After Everything–Post

Akhirya skripsi saya dan segala urusan yudisiumnya selesai.

Akhirnya saya resign dari pekerjaan saya.

Akhirnya saya sudah tidak menjabat jadi lead MSP – dan sudah tidak jadi MSP.

Akhirnya segala rangkaian pernikahan saya selesai.

Akhirnya saya keluar dari semua zona nyaman saya.

____

Selesai sudah empat tahun saya kuliah. Honestly, saya sedih dan tidak puas. Saya merasa tidak bisa apa-apa. Saya hanya punya IP bagus tapi saya tidak mendapat skill yang saya harapkan. Saya hanya pandai menghapal jawaban soal ujian tahun lalu kemudian menuliskannya kembali ke lembar jawaban – which is itu membuat saya hampir selalu mendapat A. Tapi saya sadar, saya tidak belajar dari hati. Saya hanya melampiaskan dendam. Melampiaskan dendam karena saya merasa tidak ada di zona nyaman saya (bidang dan tempat favorit saya) dengan cara mencari prestasi bagaimanapun bentuknya. Setidaknya kalau ada prestasi, saya senang dan lupa bagaimana sedihnya saya ketika saya harus kuliah di tempat yang ternyata sebenarnya majornya tidak begitu saya suka. In fact, I don’t like any programming things. I just can do but I did that all in pain.

I just pretend that I love those dev things.

____

Ternyata juga, saya tidak cocok bekerja. Bekerja dengan dideadline orang lain ternyata bukan gaya saya. Tanggung jawab saya masih sangat rendah. Saya ternyata hanya menantang diri saya dan menekan diri saya sendiri untuk bekerja. “Mona, kamu harus bekerja, kamu harus bisa kerja dan belajar tanggung jawab” – kurang lebih begitu.

____

Menjadi pemimpin itu adalah pekerjaan ultra berat hingga saya kadang antara kagum dan heran dengan para capres yang berani mengemban amanah sebesar itu. Memimpin ternyata bukan kapasitas saya. Memimpin adalah hal yang melebihi kapasitas saya. Saya tidak bisa membentuk visi dan merangkul. Saya tidak bisa melakukan kontrol. Saya lebih nyaman dipimpin dan diarahkan.

____

And finally I’m crying, crying like a baby. Seperti seorang bayi mencari ibunya. Di kasus saya, saya menangis mencari jati diri saya. Saya sadar selama ini saya dibunuh ekspektasi dan tidak menikmati hidup saya sendiri. Saya dibunuh ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi dimana masih lekat bayang-bayang prestasi sekolah pra-universitas saya. Saya dibunuh ekspektasi orang di sekitar saya yang menyangka bahwa jika saya “pintar”, maka saya harusnya bisa melakukan hal-hal amazing, yang apabila saya tidak bisa pasti dibilang “kok Mona yang pinter nggak bisa sih”. Saya dibunuh ekspektasi diri saya sendiri yang naif, bawasannya Mona pasti bisa memenuhi ekspektasi-ekspektasi di sekelilingnya.

But truthfully I’m not. I’m tired.

Saya ingin jadi diri saya sendiri. Saya ingin mencoba hal baru. Saya harus keluar dari semua “siksaan” yang sebenarnya juga merupakan zona nyaman saya selama ini. Ironis ya, dalam zona nyaman saya, saya kadang merasa tersiksa :))

Sooooo hal-hal tersebut di atas sebenarnya menjawab secara super jujur pertanyaan besar “Kenapa kamu nikah Mon?” – selain juga karena sudah merasa cocok dengan pasangan tentunya. Saya butuh hidup yang baru, zona nyaman yang baru. “Selamat menempuh hidup baru” dipilih menjadi ucapan default di nikahan tentu bukan tanpa alasan kan? Untuk itulah saya memilih menikah. Saya butuh alasan rasional untuk quit dari segala beban-beban masa lalu saya dan memulai kebahagiaan-kebahagiaan baru.

Dan terima kasih untuk Allah, yang selalu punya segala rencana indah untuk saya, termasuk membuat skenario tak terduga tentang bagaimana cara saya agar keluar dari segala ketidaknyamanan ini :))

And finally, I am happy now.

(saya tidak ingin posting ini berakhir dengan tragis wkwkw)

Terakhir, mumpung sedang puasa juga, saya mohon maaf atas segala ketidakpantasan yang dilakukan diri saya di masa-masa kemarin. Maaf atas janji yang tidak tertunaikan. Maaf atas komitmen yang dilanggar. Maaf atas tanggung jawab yang terabaikan. Maaf atas laku dan kata yang kurang berkenan. Lucu rasanya kalau flashback dan mengingat-ingat kesalahan masa lalu, malu! Hahahaha…

Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang bersabar dan selalu memperbaiki diri.

 

Kalibening, 3 Juli 2014

abcs