpulan" datang menghampiri saya seperti

"Kamu memenuhi syarat nomor 2 istri bukan idaman: workaholic"

atau

"Kalau pake istilah cowokku, kamu itu 'yes girl'"

:')

Secara mendasar, saya adalah orang Jawa yang pakewuhan memang, lebih tepatnya. tidak pernah ingin mengecewakan orang lain. Saya paling sedih melihat raut kecewa dari orang yang sudah percaya pada saya.

Semakin dipercaya oleh orang lain, maka semakin kamu "dipakai". Itu yang saya alami sekarang, sebuah konsekuensi menjadi orang yang "dipercaya". Back to my nature, saya tidak ingin mengecewakan mereka. Akibatnya saya jadi punya banyak kerjaan dan menjadi apa yang mereka katakan "sibuk" atau "workaholic" atau "yes girl" itu.

Nggak nolak Mon?

Kalau kalian tahu, sebenarnya yang saya tolak itu lebih banyak dari yang saya terima sekarang :)

Begini-begini saya juga punya prioritas. Saya bertindak berdasarkan prioritas. Apa yang saya kerjakan di kurun waktu T(x) adalah prioritas saya terhadap x *malah bikin fungsi*, yang intinya, setiap menit saya memiliki prioritas. Dulu mungkin prioritas saya masih acak-acakan sehingga saya terlihat seperti sangat yes girl dan tidak punya prioritas. Tapi semakin berusia, saya semakin improve manajemen prioritas saya sehingga alhamdulillah lebih baik sekarang. Semoga seterusnya juga begini :)

Nggak stress Mon? Kayaknya kelihatan stress banget gitu.

Kalo ini murni salah saya juga yang sering mengeluh di jejaring sosial :)) Seharusnya ketika saya menyanggupi sesuatu, saya juga menyanggupi segala resikonya. Maaf untuk berlaku sangat tidak dewasa tentang hal ini. Mona juga manusia (ngeles)

Bahagiain orang lain melulu, kapan bahagiain diri sendiri?

Fokus utama dari post ini. Tadi pagi saya kuliah Manajemen Industri dan cukup tertohok dengan quote pak Subagyo di atas tadi, bukan karena saya sedang mengalaminya sekarang, tapi DULU saya mengalaminya saat masih jadi yes girl banget. Semua orang pengen saya bahagiain, tapi saya sendiri nggak bahagia karena saya nggak punya waktu membahagiakan diri sendiri.

Lain dulu lain sekarang. Berkat manajemen prioritas, saya jadi makin "lihai" curi-curi waktu di sela kehectican saya tersebut untuk membahagiakan diri sendiri. Have a talk with family atau hang out bareng temen, itu yang paling sering saya lakukan.

Ya, hang out dengan temen adalah salah satu cara ampuh membahagiakan orang lain (temen yang ngajak, karena dia lagi galau mungkin) sekaligus membahagiakan diri kita sendiri karena tidak jarang mereka menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi "beban hidup" (ya secara saya belum punya suami)

Tapi sedih adalah ya ketika itu tadi, teman-teman malah mengeluh sama saya yang jarang jumpa mereka, mengeluh saya terlalu sibuk, dengan segala ungkapannya seperti di atas.

Dear my friends, di saat aku bertemu kalian, itulah prioritasku saat itu, menemui kalian :') Nilainya lebih tinggi di atas nilai prioritas untuk take a job mungkin, atau bahkan berkumpul dengan keluarga. Sedih sekali sebenarnya kalian mengeluh begitu pada saya, rasa-rasanya peluangan waktu saya menjadi tidak dihargai :')

Dan itu saya lakukan selain untuk membahagiakan teman-teman, juga untuk membahagiakan saya sendiri, agar saya tidak lupa caranya membahagiakan diri di tengah hecticnya aktivitas membahagiakan orang banyak.

Tapi lumrah sih, kita tidak bisa merasakan apa yang dirasakan individu lain. Kita nggak bisa tukeran badan sehingga tahu persis apa yang diinginkan dan dirasakan. Jadi wajar sebenarnya ketika teman-teman seperti itu. Everybody wants attention :)

So....

Ketika saya tanya ke temen saya tersebut "Aku harus gimana" ketika dia bilang saya workaholic, dia njawab

"Selagi masih muda, jalani saja"

agak facepalm juga sih, dia bilang saya bukan istri idaman tapi nyuruh saya melanjutkan aktivitas tersebut. Tapi memang itu yang saya lakukan. Selama saya punya kesempatan mengembangkan diri, akan terus saya ambil, selagi saya masih punya passion dan semangat. Karena di jaman 2.0 ini, efeknya nggak cuma buat saya, tapi bisa menyebar ke orang banyak. Kalo saya jadi sukses dan memotivasi mereka dan akhirnya mereka lebih sukses dari saya kan ya pahalanya banyak to? :)

Lagi, I'm not perfect. Tolong selalu ingatkan saya ketika saya punya salah. Ingatkan saya ketika saya mengeluh dan ingatkan kembali akan mimpi dan target-target saya ketika saya sedang down. Teman-teman adalah "pembentuk" saya, sehingga selalu punya nilai prioritas yang tinggi di mata saya. Selain sumber koreksi dan belajar, kalian adalah salah satu sumber kebahagiaan saya, jadi saya nggak mungkin meninggalkan kalian begitu saja.

So jangan khawatir :)

Seperti cerita secangkir kopi, sekalipun hidupmu tampak sudah penuh, tetap selalu tersedia tempat utk secangkir kopi bersama sahabat :)
2 Responses
  1. Randi Says:

    You are AMAZING!!! :)

  2. Nurvirta Monarizqa Says:

    @randi: kok bisa nyasar sampe postingan ini hahaha, lama banget ini :p

Posting Komentar

abcs