Ketika Plan Z mu ternyata adalah Plan A

Sebagai pemudi labil yang (sok) merancang masa depan, tentunya saya punya plan dalam hidup saya. Plan idealis. Singkat kata, berikut adalah salah satu petikan Plan A hidup saya

“KP dan skripsi di luar negeri. Sekolah sampai S3. Tutup hati dulu sampai siap.”

Kenapa tinggi-tinggi amat Mon? Kenapa sibuk amat mon? Ya soalnya saya tahu ketika saya sudah tidak sendiri, saya tidak bisa melakukan semua ini sesuka hati, saya mau stop soalnya perhatian saya pasti kesedot untuk suami saya entah siapa itu. Jadi masa kuliahnya dipuas-puasin :p

Kenapa ada embel-embel tutup hati dulu sampe siap? Soalnya dari pengalaman, saya termasuk orang yang kurang bisa profesional kalo sudah masalah hati. Kelemahan terbesar saya itu di hati. Galau hati bagi saya itu paling dahsyat efeknya, dan saya nggak mau galau hati ketika saya mengejar mimpi-mimpi saya. Pengalaman, biasanya kalo udah kecantol, saya akan adjusting plan hidup saya based on siapa yang bisa buka hati saya. Semisal kecantolnya X yang minder titel saya, ya saya akan mulai mempersiapkan diri untuk semisal tidak usah ambil S3. Kecantolnya Y yang ngga bisa LDR ya saya akan mulai mempersiapkan diri untuk ngga KP di luar, dan sebagainya. Pun ketika patah hati. Efek dominonya panjang.

Pengalaman lagi, kegagalan-kegagalan hati saya sebelumnya sedikit banyak diakibatkan saya yang nampak terlalu “wah”, “tidak tergapai”, “hebat” dan sebagainya. Saya nggak pengen itu terulang lagi, sehingga akhirnya tak jarang saya “menurunkan” plan itu tadi agar bisa bertahan.

Naif.

Iya, iya banget. Makanya saya akhirnya bikin plan B, plan C karena ada oknum-oknum yang akhirnya buka hati saya dan membuat saya merubah plan. Di samping itu juga, ada banyak kegagalan dalam plan yang akhirnya membuat saya merubah dan merubah plan lagi.

Termasuk kegagalan yang terakhir yang akhirnya harus membuat saya membuat plan Y: KKN di Banjarnegara, KP di Bandung. Ini gegara saya mengira saya nggak lolos KP ke NTU (soalnya di webnya tertulis pendaftar akan dihubungi paling lambat 12 April 2013, lolos tidaknya) sedemikian hingga saya harus cari tempat KKN. Berbekal judul yang kece dan kemungkinan akan dijenguk seseorang, saya pilih Banjarnegara. KP di Bandung juga, berbekal tema yang cocok dan kemungkinan bisa sering ketemu seseorang. Naifnya naifnya. Lucunya di akhir, saya akhirnya menjumpai bahwa saya terlalu ngarep. Si orang tadi akhirnya memilih “pergi” Smile

Plan Z harus segera dibuat agar saya tidak sedih berkepanjangan. Ajaibnya, Allah memang Maha Tahu bagaimana caranya membuat hamba-Nya nggak galau,

image

Jadi, saya diumumkan lolos KP di NTU Singapura melalui program ERAP tepat ketika saya sedang membuat plan Z :”) melalui program ini juga, katanya dimudahkan jika nanti mau ambil PhD, kalau kerjanya bagus :”). Allah Maha Tahu lah, Dia nggak mau kalau Mona harus KKN dan KP di tempat yang bisa bikin Mona susah move on :”)

So, akhirnya saya memutuskan Plan Z saya adalah

“KP dan skripsi di luar negeri. Sekolah sampai S3. Tutup hati dulu sampai siap.”

Kayak pernah baca ya, ahahahaha :))

 

Nurvirta Monarizqa

Sedang mengalami siklus tahunannya.

nb: Mohon doanya agar

  1. Dilancarkan, saya masih harus mengurus TEP, semacam permit untuk kerja gitu, dan itu hak pemerintah Singapura memutuskan saya boleh enter Singapura untuk kerja atau tidak
  2. Sembuh. Ahaha… Saya nggak tahu hati saya dibawa kemana jadinya susah menawar racun, sering sakit-sakitan. Saya nggak tahan sakit, saya pengen segera sembuh karena aktivitas yang harus saya lakukan ada banyak. Sakit bikin saya entah kenapa jadi kurang percaya diri untuk membuka “pintu” lagi karena semua kegagalan ini, selain juga jadi sangsi terhadap kemampuan sendiri “apa iya aku terlalu hebat di mata mereka sampai akhirnya selalu begini” “apa iya aku bisa jadi pemimpin”, “apa iya aku bisa menang lomba lagi” dan segala kepesimisan lainnya. Rasanya seperti bukan Mona.

Prepare

“Shit always happen, prepare your weapon”

Hal Paling Ngegemesin di Hidup Nurvirta

“Pengen hidup biasa”

“Kamu ada di atas aku jauuuh… Aku serasa ga pantes buatmu”

Terus kenapa dulu berani ngedeketin, terus nyuri hati aku? Kalo hati udah kebawa gini kan susah juga jadinya. Tanggung jawab!

Mission I’m Possible III failed.

Another Renungan PMS

Saya mungkin cerita di beberapa post sebelumnya kalo saya lagi labil banget sekarang, lagi dalam masa-masa nggak Mona banget, karena masih mencari jati diri. Idealnya nih ya, idealnya saya dipertemukan dengan orang yang juuuuauuuuh lebih dewasa dari saya, bisa ngemong saya dan sabaaaar banget sama saya.

Kenyataannya nggak.

Saya justru dipertemukan dengan orang yang sama labilnya, sama keras kepalanya, tapi juga sama pandangannya di beberapa hal. Saya seperti dikasih “cermin” sama Allah seolah-olah menunjukkan bahwa

“Mon, kamu tuh labilnya kayak gini”.

Walaupun, di banyak hal kami sebenernya beda. Saya cuek dan nggak mikir kalo ngomong, dia sensitif. Saya suka jalan-jalan, dia enggak, dan banyak hal lain yang berbeda seperti cara komunikasi, batasan “biasa” dan lain sebagainya.

Mungkin inilah cara Allah mendewasakan saya, bukan dengan memberi teladan, tapi dengan memberi “cermin” yang seolah-olah pesan implisitnya adalah

“Mon, ini cermin kamu, kalau kamu mau belajar mengalahkan kelabilanmu sendiri, kalahkan cermin ini. Kalau kamu mau belajar dewasa, belajarlah untuk bersabar menghadapi cermin ini, in the end, saling bantulah sama cermin ini, belajar bantu dia supaya jadi dewasa dan nggak labil juga”.

Saya harus bisa mengalahkan diri saya dan cermin saya ini dalam waktu yang bersamaan. Ini tantangan. Walaupun cermin, bukan berarti dia mudah saya kendalikan karena dia ada di tubuh yang lain. Sangat tidak mudah meng-unlabil-kan orang lain di saat kita juga labil gini, karena kita tidak bisa menjamin usaha kita resiprok. Contoh nyatanya ketika dia pesimis maka saya harus optimis dengan harapan ketika saya optimis, optimis dan aura positifnya bisa menular sehingga dia tidak lagi optimis. Oleh karena kelabilan didominasi pesimistis (walau kadang over optimis yang berujung naif juga menjadi bahan bakar labil), saya berusaha untuk tidak membuat dia pesimis. Namun sayang, di sisi lain, dia justru sering membuat saya sendiri ciut mental. Ketika saya pesimis, terkadang dia makin membuat pesimis. Di sinilah sisi tidak resiproknya. Sedih ketika kemudian merasa berjuang sendirian dan satu arah.

But in the end, saya tetap optimis Mission I’m possible III saya ini bisa saya jalankan. Bantu Mona Ya Allah. Kuatin Mona dan cerminnya ya Allah.

In fact, kita memang ketemu dengan banyak jenis manusia di sekitar kita. Beberapa pelajaran yang penting yang saya dapatkan adalah,

  • kita tidak bisa menyamaratakan semua orang seperti pandangan kita
  • orang lain belum tentu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan, lebih khusus, orang lain belum tentu akan memperlakukan kita seperti kita memperlakukan dia
  • kita tidak pernah tau bahwa omongan kita akan begitu dipikirkan oleh orang lain

So, apapun itu, keep positive. Kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang, tapi kita bisa membuat diri kita sendiri senang.

Jadi inget sebuah quote ~

image

abcs