Beda

wp_ss_20130611_0001

 

“Everybody changes. Tinggal berubahnya seperti apa. Semoga kita semua selalu berubah menjadi lebih baik :)”

“Dan setiap orang punya jalan hidup masing-masing, beserta pilihan hidupnya masing-masing. Kadang ngga ada salah ngga ada bener, yang ada, beda”

“Tinggal dihargai aja sih perbedaannya, sadar bahwa beda itu biasa. Kita nggak bisa maksain untuk jadi sama. Ikhlasin.”

Nggak nyangka bisa ngetwit begini. Terinspirasi dari pengalaman hidup beberapa bulan terakhir yang penuh warna bertemu berbagai jenis orang yang unik, utamanya, belajar menghadapi perbedaan, perubahan, dan kegagalan.

Ingat kan saya punya motto “blame myself”. Untuk beberapa kasus ternyata ini nyiksa banget ketika kita selalu menyalahkan diri sendiri dan buta dengan kesalahan orang lain, sering, yang ada timbul penyesalan. Blame myself memang baik untuk kemudian membuat kita introspeksi diri, tapi di beberapa kasus, tidak ada yang perlu disalahkan. Posisi “tidak ada yang perlu disalahkan” ini saya anggap lebih netral, dan membuat lebih legowo, karena salah itu relatif. Saya lebih suka menggunakan istilah BEDA untuk mewakili posisi netral ini, karena pada kenyataannya memang perbedaan sudut pandang dan cara berpikir lah yang terjadi, bukan masalah benar dan salah.

Ambil contoh cara makan di lesehan atau penyetan, ada yang menggunakan sendok, ada yang menggunakan tangan. Masing-masing tentu punya pemikiran kenapa langkah itu yang mereka ambil untuk makan, karena lebih nyaman misalnya. Si pengguna sendok bisa saja berpikir “ih kok pake tangan sih, kotor” dan sebaliknya, yang kekeh pake tangan bisa juga berpikir “alah di lesehan gini sok banget sih pake sendok” tanpa tahu sebenarnya si pengguna jari tangan tidak pakai sendok sebenarnya karena kehabisan, atau si pengguna sendok sebenenarnya tidak pernah belajar makan langsung pakai tangan.

Perbedaan ini lumrah. Kadang kita jadi kekeuh untuk memaksakan jadi sama karena kita terlanjur nyaman dengan kesamaan-kesamaan yang selama ini ada. Takut jika harus keluar dari zona nyaman tersebut. Padahal sebenarnya tanpa kita tahu, bisa jadi keluar dari zona nyaman akan menempa diri kita menjadi lebih baik dan kuat dari yang sebelumnya. Sehingga buat saya rumusnya cuma dua: maklumi dan ikhlaskan.


So just be positive, dan tetap tersenyum because smile is the most powerful painkiller :)

Nb: didedikasikan untuk teman-teman yang sedang patah hati. Kalian ini kok ya patah hati barengan gini sih :))
1 Response
  1. septika prismasari Says:

    Mona, thank you so much! :")

Posting Komentar

abcs