Another Renungan PMS

Saya mungkin cerita di beberapa post sebelumnya kalo saya lagi labil banget sekarang, lagi dalam masa-masa nggak Mona banget, karena masih mencari jati diri. Idealnya nih ya, idealnya saya dipertemukan dengan orang yang juuuuauuuuh lebih dewasa dari saya, bisa ngemong saya dan sabaaaar banget sama saya.

Kenyataannya nggak.

Saya justru dipertemukan dengan orang yang sama labilnya, sama keras kepalanya, tapi juga sama pandangannya di beberapa hal. Saya seperti dikasih “cermin” sama Allah seolah-olah menunjukkan bahwa

“Mon, kamu tuh labilnya kayak gini”.

Walaupun, di banyak hal kami sebenernya beda. Saya cuek dan nggak mikir kalo ngomong, dia sensitif. Saya suka jalan-jalan, dia enggak, dan banyak hal lain yang berbeda seperti cara komunikasi, batasan “biasa” dan lain sebagainya.

Mungkin inilah cara Allah mendewasakan saya, bukan dengan memberi teladan, tapi dengan memberi “cermin” yang seolah-olah pesan implisitnya adalah

“Mon, ini cermin kamu, kalau kamu mau belajar mengalahkan kelabilanmu sendiri, kalahkan cermin ini. Kalau kamu mau belajar dewasa, belajarlah untuk bersabar menghadapi cermin ini, in the end, saling bantulah sama cermin ini, belajar bantu dia supaya jadi dewasa dan nggak labil juga”.

Saya harus bisa mengalahkan diri saya dan cermin saya ini dalam waktu yang bersamaan. Ini tantangan. Walaupun cermin, bukan berarti dia mudah saya kendalikan karena dia ada di tubuh yang lain. Sangat tidak mudah meng-unlabil-kan orang lain di saat kita juga labil gini, karena kita tidak bisa menjamin usaha kita resiprok. Contoh nyatanya ketika dia pesimis maka saya harus optimis dengan harapan ketika saya optimis, optimis dan aura positifnya bisa menular sehingga dia tidak lagi optimis. Oleh karena kelabilan didominasi pesimistis (walau kadang over optimis yang berujung naif juga menjadi bahan bakar labil), saya berusaha untuk tidak membuat dia pesimis. Namun sayang, di sisi lain, dia justru sering membuat saya sendiri ciut mental. Ketika saya pesimis, terkadang dia makin membuat pesimis. Di sinilah sisi tidak resiproknya. Sedih ketika kemudian merasa berjuang sendirian dan satu arah.

But in the end, saya tetap optimis Mission I’m possible III saya ini bisa saya jalankan. Bantu Mona Ya Allah. Kuatin Mona dan cerminnya ya Allah.

In fact, kita memang ketemu dengan banyak jenis manusia di sekitar kita. Beberapa pelajaran yang penting yang saya dapatkan adalah,

  • kita tidak bisa menyamaratakan semua orang seperti pandangan kita
  • orang lain belum tentu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan, lebih khusus, orang lain belum tentu akan memperlakukan kita seperti kita memperlakukan dia
  • kita tidak pernah tau bahwa omongan kita akan begitu dipikirkan oleh orang lain

So, apapun itu, keep positive. Kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang, tapi kita bisa membuat diri kita sendiri senang.

Jadi inget sebuah quote ~

image

0 Responses

Posting Komentar

abcs