Gumelem

BOI7XrkCcAAvD0N

melepas Gumelem pergi KKN

Mungkin kalau ingat di beberapa post yang lalu saya pernah cerita kalau saya hampir KKN kan ya karena pengumuman KP saya itu. Bagi yang mungkin nggak kepo saya jadi nggak tahu, saya cerita deh. Jadi saya melamar Kerja Praktek sebagai Asisten Riset di NTU, in other hand, di periode pengajuan KP saya tadi, mahasiswa seusia *usia* saya ini harusnya KKN jadi untuk jaga-jaga saya ndaftar KKN juga. Berhubung di web NTU bilang kalo pengumuman maksimal tanggal 12 April dan saya tanggal segitu nggak dapet email, saya pikir saya nggak lolos dan saya akhirnya melanjutkan proses KKN (pilih tempat dll). Eh malah sebulan setelahnya dipanggil KP, saya pun harus merelakan KKN saya tersebut.

Anyway, calon tempat KKN saya ini desa Gumelem, Banjarnegara, (JTG02). Di UGM, setiap unit KKN ada tim pengusulnya, nah karena saya mikirnya bakalan KP, saya memutuskan untuk tidak menjadi tim pengusul dan pasrah LPPM saja mau ditempatkan dimana. Nah bagi yang pada pasrah ini, sebenarnya kita bisa memilih tempat kalau tempatnya di luar DIY dan sekitarnya, kami menyebutnya kategori 2, jadi saya bisa memilih tempat ini sebagai tempat KKN saya karena di luar DIY dan sekitarnya.

Sebagai “anak baru” (karena saya bukan pengusul dan tim pengusul sudah kenal dari lama kan ya pastinya), saya diperlakukan sangat sangat baik oleh calon teman-teman KKN saya ini. Pak Kormanit (koordinator Mahasiswa Unit) sampe pernah memprivat saya 2 jam tentang KKN ini, tentang bagaimana lokasinya, medannya, apa saja programnya, mitranya dari mana saja, siapa Dosen Pembimbing Lapangan, komposisi tim, apa saja yang telah dikerjakan, so briefly. Menarik adalah ketika Pak kormanit saya ini bilang kalau

“Dua tahun lalu desa ini hidup tanpa listrik, sekarang pun listriknya masih minim, mengambil dari desa sebelah”
“Sinyalnya nggak ada”
“Medannya berat banget, kalau ke lokasi harus naik ojek, naik motor sendiri pun harus ahli dan dimodif motornya”

CHALLENGE ACCEPTED c657751d24fa70f7c45317e11a9f7c8a_w48_h48

INI TEMPAT GUE BANGET pikir saya, tanpa sinyal jadi nggak bisa “digangguin”, medan berat, Nurvirta yang suka bertualang suited banget sama ini. Bisa belajar survival.

Di samping itu Pak Kormanit cerita bahwa kelompok ini disupport penuh sama LPPM secara programnya juga KKN ideal banget (saya lupa judul lengkapnya, yang jelas tentang Optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro – Desa Mandiri Energi gitu deh, jadi program utamanya mengusahakan listrik tercukupi di desa tersebut intinya, mulia sekali bukan), teman-temannya juga friendly, nggak ada yang manja perlu permakluman lebih dan sebagainya.

Oke, hingga ahirnya saya mulai ikut rapat-rapat rutin dan terpilih menjadi KORMASIT (Koordinator Mahasiswa Sub Unit) dan rencananya beberapa hari kemudian akan melakukan survey kembali. Sebagai Kormasit yang newbie banget tentang tempatnya, saya harus ikut dong ya.

Sampai akhirnya turun surat sakti dari Singapore bahwa saya lolos program KP mereka.

Saya akhirnya mengundurkan diri dari tim, dan dari Kormasit tentunya. Tapi saya tetep ikut survey karena pak Kormanit malah bilang

“ikut lah Mon, buat liburan”

Hahahaha…

 

Landed Safely

Kami survey pakai dua mobil, berangkat sekitar 9 malam dari Jogja, sempat nginep di rumah Indri di Wonosobo dan melanjutkan perjalanan pagi buta hingga sampailah di Gumelem shubuh hari. Sempat singgah di rumah Calon Kepala Desa ~~ yang tentunya “Mohon doa dan dukungan” ya ya ya

Aviary Photo_130183521591594930

Karena hari Sabtu, kami izin ke rumah sekretaris desa kalau mau ke RW 09, 10, 11 (dusun tempat kami akan KKN). Anyway, ini tempatnya masih “bawah”. Selesai, perjalanan kami dimulai, 30 menit yang luar biasa bersama bang OJEK.

Aviary Photo_130183521962677667

Karena cuma ada 6 motor, kami CENGLU sodara sodaraaa, boncengan tiga orang dengan medan yang luar biasa, yang mana kalo ngebonceng harus ada tekniknya, kalo nanjak harus maju banget mboncengnya, kalo turun harus ke belakang banget boncengnya. NGGAK BISA NGGAK MELUK BAPAK OJEKNYA, kalo ngga mau jatuh hahahahhaaaaa….. Sumpah jadi tukang ojek disini mbathi banget kalo boncengin cewe cewe.

Mungkin di foto ngga begitu kelihatan ya gimana nanjak dan berbatunya tempat kami ini. Kami sampe sering turun motor karena motornya nggak kuat bawa kami. Saya sering cuma meluk si Kiki (temen saya yang duduk di tengah) terus tutup mata, pasrah sama Bapak ojeknya, secara kanan kiri jurang! Sumpah bapaknya pasti punya sim C++ atau sim C# (loh).

THE MOST EXTREME TOURING TRAIL I HAVE EVER TRIED.

Sekali sampai tempatnya, nggak mau balik rasanya. Pegel di ngojek. Sumpah pegel banget.

5

 

The Venue

Sampai di RW 9, ternyata di sini banyak rumah yang punya solar cell, tapi cuma cukup buat nyalain lampu aja. Selain itu mereka juga punya Jimitri yang entah apa itu tapi katanya harganya mahal banget.

Aviary Photo_130183520707314030

Next kami ke RW 11 apa ya, lupa, untuk melihat-lihat pondokan dan PLTpH (Pembangkit Listrik Tenaga pikoHidro) yang ada disana. Jadi dulu tempat KKN kami ini pernah diberi bantuan PLTpH, sekarang tinggal kami bantu optimalkan

Aviary Photo_130183520926665471Aviary Photo_130183521731043028

Airnya bening banget bok.

6

Sorenya beberapa teman pulang, tinggal beberapa orang saja yang tinggal. Kami pun menikmati kehangatan penduduk lokal, dan mencoba mencari sinyal

9

*kangen si Tika, penduduk lokal yang ngapaknya lancar banget, yaiyalah*

Ternyata sinyal bisa didapatkan kalo HENPONNYA DITARUH DI JENDELA SODARA SODARA hahahahaha… Bagus bagus bagus.

Keesokan harinya kami mencoba ke sekolah yang ada disana. Note, anak sini nggak suka sekolah, jauh kan ya kalo jalan kaki, mending juga kerja atau ngapain gitu daripada melanjutkan sekolah. Jadi kami diberi amanah untuk menge-MOS siswa baru, bikin pesantren kilat dan sebagainya muhahaha… Demi menggiatkan semangat belajar anak disini.

Aviary Photo_130183521166535608

*ada sinyal pas jalan ke sekolahan*

Aviary Photo_130183521849266952

*adek-adek antusias banget sama orang baru*

Aviary Photo_130183522280714986

*nemu Yupi meeeen, harganya lima ratus! dari dulu segitu aja nggak naik-naik :/*

 

Going Back

Setelah dua hari dua malam yang luar biasa, kami harus balik pulang. Sempet mampir ke Indonesia Power Merica untuk *ngamen* dan alhamdulillah dapet 10 juta :’)

Aviary Photo_130183521463518872

juga ke kota Banjarnegara untuk sholat di Masjid Agung, beli dawet dan siomay *pokjidat*

Aviary Photo_130183520218557102

sayangnya sampai Jogja malam, saya pun memilih untuk menginap di kos Indri saja.

 

Bersyukur

Itu yang saya rasain banget selama perjalanan survey kali ini. Gimana enggak, dibandingkan Wanarata, dusun kami akan KKN ini, tentu tempat tinggal saya jauh lebih modern, rejeki lebih banyak, akses kemana-mana lebih mudah, tapi mereka seneng-seneng aja dan mensyukuri yang mereka punya, sementara kitanya suka ngeluh.

Bayangin dong mereka ke kota aja harus encok pegel linu naik ojek dengan medan yang luar biasa beratnya, cuma bisa diakses pake motor! Kebayang nggak kalo ada yang sakit, yang meninggal, yang butuh bantuan segera. Gimana mereka belanja, gimana mereka memnuhi kebutuhan.

Amazing.

Untuk itulah KKN ada, seharusnya, melatih kepekaan mahasiswa, seharusnya, melatih mahasiswa solving a REAL problem, ngga cuma soal ujian yang mungkin dijawab sambil nyontek, melatih mahasiswa down to earth, mengaplikasikan ilmunya ke mereka yang membutuhkan. Melatih mahasiswa bergaul dengan sesama (secara ngga ada sinyal, lo ngga bisa twitteran atau fesbukan doang meeeen), melatih disiplin diri, melatih hidup prihatin, belajar memaklumi kekurangan sesama, belajar toleran, belajar memimpin. Tentang memimpin ini saya belajar banyak banget dari pak kormasit, tentang gimana cara dia menyatukan kami, 30 kepala SANGAT berbeda, secara natural, tanpa segan dan paksaan. Tentang how to make decision. Banyak lah, yang saya dapatkan HANYA dari survey ini.

Ngga kebayang seberapa banyak pelajarannya di KKN beneran.

Terpujilah teman-teman yang sekarang sedang KKN di tempatnya masing-masing. Nikmati dan ambil semua pelajaran yang ada, sebanyak mungkin yang temen-temen bisa. Jangan sia-siakan karena kali aja ini pertama dan terakhir teman-teman dapat experience seperti ini. Tentang how to deal with kondisi serbaterbatas, deal with teman satu pondokan, deal with ketiadaan sinyal, deal with komunikasi dengan penduduk sekitar dan sadar atau tidak, deal with yourself.

Untuk teman-teman Gumelem, sampaikan salamku buat Gumelem, yang udah ngajarin banyak hal, yang sudah bikin saya kangen, bikin saya pengen KKN, bikin saya bersyukur, dan bikin saya sadar saya harus doing “something” widely, nggak boleh egois dan oportunis lagi.

Makasih ya Allah. Engkau tahu apa yang terbaik buat hamba-Mu Smile

Love you gumgumers! Ditunggu cerita KKN nya :*

Kangen gumgumers, Singapore, 15 Juli 2013

Soliter

Ditulis dalam rangka “merasa” kesepian.

Pernah gitu saya merhatiin lingkungan saya, yang isinya geek dan nerd.

Yang hobinya nongkrong di lorong. Yang kalo udah ngadep laptop nggak peduliiin kanan kiri. Yang kalo ketemu sapa kaku, jarang basa-basi. Yang jalan sendirian kemana-mana.

“bagiku urusanku, bagimu urusanmu”

Bukan sekali ini sebenernya saya dapat lingkungan macam ini. Dulu jaman pelatnas lebih parah lagi, saya “lebih sendirian”, cewek jarang (bahkan pelatnas 2 ceweknya cuma saya). Saya jadi jarang curhat ke orang, saya jadi pemendam, dan saya merasa nyaman dengan dunia maya saya karena disitulah saya bisa cerita macam-macam. Saya terlatih menyelesaikan masalah saya sendiri, dengan kesoktahuan saya, sering tanpa saran. Toh tiada yang peduli. Itu pikir saya. Tanpa sadar saya jadi soliter, yang…

(1) kalau naik bis cari yang bangkunya dua-duanya masih kosong instead of menuhin yang udah terisi satu; (2) kalo ke mall cari barang enak cari sendiri; (3) kurang bisa share kamar sama orang, pengennya punya kamar sendiri… dan (4)

“Kamu kayak nggak butuh aku, kamu seolah-olah super woman yang bisa meyelesaikan semuanya sendiri'”

Nyata, pernah diucapkan di hadapan saya.

Oke, ini nggak bisa dibiarkan. Di kehidupan nyata, kamu harus sadar Mon, kamu nggak hidup sendiri. Kalo kamu tau kamu nggak hidup sendiri, kamu harus ngapain Mon?

Belajar care.

Murah senyum ke orang, dengerin kalo orang lagi ngomong alias ga sibuk matanya kesana kemari apalagi ke gadget, nanyain kabar, peka lingkungan, jangan egois, jangan semaunya sendiri, tanggung jawab, respect, donate, ngebantu orang, ngingetin temen-temen, perhatikan detail, jangan jadi pelupa, belajar komitmen, banyak mon to do list nya.

Maintain relationship

In general lho, bukan cuma dalam hal masalah “love things” aja. Sama temen lama misalnya, tanyakan kabar, sama keluarga, hadiahi mereka sesuatu spesial, sama kolega kerja, kasih rekomendasi hal yang disuka, sama teman baru, bikin mereka nyaman, sering ajak obrol, terus juga menepati janji, komitmen, tepat waktu, disiplin, tidak mengecewakan,   belajar libatkan orang lain dan mempercayai orang tersebut untuk meringankan pekerjaan kita, banyak mooooon…

People come, people go and people change. Untuk to do all things di atas saya harus berubah dari Mona yang sekarang. Kadang, perubahan kita bisa tidak acceptable untuk beberapa orang di lingkungan lama kita, sehingga kadang urung niat untuk berubah, jadi, kadang juga, kita butuh tempat yang benar-benar baru untuk berubah. Tempat dimana tidak ada yang kenal kita (dan masa lalu kita), tempat dimana kita bisa buat image baru, tempat dimana kita bisa belajar menjadi the real I am, berubah menjadi lebih baik, tapi tetap menjadi diri sendiri.

So that’s why I’m here. Restarting.

Singapore, 8 Juli 2013

abcs